author-banner
IYAN ALMAS ALBANTANI
Author

Novels by IYAN ALMAS ALBANTANI

Binar

Binar

Hari pertama kuliah seharusnya menjadi awal yang biasa bagi Awan. Sebagai seorang mahasiswa baru yang cenderung pendiam, ia hanya berharap bisa melewati masa orientasi, mendapatkan beberapa teman, lalu menjalani perkuliahan seperti kebanyakan orang. Tidak ada target khusus, tidak ada impian besar tentang percintaan, dan tidak ada hal istimewa yang ia harapkan terjadi. Namun semuanya berubah ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya pada malam setelah kegiatan orientasi berakhir. Pesan itu berasal dari seorang mahasiswi yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya. Sebuah percakapan sederhana yang awalnya hanya membahas hal-hal sepele perlahan menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak pernah ia bayangkan. Hari-hari di kampus mulai dipenuhi berbagai cerita baru. Pertemanan yang tumbuh, tugas yang terasa tidak ada habisnya, organisasi, mimpi-mimpi yang perlahan dibangun, hingga berbagai pertemuan yang tanpa sadar menjadi kenangan berharga. Di tengah semua itu, hadir seseorang yang perlahan menjadi bagian dari hidupnya. Seseorang yang selalu muncul di saat-saat yang tidak terduga. Seseorang yang membuat hari-hari biasa terasa sedikit lebih berwarna. Dan seseorang yang tanpa disadari mulai menempati ruang khusus di dalam hatinya. Namun semakin dewasa, Awan mulai menyadari bahwa kehidupan tidak sesederhana yang ia bayangkan. Setiap orang memiliki jalan, tujuan, dan cerita mereka masing-masing. Tidak semua pertemuan datang untuk menetap, dan tidak semua harapan tumbuh menjadi kenyataan. BINAR adalah kisah tentang masa muda, tentang langkah-langkah kecil yang perlahan membentuk kehidupan seseorang, tentang pertemuan yang tampak sederhana namun meninggalkan jejak yang begitu dalam, serta tentang bagaimana satu orang dapat menjadi cahaya yang menerangi perjalanan kita tanpa pernah kita duga sebelumnya. Karena terkadang, cerita yang paling mengubah hidup kita dimulai dari sebuah pesan sederhana di hari yang terlihat biasa.
Read
Chapter: Ch 9 | Perkuliahan Pertama Di Kampus
Pukul dua siang, aku sudah berdiri di depan lemari lagi.Kemeja biru muda yang sama masih menempel di badan sejak pagi, tapi sekarang giliran bagian bawah yang harus menyusul. Kolor kotak-kotak sudah kulepas, digantikan celana panjang berwarna abu gelap yang kuseterika terburu-buru sepuluh menit lalu karena ternyata masih ada bekas lipatan yang membandel di bagian lutut. Aku menariknya, memasukkan ujung kemeja ke dalam dengan rapi, lalu berdiri sekali lagi di depan cermin.Kali ini dari atas sampai bawah semuanya cocok. Tidak ada yang perlu ditutupi meja.Zoom tidak melihat ke bawah meja, batinku, tapi tatap muka melihat semuanya. Jadi kali ini semuanya harus benar.Aku menyambar tas ransel yang sudah kusiapkan sejak makan siang, isi seadanya, laptop, buku catatan yang masih kosong halamannya kecuali beberapa poin yang kutulis waktu Zoom tadi pagi, dan botol minum yang belum sempat kuisi ulang. Kuisi cepat-cepat di dispenser dekat dapur, lalu berjalan keluar.Motor sudah menunggu di
Last Updated: 2026-09-11
Chapter: Ch 8 | Kemeja Dan Kolor
Alarm berbunyi pukul enam pagi.Aku tidak langsung mematikannya. Membiarkannya berbunyi beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena mengantuk, tapi karena ada sesuatu yang ingin ditunda dari momen sebelum alarm dimatikan. Momen ketika hari belum benar-benar dimulai. Ketika semuanya masih mungkin dan belum ada yang bisa salah.Lalu kutap layarnya. Diam.Aku duduk di tepi kasur.Hari ini hari pertama kuliah.Kalimat itu sudah ada di kepala sejak semalam, sejak aku meletakkan ponsel dan memejamkan mata, sejak tidur yang tidak terlalu nyenyak karena pikiran terus berputar di frekuensi yang tidak bisa dimatikan. Bukan cemas atau mungkin iya, sedikit, tapi bukan jenis cemas yang melumpuhkan. Lebih ke jenis perasaan yang muncul sebelum sesuatu yang besar dan baru dimulai, yang membuat tidur terasa lebih dangkal dari biasanya dan membuat pagi datang lebih cepat dari yang seharusnya.Aku berdiri. Membuka lemari.Zoom pagi, tatap muka sore. Itu jadwal hari ini dua mode yang ber
Last Updated: 2026-08-14
Chapter: Ch 7 | Yang Tidak Awan Ketahui
Di pagi yang sama, di tempat yang berbeda. Kamar Melva lebih rapi dari yang bisa diduga dari seseorang yang baru saja bangun. Kasurnya sudah dirapikan, bukan rapi sempurna, tapi cukup rapi untuk menunjukkan bahwa ini bukan kebetulan, bahwa ada seseorang yang memang terbiasa merapikan tempat tidurnya sebelum melakukan hal lain. Buku-buku di rak tersusun tidak sepenuhnya lurus tapi tidak berantakan. Meja belajarnya bersih kecuali satu gelas yang setengah isinya sudah tinggal sisa air dari semalam. Melva berbaring di atas kasur dengan laptop terbuka di depannya. Bukan untuk belajar. Bukan untuk mengerjakan sesuatu yang produktif. Pagi Minggu tidak seharusnya diisi dengan hal-hal yang produktif, itu prinsip yang tidak pernah ia ucapkan dengan keras tapi selalu ia praktikkan. Jadi laptop terbuka, platform streaming sudah menyala, film yang sudah lama masuk daftar tonton akhirnya mulai diputar. Opening credit masih berjalan. Musik latar yang pelan. Nama-nama yang ia tidak kenal. D
Last Updated: 2026-08-09
Chapter: Ch 6 | Tiga Laki-Laki dan Satu Penerjemah
Tidak ada alarm pagi ini. Hari Minggu. Hari di mana dunia tampaknya menyepakati secara kolektif bahwa tidak ada yang perlu terburu-buru. Aku membiarkan mataku terbuka dengan kecepatan mereka sendiri pelan, malas, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sudah masuk dari celah gorden yang tidak pernah benar-benar rapat. Aku berbaring diam sebentar, membiarkan kesadaran kembali pelan-pelan, seperti air yang mengisi bejana dari bawah. Langit-langit kamar. Kipas yang masih berputar. Suara sendok dari arah dapur. Ibu sudah bangun. Tentu saja sudah bangun. Ibu tidak pernah benar-benar tidur sampai siang bahkan di hari libur, ada saja yang dikerjakan, ada saja yang dibenahi, ada saja suara yang keluar dari dapur sebagai bukti bahwa hari ini sedang dimulai oleh setidaknya satu orang di rumah ini. Aku meraih ponsel di sisi kasur. Beberapa notifikasi dari semalam yang belum kubuka. Grup angkatan. Satu pesan dari Milo yang dikirim tengah malam isinya hanya meme yang tidak ada konteksnya, c
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: Ch 5 | Tadi Kenapa Diem Aja?
Satu notifikasi.Aku yang baru saja memejamkan mata membukanya kembali.Layar ponsel menyala di sisi kasur, cahayanya terlalu terang untuk ruangan yang sudah gelap ini. Aku meraihnya setengah sadar, setengah berharap itu hanya notifikasi grup angkatan yang tidak penting.Tapi bukan."Wan.."Dua kata. Bahkan bukan dua kata, satu kata dan dua titik yang menggantung, seperti kalimat yang belum selesai, seperti seseorang yang membuka mulut lalu ragu untuk melanjutkan.Aku duduk.Mataku yang tadi sudah hampir menyerah pada kantuk tiba-tiba tidak lagi mengantuk. Aku membaca pesannya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Bukan karena tidak mengerti isinya hanya dua karakter, tidak ada yang perlu diurai tapi karena ada sesuatu yang aneh dari cara dua titik kecil itu bisa membuat dadaku tidak bisa tenang.Apa maksudnya?Bisa apa saja. Bisa sapaan biasa. Bisa ia mau bertanya sesuatu. Bisa ia lagi iseng. Bisa ia tidak sengaja mengirim. Bisa...Sudah. Jangan dipikirkan terlalu dalam.Aku mengetik."Gima
Last Updated: 2026-08-01
Chapter: Ch 4 | Malam yang Tidak Perlu Banyak Kata
Rumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.Rumah.Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.Aku berdiri sebentar di depan pintu.Mereka lagi makan.Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung
Last Updated: 2026-06-26
You May Also Like
Dibuang Ajudan Dinikahi Komandan
Dibuang Ajudan Dinikahi Komandan
Romansa · Brata Yudha
135.9K views
Menyesal Usai Talak
Menyesal Usai Talak
Romansa · Ucu Nurhami Putri
135.5K views
Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa
Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa
Romansa · Risca Amelia
135.5K views
Pembalasan Untuk Pengkhianat
Pembalasan Untuk Pengkhianat
Romansa · Rias Ardani
135.1K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status