Share

Bab 4

Author: Rains
“Kebetulan dia sedang mempersiapkan ulang tahunnya, lalu bilang ingin punya sebuah bintang. Jadi aku sekalian saja memberikannya.”

“Soal makan malam itu, kami pergi ramai-ramai. Bukan cuma berdua. Jangan berpikir yang aneh-aneh, ya?”

Aku hanya menatap Indra dengan tenang.

Penelitian bintang ini ia kerjakan terus-menerus selama tiga tahun. Laras baru datang tiga bulan lalu. Menggunakan alasan seperti itu, apa dia tidak merasa lucu? Entah Indra tidak menyadari atau pura-pura tak sadar, setiap kali ia berbohong atau merasa gugup, tangannya selalu refleks menarik-narik ujung bajunya.

Setibanya di gerbang kompleks, Laras tetap berhasil membuat Indra untuk pergi menemuinya. Entah karena pekerjaan atau alasan apa pun. Aku sudah tidak peduli. Bagaimanapun, ini bukan pertama kalinya.

Musim panas tahun ini, hujan turun jauh lebih sering dari biasanya. Suatu hari sepulang kerja aku kehujanan. Malamnya, demam tinggi tiba-tiba menyerang. Dalam keadaan setengah sadar, aku meminta Indra mengambilkan obat penurun panas. Namun yang kulihat justru ia bangun dan berganti pakaian.

“Keran air di rumah Laras rusak. Dia tidak bisa memperbaikinya. Aku mau ke sana untuk lihat sebentar.” Katanya.

Aku menatap Indra dengan tatapan kosong.

Sejenak aku bahkan tak tahu harus bertanya yang mana dulu. Apakah, kalau kerannya rusak, kenapa kamu yang harus datang? Atau, kapan hubungan kalian sedekat itu, sampai urusan keran pun harus kamu tangani?

Namun Indra tak memberiku kesempatan untuk bertanya. Ia buru-buru pergi. Sama sekali tak menyadari bahwa di kamar ber-AC 18 derajat, aku terbaring berselimut tebal, dan keringat dingin membasahi seluruh tubuh.

Tidak seperti saat musim panas di bangku kuliah dulu, ketika sepulang kelas aku berlari menuju perpustakaan ber-AC, dia akan menyusul dari belakang dengan wajah datar, menarikku agar berhenti, mengeluarkan tisu dari tasnya, dan menyeka keringatku sambil menegur dengan suara rendah.

“Kau pikir tubuhmu sekuat itu? Baru selesai kelas, badan penuh keringat, langsung masuk ruangan ber-AC. Nanti kalau demam, siapa yang repot mengurusmu kalau bukan aku.”

Saat aku sampai di kantor, Ranti langsung melempar setumpuk dokumen kantor baru ke atas mejaku.

“Cepat pelajari semuanya. Kalau nanti ada kesalahan, aku benar-benar akan menendangmu keluar dari perusahaan.”

Aku mendadak kembali seperti masa menjelang ujian, menekuni materi tanpa henti, dan memeluk berkas-berkas itu hingga malam. Sebelum meninggalkan kantor, aku membuka surel dan mendapati pengacara sudah mengirimkan draf perjanjian perceraian. Dengan membawa dokumen itu, aku menyetir menembus hujan deras menuju lembaga penelitian tempat Indra bekerja.

Saat mobil berhenti di parkiran bawah tanah, ponselku menerima notifikasi dari sosial media. Itu adalah sebuah video yang diunggah Laras. Di dalam video itu, Indra dan Laras terlihat menghadiri sebuah acara temu penggemar anime yang berakhir belum lama ini. Laras memenangkan sebuah permainan, lalu dengan penuh kegembiraan memeluk dan mencium Indra di tengah kerumunan orang.

Keterangan di videonya berbunyi, [Sejak pertemuan pertama, aku sudah berpikir, meski tak bisa memiliki secara terang-terangan, aku tetap ingin memiliki kamu.]

[Dan sekarang, akhirnya terwujud.]

Aku mematikan layar, mendongak, lalu tertawa sinis. Aku dan Indra bersama selama dua belas tahun, menghabiskan hampir seluruh masa muda kami bersama. Namun meski begitu, aku tetap merasa pria di dalam video itu begitu asing. Seolah-olah, aku tak pernah benar-benar mengenalnya.

Tak jauh dari tempatku tiba-tiba terdengar suara isakan rendah yang parau.

“Kak, aku mohon, jangan tinggalkan aku .…”

“Aku menyukaimu … apa itu salah? Sejak masih di kampus, aku sudah menyukaimu .…”

Mengikuti arah suara itu, aku melihat seorang perempuan menghadang seorang pria di samping mobil. Matanya merah, suaranya penuh tuntutan putus asa. Dalam keputusasaan, wanita itu berjinjit, mengangkat wajahnya, lalu mencium bibir Indra.

Aku melihat kedua tangan Indra yang semula terkulai di sisi tubuhnya, pada detik ketika ciuman itu jatuh, justru malah memeluk tubuh wanita itu. Di bawah hujan malam, mereka berciuman lama, seolah dunia hanya berisi mereka berdua.

Cekrik.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 10

    Kami terlalu lama bersama, dan sisi buruknya kami memiliki terlalu banyak teman yang sama. Saat aku melangkah masuk ke aula pernikahan, terlihat Indra mengenakan setelan jas hitam dan menggenggam sebuket mawar merah. Orang-orang yang lalu lalang menatap ke arah Indra, namun ia seolah tak menyadarinya sama sekali.Begitu melihatku, sepasang mata Indra langsung berbinar. Ia melangkah ke arahku, setapak demi setapak. Tubuhnya tampak lebih kurus dari sebelumnya, wajahnya juga terlihat pucat dan lelah.Karena sebelumnya aku mengirimkan video tentang diri Indra dan Laras ke obrolan grup. Ada orang-orang yang suka mencari sensasi, menyebarkan video itu ke internet, hingga sempat memicu perbincangan hangat.Banyak warganet menyerbu kolom komentar di akun sosial media Laras, memaki, bilang kalau Laras tak tahu malu, sadar jadi orang ketiga tapi tetap melakukannya. Pihak lembaga penelitian pun memecat Laras, sementara Indra jabatannya diturunkan satu tingkat.Teman-teman juga mulai menjauh dari

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 9

    Saat itu, Indra sempat bercanda di samping Elia, berkata, “Kan kita cuma pergi liburan, bukan tidak akan pulang lagi. Kenapa kamu bereskan barang sebanyak ini?”Waktu itu, apa yang Elia katakan? Dia tidak mengatakan apa pun. Hanya menatap Indra dengan tenang. Jantung Indra kembali terasa perih, seperti ditusuk jarum berulang kali. Ternyata sejak saat itu, Elia sudah memutuskan untuk meninggalkannya.Tidak. Pasti bukan begitu. Elia hanya sedang marah. Elia cuma bersembunyi, menunggu dirinya datang membujuk. Elia pasti akan memaafkannya.Saat Indra pergi ke kantor Elia untuk mencarinya, Indra justru dihentikan oleh satpam di lantai bawah.“Ini perintah dari atasan, orang yang tidak berkepentingan tidak boleh masuk.”Indra lalu mencoba menemui teman-teman mereka yang sama-sama dikenal. Dan tak satu pun dari mereka memberinya sambutan yang baik. Dari Ranti, Indra baru tahu bahwa beberapa waktu lalu, depresi Elia sempat menunjukkan tanda-tanda kambuh.Indra tidak mau percaya. Setelah berhar

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 8

    Kata-kata yang belum sempat Indra ucapkan terhenti mendadak.“Tidak ada lain kali.”Aku menatap lurus ke dalam matanya, mengucapkannya dengan tegas. Kami saling memandang dalam diam selama beberapa menit. Tiba-tiba aku menunduk, lalu melambaikan tangan ke arahnya.“Laras mau lompat dari gedung. Kamu ketua tim, tidak pantas kalau tidak ke sana.”“Pergilah.”Indra menunduk, ragu selama beberapa detik, lalu menatapku seolah memohon. “Kalau begitu perjalanan Jalur Barat Laut itu .…”Sudut bibirku terangkat tipis. “Nanti saja kalau ada kesempatan.”Seolah mendapatkan surat pengampunan, Indra menerobos hujan deras, naik taksi kembali ke lembaga penelitian. Aku mengikutinya keluar, lalu naik taksi ke arah yang berlawanan.Satu jam kemudian, aku sudah duduk di dalam pesawat. Dengan tujuan ke Negara Seruni. Sebelum lepas landas, aku mengirim sebuah file terkompresi ke kedua orang tua kami dan para sahabat.…Saat Indra terbangun, ia mendapati dirinya terbaring di samping seseorang. Refleks, ia

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 7

    Sudut bibirku sedikit terangkat, lalu aku pun mengunggah sebuah postingan di sosial media.[Suamiku sudah berjanji akan melepaskan segalanya di sini dan berkeliling dunia bersamaku. Hidup ini paling banyak hanya 30.000 hari, meski hanya bahagia sehari, mari kita nikmati. Masa lalu biarlah berlalu, mulai sekarang kami akan menjalani hidup dengan baik.]Laras akhirnya tetap tak sanggup menahan diri. Sore harinya, dia mengajakku bertemu.Di sebuah kafe, aku melihatnya, wajahnya pucat dan penuh akan kelelahan. Mata Laras memerah, suaranya bergetar saat bertanya padaku, “Sebegitu cintanya kamu padanya? Aku dan dia sudah sejauh ini, tapi kamu tetap tidak mau melepaskannya.”Aku hanya mengibaskan tangan, tanpa menyangkal sedikit pun. “Dia bilang dia mencintaiku. Tanpa aku, dia akan mati.”Laras tampak semakin hancur. “Kalian mau pergi?”“Kenapa … kenapa dia tidak bilang apa-apa padaku?”Aku membuka tangkapan layar tiket pesawat yang dipesan Indra dan memperlihatkannya padanya. Dengan setengah

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 6

    “Elia, jangan tinggalkan aku .…”“Jangan pergi. Dengarkan penjelasanku, ya?”Suara Indra bergetar, kata-katanya tersendat, nadanya gemetar tak stabil. Aku hanya menatapnya dengan tenang. Namun tiba-tiba Indra runtuh, menangis tersedu-sedu.“Elia, jangan menatapku seperti itu. Kalau kamu mau memukulku, memarahiku, silakan. Tapi jangan menatapku dengan pandangan seperti ini!”Ia mencengkeram pakaianku erat-erat, tatapannya dipenuhi putus asa.“Elia, kamu bilang hidupmu adalah milikku. Kamu bilang akan menemaniku sampai tua.”“Kita juga sudah berjanji akan pergi melihat Gunung Tujuh Warna bersama. Kamu tidak boleh mengingkari janji.”“Kita … kita sudah sepakat .…”Aku menutup mata lelah. “Lalu, apa yang sebenarnya kamu inginkan?”Indra menangis hingga hampir kehilangan suara. Beberapa menit kemudian, dengan suara serak, ia berkata, “Jangan tinggalkan aku, ya? Beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji tidak akan membuatmu terluka lagi.”Aku terdiam. Namun pandanganku jatuh pada sebuah fo

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 5

    Kilatan petir dan gemuruh guntur yang datang tiba-tiba menerangi seluruh area parkir.“Siapa itu?”Akhirnya, mereka melihatku yang sedang berdiri tidak jauh dari sana. Di saat itu, suara napas mereka terdengar begitu jelas, begitu memalukan.Begitu Indra melihatku, ia seperti kehilangan jiwanya. “El … Elia, kenapa kamu ada di sini?”Aku melangkah mendekat, satu langkah demi satu langkah.“Kakak … bukan begitu. Ini bukan salah Kak Indra. Aku yang menyukainya, semua ini aku yang—ah!”Belum sempat Laras menyelesaikan kalimatnya, dengan seluruh tenaga yang kupunya, aku menampar wajahnya. Kemudian aku melepaskan cincin pernikahan dari jariku dan melemparkannya keras ke arah Indra. Hantaman itu membuat Indra tersentak sadar. Ia buru-buru mendorong Laras menjauh.Nada suaranya tanpa sadar meninggi. “Elia, dengarkan penjelasanku! Ini bukan seperti yang kamu ....”Aku memotong kata-katanya dengan menyerahkan dokumen perjanjian perceraian kepada Indra.“Indra, kita selesai.”Indra mengejarku tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status