Share

BAGIAN 2

Author: Taroo
last update Last Updated: 2026-02-02 19:43:08

Beberapa helai rambut perak milik Eula terbang terbawa angin, namun ia tak peduli. Matanya memicing, terus menelusuri setiap inci wajah wanita yang mirip dirinya itu. Seolah waktu berhenti, hanya ada Eula dan wanita itu didunia ini "ibu kenapa kita tinggal ditengah hutan?"

"Karena kita berbeda dari yang lain. "

Eula mengerutkan kening nya "Berbeda?"

Wanita itu tersenyum, merapihkan rambut Eula yang jatuh menutupi mata Eula. kemudian ia memetik bunga liar dan menyelipkan nya pada salah satu telinga sang anak.

"Kamu akan tau nanti, apa putri ibu kesepian?" Dengan lucu ia menggeleng lalu tersenyum "Kan ada ibu, kenapa aku harus kesepian? "

"Anak yang manis." Ia menarik Eula untuk tidur beralaskan paha nya.

Glis, adalah namanya. Wanita itu tersenyum menatap putrinya lekat, Ia menyenderkan punggung nya pada pohon apel. "Apa yang akan putri ibu lakukan jika masih memiliki seorang ayah?"

"Entah lah, aku seperti nya akan memeluk nya setiap hari. "

"Kamu merindukannya?" Eula memainkan bunga ditangan nya dengan kepala yang mengangguk membuat Glis terdiam"Apa ayah masih hidup?" tanya Eula tanpa melihat ibunya.

"Apa yang akan Eula lakukan jika ayah masih hidup?"

Eula menatap Glis sambil tersenyum "Tentu saja membawa ibu pada ayah, dan memarahi ayah karena menelantarkan kita, " katanya sambil di akhiri kekehan kecil.

"Bagaimana kalau ayahmu tidak mau melihat kita berdua? Bagaimana kalau dia adalah ayah yang jahat?" tangan nya mengusap rambut Eula.

Eula langsung duduk, Ia kemudian menggenggam tangan Glis "Ibu... Aku tidak akan membiarkan ayah menemukan kita, aku tidak akan memaafkan ayah jika dia adalah orang jahat, menyebalkan. Eula benci orang jahat! " Mendengar ucapan itu Glis langsung memeluk putrinya.

"Apa ayah jahat?"

Kepala nya menggeleng "Tidak, dia adalah lelaki terbaik yang pernah ibu temui." Ia melepaskan pelukan itu lalu menangkup kedua pipi Eula.. belum sempat Glis berbicara, tiba tiba semua nya memudar dan terasa tidak jelas.

Dia mengerjapkan matanya berulang kali, hujan mengguyur dirinya tanpa henti. Eula memandangi sekelilingnya cukup lama. Pohon-Pohon raksasa yang tumbuh berhimpitan terpampang di depan nya, bukan kah waktu itu semuanya habis terbakar? lalu Rumah itu? Sejenak ia terdiam lalu mengalihkan pandangan menatap gundukan tanah di depan nya.

Dia mencoba mencerna semuanya, salah satu tangannya terangkat mengusap lehernya lalu mendongak, membiarkan air hujan yang tidak terhalang oleh pohon raksasa menghantam wajahnya.

Aku masih hidup?

Ibu?

Ia menunduk lalu berjongkok dan mengusap gundukan tanah yang basah itu, ini adalah makam sang ibu.

"Hari kematian ibu ya?"

Dirinya masih tenggelam dalam kebingungan, sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa dirinya kembali ke masa lalu?

membingungkan.

tunggu

Eula tersadar, jika ini adalah hari kematian sang ibu, maka sebentar lagi rombongan keluarga Erax akan menjemputnya. Jika dirinya hanya diam saja disini, maka kejadian yang pernah ia alami akan terulang lagi.

untuk sekarang dia harus kabur.

Eula bergegas masuk kedalam rumah mengambil barang barang berharga dan membongkar kamar sang ibu, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk bertahan hidup.

"Kotak apa ini?" Ia memandangi kotak yang belum pernah Glis tunjukkan, tanpa pikir panjang kotak itu dimasukkan kedalam tas kain lusuhnya.

Eula melarikan diri, mencoba keluar dari dalam hutan menuju perbatasan antara Kekaisaran Venith dan Kekaisaran Helax, setelah nya dirinya tidak tahu akan pergi kemana. Untuk saat ini, melarikan diri adalah tujuan nya.

"jika ini bukan mimpi, tolong berikan aku keberuntungan untuk mengubah masa depan. "

***

Menuju perbatasan, Eula harus melewati hutan lebat yang semakin menyempit, langit yang tadi masih menunjukkan warna jingga sore, kini berubah menjadi gelap gulita, seolah malam datang lebih cepat dari biasanya.

Tak ada pilihan lain, Eula memutuskan beristirahat di bawah pohon rindang yang menjulang tinggi, ranting-rantingnya seperti lengan raksasa yang melindungi. Ia mengumpulkan kayu bakar kering dengan susah payah lantaran sore tadi hutan diguyur hujan, ia mencoba membuat api unggun, percikan api yang kecil mulai membesar, menerangi wajahnya yang lelah. Dia yakin bahwa dirinya sudah kabur cukup jauh.

Api menyala, udara yang terasa menusuk tulang kini menjadi seperti tengah memeluknya.

Eula termenung menatap kupalan asap di depannya "Sangat menakutkan," gumam nya pelan.

Kantong kain disamping nya terbuka, kotak hitam itu menggelinding membuat Eula menoleh dan langsung mengambil nya.

"Kotak apa ini ya?"

Eula memandangi kotak tersebut lalu membukanya. Ada sebuah kalung dan selembar kertas. Tanpa ragu Ia membacanya.

"Teruntuk anak ku, Eula. Jika suatu hari ibu sudah tidak bisa melindungi mu lagi, pergilah ke wilayah Barance, dan temukan ayahmu. Tunjukan kalung itu padanya. Jaga diri baik baik, jangan pernah membiarkan dirimu terluka, jangan pernah memberikan darah mu pada siapapun. Maafkan ibu, sayang. Ibu mencintaimu. " Eula memeluk kertas dan kotak hitam itu, Ia menangis keras.

"Aku merindukan mu, ibu...."

Sakit. Kenapa ia baru mengetahui surat ini? Dari sore sampai malam dirinya berjalan lurus tanpa ada tujuan. Ia merasa tidak mempunyai siapapun di sampingnya, sampai rasanya mau mati saja.

"ibu, Eula takut.. "

Ia menenggelamkan wajahnya.

Bagaimana dirinya dapat bertahan sampai tempat tujuan? Ia takut diseret kembali ke rumah neraka itu. Siapa yang harus Ia andalkan selain dirinya sendiri? Apakah di dunia ini sudah tidak ada tempat dirinya bersandar?

Kruyuk

Suara yang berasal dari perutnya memecah kesedihan, dirinya lantas mengusap perut lalu mengedarkan pandangan. Apa yang bisa dimakan disini?

Sruk sruk

Suara nya berasal dari semak semak. Eula berdiri, berjalan mengendap - endap menghampiri semak semak yang bergoyang tadi.

Siapa itu?

Entah keberanian dari mana, dirinya menyibak semak semak itu. Disana, seorang lelaki seumuran dengan nya tengah duduk seperti tengah menunggu diciduk, tangan nya memegang hasil buruan nya.

Lelaki itu pura pura terkejut, menatap Eula lalu menggaruk belakang lehernya, ia nyengir.

"Eh, Hai?"

Ia berdiri membuat Eula mundur dengan waspada.

Tawa canggung terdengar "Apa aku mengganggu? Maaf, bukan bermaksud menguntit."

Tanpa mempedulikan nya, Eula berbalik menuju api unggun dan kembali duduk dengan memeluk kedua lututnya.

Lelaki itu mengikuti nya, dan kini duduk di samping nya "Apa kamu mau kelinci ini? Oh ya, Aku Cedric, siapa nama mu?" Ia menatap Eula lekat membuat gadis itu mendengus kesal.

"Atas perintah siapa?" tanya nya membuat lelaki itu menaikan satu alisnya, bingung. "Apa maksud mu?"

"Kau membuntuti ku?"

Ia menggeleng "Ah, tidak! Aku kebetulan melihat mu dari ujung sana, lalu berniat bergabung. " Ia menunjuk hutan arah timur.

Eula melirik "Kenapa bersembunyi? Sudahlah jangan berbohong, pasti keluarga Erax yang menyuruh mu kan?" Ia menatap nya penuh curiga.

"Tidak, aku tidak mengenal Erax. Ayolah, kenapa kau penuh dengan kecurigaan seperti ini, ya walaupun memang harus curiga sih karena kita baru pertama bertemu. Tapi aku berani bersumpah, aku tidak ada niatan yang buruk, hanya ingin bergabung saja, " cerocosnya mencoba meyakinkan Eula.

"Baiklah." Setelah satu kata itu keluar dari mulutnya, entah kenapa lelaki itu malah heboh dan terus berbicara tanpa henti hingga membuat Eula kesal sendiri "Diam lah, jangan berisik!"

Ia menutup mulutnya rapat dan mengangguk, Cedric berdiri kemudian menusuk tubuh hewan buruan nya dengan ranting, Ia mengguyur hewan itu dengan air lalu memanggangnya.

Eula sedari tadi diam memperhatikan apa yang Cedric lakukan "Air apa itu?"

Cedric tersenyum "Apa kau mencurigai ku?" Pertanyaan itu berhasil membuatnya mendengus kesal. Bukan nya menjawab, lelaki itu malah balik bertanya. Dasar menyebalkan.

"Ini air laut. "

Hening, Eula tidak berniat untuk merespon nya lagi.

"Siapa nama mu?"

Eula tak melirik "Eula."

"Nama yang indah seperti orang nya. " Cedric tersenyum kecil sambil fokus memanggang buruan nya itu, tanpa dia sadari kini Eula terus memperhatikan nya dari samping dengan ekspresi ke heranan.

"Ngomong-ngomong, kemana tujuanmu, Eula?" sang pemilik nama tersentak ketika kedua matanya bertemu dengan mata merah milik Cedric. Melihat itu, Ia tertawa "Lucu," katanya cukup jelas terdengar

Psss

Wajahnya panas, Ia memalingkan wajah lalu berdehem "Wilayah Barance. " katanya gugup.

"Kekaisaran Helax?"

"Kau tau?"

"Tentu saja. "

Eula memicingkan matanya.

"Kau....Siapa sebenarnya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Blood of the last fairy    Bagian 6

    "DASAR BODOH! CARI ANAK ITU SAMPAI DAPAT!"Papan nama 'Daza Erax' terbanting saat meja itu didorong kasar oleh kakinya hingga terbalik. Daza, menghancurkan apapun yang matanya temui. Kini, ruang kerjanya telah berubah menyerupai kapal pecah. Lelaki yang memakai jubah dan tudung hitam hanya mengangguk dengan kepala sedikit menunduk. Panjang tudung yang dikenakan tak membiarkan wajahnya terlihat. Kakinya melangkah dengan hati-hati agar tidak menginjak pecahan kaca yang berceceran dilantai. Punggung nya menghilang bersamaan dengan pintu yang kembali tertutup rapat. Daza kini berdiri menghadap jendela, diluar sedang mendung hingga muncul kilatan dari atas langit yang menyambar .Ruangan gelap seketika terang, namun sesaat. "Aku akan merebut emas itu."***Eula merebahkan tubuhnya di atas kasur, membiarkan sesuatu yang lembut bersentuhan dengan kulitnya. Ia kini tengah menerawang Langit-langit kamar dengan tubuh terlentang. Hari ini sangat melelahkan, apa karena dirinya belum terbiasa d

  • Blood of the last fairy    BAGIAN 5

    "Apa kau tau bahwa pria gila itu sengaja membuang mu dan ibumu?" "Dia bahkan lebih kejam dariku. " "Aku kasihan denganmu, malang sekali hidup mu, keponakan ku." "Akan ku buat kau hidup bahagia dengan menjadi iblis yang mengendalikan dunia!" "TIDAKKKK!!" Dadanya naik turun, matanya melotot. Eula terbangun dengan keringat yang membasahi wajahnya. Ia kini menyentuh dadanya dengan tangan gemetar. "Ternyata cuma mimpi, " gumam Eula. Ia menarik napas panjang lalu mengedarkan pandangannya. Mewah sekali. Ruangan ini seluas rumahnya. Banyak sekali boneka kelinci yang berjejer di kursi sofa yang terletak di dekat jendela. Di sebelah kanan dekat pintu pemandian, terdapat dua lemari yang cukup besar. Kamar ini terbilang cukup mewah dan luas untuk ia gunakan sendiri, ditambah lagi di samping pintu masuk terdapat rak buku yang penuh terisi. Kamar dengan nuansa pink cukup membuat Eula merasa nyaman, ia kini beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mendekati jendela dengan tirai yang mas

  • Blood of the last fairy    Bagian 4

    Kekaisaran Helix memiliki 4 pilar yang tercatat dalam sejarah, yaitu Barance, Terax, Magnu, dan Maos. Barance berada di tingkat pertama, ibarat kaisar adalah jantungnya manusia maka Barance merupakan tulang punggung dan otot yang akan melindungi 'Manusia' dari bahaya. Tingkat ke-2 ada bangsawan Terax yang di ibaratkan sebagai kulitnya Kekaisaran, mereka melindungi dari luar. Wilayah kekuasaan Terax adalah hutan dan perairan, jika Barance menganggap pertumpahan darah dan bisingnya medan perang sebagai kemuliaan, maka Terax menganggap kesunyian sebagai kemuliaan. Terax cukup ramah, namun jujur. Mereka bekerja untuk Kekaisaran Helix, menjaga hutan, dan perairan. Lalu, ditingkat ke-3 dan 4 ada Magnu dan Maos. Magnu terkenal sebagai pencipta sihir dan pengrajin senjata, wilayah magnu memiliki hutan sihir yang tidak pernah tersentuh oleh sembarang orang. Kemudian Maos adalah otaknya Kekaisaran, ia menyimpan arsip Kekaisaran dan sebagai penasihat Kekaisaran. Eula mengangguk. Sedangkan kin

  • Blood of the last fairy    Bagian 3

    "Hei!" "Bangunlah!" "Eula!" Cedric mengguncang tubuh gadis itu hingga mata nya sontak melotot "Kau membuatku pusing, " ujarnya dengan ekspresi kesal. Tangan Cedric menarik lengan Eula hingga membuat gadis itu ikut berdiri dan berlari mengikuti lelaki itu. Dirinya kini tengah linglung seperti katak yang akan ditelan ular, merisaukan pohon pohon menjulang tinggi yang kini sudah dilahap habis kobaran api. Apa yang sebenarnya terjadi? Ditatapnya, punggung Cedric. Api itu merayap menggerogoti jubah milik lelaki tersebut. Eula mengulurkan tangan, Cahaya biru yang dingin muncul dari dalam telapak tangannya, ia mengarahkan nya pada jubah Cedric, apinya padam. Ia mengibaskan telapak tangannya, dingin. "Kenapa semuanya terbakar?" Langkah keduanya terhenti di antara pohon berapi. Matanya mengamati engahan napas, Jubah milik Cedric terkoyak dan gosong, wajahnya berkeringat. Mereka terjebak di pusat hutan yang sudah dilahap oleh kobaran api. "Ada seseorang yang sengaja membakar hutan

  • Blood of the last fairy    BAGIAN 2

    Beberapa helai rambut perak milik Eula terbang terbawa angin, namun ia tak peduli. Matanya memicing, terus menelusuri setiap inci wajah wanita yang mirip dirinya itu. Seolah waktu berhenti, hanya ada Eula dan wanita itu didunia ini "ibu kenapa kita tinggal ditengah hutan?" "Karena kita berbeda dari yang lain. " Eula mengerutkan kening nya "Berbeda?" Wanita itu tersenyum, merapihkan rambut Eula yang jatuh menutupi mata Eula. kemudian ia memetik bunga liar dan menyelipkan nya pada salah satu telinga sang anak. "Kamu akan tau nanti, apa putri ibu kesepian?" Dengan lucu ia menggeleng lalu tersenyum "Kan ada ibu, kenapa aku harus kesepian? " "Anak yang manis." Ia menarik Eula untuk tidur beralaskan paha nya. Glis, adalah namanya. Wanita itu tersenyum menatap putrinya lekat, Ia menyenderkan punggung nya pada pohon apel. "Apa yang akan putri ibu lakukan jika masih memiliki seorang ayah?" "Entah lah, aku seperti nya akan memeluk nya setiap hari. " "Kamu merindukannya?" Eula memainka

  • Blood of the last fairy    BAGIAN 1

    "BERDASARKAN HUKUM KEKAISARAN VENITH, EULA ERAX AKAN DIBERIKAN HUKUM PENGGAL DIHADAPAN RAKYAT VENITH, BESOK!" Di dalam penjara kecil yang mirip dengan sangkar, seorang gadis terduduk. Rambut kusut bagaikan sarang burung, pakaian yang compang-camping, lalu wajahnya yang kusam dan kotor. Di dalam penjara keliling yang tidak di tutupi kain, dirinya di pertontonkan kepada seluruh rakyat Kekaisaran Venith. Tubuhnya bergetar kuat mendengar cemooh, bahkan kebanyakan dari mereka melempari batu padanya. "Dasar pembelot! " "Berani sekali dia membunuh tuan putri manis kita, semoga neraka adalah tempatmu gadis sialan! " Eula Erax adalah anak angkat dari keluarga Erax yang merupakan bangsawan tingkat 4 di Kekaisaran Venith. Eula ditemukan dan di adopsi oleh Daza, kepala keluarga Erax. Eula pikir, sikap Daza dalam mengadopsi nya itu dipenuhi ketulusan, namun ternyata sebaliknya. Dirinya dijadikan sebagai bahan percobaan dalam eksperimen nya dan sebagai pelindung atas perilaku putrinya yang mer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status