LOGIN"Tuan ... please, lepaskan aku. A–aku kedinginan!" ucap Starla putus asa dengan suara yang terdengar parau.
Brocklyn tersenyum miring seraya mengangkat dagu Starla. "Aku bisa menghangatkanmu sekarang. Patuhi perintahku, Darling!" balasnya lalu mulai melepaskan lagi semua pakaiannya dan membiarkan kain itu teronggok di lantai. Starla menajamkan telinganya, dia mendengar bunyi gesekan kain yang dilepas. Dengan kasar Starla menelan ludah, nampaknya sudah tiba waktunya bagi dia menyerahkan diri kepada pria mafia itu. Kain yang mengikat pergelangan tangan Starla ke tiang dipan dilepaskan lalu Brocklyn mendorong bahu wanita tawanannya hingga jatuh terlentang di atas ranjang. Seketika kasur melesak karena bobot badan pria bertubuh kekar tersebut yang menindih Starla. Sebuah ciuman yang dipaksakan membuat bibir Starla terbuka untuk menerima lidah yang menyeruak liar ke dalam rongga mulutnya. Jantung Starla berpacu cepat saat bentukan panjang nan keras menekan bagian intimnya. 'Oh God, aku takut sekali!' batin Starla cemas tanpa bisa berteriak karena bibirnya melayani ciuman penuh napsu dari pria mafia itu. Setiap lekukan tubuh Starla dijamah tanpa permisi oleh Brocklyn seolah-olah dialah pemiliknya. Dia menitikkan air mata yang segera terserap kain penutup mata warna hitam. Jemari Brocklyn dengan kurang ajar memelintir pucuk buah dadanya. Sakit. Namun, ada gelenyar sensasi yang tak bisa diungkapkan Starla dari dalam tubuhnya. Tangan pria mafia itu berkelana ke bawah perut Starla lalu mulai menusukkan jari telunjuk dan jari tengahnya, menggerakkannya maju mundur Tanpa bisa dicegah, tubuh Starla bereaksi alamiah. Dia semakin basah dan menginginkan sentuhan itu lagi. "Uhh ... kau basah sekali, Cantik! Mmm ...," ujar Brocklyn lalu menjilati jemarinya yang berlumuran cairan milik Starla seolah-olah mencecap madu manis. Starla berseru sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, "Hentikan! Aku tak mau—" "Mulutmu menolak, tapi tubuhmu bereaksi sebaliknya. Nikmati saja sentuhanku, Starla. Surga dunia akan kau dapatkan bersamaku malam ini!" jawab Brocklyn. Dia pun melebarkan tungkai kaki jenjang artis cantik itu sembari menahannya dengan lutut. Tangan kanan Brocklyn menekan pergelangan tangan Starla yang masih terikat satu sama lain ke bantal. Napas Starla terengah-engah seiring detak jantungnya yang tak beraturan. "Kumohon, jangan ... jangan lakukan itu, Tuan!" cicitnya panik. Dia masih perawan yang belum pernah bersetubuh dengan pria mana pun seumur hidupnya. BLES! Darah segar berwarna merah yang terasa hangat merembes keluar dari liang keperawanan Starla. Cahaya dari lampu penerang di luar bangunan mansion membuat Brocklyn bisa melihat noda merah yang jelas di seprai putih di bawah mereka. "Wow, aku beruntung sekali! Ternyata omongan suamimu yang tak berguna dan hina itu benar. Kupikir tadinya itu hanya kebohongan semata. Kau masih perawan, Starla!" Brocklyn tersenyum puas. Dia adalah pria pertama yang menikmati tubuh molek sang bintang. Namun, bagi Starla perkataan Brocklyn hanya menambah penderitaan dan rasa malunya. Dia telah kehilangan hal berharga yang selama ini dijaganya untuk cinta sejati yang belum dia temukan di dunia. Tanpa menghiraukan keheningan yang menggantung karena Starla enggan berbicara, Brocklyn meneruskan aksi liarnya dengan setiap hunjaman keras ke inti kewanitaan Starla yang masih rapat. Batang berurat keperkasaan Brocklyn seperti diselimuti kehangatan nan ketat. Dia sampai tak bisa menahan lagi padahal baru beberapa menit saja melakukan penyerangan intens. "ARGH!" pekik Brocklyn sembari mengejang, dia menyemburkan benih suburnya ke rahim Starla. Matanya berkilat-kilat dengan napas terengah menatap wajah Starla. Dia penasaran juga dengan sepasang mata di balik kain hitam yang menutupi itu. "Sreett!" Seketika kain penutup mata Starla ditarik hingga pandangannya mulai jelas. Seraut wajah tegas yang terbilang tampan meskipun tersirat jelas kekejian sifatnya berada di hadapan Starla. Wajah mereka hanya berjarak sejengkal saja. "Hello, Beautiful!" ucap Brocklyn dengan mata biru kehijauan berbinar-binar menatap Starla. Spontan Starla menggigit bibir bawahnya, dia bingung harus berkata apa setelah banyak hal terjadi beberapa menit lalu. Dia ingin marah, tetapi takut. Dan bagian intim pria itu masih bersarang di liang sempit miliknya, tertancap dan mengeras lagi. "Aarhh!" erangan Starla meluncur dari mulutnya sesaat Brocklyn menghentakkan lagi pinggul dengan ritmis, penuh stamina. "Kuharap kau suka, Starla. Hanya saja ... kau pembohong. Cairanmu menetes-netes membuktikan bahwa penolakan sia-sia itu sebenarnya tak perlu kau lakukan, Starla. Nikmat, bukan?" ejek Brocklyn. "Kau merengut kesucianku, aku tak suka!" protes Starla pada akhirnya angkat bicara. "Apa aku peduli? Tidak, yang terpenting adalah malam ini kau jadi milikku. Sang bintang jatuh di pelukanku. Aku tak akan pernah melepaskanmu, Starla Cassidy. Ingat itu!" jawab Brocklyn, merasa telah menang. Pikiran Starla berkabut gairah, dia tak lagi kedinginan. Malahan kepanasan karena tubuh Brocklyn terus menerus menggeseknya. "Aargh ... kapan kau akan melepaskanku?!" desah Starla tanpa bisa menolak hasrat Brocklyn yang penuh paksaan. Dada mereka saling menempel karena Brocklyn memeluknya erat-erat sembari menciumi leher jenjang mulus Starla. Pria itu seolah-olah sedang berpesta dengan tubuh molek wanita pujaan hatinya. "Tidak akan pernah. Mulai sekarang kau tinggal di rumahku dan melayaniku kapan pun aku menginginkanmu, Starla. Sekadar info saja, suamimu telah sepakat menceraikanmu tadi. Dia menukarmu dengan lima kilogram Angel Dust milikku. Itu harga yang mahal, asal kau tahu!" jawab Brocklyn dengan alis tertaut sengit. Pria bedebah tak berguna itu tamak dan sama sekali tidak pantas menjadi suami Starla yang berharga, pikir Brocklyn. Kemudian dia teringat mengenai kondisi Starla yang masih perawan setelah menikah beberapa waktu lamanya dengan Joe Leopard. "Hey, Cantik. Bagaimana bisa kau masih perawan setelah menjadi istri Joe? Apa dia gay atau punya wanita idaman lain?" selidik Brocklyn yang penasaran. Starla bungkam, dia pun tak mengerti setelah love bombing yang intens saat mereka berpacaran dulu. Dia yang masih berpola pikir tradisional didikan keluarga Cassidy dari Maryland, tidak pernah mencoba sex before married. "Entahlah!" tukas Starla terlihat jijik dengan segala sesuatunya. Baik itu Joe maupun sang mafia, semua laki-laki brengsek di matanya. Brocklyn menggeram kesal, dia pun melanjutkan aksinya. Kali ini sepasang bulatan kembar nan empuk milik Starla menjadi sasaran bulan-bulanan pria itu sampai Starla merintih kesakitan. "Uuh ... pelan, kau menyakitiku!" Starla menangis sekali lagi karena merasa terhina dengan perlakuan Brocklyn kepadanya yang tak ubah bak wanita pelacur, pemuas hasrat lelaki hidung belang. "Kau tegang, Starla. Cobalah menikmati setiap belaianku. Kita toh akan menikah tak lama lagi setelah proses perceraianmu beres!" ujar Brocklyn yang terdengar bagaikan petir di siang bolong bagi Starla. "Tidak. Aku tak mau, kau tidak bisa memaksaku untuk menikahimu, Tuan. Ini gila!" tolak Starla mentah-mentah. Brocklyn terkekeh mengejek lalu menjawab, "Gila adalah nama tengahku, kau tak punya pilihan. Ini wilayah kekuasaanku. Jangan harap bisa kabur maupun berbuat sesuka hatimu di sini, Starla!" "Aku masih terikat kontrak dengan beberapa label untuk konser sampai akhir tahun nanti. Kumohon mengertilah situasiku, Tuan!" ucap Starla putus asa. "Hmm ... fokus saja melayaniku sekarang. Aku masih belum puas, Cantik!" balas Brocklyn masa bodoh dengan urusan Starla. Dia membalik tubuh molek yang bermandikan peluh itu lalu memasukinya lagi dari belakang. "Aakkh!" jerit Starla pilu. Dia merasa tak sanggup lagi melalui sisa malam itu."Tunggu!" seru Starla sebelum Brocklyn berlaku kurang ajar dan semena-mena seperti biasanya."Yes, Darling. Ada apa?" Sebersit senyuman mengejek terukir di bibir tebal pria mafia itu.Starla membulatkan tekadnya, dia harus setidaknya keluar dari mansion milik Brocklyn Hanson hidup-hidup dan melapor ke polisi atas penculikan dirinya. "Tentang kesepakatan kita tadi ... kuharap kau tidak akan melanggarnya. Setelah ini izinkan saya menghubungi managerku, Fanny!" ujar Starla, menyembunyikan ketakutannya."Alright, hanya itu? Kalau sudah tak ada yang ingin kau katakan, biarkan aku menyelesaikan apa yang telah kita mulai malam ini, Darling!" balas Brocklyn seolah-olah permintaan Starla bukan hal penting baginya.Wanita berambut panjang hitam legam bergelombang itu memejamkan matanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Brocklyn kepadanya. Kecupan-kecupan basah nan lapar bagaikan menelan Starla bulat-bulat. Brocklyn tak melewatkan seinchi pun kulit mulus Starla."Ukkh ... mmhh!" Starla mengg
"Kumohon berhenti!" rengek Starla dengan bokong memerah dan kebas karena dipukuli telapak tangan lebar Brocklyn."Berjanjilah, jangan melawanku lagi dan jaga lidahmu!" tuntut Brocklyn dengan nada dominan seperti biasanya.Starla mengangguk-anggukkan kepalanya, dia membiarkan pria mafia kejam itu memeluknya di dalam air. Rambut panjang hitam Starla dibelai penuh kelembutan oleh tangan yang sama dengan yang membuat bokongnya kesakitan saat ini."Aku akan merawatmu setelah ini, tenang saja!" ucap Brocklyn ringan tanpa merasa bersalah. Sementara Starla merasa muak karena dijadikan boneka yang dimainkan sekehendak hati Brocklyn. 'Apa maunya? Menyakitiku lalu merawatku. Sebenarnya apa dia punya gangguan jiwa? Aku harus kabur dari tempat terkutuk ini sebelum ikut menjadi gila!' gerutunya dalam hati.Tangan nakal Brocklyn menyusuri punggung Starla hingga berhenti di bokong wanita itu. "Apa kau sakit?" tanyanya."Hmm ... menurutmu? Setelah selusin pukulan keras di bokongku, apa aku akan meras
"Huhh ... pria itu membuatku seperti Rapunzel yang disekap di menara tinggi. Bagaimana aku bisa kabur dari sini tanpa risiko mematahkan kakiku sendiri?!" gerutu Starla disertai helaan napas dramatis. Dia sudah bosan terkurung di kamar tidur tanpa ada kesempatan kabur sama sekali.Starla mulai berpikir serius tentang cara dia bisa meninggalkan mansion mafia kejam itu. Banyak yang mengganggu benaknya, termasuk salah satunya, Joe Leopard yang keenakan di luar sana menggunakan fasilitas miliknya padahal pria brengsek itu telah menjualnya lengkap beserta status pernikahan mereka."Ceklek!" Bunyi anak kunci diputar membuat Starla yang duduk bersandar di ranjang melayangkan pandangan penuh kewaspadaan ke arah pintu.'Ahh ... aku sampai lupa waktu karena kebanyakan melamun. Ini sudah petang, pantas saja pria mafia itu mendatangiku. Jangan bilang dia akan memaksaku berbuat yang aneh-aneh lagi!' cicit Starla dalam hatinya.Brocklyn melangkah perlahan dengan kesan dominan penguasa yang terasa be
"Okay, yang harus dilakukan sekarang hanya makan menu bernutrisi dan cukup istirahat, Nyonya!" ujar Dokter Jake Paltrow sembari membereskan peralatan medisnya ke tas dokter.Starla hanya tersenyum tipis, dia ingin pulang ke rumahnya bukan bersantai dan menyamankan diri di mansion mafia mesum itu. Setelah semalam dia dipaksa terus membuka pahanya lebar-lebar, pagi ini masih disergap di bawah shower. Ada amarah menggelegak yang dia tahan di dalam dadanya. 'Sialan, Joe. Kau menjadikanku alat barter untuk lima kilo narkotika, di mana otakmu?!' rutuk Starla. Dia membatin saja tanpa bersuara seraya berbaring miring membelakangi para pria yang masih mengobrol berdiskusi tentang kondisinya.Bunyi pintu ditutup menyisakan langkah kaki berat mendekat ke arah ranjang. Starla masih merasa risau akan apa yang akan dia alami lagi di bawah atap mansion milik Brocklyn Hanson. Bobot badan Brocklyn terasa jelas di sisi pinggang Starla. Dia mengulurkan tangan menarik bahu wanita itu agar menghadap ke
Suara burung liar di pagi hari membangunkan Starla. Dia terlelap karena kelelahan melayani napsu biadab pria mafia yang masih berbaring memejamkan mata tanpa busana di bawah selimut yang sama dengannya.Bias sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela kamar membuat Starla melihat wajah Brocklyn secara jelas. Cambang subur berwarna coklat gelap menghiasi fitur tulang rahang tegas pria itu. Tulang pipinya menonjol dipadu tulang hidung yang kokoh begitu mancung membuat Brocklyn terlihat sempurna.Starla teringat warna iris mata pria itu biru kehijauan bak permata Amazonite. Dia menghela napas perlahan lalu beringsut bangkit dari ranjang yang berantakan bagaikan kapal dihantam topan badai di lautan."Ouch!" desis Starla saat berusaha melangkahkan kakinya. Gesekan paha membuat dia merasa perih di bagian area intimnya. Dia duduk di kloset lalu berkemih sebelum memutuskan mandi air dingin di shower box. Bekas sentuhan sang mafia semalam di tubuhnya masih terekam jelas di benak Starla. Di
"Tuan ... please, lepaskan aku. A–aku kedinginan!" ucap Starla putus asa dengan suara yang terdengar parau.Brocklyn tersenyum miring seraya mengangkat dagu Starla. "Aku bisa menghangatkanmu sekarang. Patuhi perintahku, Darling!" balasnya lalu mulai melepaskan lagi semua pakaiannya dan membiarkan kain itu teronggok di lantai.Starla menajamkan telinganya, dia mendengar bunyi gesekan kain yang dilepas. Dengan kasar Starla menelan ludah, nampaknya sudah tiba waktunya bagi dia menyerahkan diri kepada pria mafia itu.Kain yang mengikat pergelangan tangan Starla ke tiang dipan dilepaskan lalu Brocklyn mendorong bahu wanita tawanannya hingga jatuh terlentang di atas ranjang. Seketika kasur melesak karena bobot badan pria bertubuh kekar tersebut yang menindih Starla.Sebuah ciuman yang dipaksakan membuat bibir Starla terbuka untuk menerima lidah yang menyeruak liar ke dalam rongga mulutnya. Jantung Starla berpacu cepat saat bentukan panjang nan keras menekan bagian intimnya. 'Oh God, aku ta







