Share

Bab 3

Author: Rains
“Elia, sarapan dulu. Aku membuat bubur sumsum kesukaanmu.”

Begitu melihatku keluar, Indra menarik tanganku dan mendudukkan aku di meja makan. Aku mengambil sendok, menyesap satu suapan, lalu meletakkannya kembali. Melihat aku tak melanjutkan makan, Indra menatapku dengan heran.

Aku menatap bubur millet di mangkuk, lalu berkata pelan, “Aku hanya makan bubur yang manis.”

Dulu aku pernah mendengar seseorang berkata, “Rasa manis bisa merangsang pelepasan dopamin.”

Itulah sebabnya aku begitu menggemari makanan manis.

Indra tertegun beberapa detik, lalu buru-buru mencoba memperbaiki suasana. “Di dapur masih ada telur dadar. Akan aku ambilkan sekarang.”

Aku menggeleng pelan. “Tidak perlu. Aku sedang terburu-buru.”

Kemarin, Laras mengunggah sebuah status di sosial media.

[Hore! Kakak senior berjanji besok akan membawakan sarapan untukku.

Aku mau telur dadar dan bubur sumsum, bubur sumsum yang pakai daging.]

Indra menahan aku yang hendak pergi, alisnya berkerut dalam. “Kamu marah karena kemarin aku tidak menemanimu?”

“Kemarin ada pekerjaan mendadak. Aku juga sudah minta maaf padamu.”

“Penelitianku sudah mendekati tahap akhir. Sebagai penanggung jawab, aku tidak bisa hanya memikirkan urusan perasaan.”

“Selama ini kamu selalu mendukung pekerjaanku. Sekarang, kenapa tiba-tiba kamu ribut seperti ini?”

Ya. Selama bertahun-tahun, beginilah kami menjalani hubungan. Aku mencintainya, maka aku menoleransi segalanya tanpa batas. Bahkan saat ia sibuk hingga melupakan ulang tahunku, melupakan hari jadi kami, bahkan berhari-hari tak pulang ke rumah, aku tak pernah mengeluh. Aku tahu, itu adalah mimpinya.

Sampai suatu kali, setelah Indra menyelesaikan sebuah penelitian, ia datang ke kantorku untuk menjemputku pulang kerja. Saat itu, aku mendengar ponselnya terus-menerus berdering.

Pria yang selama ini selalu berkata, membalas pesan itu merepotkan. Hari itu justru menunduk tanpa mengangkat kepala, jarinya terus mengetik, bahkan senyum ringan dan bahagia tergambar jelas di wajahnya.

Hari itu pula, untuk pertama kalinya, aku mendengar nama Laras keluar dari mulutnya. Seorang junior yang merepotkan dan sedikit bodoh, katanya.

Dan juga untuk pertama kalinya aku mengerti, bukan karena dia tidak suka membalas pesan, dan bukan karena dia menganggap mengetik itu merepotkan. Melainkan karena aku bukan orang yang pantas ia luangkan waktunya.

Aku menarik tanganku dari genggamannya. Tatapanku padanya datar, tanpa riak.

“Selama bertahun-tahun ini, aku lelah.”

“Kita berce ....”

Belum sempat kata itu selesai, ponsel Indra sudah berdering. Itu nada dering khusus. Ia bahkan tak melirik layar, dan langsung mengangkat telepon.

“Hei, ada apa?”

Indra barangkali tak menyadari, sejak telepon itu tersambung, raut wajahnya pun melembut tanpa sadar.

Dari seberang sana terdengar suara Laras yang manja. “Kakak, aku hampir kelaparan.”

“Kapan kamu ke sini? Kalau sampai aku kelaparan, aku akan merepotkan kamu.”

Indra tertawa kecil dengan penuh sayang. “Bukankah kemarin kamu sudah makan banyak lobster? Baru jam segini saja sudah lapar?”

“Baiklah, aku ke sana sekarang.”

Sudut bibirku terangkat membentuk senyum dingin.

Orang di seberang sana seolah menyadari sesuatu. “Oh iya, Kak. Kalau ada waktu, ajak juga Istrimu keluar makan bersama.”

“Kemarin itu hari jadi pernikahan kalian. Aku malah mengambil bintangnya dan memaksa Kakak traktir makan malam. Aku ingin mentraktir Istrimu makan besar, sebagai ucapan terima kasih.”

Mendengar itu, sekilas rasa bersalah melintas di mata Indra. Sambil menggenggam ponsel, tanpa sadar ia mundur beberapa langkah.

Aku terkekeh dingin, tak berkata apa pun. Dengan sepatu hak tinggi yang aku kenakan, aku berbalik hendak pergi. Namun Indra buru-buru menutup telepon dengan beberapa kata seadanya, lalu menyusulku dengan langkah panjang, mengatakan ingin mengantarku ke kantor.

“Soal penelitian bintang itu, Laras juga ikut terlibat. Aku tidak mungkin memutuskan semuanya sendirian.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 10

    Kami terlalu lama bersama, dan sisi buruknya kami memiliki terlalu banyak teman yang sama. Saat aku melangkah masuk ke aula pernikahan, terlihat Indra mengenakan setelan jas hitam dan menggenggam sebuket mawar merah. Orang-orang yang lalu lalang menatap ke arah Indra, namun ia seolah tak menyadarinya sama sekali.Begitu melihatku, sepasang mata Indra langsung berbinar. Ia melangkah ke arahku, setapak demi setapak. Tubuhnya tampak lebih kurus dari sebelumnya, wajahnya juga terlihat pucat dan lelah.Karena sebelumnya aku mengirimkan video tentang diri Indra dan Laras ke obrolan grup. Ada orang-orang yang suka mencari sensasi, menyebarkan video itu ke internet, hingga sempat memicu perbincangan hangat.Banyak warganet menyerbu kolom komentar di akun sosial media Laras, memaki, bilang kalau Laras tak tahu malu, sadar jadi orang ketiga tapi tetap melakukannya. Pihak lembaga penelitian pun memecat Laras, sementara Indra jabatannya diturunkan satu tingkat.Teman-teman juga mulai menjauh dari

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 9

    Saat itu, Indra sempat bercanda di samping Elia, berkata, “Kan kita cuma pergi liburan, bukan tidak akan pulang lagi. Kenapa kamu bereskan barang sebanyak ini?”Waktu itu, apa yang Elia katakan? Dia tidak mengatakan apa pun. Hanya menatap Indra dengan tenang. Jantung Indra kembali terasa perih, seperti ditusuk jarum berulang kali. Ternyata sejak saat itu, Elia sudah memutuskan untuk meninggalkannya.Tidak. Pasti bukan begitu. Elia hanya sedang marah. Elia cuma bersembunyi, menunggu dirinya datang membujuk. Elia pasti akan memaafkannya.Saat Indra pergi ke kantor Elia untuk mencarinya, Indra justru dihentikan oleh satpam di lantai bawah.“Ini perintah dari atasan, orang yang tidak berkepentingan tidak boleh masuk.”Indra lalu mencoba menemui teman-teman mereka yang sama-sama dikenal. Dan tak satu pun dari mereka memberinya sambutan yang baik. Dari Ranti, Indra baru tahu bahwa beberapa waktu lalu, depresi Elia sempat menunjukkan tanda-tanda kambuh.Indra tidak mau percaya. Setelah berhar

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 8

    Kata-kata yang belum sempat Indra ucapkan terhenti mendadak.“Tidak ada lain kali.”Aku menatap lurus ke dalam matanya, mengucapkannya dengan tegas. Kami saling memandang dalam diam selama beberapa menit. Tiba-tiba aku menunduk, lalu melambaikan tangan ke arahnya.“Laras mau lompat dari gedung. Kamu ketua tim, tidak pantas kalau tidak ke sana.”“Pergilah.”Indra menunduk, ragu selama beberapa detik, lalu menatapku seolah memohon. “Kalau begitu perjalanan Jalur Barat Laut itu .…”Sudut bibirku terangkat tipis. “Nanti saja kalau ada kesempatan.”Seolah mendapatkan surat pengampunan, Indra menerobos hujan deras, naik taksi kembali ke lembaga penelitian. Aku mengikutinya keluar, lalu naik taksi ke arah yang berlawanan.Satu jam kemudian, aku sudah duduk di dalam pesawat. Dengan tujuan ke Negara Seruni. Sebelum lepas landas, aku mengirim sebuah file terkompresi ke kedua orang tua kami dan para sahabat.…Saat Indra terbangun, ia mendapati dirinya terbaring di samping seseorang. Refleks, ia

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 7

    Sudut bibirku sedikit terangkat, lalu aku pun mengunggah sebuah postingan di sosial media.[Suamiku sudah berjanji akan melepaskan segalanya di sini dan berkeliling dunia bersamaku. Hidup ini paling banyak hanya 30.000 hari, meski hanya bahagia sehari, mari kita nikmati. Masa lalu biarlah berlalu, mulai sekarang kami akan menjalani hidup dengan baik.]Laras akhirnya tetap tak sanggup menahan diri. Sore harinya, dia mengajakku bertemu.Di sebuah kafe, aku melihatnya, wajahnya pucat dan penuh akan kelelahan. Mata Laras memerah, suaranya bergetar saat bertanya padaku, “Sebegitu cintanya kamu padanya? Aku dan dia sudah sejauh ini, tapi kamu tetap tidak mau melepaskannya.”Aku hanya mengibaskan tangan, tanpa menyangkal sedikit pun. “Dia bilang dia mencintaiku. Tanpa aku, dia akan mati.”Laras tampak semakin hancur. “Kalian mau pergi?”“Kenapa … kenapa dia tidak bilang apa-apa padaku?”Aku membuka tangkapan layar tiket pesawat yang dipesan Indra dan memperlihatkannya padanya. Dengan setengah

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 6

    “Elia, jangan tinggalkan aku .…”“Jangan pergi. Dengarkan penjelasanku, ya?”Suara Indra bergetar, kata-katanya tersendat, nadanya gemetar tak stabil. Aku hanya menatapnya dengan tenang. Namun tiba-tiba Indra runtuh, menangis tersedu-sedu.“Elia, jangan menatapku seperti itu. Kalau kamu mau memukulku, memarahiku, silakan. Tapi jangan menatapku dengan pandangan seperti ini!”Ia mencengkeram pakaianku erat-erat, tatapannya dipenuhi putus asa.“Elia, kamu bilang hidupmu adalah milikku. Kamu bilang akan menemaniku sampai tua.”“Kita juga sudah berjanji akan pergi melihat Gunung Tujuh Warna bersama. Kamu tidak boleh mengingkari janji.”“Kita … kita sudah sepakat .…”Aku menutup mata lelah. “Lalu, apa yang sebenarnya kamu inginkan?”Indra menangis hingga hampir kehilangan suara. Beberapa menit kemudian, dengan suara serak, ia berkata, “Jangan tinggalkan aku, ya? Beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji tidak akan membuatmu terluka lagi.”Aku terdiam. Namun pandanganku jatuh pada sebuah fo

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 5

    Kilatan petir dan gemuruh guntur yang datang tiba-tiba menerangi seluruh area parkir.“Siapa itu?”Akhirnya, mereka melihatku yang sedang berdiri tidak jauh dari sana. Di saat itu, suara napas mereka terdengar begitu jelas, begitu memalukan.Begitu Indra melihatku, ia seperti kehilangan jiwanya. “El … Elia, kenapa kamu ada di sini?”Aku melangkah mendekat, satu langkah demi satu langkah.“Kakak … bukan begitu. Ini bukan salah Kak Indra. Aku yang menyukainya, semua ini aku yang—ah!”Belum sempat Laras menyelesaikan kalimatnya, dengan seluruh tenaga yang kupunya, aku menampar wajahnya. Kemudian aku melepaskan cincin pernikahan dari jariku dan melemparkannya keras ke arah Indra. Hantaman itu membuat Indra tersentak sadar. Ia buru-buru mendorong Laras menjauh.Nada suaranya tanpa sadar meninggi. “Elia, dengarkan penjelasanku! Ini bukan seperti yang kamu ....”Aku memotong kata-katanya dengan menyerahkan dokumen perjanjian perceraian kepada Indra.“Indra, kita selesai.”Indra mengejarku tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status