
Binar
Hari pertama kuliah seharusnya menjadi awal yang biasa bagi Awan.
Sebagai seorang mahasiswa baru yang cenderung pendiam, ia hanya berharap bisa melewati masa orientasi, mendapatkan beberapa teman, lalu menjalani perkuliahan seperti kebanyakan orang. Tidak ada target khusus, tidak ada impian besar tentang percintaan, dan tidak ada hal istimewa yang ia harapkan terjadi.
Namun semuanya berubah ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya pada malam setelah kegiatan orientasi berakhir.
Pesan itu berasal dari seorang mahasiswi yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Sebuah percakapan sederhana yang awalnya hanya membahas hal-hal sepele perlahan menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak pernah ia bayangkan.
Hari-hari di kampus mulai dipenuhi berbagai cerita baru. Pertemanan yang tumbuh, tugas yang terasa tidak ada habisnya, organisasi, mimpi-mimpi yang perlahan dibangun, hingga berbagai pertemuan yang tanpa sadar menjadi kenangan berharga.
Di tengah semua itu, hadir seseorang yang perlahan menjadi bagian dari hidupnya.
Seseorang yang selalu muncul di saat-saat yang tidak terduga.
Seseorang yang membuat hari-hari biasa terasa sedikit lebih berwarna.
Dan seseorang yang tanpa disadari mulai menempati ruang khusus di dalam hatinya.
Namun semakin dewasa, Awan mulai menyadari bahwa kehidupan tidak sesederhana yang ia bayangkan. Setiap orang memiliki jalan, tujuan, dan cerita mereka masing-masing. Tidak semua pertemuan datang untuk menetap, dan tidak semua harapan tumbuh menjadi kenyataan.
BINAR adalah kisah tentang masa muda, tentang langkah-langkah kecil yang perlahan membentuk kehidupan seseorang, tentang pertemuan yang tampak sederhana namun meninggalkan jejak yang begitu dalam, serta tentang bagaimana satu orang dapat menjadi cahaya yang menerangi perjalanan kita tanpa pernah kita duga sebelumnya.
Karena terkadang, cerita yang paling mengubah hidup kita dimulai dari sebuah pesan sederhana di hari yang terlihat biasa.
Basahin
Chapter: Ch 4 | Malam yang Tidak Perlu Banyak KataRumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.Rumah.Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.Aku berdiri sebentar di depan pintu.Mereka lagi makan.Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung
Huling Na-update: 2026-06-26
Chapter: Ch3 | Rumah KeduaMotor belok kanan di persimpangan yang sudah hafal sendiri.Aku tidak langsung pulang.Sebenarnya tidak ada rencana ke sini. Tapi tangan ini seperti punya memori sendiri ketika pikiran sedang penuh dan badan sudah lelah, jari-jari yang menggenggam setang otomatis memilih jalan ini. Jalan yang lebih sempit, lebih teduh, dengan pohon mangga tua di ujungnya yang sudah tidak pernah berbuah tapi tidak pernah ditebang juga.Rumah Milo.Aku memarkir motor di depan pagar yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat sudah mengelupas sejak dulu, dan tidak ada yang pernah repot-repot mengecat ulang. Ada sandal jepit biru tua di depan pintu. Berarti Milo ada.Aku tidak mengetuk. Tidak perlu."Wan?"Suaranya terdengar dari dalam, dari arah dapur, diiringi bunyi sendok yang beradu dengan gelas."Iya."Beberapa detik kemudian Milo muncul di ambang pintu, kaus oblong abu-abu yang sudah kebesaran, rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur padahal sudah hampir sore. Di tangannya ada dua cangkir
Huling Na-update: 2026-06-23
Chapter: Ch 2 | Tadi kenapa diem aja?Motor melaju pelan meninggalkan kompleks perumahan.Aku menyetel helm dengan satu tangan, mataku menyapu jalan yang masih sepi pagi-pagi begini. Baru setengah tujuh. Matahari belum terlalu tinggi, tapi udaranya sudah cukup hangat untuk membuat kerah bajuku terasa sedikit gerah.Aku tidak terburu-buru, Tapi juga tidak bisa diam.Semalam, setelah meletakkan ponsel dan memejamkan mata, ku pikir otakku akan langsung beristirahat. Tapi ternyata tidak. Pikiranku malah memilih untuk replay percakapan tadi malam, pesan demi pesan, seperti seseorang yang menonton ulang film yang baru saja ku tonton setengahnya.* Ngapain sih. * ucapku sembari menggeleng pelan di balik helm.Bukan apa-apa. Aku hanya menemukan seseorang yang nyambung diajak ngobrol. Itu saja yang terpikir olehku. Di kampus baru, di hari pertama yang panjang dan melelahkan, menemukan orang yang bisa diajak bicara tanpa harus menjelaskan diri sendiri terlalu banyak itu terasa... melegakan. Sesederhana itu.Melva suka film, begitu
Huling Na-update: 2026-06-22
Chapter: Ch 1 | Namanya MelvaMalam itu aku merebahkan tubuh di atas kasur.Hari pertama ospek akhirnya selesai."Melelahkan."Aku menghela napas panjang, memandangi langit-langit kamar yang diam. Tidak ada yang menarik di sana hanya cat putih yang mulai kusam di sudut-sudutnya, dan seekor cicak kecil yang dari tadi tidak bergerak di dekat lampu. Dari luar kamar, sayup-sayup terdengar suara televisi yang masih menyala di ruang keluarga.Ibu pasti belum tidur.Hari ini, ospek dijalani sepenuhnya lewat Zoom.Delapan jam penuh menatap layar laptop, mendengarkan suara-suara yang kadang terputus di tengah kalimat, melihat wajah-wajah kecil dalam kotak-kotak persegi yang berjajar rapi, tapi tetap saja terasa jauh. Ini tahun ketiga sejak pandemi melanda. Pemerintah masih mewajibkan masker untuk kegiatan di luar rumah, dan kampus memilih jalan aman: semua sesi hari ini dipindahkan ke dunia maya.Bukan hal yang asing bagiku. Selama tiga tahun terakhir, layar sudah menjadi jendela utamaku ke mana-mana. Tapi tetap saja, dela
Huling Na-update: 2026-06-21