Share

Bagian 3

Penulis: Taroo
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 10:52:14

"Hei!"

"Bangunlah!"

"Eula!"

Cedric mengguncang tubuh gadis itu hingga mata nya sontak melotot "Kau membuatku pusing, " ujarnya dengan ekspresi kesal.

Tangan Cedric menarik lengan Eula hingga membuat gadis itu ikut berdiri dan berlari mengikuti lelaki itu.

Dirinya kini tengah linglung seperti katak yang akan ditelan ular, merisaukan pohon pohon menjulang tinggi yang kini sudah dilahap habis kobaran api. Apa yang sebenarnya terjadi?

Ditatapnya, punggung Cedric. Api itu merayap menggerogoti jubah milik lelaki tersebut. Eula mengulurkan tangan, Cahaya biru yang dingin muncul dari dalam telapak tangannya, ia mengarahkan nya pada jubah Cedric, apinya padam.

Ia mengibaskan telapak tangannya, dingin. "Kenapa semuanya terbakar?" Langkah keduanya terhenti di antara pohon berapi.

Matanya mengamati engahan napas, Jubah milik Cedric terkoyak dan gosong, wajahnya berkeringat. Mereka terjebak di pusat hutan yang sudah dilahap oleh kobaran api.

"Ada seseorang yang sengaja membakar hutan ini, sebaiknya kita mencari celah untuk melarikan diri, karena aku tidak mau terpanggang hidup hidup di sini," ucap Cedric.

Eula menarik kerah baju Cedric, matanya melotot dengan gigi yang menggertak "Siapa orang nya?!"

"Tunggu tunggu, kenapa kau memelototi ku? Aku yang menyelamatkan mu, " tanggap lelaki itu, ia melepaskan cekalan gadis itu di kerah bajunya. "Kau mau mati terpanggang disini? Kalau tidak mau, tolong bantu aku mencari jalan keluarnya."

Cedric melangkah tak berarah, mencari sesuatu yang berguna. Dilain sisi, Eula terdiam sejenak, ia ragu namun langsung terganti oleh tekad nya agar bisa bertahan hidup. Langkah kakinya mantap menghampiri Cedric.

"Apa kau bisa jaga rahasia?" Ia memancarkan tatapan penuh keraguan pada lelaki yang kini tengah menyibak rambutnya kebelakang karena prustasi dengan Eula.

"Kau masih mencurigai ku?! Hei lihatlah.... Kita kian berada dilingkaran api!" Melihat wajah muram itu membuat Eula sedikit merasa bersalah.

Helaan napas kasar keluar dari bibirnya, langkahnya cepat melewati posisi Cedric. Eula mengangkat kedua tangannya, cahaya berwarna biru yang dingin keluar menghujani kobaran api di depannya.

Pohon pohon yang menyala terang kini padam, tersisa batang hitam legam tanpa daun. Dibawah, semak hancur total, menyisakan ranting yang rapuh.

"Sihir?"

"Mungkin?"

Cedric menarik tangan Eula, mereka melesat menuju tempat yang aman. Tibalah keduanya di tepi sungai, Cedric Langsung merebahkan tubuhnya, menatap langit malam yang gemerlap "Kenapa kita berlari lagi? Bukan kah api nya sudah ku padam kan?" tanya Eula.

"Tidak seharusnya kau merasa aman saat satu masalah terselesaikan. Aku yakin sekali, api itu bukan api biasa, itu adalah api sihir."

Eula menoleh "Hah? Gimana? Apa maksudmu api sihir?"

"Kau tidak tahu? Aku pikir kau memahami tentang sihir." Eula menggeleng cepat "Tidak! Aku tidak mengerti sama sekali, jadi apa maksud mu api sihir?"

"Api sihir itu api yang dibuat oleh manusia menggunakan sihir dan darah iblis, tadi kau berhasil memadamkannya, tapi tetap saja selang beberapa menit kemudian pohon itu akan kembali menyala, " jelasnya membuat kening Eula mengerut.

"Lantas, apakah hutan itu akan menjadi hutan api untuk selamanya? Atau ada kah cara untuk memadamkan nya?"

Cedric menaruh kedua tangannya dibawah kepala, menjadi bantal "Yah, belum ada yang tahu cara mengatasi nya. Sudahlah, sebaiknya kita beristirahat sejenak disini. Perjalanan nya masih jauh, bisa repot kalau badannya tidak sehat, " ujarnya. Lelaki itu memejamkan matanya dan tertidur.

Eula masih diam dengan posisi awal, duduk. Ia menatap kedua telapak tangannya lalu beralih memperhatikan Cedric "Awas saja kalau sampai dia membocorkan konfidensialku, habis kau!" Ia memelototi Cedric.

"Tidur lah, telingaku sensitif. Sekecil apapun kau berbicara, aku pasti mendengarnya." Eula terperanjat, ia membekap mulutnya lalu berdehem dan buru buru merebahkan tubuhnya di samping Cedric.

Kedua sudut bibir lelaki itu tertarik "Tenang saja, aku pandai menjadi rahasia. " Eula menoleh dan mengucapkan terima kasih tanpa mengeluarkan suara. Matanya terpejam.

****

Barance merupakan Bangsawan tingkat 2 di Kekaisaran Helix. Barance dijuluki sebagai monster perang, dan penguasa dataran yang tandus. Orang-orang mengatakan bahwa hanya orang yang beruntung saja yang bisa datang ke kediaman Barance dengan selamat, karena rumornya diperjalanan menuju Barance terdapat banyak sekali monster.

Sebelum nya, jalan menuju kediaman selalu berada dalam pengawasan kepala keluarga Barance sehingga orang yang bertamu akan aman dalam pengawasan dan perlindungan nya. Namun, tidak kembalinya Demian, Kepala keluarga Barance membuat siapapun takut untuk menapakkan kaki di wilayah kekuasaan itu. 10 tahun tak kembali cukup untuk mengangkat rumor bahwa Demian telah gugur di medan perang bersama sang putri.

Kendati Eula tidak mempercayai itu sepenuhnya. Dirinya yakin, sang ayah masih hidup.

"Kau menangis?"

"Apa? Ti-tidak!" Cedric tertawa sambil merapihkan bajunya dan memotong jubah yang terkoyak bagian bawahnya"Kau pandai berbohong ya? Jelas jelas aku melihat mu menangis semalam, sampai kau cegukan," balasnya, ia melemparkan tatapan mengejek.

Eula menggeram kesal, melempamelempar batu kecil ke arah Cedric "Tutup mulutmu! Berisik!"

"Nyenye! Dasar cengeng!"

Semalam, entah kenapa dirinya terserang perasaan rindu kepada sang ibu yang berakhir menangis cukup lama. Eula pikir, Cedric sudah tertidur nyatanya lelaki itu terus mendengar kan gumaman tak jelas yang keluar dari mulutnya. Memalukan.

"Sekali lagi kau mengejekku, kita berpisah saja!"

"Dengan senang hati, karena aku tahu seluk-beluk daerah ini, tidak seperti kau," Balasnya membuat Eula gelagapan, ia meremas tangannya "Anu, kutarik lagi. Kita akan berpisah ketika kau sudah mengantarkan ku ke wilayah Barance. "

Cedric tertawa, dengan mudahnya ia mengangguk. Lelaki itu kini tengah mengasah pisau kecil di tepi sungai.

"Apa kau akan membunuhku?" Ia berjongkok dan memiringkan kepalanya.

Lelaki itu mengangkat pisaunya, Ia memandangi lekat benda tajam yang dipegang nya lalu kembali menggosokkan pisau itu ke batu "Apa untung nya bagiku? Otak kecilmu itu sungguh luar biasa ya, isinya penuh dengan pikiran yang negatif."

Eula duduk di atas batu memperhatikan Cedric yang kini tengah melipat celana nya sampai betis, lelaki itu kemudian langsung bergerak menusuk ikan menggunakan pisaunya.

"Cedric, apa kau mengenal wilayah Barance?" Kakinya berayun memainkan air.

"Tentu saja, aku mengetahui semuanya."

Eula mengangguk "Beruntung sekali aku bertemu denganmu, Cedric. " Kerikil kecil mendarat di lengan Eula, Ia melirik tajam sang pelaku. Disana Cedric menampilkan ekspresi jijik untuk pertama kalinya "Kau kemasukan setan? Tumben sekali berbicara seperti itu, ya walaupun kau memang benar. Tapi pengakuan mu sungguh membuatku takut, " ujar Cedric. Bahunya tersentak sedikit, sebuah reaksi spontan yang bertujuan untuk mengusir rasa ngeri yang tiba-tiba datang.

"Menyebalkan, " cibir Eula. Gadis itu berdecak kesal lalu melempar kan kembali baru itu "Mana ikan nya, aku sangat lapar!"

Cedric tersenyum "Sebentar ya tukang marah, " balasnya di akhiri kekehan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Blood of the last fairy    Bagian 6

    "DASAR BODOH! CARI ANAK ITU SAMPAI DAPAT!"Papan nama 'Daza Erax' terbanting saat meja itu didorong kasar oleh kakinya hingga terbalik. Daza, menghancurkan apapun yang matanya temui. Kini, ruang kerjanya telah berubah menyerupai kapal pecah. Lelaki yang memakai jubah dan tudung hitam hanya mengangguk dengan kepala sedikit menunduk. Panjang tudung yang dikenakan tak membiarkan wajahnya terlihat. Kakinya melangkah dengan hati-hati agar tidak menginjak pecahan kaca yang berceceran dilantai. Punggung nya menghilang bersamaan dengan pintu yang kembali tertutup rapat. Daza kini berdiri menghadap jendela, diluar sedang mendung hingga muncul kilatan dari atas langit yang menyambar .Ruangan gelap seketika terang, namun sesaat. "Aku akan merebut emas itu."***Eula merebahkan tubuhnya di atas kasur, membiarkan sesuatu yang lembut bersentuhan dengan kulitnya. Ia kini tengah menerawang Langit-langit kamar dengan tubuh terlentang. Hari ini sangat melelahkan, apa karena dirinya belum terbiasa d

  • Blood of the last fairy    BAGIAN 5

    "Apa kau tau bahwa pria gila itu sengaja membuang mu dan ibumu?" "Dia bahkan lebih kejam dariku. " "Aku kasihan denganmu, malang sekali hidup mu, keponakan ku." "Akan ku buat kau hidup bahagia dengan menjadi iblis yang mengendalikan dunia!" "TIDAKKKK!!" Dadanya naik turun, matanya melotot. Eula terbangun dengan keringat yang membasahi wajahnya. Ia kini menyentuh dadanya dengan tangan gemetar. "Ternyata cuma mimpi, " gumam Eula. Ia menarik napas panjang lalu mengedarkan pandangannya. Mewah sekali. Ruangan ini seluas rumahnya. Banyak sekali boneka kelinci yang berjejer di kursi sofa yang terletak di dekat jendela. Di sebelah kanan dekat pintu pemandian, terdapat dua lemari yang cukup besar. Kamar ini terbilang cukup mewah dan luas untuk ia gunakan sendiri, ditambah lagi di samping pintu masuk terdapat rak buku yang penuh terisi. Kamar dengan nuansa pink cukup membuat Eula merasa nyaman, ia kini beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mendekati jendela dengan tirai yang mas

  • Blood of the last fairy    Bagian 4

    Kekaisaran Helix memiliki 4 pilar yang tercatat dalam sejarah, yaitu Barance, Terax, Magnu, dan Maos. Barance berada di tingkat pertama, ibarat kaisar adalah jantungnya manusia maka Barance merupakan tulang punggung dan otot yang akan melindungi 'Manusia' dari bahaya. Tingkat ke-2 ada bangsawan Terax yang di ibaratkan sebagai kulitnya Kekaisaran, mereka melindungi dari luar. Wilayah kekuasaan Terax adalah hutan dan perairan, jika Barance menganggap pertumpahan darah dan bisingnya medan perang sebagai kemuliaan, maka Terax menganggap kesunyian sebagai kemuliaan. Terax cukup ramah, namun jujur. Mereka bekerja untuk Kekaisaran Helix, menjaga hutan, dan perairan. Lalu, ditingkat ke-3 dan 4 ada Magnu dan Maos. Magnu terkenal sebagai pencipta sihir dan pengrajin senjata, wilayah magnu memiliki hutan sihir yang tidak pernah tersentuh oleh sembarang orang. Kemudian Maos adalah otaknya Kekaisaran, ia menyimpan arsip Kekaisaran dan sebagai penasihat Kekaisaran. Eula mengangguk. Sedangkan kin

  • Blood of the last fairy    Bagian 3

    "Hei!" "Bangunlah!" "Eula!" Cedric mengguncang tubuh gadis itu hingga mata nya sontak melotot "Kau membuatku pusing, " ujarnya dengan ekspresi kesal. Tangan Cedric menarik lengan Eula hingga membuat gadis itu ikut berdiri dan berlari mengikuti lelaki itu. Dirinya kini tengah linglung seperti katak yang akan ditelan ular, merisaukan pohon pohon menjulang tinggi yang kini sudah dilahap habis kobaran api. Apa yang sebenarnya terjadi? Ditatapnya, punggung Cedric. Api itu merayap menggerogoti jubah milik lelaki tersebut. Eula mengulurkan tangan, Cahaya biru yang dingin muncul dari dalam telapak tangannya, ia mengarahkan nya pada jubah Cedric, apinya padam. Ia mengibaskan telapak tangannya, dingin. "Kenapa semuanya terbakar?" Langkah keduanya terhenti di antara pohon berapi. Matanya mengamati engahan napas, Jubah milik Cedric terkoyak dan gosong, wajahnya berkeringat. Mereka terjebak di pusat hutan yang sudah dilahap oleh kobaran api. "Ada seseorang yang sengaja membakar hutan

  • Blood of the last fairy    BAGIAN 2

    Beberapa helai rambut perak milik Eula terbang terbawa angin, namun ia tak peduli. Matanya memicing, terus menelusuri setiap inci wajah wanita yang mirip dirinya itu. Seolah waktu berhenti, hanya ada Eula dan wanita itu didunia ini "ibu kenapa kita tinggal ditengah hutan?" "Karena kita berbeda dari yang lain. " Eula mengerutkan kening nya "Berbeda?" Wanita itu tersenyum, merapihkan rambut Eula yang jatuh menutupi mata Eula. kemudian ia memetik bunga liar dan menyelipkan nya pada salah satu telinga sang anak. "Kamu akan tau nanti, apa putri ibu kesepian?" Dengan lucu ia menggeleng lalu tersenyum "Kan ada ibu, kenapa aku harus kesepian? " "Anak yang manis." Ia menarik Eula untuk tidur beralaskan paha nya. Glis, adalah namanya. Wanita itu tersenyum menatap putrinya lekat, Ia menyenderkan punggung nya pada pohon apel. "Apa yang akan putri ibu lakukan jika masih memiliki seorang ayah?" "Entah lah, aku seperti nya akan memeluk nya setiap hari. " "Kamu merindukannya?" Eula memainka

  • Blood of the last fairy    BAGIAN 1

    "BERDASARKAN HUKUM KEKAISARAN VENITH, EULA ERAX AKAN DIBERIKAN HUKUM PENGGAL DIHADAPAN RAKYAT VENITH, BESOK!" Di dalam penjara kecil yang mirip dengan sangkar, seorang gadis terduduk. Rambut kusut bagaikan sarang burung, pakaian yang compang-camping, lalu wajahnya yang kusam dan kotor. Di dalam penjara keliling yang tidak di tutupi kain, dirinya di pertontonkan kepada seluruh rakyat Kekaisaran Venith. Tubuhnya bergetar kuat mendengar cemooh, bahkan kebanyakan dari mereka melempari batu padanya. "Dasar pembelot! " "Berani sekali dia membunuh tuan putri manis kita, semoga neraka adalah tempatmu gadis sialan! " Eula Erax adalah anak angkat dari keluarga Erax yang merupakan bangsawan tingkat 4 di Kekaisaran Venith. Eula ditemukan dan di adopsi oleh Daza, kepala keluarga Erax. Eula pikir, sikap Daza dalam mengadopsi nya itu dipenuhi ketulusan, namun ternyata sebaliknya. Dirinya dijadikan sebagai bahan percobaan dalam eksperimen nya dan sebagai pelindung atas perilaku putrinya yang mer

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status