Accueil / Mafia / Bintang Jatuh Di Pelukan / Terjebak Dalam Dilema

Partager

Terjebak Dalam Dilema

last update Date de publication: 2026-01-04 10:36:40

"Hentikan! Jangan menyentuhku dengan kurang ajar, Tuan!" Starla menggeliat melawan di bawah tubuh berotot kekar itu dengan mata tertutup kain hitam.

"Malam ini sang bintang jatuh di pelukanku, jangan harap kau bisa lolos, Starla! Menyerahlah dan mendesahlah untukku ... kau cepat sekali basah, hmm!" Jemari Brocklyn Hanson bermain di bagian lembut wanita itu dan ini baru permulaan dari segala kegilaannya.

Kepala Starla bergerak liar ke kanan dan ke kiri. Dia memang sudah menikah dengan Joe Leopard selama nyaris tiga tahun. Namun, mereka tidak pernah benar-benar melakukannya sejak awal pernikahan. Hubungannya bersama Joe hanya bagaikan potret couple goals bagi netizen. Hangat di luar, dingin dan kaku di dalam.

Kini, liang kewanitaannya yang belum pernah dimasuki oleh seorang pria pun harus dipaksa menerima Brocklyn Hanson. Dia tak tahu seperti apa rupa sang mafia yang dikatakan oleh Joe begitu kejam. Apa dia akan disiksa demi memenuhi hasrat pria itu?

Namun, sentuhan jemari besar nan panjang Brocklyn mulai tergantikan oleh sesuatu yang hangat dan basah. Mulut pria itu mencicipi bagian pribadi Starla sehingga tubuh ramping yang nyaris telanjang itu bergetar hebat.

"Aakhh ... jangan!" jerit Starla beringsut menjauh dengan emosi berkecamuk di dadanya.

Namun, telapak tangan Brocklyn menahan pinggul Starla. "Berhenti menolakku!" Suara bariton itu tidak membentak, tetapi penuh intimidasi menakutkan.

"Tuan ... hiks hiks ... aku mohon lepaskan saja aku. Urusanmu dengan Joe, aku tidak tahu apa-apa. Kasihanilah aku, Tuan!" ucap Starla mengiba. Dia mungkin pandai berakting adegan apa pun di depan lensa kamera. Namun, kali ini bukan tuntutan skenario melainkan situasi nyata yang akan disesalinya seumur hidup.

Brocklyn Hanson menindih tubuh Starla lalu memagut bibir wanita tawanannya dalam-dalam. Dia merasakan hasrat itu tak tertahankan lagi hingga menyakitkan.

Tangan Starla ditarik hingga menyentuh bagian keras memanjang milik pria mafia itu. "Aaww! Besar sekali!" cicitnya spontan. Jantungnya berdetak kencang bak derap kuda pacu.

"Itu milikmu malam ini, Darling. Kujamin kau pasti puas dan memohon agar aku tidak berhenti!" bujuk Brocklyn Hanson. Tatap matanya memindai wajah Starla yang mengenakan penutup mata hitam dan berhenti di bibir ranum berlipstick merah yang sedikit terbuka karena terengah-engah.

"Please, no!" bisik Starla ketakutan. Dia tak tahu apa artinya sebuah kepuasan hubungan fisik yang memang belum pernah dia rasakan.

Brocklyn menggeram kesal karena bujuk rayunya sia-sia. Dia segera merobek gaun tipis Starla lalu menyentuh apa pun yang dia inginkan. Bentuk fisik seorang wanita yang sempurna itu mengaburkan batas pertahanannya.

Kedua tangan Starla diikat dengan dasi sutra milik pria itu di atas kepala. "Tuan ... jangan ... kumohon!" ucapan mengiba Starla bagaikan mantra yang terucap berulang kali tanpa kekuatan menjadikan harapannya nyata.

Sentuhan Brocklyn justru semakin intens di setiap inchi tubuh wanita tawanannya dari ujung kepala hingga ujung jemari kaki Starla dia jelajahi dengan bibir dan lidahnya.

Bulu roma Starla meremang, dia merasakan pikirannya berkabut terseret oleh hasrat yang sulit untuk dia tolak. Hatinya bimbang antara ingin menolak atau membiarkan Brocklyn memilikinya saja malam ini. Namun, tak ada celah baginya untuk kabur.

"Buka tungkai kakimu yang indah itu untukku, Starla. Jangan sampai aku harus memaksamu!" titah Brocklyn Hanson dengan nada yang tak bisa ditolak.

Perlahan-lahan dalam keraguan, Starla menuruti perintah pria mafia itu. Dia merenggangkan kedua kakinya.

"Good girl!" ucap Brocklyn lalu dia mulai menyusupkan dua jarinya ke lipatan sempit yang mulai basah milik Starla.

Wanita itu terisak-isak dengan napas tercekat setiap kali Brocklyn mendorong masuk jemarinya. "Hentikan ... please!" isak Starla tak berdaya.

"Never! Kita baru akan memulai bagian yang paling menyenangkan, Darling!" balas Brocklyn dengan seringai iblis tanpa ampun.

Tiba-tiba pintu kamar diketok beberapa kali dari luar. Pria mafia itu segera memaki keras, "Shit! Berani sekali mengganggu malam indahku!"

"SIAPA DI SANA?!" teriak Brocklyn dengan nada penuh ancaman.

"Ini saya, Corby. M–maafkan saya, Tuan Hanson, ada persoalan penting yang harus saya laporkan!" jawab pria yang menjadi tangan kanan Brocklyn di sindikat kriminal yang dia pimpin.

"Hmm ... tunggu sebentar, Corby!" tukas Brocklyn lalu dia berpikir sejenak. Kemudian dia bangkit dari ranjang untuk mengambil kain pengikat pinggang gaun malam tipis Starla yang jatuh di lantai.

Sembari mengikat pergelangan tangan Starla ke tiang dipan, Brocklyn berkata, "Jangan pernah berpikir untuk kabur dari tempat ini, Starla. Urusan kita belum selesai, mengerti?!"

"Ta– tapi, aku takut sendirian!" ucap Starla karena matanya tertutup kain hitam dan kedua tangannya diikat ke tiang tempat tidur.

Brocklyn terkekeh. "Ohh, jadi lebih baik kalau aku menemanimu di sini ya? Sabar, Cantik ... kau aman di dalam rumahku. Akan kubunuh siapa pun yang berani menyentuhmu selain aku sendiri!"

Dada Starla naik turun cepat karena panik. Dia tak bisa membedakan mana yang lebih membuatnya ketakutan; kehadiran Brocklyn atau ditinggalkan sendiri tak berdaya di dalam kamar asing itu. Pilihan yang sama-sama buruk!

Telapak tangan lebar berpermukaan kasar itu membelai kulit wajah mulus Starla. Sesaat kemudian bibir Brocklyn memagut ganas dengan hasrat nyata hingga bibir Starla terasa kebas dan sedikit perih.

"Tunggu aku, okay. Jadilah wanita yang penurut, Starla!" pamit Brocklyn lalu dia mengenakan kembali pakaiannya yang teronggok di lantai tanpa peduli betapa kusut penampilannya.

Telinga Starla mendengar suara kain dan kulit beradu lalu langkah-langkah berat itu mulai menjauh darinya. Disusul suara pintu dibanting menutup dan anak kunci diputar dua kali.

Keheningan melingkupinya bersama kegelapan total tanpa seberkas cahaya malam itu. Batinnya bergolak dalam keputus asaan. Jikalau masih ada hari esok, dia sudah menentukan tindakan yang akan diambilnya terhadap pernikahannya bersama Joe.

Perceraian menjadi satu-satunya hal yang diinginkan Starla. Pria bedebah itu telah menjadikannya sebuah komoditi untuk diperjual belikan dengan barang haram narkotika. Entah di mana Joe menggadaikan otaknya?

Seharusnya sudah sejak lama dia menghempaskan pria benalu tak berguna itu. Semenjak menikahinya, Joe berubah 180° dari yang sebelumnya lembut, begitu perhatian, dan penyayang menjadi dingin, acuh tak acuh, bahkan kasar baik verbal maupun fisik.

Dia rupanya telah terjebak oleh pria manipulatif dan munafik yang melakukan love bombing di awal hubungan mereka dulu. Bagi Starla, ini adalah akhir dari hubungannya bersama Joe Leopard.

Kamar itu masih saja sunyi setelah begitu lama terasa bagi Starla, dia mencoba melepaskan ikatan di pergelangan tangannya. Namun, Brocklyn mengikat dengan begitu erat. Tubuh Starla kelelahan dan menyerah untuk terlelap menantikan nasibnya yang di ujung tanduk karena jatuh ke pelukan sang mafia.

Hujan badai yang tadi menyapu kota telah mereda digantikan hawa dingin yang terbawa angin malam. Starla bergidik kedinginan tanpa busana, dalam tidurnya dia mengigau. Dia bermimpi bertemu Joe dan mengamuk pada pria itu karena telah mencelakakannya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
Niluhminia Wati
bagus starla kamu harus cerai dengan joe dan jadi calon istri Brocklyn.
goodnovel comment avatar
ida sari
emng dasar suami ga ada akhlak tuh joe,masa istri nya di jadikan jaminan untuk bisa mendapatkan apa yg dia mau.
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Kebahagiaan yang Sempurna (TAMAT)

    Kedamaian malam di kediaman megah mereka di Montecarlo tiba-tiba buyar. Jam dinding menunjukkan pukul 02.00 waktu setempat, ketika rasa sakit yang tajam dan berdenyut menyerang bagian bawah perut Starla. Bukan sekadar kram biasa, melainkan kontraksi yang begitu hebat, seolah-olah seluruh otot di tubuhnya berkontraksi secara bersamaan dengan intensitas yang tak tertahankan.Starla mengerang pelan, tangannya mencengkeram seprai dengan kuat. Dia mencoba bernapas perlahan, mengingat semua latihan yang telah dia pelajari selama masa kehamilan, tetapi rasa sakit itu datang bergelombang, semakin kuat dan juga sering. Dengan tangan gemetar, dia menyelipkan tangan ke bawah selimut, meraba bagian bawah tubuhnya.Tidak salah lagi. Seprei itu basah kuyup. Air ketubannya sudah pecah."Brock ... Brocklyn ...," panggilnya dengan suara parau, menggoyangkan lengan suaminya yang sedang terlelap pulas di sampingnya. "Brooklyn, bangun! Sudah waktunya ..."Brocklyn Hanson tersentak bangun dalam sekejap. M

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Sang Bintang Telah Kembali

    Suara gemuruh tepuk tangan dan sorakan penonton meneriakkan namanya masih terngiang-ngiang di telinga Starla. Lima tahun lamanya dia vakum dari dunia hiburan, dan kini comeback-nya seolah membuktikan bahwa nama besarnya tak pernah pudar. Tur konser yang digelar di berbagai kota Eropa menjadi bukti nyata kecintaannya pada musik. Dari Royal Albert Hall yang megah di London, hingga suasana romantis di Paris, serta energi penonton di Berlin, Amsterdam, Dublin, hingga Praha, Starla berhasil memukau semua orang.Di setiap panggung gemerlap dengan spot light tertuju kepadanya, Fanny Stuart selalu ada di sisi Starla. Manajer setia itu tak pernah lelah mengatur jadwal padat, memastikan kostum, makeup, dan teknis panggung berjalan sempurna. Starla merasa hidup kembali. Dialah ratu panggung, dan sorakan penonton adalah napas baginya.Namun, waktu terus berjalan. Kini usia kandungan Starla sudah menginjak bulan keempat. Perutnya yang mulai membuncit perlahan menyembul di balik gaun-gaun indahnya

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Kejutan Kehamilan Kedua Starla

    Lantai dua puluh Hotel Ashton Star berdiri megah di jantung Monte Carlo, Monaco. Dari sini, pemandangan Laut Mediterania yang biru terhampar luas bagai permadani berkilauan di bawah sinar matahari. Angin laut yang sejuk menyelinap masuk melalui celah jendela besar penthouse yang menjadi tempat tinggal keluarga Hanson. Starla berdiri di balkon, memandang ke arah dermaga yang terlihat jelas dari ketinggian. Sepuluh kapal yacht milik suaminya berbaris rapi di sana, berkilauan terkena sinar matahari pagi."Mom, lihat! Ada kapal besar yang baru saja datang!" seru suara kecil dari sebelahnya. Ashton, putra mereka yang berusia empat tahun menunjuk ke bawah. Rambutnya yang ikal gelap terurai rapi, dan matanya yang berwarna hijau kebiruan cerah bersinar penuh semangat.Starla berlutut dan memeluk tubuh mungil itu. "Iya, Nak. Itu kapal milik Daddy. Nanti kalau ada waktu, kita bisa naik salah satunya ya?""Benarkah? Asyik!" Ashton melompat-lompat kegirangan.Tepat saat itu, pintu kamar mandi te

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Welcome to Monaco

    Pesawat jet pribadi yang membawa keluarga kecil itu mendarat di Bandara Nice Côte d'Azur (NCE) yang terletak di kota Nice, Prancis. Karena wilayah Monaco yang kecil, tak ada bandara di sana, hanya tersedia Heliport Monaco (MCM) yang melayani penerbangan pendek terutama dari Nice ke Monaco.Selain menggunakan helikopter, transportasi lain adalah mobil dan kereta api yang hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke Monaco dari Nice.Keluarga Brocklyn dijemput oleh mobil limousine dari Hotel Ashton Star milik jaringan grup Hanson. Segala kekayaan yang didapat selama puluhan tahun menjadi penguasa dunia bawah tanah di Los Angeles disulap oleh pria mantan mafia itu menjadi aset bisnis bersih.Brocklyn membeli beberapa helikopter, kapal yacht, mendirikan hotel dan supermarket di tengah kota Montecarlo yang menjadi pusat bisnis di Monaco. Nominal modal yang dia gelontorkan sangat banyak selama tiga tahun ini. Namun, hasilnya berlipat kali ganda. Namanya menjadi buah bibir di kalangan j

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Pemulihan Brocklyn Pasca Operasi

    Dua hari penuh, nyawa Brooklyn Hanson tergantung di ujung tanduk. Nyaris 48 jam, pria itu terbaring tak sadarkan diri, terombang-ambing antara hidup dan mati akibat kehilangan darah yang sangat banyak. Dua peluru yang menembus tubuhnya tidak sembarangan bersarang; satu peluru menembus usus halusnya, sementara yang lain menancap di paru-paru kanan, membuat dokter sempat harus berjuang keras untuk menutup luka-luka dalam yang berbahaya itu.Beruntung, ketangguhan fisik yang terasah selama puluhan tahun berjuang di dunia bawah tanah dan bantuan anak buahnya membuat nyawa pria itu tetap tertahan. Tiga liter darah yang disumbangkan secara sukarela oleh anggota klan Hawk King yang memiliki golongan darah yang sama dengan Brooklyn, menjadi penopang terbesar hingga operasi berjalan lancar dan nyawa pria yang paling disegani di klan Hawk King itu bisa diselamatkan.Kini, mata Brocklyn perlahan terbuka. Pandangan yang semula kabur perlahan mulai terfokus, menyadari bahwa dia masih hidup. Rasa s

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Kabar Buruk Di Tengah Kebahagiaan Starla

    Sirine ambulans meraung-raung membelah malam kota Los Angeles, seolah ikut berteriak panik menyadari bahwa nyawa seorang legenda sedang bertarung melawan maut. Di dalam ruang sempit ambulans yang berbau darah dan obat-obatan itu, Brooklyn Hanson terbaring lemah di atas tandu darurat. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal berat, dan selang oksigen terpasang di hidungnya.Dua peluru tajam telah menembus perut dan punggungnya. Darah terus merembes membasahi perban dan kain di sekitar luka, menandakan pendarahan yang tak kunjung berhenti.Di sampingnya, duduk Corby Killians. Pemimpin baru Hawk King ini menggenggam tangan besar mantan bosnya dengan erat. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut kehilangan dan amarah yang membara terhadap si pelaku penembakan."Tahan, Master Hanson ... bertahanlah," bisik Corby parau, matanya berkaca-kaca. "Kita sudah hampir sampai. Anda harus kuat."Brooklyn hanya mampu mengerjapkan mata lemah. Kesadarannya mulai memudar. Corby tahu, satu-

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Dijual Suami Jahat

    "Selamat atas kesuksesan konsermu, Starla!" seru fans berat artis multi talenta Starla Casidy sambil menyerahkan buket bunga mawar yang cantik ke idolanya di backstage."Ohh ... terima kasih. Bunganya indah sekali!" Starla menghirup aroma mawar segar yang harum itu lalu tersenyum untuk berpose bers

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Suami Pengganti Starla?

    "Okay, yang harus dilakukan sekarang hanya makan menu bernutrisi dan cukup istirahat, Nyonya!" ujar Dokter Jake Paltrow sembari membereskan peralatan medisnya ke tas dokter.Starla hanya tersenyum tipis, dia ingin pulang ke rumahnya bukan bersantai dan menyamankan diri di mansion mafia mesum itu. S

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   One-Night-Stand Bersama Sang Mafia

    "Tuan ... please, lepaskan aku. A–aku kedinginan!" ucap Starla putus asa dengan suara yang terdengar parau.Brocklyn tersenyum miring seraya mengangkat dagu Starla. "Aku bisa menghangatkanmu sekarang. Patuhi perintahku, Darling!" balasnya lalu mulai melepaskan lagi semua pakaiannya dan membiarkan k

  • Bintang Jatuh Di Pelukan   Rayuan Maut Sang Mafia

    Udara di kamar mewah itu terasa menyesakkan. Keheningan malam hanya dipecah oleh bunyi jam dinding yang berdetak lambat. Starla Casidy duduk di tepi ranjang king size, tubuhnya kaku seperti patung. Kain hitam tebal menutupi matanya, membuat dunia menjadi kegelapan total – hanya rasa, bunyi, dan bau

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status