Beranda / Mafia / Bintang Jatuh Di Pelukan / Rayuan Maut Sang Mafia

Share

Rayuan Maut Sang Mafia

Penulis: agneslovely2014
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-23 20:40:17

Udara di kamar mewah itu terasa menyesakkan. Keheningan malam hanya dipecah oleh bunyi jam dinding yang berdetak lambat. Starla Casidy duduk di tepi ranjang king size, tubuhnya kaku seperti patung. Kain hitam tebal menutupi matanya, membuat dunia menjadi kegelapan total – hanya rasa, bunyi, dan bau yang ada.

Sesaat pintu kamar itu terbuka lalu tercium bau wangi parfum pria yang mewah mengelilinginya, disertai aroma sisa tembakau terbakar.

Dia disekap di sini karena Joe, suaminya telah membawanya ke mansion Hanson dengan ancaman. Para pelayan wanita tadi telah menutup matanya dengan kain hitam itu sebelum meninggalkan Starla sendirian. Dia hanya tahu namanya dari bisikan Joe yang dingin di telinganya, Brocklyn Hanson. Orang yang membunuh tanpa ragu, yang kata-katanya seperti hukum di dunia bawah tanah penuh kejahatan.

Langkah-langkah yang tegas mendekatinya dari arah pintu. Berat dan perlahan, tapi penuh kekuasaan. Starla merapatkan badannya, tangannya menggenggam pinggang gaun tidur tipis yang dikenakannya sampai buku jari-jarinya memutih. Perintah Joe masih terngiang, jangan banyak bicara apalagi melawan. Dia hanya diam, menahan napas sampai dadanya terasa sesak.

Bayangan pria itu berhenti tepat di depan dia. Panas tubuhnya menyebar seperti nyala api dari jarak dekat. Kemudian, jari-jari yang besar dan kasar menyentuh dagunya, meluncur perlahan ke bawah ke dagu. Starla ingin menolak, tetapi dia tidak bisa menghindar.

"Kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan untukku, kan?" Suara Brocklyn dalam dan kasar, seperti batu yang digosok. Ada nada kebencian di dalamnya, bukan kebencian pada Starla, tapi kebencian pada perasaan yang dia rasakan. "Gaun itu terlalu tipis untuk menyembunyikan apa yang ada di baliknya. Bentuk tubuhmu yang sempurna, seolah dibuat untuk membuat pria tergila-gila. Dan aku sudah lama tidak gila karena seorang wanita."

Starla menggigil, badannya semakin kaku. Tangan Brocklyn memegang dagunya lebih erat. "Jangan takut, Darling. Ketahuilah bahwa itu tidak akan mengubah apa-apa. Aku adalah orang yang bengis, Starla. Semua orang tahu itu. Aku telah melakukan hal-hal yang akan membuatmu mual. Tapi melihatmu di sini ... membuat gairah liar yang terpendam bertiup nyala lagi. Gairah yang dulu pernah ada karena seorang wanita spesial."

Dia merasakan nafas pria itu terengah-engah, tapi tidak karena lemah melainkan karena usaha menahan diri. "Aku melihatnya dari jauh, bagaimana cahaya malam menyentuh punggungmu yang melengkung sexy, bagaimana rambutmu bergoyang seperti api yang lembut. Kau cantik seperti maut, Starla. Keberadaanmu membuat pria melupakan semua aturan yang mereka kenal."

Brocklyn membungkuk, hidungnya menyentuh dahinya dengan tekanan yang cukup untuk membuat Starla merasa ada di sana. "Matamu yang tertutup itu malah membuatnya lebih buruk. Aku bisa membayangkan mata yang cerah, penuh semangat dan keberanian. Seperti bintang di tengah kegelapan yang aku tinggali. Dan aku ingin meraih bintang itu, meskipun itu akan membakarku."

Tangan Brocklyn meluncur ke bawah, menyentuh bahunya yang terbungkus gaun, sentuhan yang kuat, tidak lembut tapi penuh rasa mendamba. "Buah dada yang penuh, pinggang yang ramping, perut rata, semuanya sempurna. Aku ingin menyentuh setiap inci tubuhmu, ingin merasakan panasmu menyatu dengan panasku. Bagaimana kalau kita mulai malam indah ini berdua, Starla?"

Starla menghela nafas panjang, napasnya terengah-engah. Dia merasakan tubuhnya mulai rileks meskipun hatinya masih takut. Kata-kata pria itu seperti pukulan tinju yang lembut penuh kekuatan, tapi ada kelembutan tersembunyi di dalamnya.

Brocklyn menarik wanita itu sedikit lebih dekat, hingga tubuh Starla menempel pada badannya yang berotot. "Aku tahu, Joe menjualmu untuk obat itu. Aku tidak peduli dengan alasannya. Dia hanyalah bajingan murahan. Tapi sekarang kau di sini dengan aku. Biarkan aku jadikan malam ini sesuatu yang kau ingat bukan karena ketakutan, tapi karena gairah yang sejati. Aku bisa bersikap baik padamu, Starla asalkan kau menuruti keinginanku. Jangan pernah lupakan siapa aku sebenarnya!" bujuknya.

Starla merespon dengan perlahan, menyelipkan tangan kirinya ke lengan bawah Brocklyn yang ditumbuhi bulu subur, begitu jantan. Dia menyentuh kulit pria itu yang terasa hangat dan kasar, penuh bekas luka. Starla merasakan jantungnya berdebar tak menentu.

Kemudian Brocklyn mengangkat tangannya, memegang tangan Starla yang kecil di dalam tangannya yang besar. "Buka kancing kemejaku, Darling. Layani aku malam ini sampai puas!" titahnya seolah-olah tak bisa dibantah.

"Lihat," kata Brocklyn, suaranya lebih dalam sekarang, "jantungmu berdebar cepat, tapi aku bisa merasakan keinginan tersembunyi itu. Biarkan aku memuaskan rasa penasaranmu, Darling. Biarkan aku menunjukkan padamu betapa cantik kau sebenarnya dan betapa kuat aku bisa melindungimu, meskipun caraku melakukannya tidak selalu bersih. Jadilah wanitaku, Starla!"

Kain hitam di matanya terasa semakin berat. Starla mengangkat tangan bebasnya, ingin melepasnya. Namun, Brocklyn menahan tangannya dengan cepat. "Jangan!" sergahnya, dengan nada yang tidak bisa ditolak. "Tunggu sebentar lagi. Biarkan kita lihat apakah kau benar-benar mau dengan orang seperti aku. Sebab sekali kau setuju, tidak ada jalan pulang lagi."

Dia mencium dagu Starla yang dipenuhi air mata. Sebuah ciuman yang cepat dan kuat, tidak lembut tapi penuh makna. Kemudian, dia berdiri, langkah-langkahnya menjauh ke arah jendela dengan kepercayaan diri yang hanya dimiliki oleh orang yang pernah menguasai segala sesuatu.

Starla duduk terisak-isak sendirian, mata masih tertutup kain hitam. Jam dinding berdetak lagi. Malam masih panjang, dan kata-kata Brocklyn terngiang di telinganya. Campuran kekerasan dan keindahan yang membuatnya terjebak antara takut dan keinginan yang tidak dia mengerti. Haruskah dia menyerah menjadi budak ranjang sang mafia?

"Buat apa kau menangis, Starla? Padahal aku akan membuatmu merasakan surga dunia sebentar lagi!" ujar Brocklyn sembari memperhatikan sosok wanita yang duduk di tepi ranjang itu.

"A–aku mau ... pulang saja!" jawab Starla tergagap. Dia ketakutan dengan sosok mafia kejam itu. Dunianya bukan di sini dalam kegelapan melainkan di bawah sorot terang lampu panggung yang gemerlapan.

"Tidak bisa!" ucap Brocklyn tak sabar, dia melucuti pakaiannya hingga berserakan di lantai kamar. Kemudian pria itu mendorong tubuh Starla hingga jatuh terlentang di atas tempat tidur dengan kaki menggantung.

Tanpa banyak bicara Brocklyn menindih tubuh sang bintang terkenal itu lalu menghujani kulit putih mulus Starla dengan ciuman panas bergairah. "Kau milikku malam ini, Starla. Hargamu telah lunas kubayar, rela atau tidak ... kita tetap akan menghabiskan waktu bersama!" tegas Brocklyn.

"Apa kau akan membunuhku jika aku melawanmu, Tuan?!" tantang Starla setelah mengumpulkan segenap keberaniannya yang tersisa.

Brocklyn tertawa renyah hingga menggema di dalam kamar itu. "Jangan terlalu memaksakan diri, Darling. Kau tak akan tahan menghadapi siksaanku. Apa kamu mau mencoba kucambuk dengan ikat pinggangku? Hmm ... sayang sekali, bukan?" ujar pria itu sembari membelai pipi halus Starla yang bergidik ketakutan.

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Puaskan Aku!

    "Tunggu!" seru Starla sebelum Brocklyn berlaku kurang ajar dan semena-mena seperti biasanya."Yes, Darling. Ada apa?" Sebersit senyuman mengejek terukir di bibir tebal pria mafia itu.Starla membulatkan tekadnya, dia harus setidaknya keluar dari mansion milik Brocklyn Hanson hidup-hidup dan melapor ke polisi atas penculikan dirinya. "Tentang kesepakatan kita tadi ... kuharap kau tidak akan melanggarnya. Setelah ini izinkan saya menghubungi managerku, Fanny!" ujar Starla, menyembunyikan ketakutannya."Alright, hanya itu? Kalau sudah tak ada yang ingin kau katakan, biarkan aku menyelesaikan apa yang telah kita mulai malam ini, Darling!" balas Brocklyn seolah-olah permintaan Starla bukan hal penting baginya.Wanita berambut panjang hitam legam bergelombang itu memejamkan matanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Brocklyn kepadanya. Kecupan-kecupan basah nan lapar bagaikan menelan Starla bulat-bulat. Brocklyn tak melewatkan seinchi pun kulit mulus Starla."Ukkh ... mmhh!" Starla mengg

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Tak Berdaya

    "Kumohon berhenti!" rengek Starla dengan bokong memerah dan kebas karena dipukuli telapak tangan lebar Brocklyn."Berjanjilah, jangan melawanku lagi dan jaga lidahmu!" tuntut Brocklyn dengan nada dominan seperti biasanya.Starla mengangguk-anggukkan kepalanya, dia membiarkan pria mafia kejam itu memeluknya di dalam air. Rambut panjang hitam Starla dibelai penuh kelembutan oleh tangan yang sama dengan yang membuat bokongnya kesakitan saat ini."Aku akan merawatmu setelah ini, tenang saja!" ucap Brocklyn ringan tanpa merasa bersalah. Sementara Starla merasa muak karena dijadikan boneka yang dimainkan sekehendak hati Brocklyn. 'Apa maunya? Menyakitiku lalu merawatku. Sebenarnya apa dia punya gangguan jiwa? Aku harus kabur dari tempat terkutuk ini sebelum ikut menjadi gila!' gerutunya dalam hati.Tangan nakal Brocklyn menyusuri punggung Starla hingga berhenti di bokong wanita itu. "Apa kau sakit?" tanyanya."Hmm ... menurutmu? Setelah selusin pukulan keras di bokongku, apa aku akan meras

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Hukuman untuk Starla

    "Huhh ... pria itu membuatku seperti Rapunzel yang disekap di menara tinggi. Bagaimana aku bisa kabur dari sini tanpa risiko mematahkan kakiku sendiri?!" gerutu Starla disertai helaan napas dramatis. Dia sudah bosan terkurung di kamar tidur tanpa ada kesempatan kabur sama sekali.Starla mulai berpikir serius tentang cara dia bisa meninggalkan mansion mafia kejam itu. Banyak yang mengganggu benaknya, termasuk salah satunya, Joe Leopard yang keenakan di luar sana menggunakan fasilitas miliknya padahal pria brengsek itu telah menjualnya lengkap beserta status pernikahan mereka."Ceklek!" Bunyi anak kunci diputar membuat Starla yang duduk bersandar di ranjang melayangkan pandangan penuh kewaspadaan ke arah pintu.'Ahh ... aku sampai lupa waktu karena kebanyakan melamun. Ini sudah petang, pantas saja pria mafia itu mendatangiku. Jangan bilang dia akan memaksaku berbuat yang aneh-aneh lagi!' cicit Starla dalam hatinya.Brocklyn melangkah perlahan dengan kesan dominan penguasa yang terasa be

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Suami Pengganti Starla?

    "Okay, yang harus dilakukan sekarang hanya makan menu bernutrisi dan cukup istirahat, Nyonya!" ujar Dokter Jake Paltrow sembari membereskan peralatan medisnya ke tas dokter.Starla hanya tersenyum tipis, dia ingin pulang ke rumahnya bukan bersantai dan menyamankan diri di mansion mafia mesum itu. Setelah semalam dia dipaksa terus membuka pahanya lebar-lebar, pagi ini masih disergap di bawah shower. Ada amarah menggelegak yang dia tahan di dalam dadanya. 'Sialan, Joe. Kau menjadikanku alat barter untuk lima kilo narkotika, di mana otakmu?!' rutuk Starla. Dia membatin saja tanpa bersuara seraya berbaring miring membelakangi para pria yang masih mengobrol berdiskusi tentang kondisinya.Bunyi pintu ditutup menyisakan langkah kaki berat mendekat ke arah ranjang. Starla masih merasa risau akan apa yang akan dia alami lagi di bawah atap mansion milik Brocklyn Hanson. Bobot badan Brocklyn terasa jelas di sisi pinggang Starla. Dia mengulurkan tangan menarik bahu wanita itu agar menghadap ke

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Tertawan Di Mansion Hanson

    Suara burung liar di pagi hari membangunkan Starla. Dia terlelap karena kelelahan melayani napsu biadab pria mafia yang masih berbaring memejamkan mata tanpa busana di bawah selimut yang sama dengannya.Bias sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela kamar membuat Starla melihat wajah Brocklyn secara jelas. Cambang subur berwarna coklat gelap menghiasi fitur tulang rahang tegas pria itu. Tulang pipinya menonjol dipadu tulang hidung yang kokoh begitu mancung membuat Brocklyn terlihat sempurna.Starla teringat warna iris mata pria itu biru kehijauan bak permata Amazonite. Dia menghela napas perlahan lalu beringsut bangkit dari ranjang yang berantakan bagaikan kapal dihantam topan badai di lautan."Ouch!" desis Starla saat berusaha melangkahkan kakinya. Gesekan paha membuat dia merasa perih di bagian area intimnya. Dia duduk di kloset lalu berkemih sebelum memutuskan mandi air dingin di shower box. Bekas sentuhan sang mafia semalam di tubuhnya masih terekam jelas di benak Starla. Di

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   One-Night-Stand Bersama Sang Mafia

    "Tuan ... please, lepaskan aku. A–aku kedinginan!" ucap Starla putus asa dengan suara yang terdengar parau.Brocklyn tersenyum miring seraya mengangkat dagu Starla. "Aku bisa menghangatkanmu sekarang. Patuhi perintahku, Darling!" balasnya lalu mulai melepaskan lagi semua pakaiannya dan membiarkan kain itu teronggok di lantai.Starla menajamkan telinganya, dia mendengar bunyi gesekan kain yang dilepas. Dengan kasar Starla menelan ludah, nampaknya sudah tiba waktunya bagi dia menyerahkan diri kepada pria mafia itu.Kain yang mengikat pergelangan tangan Starla ke tiang dipan dilepaskan lalu Brocklyn mendorong bahu wanita tawanannya hingga jatuh terlentang di atas ranjang. Seketika kasur melesak karena bobot badan pria bertubuh kekar tersebut yang menindih Starla.Sebuah ciuman yang dipaksakan membuat bibir Starla terbuka untuk menerima lidah yang menyeruak liar ke dalam rongga mulutnya. Jantung Starla berpacu cepat saat bentukan panjang nan keras menekan bagian intimnya. 'Oh God, aku ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status