เข้าสู่ระบบAlarm berbunyi pukul enam pagi.
Aku tidak langsung mematikannya. Membiarkannya berbunyi beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena mengantuk, tapi karena ada sesuatu yang ingin ditunda dari momen sebelum alarm dimatikan. Momen ketika hari belum benar-benar dimulai. Ketika semuanya masih mungkin dan belum ada yang bisa salah. Lalu kutap layarnya. Diam. Aku duduk di tepi kasur. Hari ini hari pertama kuliah. Kalimat itu sudah ada di kepala sejak semalam, sejak aku meletakkan ponsel dan memejamkan mata, sejak tidur yang tidak terlalu nyenyak karena pikiran terus berputar di frekuensi yang tidak bisa dimatikan. Bukan cemas atau mungkin iya, sedikit, tapi bukan jenis cemas yang melumpuhkan. Lebih ke jenis perasaan yang muncul sebelum sesuatu yang besar dan baru dimulai, yang membuat tidur terasa lebih dangkal dari biasanya dan membuat pagi datang lebih cepat dari yang seharusnya. Aku berdiri. Membuka lemari. Zoom pagi, tatap muka sore. Itu jadwal hari ini dua mode yang berbeda, dua versi hari yang harus dijalani dalam satu hari yang sama. Untuk Zoom, penampilan atas sudah cukup. Untuk tatap muka sore, perlu lebih dari itu. Maka aku mengambil kemeja. Kemeja biru muda yang sudah dicuci dan disetrika sejak Sabtu dan aku sempat melipat ulang dua kali karena pertama kali lipatannya tidak cukup rapi. Aku mengenakannya, mengancingkan dari bawah ke atas, memastikan kerah berada di posisi yang benar. Berdiri di depan cermin lemari sebentar. Rapi. Setidaknya dari pinggang ke atas. Karena dari pinggang ke bawah, yang ada hanyalah kolor bermotif kotak-kotak yang sudah menemani tidurku semalam. Nanti lah. Celana sore aja. Zoom tidak melihat ke bawah meja. Pintu kamarku diketuk dua kali. "Kak, sarapan." "Masuk, Mah." Pintu terbuka. Ibu masuk dengan nampan di tangan dengan membawa sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya, segelas air putih, dan satu pisang yang diletakkan di tepi piring karena tidak ada ruang lain. Ibu sudah berpakaian dinas. Seragam ASN yang selalu terlihat rapi di badannya, hijab yang sudah ditata dengan cepat tapi hasilnya tetap tidak mengecewakan. Ia melangkah masuk, berjalan ke meja belajar untuk meletakkan nampan dan di tengah jalan itu, matanya jatuh ke arahku yang berdiri di depan cermin. Ibu berhenti. Matanya bergerak dari atas ke bawah. Kemeja biru muda yang rapi. Kerah yang sudah dibenahi. Dan kolor kotak-kotak yang menyembul di bawahnya. Ia tidak langsung berkomentar. Hanya meletakkan nampan ke meja belajar dengan pelan, lalu berbalik menghadapku, dan ekspresinya seperti ekspresi yang berusaha sangat keras untuk tidak berubah menjadi sesuatu tapi gagal total tapi akhirnya menyerah. Ibu tertawa. Bukan tawa yang pelan. Bukan tawa yang ia sembunyikan di balik tangan. Tawa yang keluar begitu saja, jenis tawa yang tidak bisa ditahan karena memang tidak ada gunanya ditahan. "Kakak," katanya di sela tawanya, "itu kemejanya udah bagus banget. Sayang banget dipasangin sama kolor." "Zoom nggak liat bawah meja, Mah." "Tapi Mamah liat." "Mamah bukan dosen." Ibu menggeleng pelan, masih tersenyum, dengan ekspresi seseorang yang sudah menerima bahwa anak sulungnya memang seperti ini dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan dari itu. "Makan dulu." Ia menunjuk nampan di meja. "Sebelum Mamah berangkat." "Iya, Mah. Makasih." Ibu berjalan ke pintu, berhenti sebentar di ambangnya, menoleh sekali lagi ke arahku, ke arah kemeja dan kolor yang masih terpasang bersamaan lalu menggeleng lagi dengan tawa yang sudah mereda tapi belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. "Nanti sore ganti celana ya sebelum berangkat." "Iya, Mah." Pintu menutup. Dari luar kamar, terdengar suara langkah ibu yang menjauh ke arah ruang depan. Aku menatap cermin lagi. Kemeja. Kolor. Tetap fungsional, pikirku. Zoom tidak pernah berbohong soal itu. Ayah sudah ada di ruang depan ketika aku keluar. Ia berdiri dekat pintu dengan kunci mobil dan tas kerja di tangan, penampilan yang tidak pernah berubah dari hari ke hari, selalu siap sebelum siapapun di rumah ini sempat bertanya apakah ia sudah siap. Ayah tidak pernah menunggu. Atau lebih tepatnya, ia selalu memastikan bahwa ia tidak perlu menunggu. "Kakak," panggilnya ketika melihat aku muncul dari lorong kamar. "Pah." "Semangat ya hari ini." Singkat. Tanpa basa-basi panjang. Tapi ada sesuatu di nada itu yang tidak bisa disebut acuh, lebih ke cara seseorang yang tidak terbiasa mengucapkan banyak hal tapi tetap ingin mengucapkan sesuatu di hari yang ia tahu penting. "Iya, Pah. Makasih." Ibu sudah muncul dari kamar, tas kerjanya di bahu, kunci mobil di tangan. Ia melihat kami berdua berdiri di ruang depan dan langsung bergerak seperti orang yang sudah hapal urutan pagi ini sejak lama. "Kak, Mamah sama Papah berangkat dulu ya. Tadi Adek udah berangkat pagi-pagi." "Iya, Mah. Hati-hati di jalan." "Kamu juga, belajar yang bener." "Ini Zoom, Mah." "Zoom juga tetap belajar." Ibu mengangkat alis. "Jangan Zoom tapi pikirannya di mana-mana." Aku tidak membantah. Tidak ada gunanya membantah hal yang tidak salah. Mereka berdua keluar. Aku berdiri di ambang pintu, melihat ibu masuk ke sisi penumpang mobil dan ayah ke sisi pengemudi, rutinitas pagi yang sudah berjalan bertahun-tahun, ayah yang selalu mengantar ibu dulu sebelum berpisah ke arah yang berbeda. Ke tempat kerja ibu yang punya jam masuk tetap. Lalu ayah yang berpencar ke pekerjaan yang tidak punya kantor tetap, hanya ponsel yang menerima panggilan dan alamat yang berganti setiap hari. Mesin mobil menyala. Lalu menjauh. Rumah menjadi sunyi. Aku menutup pintu dan berjalan kembali ke kamar. Laptop menyala pukul tujuh kurang sepuluh. Aku duduk di kursi meja belajar, nampan sarapan masih ada di sisi meja, belum disentuh karena tadi langsung ke pintu ketika ibu dan ayah pamit. Aku memindahkannya ke tepi yang aman, membuka laptop, menunggu layar menyala sepenuhnya. Link Zoom sudah ada di grup kelas sejak tadi malam. Aku membukanya, menunggu loading beberapa detik, lalu tiba-tiba ruangan virtual itu terbuka dan ada wajah-wajah kecil yang berjejer di layar, beberapa sudah menyalakan kamera, beberapa masih gelap dengan nama saja yang tertera. Aku menyalakan kameraku. Lalu langsung sadar bahwa dari pinggang ke atas, kemejanya terlihat rapi. Persis seperti yang direncanakan. Sistem bekerja. Dosen masuk beberapa menit kemudian, perempuan paruh baya, kacamata, latar belakang Zoom yang bukan filter tapi memang ruang kerjanya yang rapi. Suaranya jernih. Caranya berbicara terukur, tidak terburu-buru, seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan ruangan virtual ini dan tidak lagi perlu menyesuaikan diri dengannya. Pertemuan pertama. Aku sudah hafal dengan format ini bahkan sebelum kuliah dimulai, tiga tahun pandemi membuat siapapun yang pernah sekolah daring hapal betul bahwa pertemuan pertama selalu sama di manapun. Perkenalan dosen. Kontrak kuliah. Gambaran materi yang akan dipelajari. Ekspektasi kehadiran dan tugas. Dan di antara semua itu, sela-sela hening yang muncul ketika dosen selesai berbicara dan menunggu pertanyaan yang jarang datang di pertemuan pertama karena semua orang masih dalam mode mengamati. Aku mencatat beberapa hal yang terasa penting. Bukan mencatat semua yang dikatakan, itu tidak efisien dan tidak pernah berhasil. Hanya hal-hal yang terasa seperti sesuatu yang nanti akan dicari lagi. Di kolom chat Zoom, seseorang sudah mulai mengetik. Akbar: "ini dosennya asik kayaknya" Dutta: "iya style ngajarnya enak" Alam: "baru 5 menit udah bisa simpulin gitu?" Dutta: "intuisi" Awan membaca itu dan hampir tersenyum di depan kamera, menahan di detik terakhir karena kamera menyala dan dosen sedang berbicara. Rangga: "Dutta tolong fokus dulu" Dutta: "gue multitasking" Akbar: "itu bukan multitasking itu gangguin orang" Kolom chat itu menjadi hidup tersendiri, percakapan paralel yang berjalan di samping pertemuan resmi, seperti bisik-bisikan di bangku paling belakang yang tidak sampai ke telinga dosen tapi sampai ke semua orang yang memperhatikan layar yang sama. Aku mengetik sesuatu di chat. "Kalau multitasking berhasil, produktif. Kalau ketahuan dosen, itu namanya nekat." Akbar: "HAHAHA" Alam: "definisi yang akurat" Dutta: "gue ambil risiko itu" Rangga: "semangat bro" Pertemuan berlanjut. Dosen menjelaskan silabus semester ini materi yang cukup padat untuk dibayangkan tapi tidak cukup konkret untuk terasa menakutkan hari ini. Nanti mungkin iya. Tapi hari ini masih terlalu awal untuk takut. Aku mendengarkan sambil sesekali mencuri pandang ke kolom chat yang masih bergerak pelan di sisi layar. Satu jam berlalu lebih cepat dari yang biasanya. Dosen menutup pertemuan dengan kalimat yang hampir pasti akan diulangi di setiap pertemuan berikutnya: ada pertanyaan sebelum kita selesai? Tidak ada yang bertanya. Seperti biasa. Lalu layar Zoom penuh dengan wajah-wajah yang satu per satu menghilang, kotak-kotak kecil yang berkedip lalu kosong, nama yang tercoret dari daftar peserta, sampai akhirnya hanya tersisa beberapa yang rupanya masih ingin mengobrol atau mungkin hanya lupa untuk keluar dari room. Aku menutup laptop. Hening kamar kembali. Baru sekarang aku menyadari betapa laparnya perutku, sarapan yang dari tadi menunggu di sisi meja akhirnya mendapat giliran. Nasi goreng yang sudah tidak panas lagi tapi masih layak disebut hangat, telur mata sapi yang kuningnya sudah sedikit mengeras di pinggiran, pisang yang kupindahkan ke tepi meja tadi dan hampir lupa. Aku makan dengan pelan. Tidak ada yang perlu terburu-buru. Kuliah Zoom sudah selesai. Tatap muka baru sore. Di antara pagi dan sore ini ada jeda yang bisa diisi dengan apapun, atau tidak diisi dengan apapun, dan keduanya sama-sama pilihan yang sah. Dari luar jendela kamar, suara kompleks perumahan yang sudah mulai hidup di jam segini suara motor yang lewat, suara burung di pohon mangga yang dari sini bisa terlihat ujung-ujungnya, suara anak kecil yang entah di halaman mana sedang berlarian. Aku menghabiskan sarapan sampai piring bersih. Pisangnya juga. Lalu membawa nampan ke dapur. Dapur pagi hari tanpa mamah terasa berbeda. Bukan sepi dalam arti yang melankolis, hanya sunyi yang netral, sunyi yang memang sudah menjadi kondisi default dapur ini ketika tidak ada yang sedang memasak atau bergerak di dalamnya. Aku meletakkan piring dan gelas di wastafel, membilasnya sebentar, lalu membiarkannya menunggu giliran dicuci nanti. Kemudian aku menyeduh kopi. Kopi sachet tanpa gula ritual yang sudah terbentuk tanpa pernah ada yang merancangnya, yang dimulai entah kapan dan sekarang sudah menjadi bagian dari pagi yang terasa tidak lengkap tanpa itu. Air panas dari termos yang selalu diisi ulang setiap malam oleh ibu, sachet yang kurobek dari tengah supaya tidak tumpah, adukan yang tidak perlu lama karena sudah hafal berapa putaran yang dibutuhkan. Segelas kopi siap. Aku membawanya ke depan rumah. Pintu depan kubuka. Udara pagi yang sudah mulai bergerak masuk dari luar bukan sejuk seperti subuh, tapi belum sepanas nanti siang. Di titik ini, sekitar pukul sembilan lebih, matahari sudah ada di posisi yang cukup tinggi untuk menghangatkan tapi belum cukup tinggi untuk menyengat. Aku duduk di teras. Meletakkan gelas kopi di lantai teras dekat kakiku. Mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana kolor yang masih terpasang, karena memang belum ada alasan untuk menggantinya sekarang. Korek. Api kecil. Asap pertama yang mengalir keluar pelan. Aku menatap jalan di depan rumah. Pagi di kompleks ini selalu punya ritmenya sendiri. Ada Pak Hendra dari ujung gang yang selalu jalan kaki setiap pagi dengan langkah yang tidak pernah terburu-buru meski sudah tahu jam berapa ia harus sampai ke mana, pagi ini ia lewat dengan topi pet yang sama seperti kemarin dan hari sebelumnya, mengangguk ketika matanya bertemu dengan mataku. "Kuliah libur, Wan?" "Udah selesai, Pak. Tadi pagi Zoom. Sorenya baru ke kampus." "Oh, masih campur ya. Zaman sekarang enak ya, bisa kuliah dari rumah." Ia terkekeh pelan. "Zaman Bapak dulu, hujan lebat juga tetap berangkat." "Tapi pengalamannya beda, Pak." "Iya, itu bener." Ia mengangguk. "Ya udah, semangat ya, Wan." "Makasih, Pak. Hati-hati jalannya." Pak Hendra melanjutkan jalannya. Aku menyeruput kopi. Beberapa menit kemudian, Bu Tini dari seberang jalan lewat dengan kantong belanjaan di masing-masing tangan dari warung depan komplek yang buka paling pagi dan selalu ramai di jam segini. Ia melihat aku duduk di teras dan sedikit memperlambat langkahnya. "Eh, Awan. Udah kuliah?" "Udah mulai, Bu. Tadi pagi online." "Wah, Ibu denger dari mamamu kemarin. Katanya masuk universitas swasta ya?" "Iya, Bu." "Bagus dong. Mamamu pasti bangga." Bu Tini tersenyum dengan cara yang tulus, cara yang hanya bisa muncul dari seseorang yang memang senang mendengar kabar baik orang lain. "Belajar yang bener ya, biar bisa jadi orang." "Iya, Bu. Makasih." Bu Tini melanjutkan jalannya, kantong belanjaannya berayun di kedua sisi. Aku menatap asap rokok yang mengalir ke udara. Ada sesuatu yang selalu aku suka dari momen seperti ini, percakapan kecil yang terjadi tanpa direncanakan, yang datang dan pergi dengan ringan, yang tidak menuntut apapun dari siapapun. Orang-orang yang sudah ada di sekitar kehidupan ini sejak lama, yang namanya sudah hafal, yang wajahnya sudah dikenal tapi tidak cukup dekat untuk disebut teman, hanya cukup untuk disebut tetangga dengan cara yang terasa hangat. Sebagai introvert, aku tidak pernah bisa menikmati keramaian yang terlalu ramai. Tapi momen seperti ini, satu atau dua orang, kalimat yang tidak panjang, percakapan yang selesai sebelum sempat melelahkan ini selalu bisa kuatasi. Rokok habis. Aku membuang puntungnya ke asbak kecil yang memang selalu ada di sudut teras. Kopi masih ada setengah gelas. Aku meminumnya pelan. Tetangga lain lewat. Satu dua yang mengangguk tanpa berhenti. Satu yang bertanya sesuatu tentang ibu dan aku jawab seadanya. Satu anak kecil yang berlari melewati depan rumah tanpa melihat ke arah siapapun karena memang sedang dalam keadaan darurat mengejar sesuatu yang tidak terlihat. Aku membiarkan semuanya lewat. Pagi ini terasa seperti pagi yang tidak terburu-buru, padahal ada banyak hal yang akan terjadi nanti. Sore akan datang. Tatap muka akan datang. Kampus yang belum sepenuhnya aku kenal akan datang. Wajah-wajah dari grup kelas yang selama ini hanya berupa nama dan foto profil dan beberapa yang sudah kulihat pada saat zoom meet barusan akan menjadi orang sungguhan yang bisa berdiri di depanku dan menyapa dengan suara yang punya volume. Dan di antara tiga puluh dua orang itu, ada empat nama yang sudah mulai terasa tidak terlalu asing. Akbar, Dutta, Alam, Rangga. Aku memikirkan mereka sebentar karena cara mereka mengisi grup, cara mereka saling merespons, cara percakapan di antara mereka bergerak dengan ritme yang terasa seperti sudah dilatih padahal mungkin memang hanya begitu cara mereka. Akan berbeda kalau ketemu langsung, pikirku. Selalu berbeda. Bisa lebih baik. Bisa lebih canggung. Bisa persis sama. Tidak ada cara untuk tahu sebelum terjadi. Aku menghabiskan sisa kopi dalam dua tegukan. Meletakkan gelas kosong di lantai teras. Menatap jalan yang mulai sepi lagi setelah jam sibuk pagi tadi. Pohon di ujung gang yang daunnya bergerak sedikit karena angin yang tidak terlalu besar. Masih ada beberapa jam sebelum sore. Dan untuk saat ini, cukup duduk di sini dulu, dengan gelas yang sudah kosong, dengan asap yang sudah habis, dengan pagi yang sedang berjalan di kecepatan yang pas, sebelum hari ini menuntut sesuatu yang lebih besar dari sekadar duduk. Aku berdiri. Mengambil gelas. Masuk ke dalam rumah. Di kamar, kolor masih terpasang di bawah kemeja yang rapi. Sore masih beberapa jam lagi.Alarm berbunyi pukul enam pagi.Aku tidak langsung mematikannya. Membiarkannya berbunyi beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena mengantuk, tapi karena ada sesuatu yang ingin ditunda dari momen sebelum alarm dimatikan. Momen ketika hari belum benar-benar dimulai. Ketika semuanya masih mungkin dan belum ada yang bisa salah.Lalu kutap layarnya. Diam.Aku duduk di tepi kasur.Hari ini hari pertama kuliah.Kalimat itu sudah ada di kepala sejak semalam, sejak aku meletakkan ponsel dan memejamkan mata, sejak tidur yang tidak terlalu nyenyak karena pikiran terus berputar di frekuensi yang tidak bisa dimatikan. Bukan cemas atau mungkin iya, sedikit, tapi bukan jenis cemas yang melumpuhkan. Lebih ke jenis perasaan yang muncul sebelum sesuatu yang besar dan baru dimulai, yang membuat tidur terasa lebih dangkal dari biasanya dan membuat pagi datang lebih cepat dari yang seharusnya.Aku berdiri. Membuka lemari.Zoom pagi, tatap muka sore. Itu jadwal hari ini dua mode yang ber
Di pagi yang sama, di tempat yang berbeda. Kamar Melva lebih rapi dari yang bisa diduga dari seseorang yang baru saja bangun. Kasurnya sudah dirapikan, bukan rapi sempurna, tapi cukup rapi untuk menunjukkan bahwa ini bukan kebetulan, bahwa ada seseorang yang memang terbiasa merapikan tempat tidurnya sebelum melakukan hal lain. Buku-buku di rak tersusun tidak sepenuhnya lurus tapi tidak berantakan. Meja belajarnya bersih kecuali satu gelas yang setengah isinya sudah tinggal sisa air dari semalam. Melva berbaring di atas kasur dengan laptop terbuka di depannya. Bukan untuk belajar. Bukan untuk mengerjakan sesuatu yang produktif. Pagi Minggu tidak seharusnya diisi dengan hal-hal yang produktif, itu prinsip yang tidak pernah ia ucapkan dengan keras tapi selalu ia praktikkan. Jadi laptop terbuka, platform streaming sudah menyala, film yang sudah lama masuk daftar tonton akhirnya mulai diputar. Opening credit masih berjalan. Musik latar yang pelan. Nama-nama yang ia tidak kenal. D
Tidak ada alarm pagi ini. Hari Minggu. Hari di mana dunia tampaknya menyepakati secara kolektif bahwa tidak ada yang perlu terburu-buru. Aku membiarkan mataku terbuka dengan kecepatan mereka sendiri pelan, malas, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sudah masuk dari celah gorden yang tidak pernah benar-benar rapat. Aku berbaring diam sebentar, membiarkan kesadaran kembali pelan-pelan, seperti air yang mengisi bejana dari bawah. Langit-langit kamar. Kipas yang masih berputar. Suara sendok dari arah dapur. Ibu sudah bangun. Tentu saja sudah bangun. Ibu tidak pernah benar-benar tidur sampai siang bahkan di hari libur, ada saja yang dikerjakan, ada saja yang dibenahi, ada saja suara yang keluar dari dapur sebagai bukti bahwa hari ini sedang dimulai oleh setidaknya satu orang di rumah ini. Aku meraih ponsel di sisi kasur. Beberapa notifikasi dari semalam yang belum kubuka. Grup angkatan. Satu pesan dari Milo yang dikirim tengah malam isinya hanya meme yang tidak ada konteksnya, c
Satu notifikasi.Aku yang baru saja memejamkan mata membukanya kembali.Layar ponsel menyala di sisi kasur, cahayanya terlalu terang untuk ruangan yang sudah gelap ini. Aku meraihnya setengah sadar, setengah berharap itu hanya notifikasi grup angkatan yang tidak penting.Tapi bukan."Wan.."Dua kata. Bahkan bukan dua kata, satu kata dan dua titik yang menggantung, seperti kalimat yang belum selesai, seperti seseorang yang membuka mulut lalu ragu untuk melanjutkan.Aku duduk.Mataku yang tadi sudah hampir menyerah pada kantuk tiba-tiba tidak lagi mengantuk. Aku membaca pesannya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Bukan karena tidak mengerti isinya hanya dua karakter, tidak ada yang perlu diurai tapi karena ada sesuatu yang aneh dari cara dua titik kecil itu bisa membuat dadaku tidak bisa tenang.Apa maksudnya?Bisa apa saja. Bisa sapaan biasa. Bisa ia mau bertanya sesuatu. Bisa ia lagi iseng. Bisa ia tidak sengaja mengirim. Bisa...Sudah. Jangan dipikirkan terlalu dalam.Aku mengetik."Gima
Rumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.Rumah.Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.Aku berdiri sebentar di depan pintu.Mereka lagi makan.Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung
Motor belok kanan di persimpangan yang sudah hafal sendiri.Aku tidak langsung pulang.Sebenarnya tidak ada rencana ke sini. Tapi tangan ini seperti punya memori sendiri ketika pikiran sedang penuh dan badan sudah lelah, jari-jari yang menggenggam setang otomatis memilih jalan ini. Jalan yang lebih sempit, lebih teduh, dengan pohon mangga tua di ujungnya yang sudah tidak pernah berbuah tapi tidak pernah ditebang juga.Rumah Milo.Aku memarkir motor di depan pagar yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat sudah mengelupas sejak dulu, dan tidak ada yang pernah repot-repot mengecat ulang. Ada sandal jepit biru tua di depan pintu. Berarti Milo ada.Aku tidak mengetuk. Tidak perlu."Wan?"Suaranya terdengar dari dalam, dari arah dapur, diiringi bunyi sendok yang beradu dengan gelas."Iya."Beberapa detik kemudian Milo muncul di ambang pintu, kaus oblong abu-abu yang sudah kebesaran, rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur padahal sudah hampir sore. Di tangannya ada dua cangkir







