Compartir

Blood of the last fairy
Blood of the last fairy
Autor: Taroo

BAGIAN 1

Autor: Taroo
last update Última actualización: 2026-02-02 17:10:00

"BERDASARKAN HUKUM KEKAISARAN VENITH, EULA ERAX AKAN DIBERIKAN HUKUM PENGGAL DIHADAPAN RAKYAT VENITH, BESOK!"

Di dalam penjara kecil yang mirip dengan sangkar, seorang gadis terduduk. Rambut kusut bagaikan sarang burung, pakaian yang compang-camping, lalu wajahnya yang kusam dan kotor. Di dalam penjara keliling yang tidak di tutupi kain, dirinya di pertontonkan kepada seluruh rakyat Kekaisaran Venith. Tubuhnya bergetar kuat mendengar cemooh, bahkan kebanyakan dari mereka melempari batu padanya.

"Dasar pembelot! "

"Berani sekali dia membunuh tuan putri manis kita, semoga neraka adalah tempatmu gadis sialan! "

Eula Erax adalah anak angkat dari keluarga Erax yang merupakan bangsawan tingkat 4 di Kekaisaran Venith. Eula ditemukan dan di adopsi oleh Daza, kepala keluarga Erax. Eula pikir, sikap Daza dalam mengadopsi nya itu dipenuhi ketulusan, namun ternyata sebaliknya. Dirinya dijadikan sebagai bahan percobaan dalam eksperimen nya dan sebagai pelindung atas perilaku putrinya yang meracuni Athania, sang putri Kekaisaran Venith.

Yah, mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi begitu saja. sekarang, hanya tersisa penyesalan dan kepasrahan, Eula tidak berharap apa pun lagi.

Kalau saja waktu bisa diputar kembali.

Tak!

"shhhh... " Eula meringis pelan, ia menyentuh kening nya, cairan berwarna merah mengalir, sakit. Apa ini hal yang pantas untuk diterima oleh dirinya? Apa salahnya?

Setelah selesai dipamerkan sebagai tersangka, kini Eula diseret kayaknya hewan, sangat kasar untuk menghadap yang mulia kaisar. Ringisan terus Ia keluarkan di sepanjang jalan, pandangan nya tidak fokus, seakan akan tidak ada orang satu pub di istana utama. Dengan langkah lunglai, kedua tangan yang di ikat, pakaian yang compang-camping dan rambut yang kusut berhasil membuat para ksatria langsung memalingkan pandang karena jijik. Eula di dorong kasar oleh ksatria yang mendampingi nya hingga dirinya tersungkur.

"Apa keinginan terakhir mu wahai penjahat! " suara berat yang keluar dari mulut kaisar membuat jantung nya berdegup kencang, boleh kah dirinya meminta kesempatan untuk hidup?

"Tolong ampuni saya, yang mulia. "

"KURANG AJAR! " Permaisuri Edis lantas berdiri, dapat Eula liat dengan sekilas, wajahnya penuh amarah dan kebencian yang mendalam. mungkin jika tidak ditahan oleh Kaisar, wanita itu sudah berlari dan membunuh Eula dengan tangan nya sendiri.

"Permaisuri tenangkan dirimu.. "

Entah keberanian dari mana, Eula mendongak dan tersenyum menyedihkan, bibirnya gemetar "Walaupun beribu kali saya katakan bahwa itu bukan kesalahan saya, yang mulia tidak akan mempercayai nya kan? Saya tidak bermaksud lari dari hukuman, tidak bermaksud meminta pembebasan, tapi boleh kah saya meminta pengampunan dari yang mulia atas kesalahan yang tidak saya lakukan itu?" Kedua mata Eula menatap Kaisar kosong, tidak ada sorot kehidupan di dalam matanya seakan akan gadis itu sudah bersiap mati kapan pun.

"Mengapa?"

"Saya tidak ingin mati jika yang mulia masih menyimpan dendam pada saya."

kaisar menatap sang istri yang sedari tadi menatap tajam penuh kebencian, wajah permaisuri merah padam. Ia mengusap lengan permaisuri lembut

"Ku serahkan padamu, permaisuri. "

"Tidak, aku tidak akan memaafkan orang yang telah membunuh putriku!"

Mendengar perkataan permaisuri, Eula menghela napas kasar, seolah-olah belenggu penderitaannya semakin kencang membelenggu, bahkan impian untuk mati dengan damai pun terasa seperti fatamorgana yang semakin menjauh.

"Bawa dia ke penjara bawah tanah!" Titah Kaisar yang membuat ksatria yang berada di samping nya kembali menyeret kasar Eula. Air matanya meluruh, menatap sekejap kedua orang yang duduk di singgasana yang menampilkan ekspresi yang tidak dapat Eula artikan.

"Maaf, Maafkan saya... " Walaupun itu bukan lah kesalahannya, Eula terus mengulang kata 'maaf' seperti mantra.

  ***

Dikediaman Erax.

Seorang gadis berambut biru legam menatap keluar jendela sebentar, ia menggigit ujung telunjuknya, samar-samar terasa sakit yang berhasil mengalihkan kekacauan dalam hatinya sebentar. Kini, langkahnya bergerak tak tentu arah, seperti binatang yang terperangkap di dalam sangkar.

  "Elaya! "

Elaya terus tersihir oleh lamunan nya, ia mengabaikan suara samar yang terus memanggilnya berulang kali dari balik pintu kamar.

  "ELAYAAAA! "

Terkejut, napasnya memburu. Elaya langsung membalikkan badannya. Disana seorang pria bertubuh besar berdiri, kedua tangan nya mengepal dengan wajah yang penuh kemarahan.

"Apa? Ada apa ayah? " gadis itu kebingungan hingga membuat Daza langsung mendekati nya dan langsung menutup jendela kamar milik putri nya.

"Sudah berapa kali ayah memperingati mu? Jangan buka jendela sebelum rakyat jelata itu mati! "

Elaya menunduk dalam, menggertak giginya "Maaf ayah. "

Helaan napas panjang terdengar, pria itu langsung duduk di atas kasur putrinya. ia mengusap rambutnya kasar dengan raut wajah prustasi.

"Kalau bukan karena kau, semuanya tidak akan seperti ini. Dasar anak tidak berguna! " Sinis Daza membuat Elaya terdiam.

"Apa yang harus ku lakukan sekarang ayah? " Elaya masih tak berani menatap wajah Daza karena rasa takutnya.

"Diam saja, jangan keluar. "

Kedua nya kini tenggelam dalam keheningan, memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika Eula sudah dihukum mati. Hanya ada suara ketukan sepatu yang sengaja diketuk berulang kali oleh Daza. Apakah mereka benar benar akan selamat?

Belum sempat menyelesaikan pemikirannya, tiba-tiba suara aneh terdengar. Portal berwarna hitam muncul dari depan pintu kamar, memecah kesunyian. Dari dalam portal, para pasukan ksatria berbaju hitam keluar, lalu langsung mengangkat pedang mereka, membuat keduanya terperanjat kaget dan ketakutan.

"Apa apaan ini???! " Paniknya. Daza bergegas menghampiri Elaya lalu menarik nya agar berada dibelakang Daza.

Dari dalam portal, seorang lelaki bertubuh tegap dengan rambut emas dan mata merahnya muncul, memancarkan aura yang berbeda dari yang lain. Pakaiannya yang mewah dan berbeda dari para ksatria lainnya membuat Elaya dan Daza semakin terintimidasi. Derap langkahnya yang menggema mendekati mereka menjadi musik yang menegangkan, membuat jantung mereka berdetak lebih cepat.

Tatapan nya begitu tajam, mampu membuat kedua nya jatuh berlutut.

"Pa-pangeran ke-2...." cicit Elaya pelan sambil ketakutan, mendengar itu sontak membuat Daza gemetar "Salam kepada yang mulia Pangeran Ke-2. se-sebuah kehormatan bisa bertemu dengan pangeran, " katanya terbata bata sambil tersenyum masam.

"Dasar serangga tidak tahu malu! " Sinisnya penuh penekanan "Tangkap dua serangga itu dan bawa ke istana utama! Mereka harus bertanggung jawab! " Titah nya membuat dua org itu panik bukan main. Para ksatria langsung menahan keduanya.

"TIDAK TIDAK! APA MAKSUD PANGERAN?!!! "

"BERANI SEKALI ORANG BIASA SEPERTI KALIAN MENYENTUHKU!!!! "

  ****

Di dalam penjara, Eula duduk memeluk lutut nya. Ia mendongak menatap keatas, tepatnya menatap lubang kecil. Sekarang apa yang harus ia lakukan?

Ia menatap ujung kakinya yang terluka, disana terdapat bekas gigitan tikus yang masih membekas. Pandangannya kini kembali ke lubang kecil itu, dan Eula merasakan kesedihan yang tak terhingga. Ia ingin menangis, tapi air matanya sudah kering, seperti hatinya yang sudah mati rasa. Disaat seperti ini, dirinya malah dirundung rindu pada sang ibu yang sudah pergi. Andai saja ia bisa pergi mengikuti ibu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.

Ibu kenapa pergi nya sendiri? Ajak Eula mati bersama ibu.

"Nona Eula."

Eula tidak berniat menoleh, dirinya tetap diam tak bergeming.

"Minum ini sekarang. " Ia menoleh, mendapati sang pelayan dari keluarga Erax berdiri dengan membawa ramuan.

"Kenapa?"

pertama kalinya, ia melihat seseorang menangisinya. Pelayan itu menangis, dan entah lah apakah itu tangisan yang tulus atau penuh sandiwara. Eula tidak mau mempercayai siapapun lagi, bahkan disaat saat terakhir nya.

"Tolong minum ini, nona." Pelayan itu mendekati Eula lalu memberikan ramuan yang ada di dalam botol kepadanya.

"Perintah dari pria itu? "

pelayan itu malah memeluk Eula lalu menangis "Maaf, hanya ini yang bisa saya lakukan untuk menebus dosa saya, nona. Saya tidak mau melihat nona mati disaksikan oleh orang orang jahat itu." Ia melepaskan pelukan nya.

"Ini adalah racun, minum sekarang jika nona tidak mau merasakan mati dipenggal di hadapan semua orang, saya tidak akan memaksa. Saya permisi, nona."

Setelah itu dia pergi meninggalkan Eula yang terdiam menatap botol berisi racun yang kini tergenggam ditangan nya.

Eula mengusap lehernya seraya meringis, Ia membayangkan dirinya di penggal lalu dengan cepat Ia meneguk racun yang pelayan itu bawa seketika jantung nya terasa berhenti, dirinya jatuh dengan darah yang keluar dari telinga, hidung dan mata.

Ya Tuhan, sungguh tragisnya hidup Eula.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Blood of the last fairy    Bagian 6

    "DASAR BODOH! CARI ANAK ITU SAMPAI DAPAT!"Papan nama 'Daza Erax' terbanting saat meja itu didorong kasar oleh kakinya hingga terbalik. Daza, menghancurkan apapun yang matanya temui. Kini, ruang kerjanya telah berubah menyerupai kapal pecah. Lelaki yang memakai jubah dan tudung hitam hanya mengangguk dengan kepala sedikit menunduk. Panjang tudung yang dikenakan tak membiarkan wajahnya terlihat. Kakinya melangkah dengan hati-hati agar tidak menginjak pecahan kaca yang berceceran dilantai. Punggung nya menghilang bersamaan dengan pintu yang kembali tertutup rapat. Daza kini berdiri menghadap jendela, diluar sedang mendung hingga muncul kilatan dari atas langit yang menyambar .Ruangan gelap seketika terang, namun sesaat. "Aku akan merebut emas itu."***Eula merebahkan tubuhnya di atas kasur, membiarkan sesuatu yang lembut bersentuhan dengan kulitnya. Ia kini tengah menerawang Langit-langit kamar dengan tubuh terlentang. Hari ini sangat melelahkan, apa karena dirinya belum terbiasa d

  • Blood of the last fairy    BAGIAN 5

    "Apa kau tau bahwa pria gila itu sengaja membuang mu dan ibumu?" "Dia bahkan lebih kejam dariku. " "Aku kasihan denganmu, malang sekali hidup mu, keponakan ku." "Akan ku buat kau hidup bahagia dengan menjadi iblis yang mengendalikan dunia!" "TIDAKKKK!!" Dadanya naik turun, matanya melotot. Eula terbangun dengan keringat yang membasahi wajahnya. Ia kini menyentuh dadanya dengan tangan gemetar. "Ternyata cuma mimpi, " gumam Eula. Ia menarik napas panjang lalu mengedarkan pandangannya. Mewah sekali. Ruangan ini seluas rumahnya. Banyak sekali boneka kelinci yang berjejer di kursi sofa yang terletak di dekat jendela. Di sebelah kanan dekat pintu pemandian, terdapat dua lemari yang cukup besar. Kamar ini terbilang cukup mewah dan luas untuk ia gunakan sendiri, ditambah lagi di samping pintu masuk terdapat rak buku yang penuh terisi. Kamar dengan nuansa pink cukup membuat Eula merasa nyaman, ia kini beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mendekati jendela dengan tirai yang mas

  • Blood of the last fairy    Bagian 4

    Kekaisaran Helix memiliki 4 pilar yang tercatat dalam sejarah, yaitu Barance, Terax, Magnu, dan Maos. Barance berada di tingkat pertama, ibarat kaisar adalah jantungnya manusia maka Barance merupakan tulang punggung dan otot yang akan melindungi 'Manusia' dari bahaya. Tingkat ke-2 ada bangsawan Terax yang di ibaratkan sebagai kulitnya Kekaisaran, mereka melindungi dari luar. Wilayah kekuasaan Terax adalah hutan dan perairan, jika Barance menganggap pertumpahan darah dan bisingnya medan perang sebagai kemuliaan, maka Terax menganggap kesunyian sebagai kemuliaan. Terax cukup ramah, namun jujur. Mereka bekerja untuk Kekaisaran Helix, menjaga hutan, dan perairan. Lalu, ditingkat ke-3 dan 4 ada Magnu dan Maos. Magnu terkenal sebagai pencipta sihir dan pengrajin senjata, wilayah magnu memiliki hutan sihir yang tidak pernah tersentuh oleh sembarang orang. Kemudian Maos adalah otaknya Kekaisaran, ia menyimpan arsip Kekaisaran dan sebagai penasihat Kekaisaran. Eula mengangguk. Sedangkan kin

  • Blood of the last fairy    Bagian 3

    "Hei!" "Bangunlah!" "Eula!" Cedric mengguncang tubuh gadis itu hingga mata nya sontak melotot "Kau membuatku pusing, " ujarnya dengan ekspresi kesal. Tangan Cedric menarik lengan Eula hingga membuat gadis itu ikut berdiri dan berlari mengikuti lelaki itu. Dirinya kini tengah linglung seperti katak yang akan ditelan ular, merisaukan pohon pohon menjulang tinggi yang kini sudah dilahap habis kobaran api. Apa yang sebenarnya terjadi? Ditatapnya, punggung Cedric. Api itu merayap menggerogoti jubah milik lelaki tersebut. Eula mengulurkan tangan, Cahaya biru yang dingin muncul dari dalam telapak tangannya, ia mengarahkan nya pada jubah Cedric, apinya padam. Ia mengibaskan telapak tangannya, dingin. "Kenapa semuanya terbakar?" Langkah keduanya terhenti di antara pohon berapi. Matanya mengamati engahan napas, Jubah milik Cedric terkoyak dan gosong, wajahnya berkeringat. Mereka terjebak di pusat hutan yang sudah dilahap oleh kobaran api. "Ada seseorang yang sengaja membakar hutan

  • Blood of the last fairy    BAGIAN 2

    Beberapa helai rambut perak milik Eula terbang terbawa angin, namun ia tak peduli. Matanya memicing, terus menelusuri setiap inci wajah wanita yang mirip dirinya itu. Seolah waktu berhenti, hanya ada Eula dan wanita itu didunia ini "ibu kenapa kita tinggal ditengah hutan?" "Karena kita berbeda dari yang lain. " Eula mengerutkan kening nya "Berbeda?" Wanita itu tersenyum, merapihkan rambut Eula yang jatuh menutupi mata Eula. kemudian ia memetik bunga liar dan menyelipkan nya pada salah satu telinga sang anak. "Kamu akan tau nanti, apa putri ibu kesepian?" Dengan lucu ia menggeleng lalu tersenyum "Kan ada ibu, kenapa aku harus kesepian? " "Anak yang manis." Ia menarik Eula untuk tidur beralaskan paha nya. Glis, adalah namanya. Wanita itu tersenyum menatap putrinya lekat, Ia menyenderkan punggung nya pada pohon apel. "Apa yang akan putri ibu lakukan jika masih memiliki seorang ayah?" "Entah lah, aku seperti nya akan memeluk nya setiap hari. " "Kamu merindukannya?" Eula memainka

  • Blood of the last fairy    BAGIAN 1

    "BERDASARKAN HUKUM KEKAISARAN VENITH, EULA ERAX AKAN DIBERIKAN HUKUM PENGGAL DIHADAPAN RAKYAT VENITH, BESOK!" Di dalam penjara kecil yang mirip dengan sangkar, seorang gadis terduduk. Rambut kusut bagaikan sarang burung, pakaian yang compang-camping, lalu wajahnya yang kusam dan kotor. Di dalam penjara keliling yang tidak di tutupi kain, dirinya di pertontonkan kepada seluruh rakyat Kekaisaran Venith. Tubuhnya bergetar kuat mendengar cemooh, bahkan kebanyakan dari mereka melempari batu padanya. "Dasar pembelot! " "Berani sekali dia membunuh tuan putri manis kita, semoga neraka adalah tempatmu gadis sialan! " Eula Erax adalah anak angkat dari keluarga Erax yang merupakan bangsawan tingkat 4 di Kekaisaran Venith. Eula ditemukan dan di adopsi oleh Daza, kepala keluarga Erax. Eula pikir, sikap Daza dalam mengadopsi nya itu dipenuhi ketulusan, namun ternyata sebaliknya. Dirinya dijadikan sebagai bahan percobaan dalam eksperimen nya dan sebagai pelindung atas perilaku putrinya yang mer

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status