INICIAR SESIÓN"DASAR BODOH! CARI ANAK ITU SAMPAI DAPAT!"
Papan nama 'Daza Erax' terbanting saat meja itu didorong kasar oleh kakinya hingga terbalik. Daza, menghancurkan apapun yang matanya temui. Kini, ruang kerjanya telah berubah menyerupai kapal pecah. Lelaki yang memakai jubah dan tudung hitam hanya mengangguk dengan kepala sedikit menunduk. Panjang tudung yang dikenakan tak membiarkan wajahnya terlihat. Kakinya melangkah dengan hati-hati agar tidak menginjak pecahan kaca yang berceceran dilantai. Punggung nya menghilang bersamaan dengan pintu yang kembali tertutup rapat. Daza kini berdiri menghadap jendela, diluar sedang mendung hingga muncul kilatan dari atas langit yang menyambar .Ruangan gelap seketika terang, namun sesaat. "Aku akan merebut emas itu." *** Eula merebahkan tubuhnya di atas kasur, membiarkan sesuatu yang lembut bersentuhan dengan kulitnya. Ia kini tengah menerawang Langit-langit kamar dengan tubuh terlentang. Hari ini sangat melelahkan, apa karena dirinya belum terbiasa dengan apa yang terjadi disini? Dulu ketika di dalam hutan, ia hanya akan mengenakan pakaian yang ibu buat dan jumlah nya tidak banyak, tapi sekarang dirinya harus memakai pakaian yang orang lain buat, pakaian berat dengan jumlah yang banyak. Tapi dibalik rasa lelah itu, Eula merasa sangat senang dengan kabar yang ia terima, karena usianya 12 tahun, ia akan segera belajar di akademik Kekaisaran Helix. Tentu dirinya sangat bahagia, itu adalah impian yang terkubur di kehidupan sebelum nya. Kendati begitu, Eula merasa tak tenang. Dirinya saat ini dinilai terlalu berleha-leha, ia melupakan tujuan nya untuk membalas dendam pada Erax. Eula yakin, dirinya tengah menjadi buronan Erax. Helaan napas kasar itu keluar, Eula kini beranjak dari tidurnya. Kakinya melangkah mendekati cermin besar lalu melihat pantulan dirinya. Kedua tangannya terangkat menangkup pipinya, tak ada senyum yang terukir. Dirinya menatap datar wajah di depan, lalu kini beralih memainkan anak rambut yang panjang. "Cantik juga, " gumam nya lalu tersipu malu. Eula menarik kedua ujung bibirnya, matanya berbinar, "Akan sangat seru jika ibu juga ikut datang dan menemui ayah." Wajahnya kini berubah murung, ia menggenggam kalung yang tengah dipakai. Pikiran nya berkelana, apakah ibu sudah bahagia di atas sana? Hembusan angin terasa sangat kencang, Eula membalikkan badan, sangat janggal. Jendela terlihat seperti sayap burung yang terkepak, tirai terangkat dan menari-nari tertiup angin. Asap hitam muncul dengan suara khasnya, sebuah lingkaran kecil terlihat lalu beberapa detik lingkaran itu semakin membesar. Seorang anak laki-laki keluar dari dalam portal hitam lalu melambaikan tangan sambil tersenyum "Hai, Eula. " Eula Langsung berdecak sambil memutar bola mata malas, "Dasar tidak sopan," Sindirnya. "Yah, jahat sekali mulutmu. Apa begini cara menyambut teman?" Eula langsung bertulak pinggang, ekspresi nyalang Ia tunjukan, "Hei! Aku bukan teman mu!" tolaknya. Cedric tertawa pelan, ia kemudian duduk di kursi sofa hingga membuat Eula melotot lalu menghampirinya. Cedric langsung paham, ia kemudian berdehem, "Aku izin duduk sebentar ya?" "Ck, tidak sopan, izin dulu baru duduk." Gadis itu ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan Cedric sambil menggerutu. Ngomong-ngomong, kenapaa dia menemuinya? Ah ya, berapa umur Cedric? Eula mencondongkan tubuhnya, ia menautkan kedua jarinya lalu dibiarkan sebagai penopanh dagu, "Berapa umurmu?" Cedric menyenderkan punggung nya dengan satu kaki di angkat dan diletakkan di atas pahanya. "Tebak." "Serius Cedric. " "Akupun." Perkataan Cedric membuatnya menghela napas. "12?" "Salah." "13?" Cedric tersenyum lebar, "Benar." Eula mengangguk, beda satu tahun rupanya, "Kenapa kau kemari?" "Aku hanya berkunjung sebentar." "Kau mau aku pukul ya?" Ia sudah mengangkat bantal di dekatnya dengan wajah kesal. "Eh, eh... Santai-santai. " Ia menegakkan tubuhnya, menurunkan kaki dengan dua tangan di angkat meminta ampun,"Sebenarnya, aku hanya ingin memastikan sesuatu." Ia menjeda ucapan nya lalu mencondongkan tubuhnya kemudian kedua bola mata merah legam itu menatap letak Eula hingga membuatnya seperti terhipnotis sesaat. "Kau!" Eula menjauhkan tubuhnya lalu melotot, Cedric terkekeh. "Apa-apaan matamu itu?!" Kagetnya. Cedric berdiri, "Saat memeriksa hutan yang terbakar kemarin, aku menemukan kejanggalan. Hutan yang terbakar oleh api sihir tiba tiba padam permanen, sungguh luar biasa. Aku pikir itu keajaiban, ternyata ada sebab nya." Suaranya terdengar tegas dan dingin, tidak ada senyum diwajahnya. Eula mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?" Kaki Cedric berjalan mendekati Eula, derap langkahnya berhasil membuat jantungnya berpacu cepat. Ia merasakan aura mengintimidasi ah tidak, Ia merasakan bahaya dari Cedric. "Kau tidak tahu?" Eula terpaku dengan tatapan tajam laki-laki itu hingga membuat bibirnya kelu. "Ah, maaf. Apa aku membuatmu takut?" Cedric mundur beberapa langkah, ia kembali tersenyum pada Eula. Sungguh mengerikan. Buk! Bantal bulat mendarat di wajah Cedric, Eula melotot dengan napas yang menggebu-gebu. Tawa Cedric pecah, ia memegangi perutnya sakit karena terus tertawa,"Ekspresi mu lucu sekali, Eula. Kau sangat terlihat ketakutan." "DIAMMM!!" "HAHAHHA!" "CEDRICCC!!" "Baik-baik, aku diam." Ia terus menahan tawanya dengan membelakangi Eula. Pundak laki-laki itu bergetar, lalu terkadang dirinya sedikit membungkuk sambil memegangi perutnya. Eula kembali melempar bantal pada punggung Cedric, "Aku bilang diam!" "iya-iya.. " Ia mengusap air matanya, lalu menjepit hidungnya agar tidak kembali tertawa. Cedric menjentikkan jari nya, lingkaran hitam muncul. Sebelum dirinya masuk, laki-laki itu menoleh pada Eula, "Sebaiknya kau berhati-hati, dan sampai jumpa. Kurasa kita akan bertemu lagi. " Cedric melambaikan tangan, lalu masuk dan menghilang bersamaan dengan hilangnya portal itu. Eula terdiam, perkataan Cedric terus terputar di memorinya, apa maksudnya? *** Langkah penuh keberanian milik Cedric mendekati sebuah pintu yang paling besar dan mewah di antara yang lain. Langkahnya terhenti, dia menarik napas dalam hingga salah satu penjaga membuka suara. "Matahari kecil Kekaisaran Helix, Yang mulia pangeran ke-2, Cedric Leopold Helix memasuki ruangan!" Pintu besar terbuka lebar, Cedric berjalan memasuki ruangan yang dipenuhi cahaya terang. Wajahnya tanpa ekspresi menatap tiga orang yang tengah duduk disinggasana. Tubuhnya berdiri tegak dengan tumit rapat, tangannya terlipat rapih di belakang punggung. Ia menundukkan kepala sedikit kedepan. "Pangeran Cedric, kemari lah. " Cedric mengangkat kepalanya, "Baik yang mulia." Ia berjalan menaiki puluhan anak tangga di depan. Derap langkah nya terdengar menjadikan nya musik pengiring di dalam ruangan besar yang hening. Sosok di depannya terlihat seperti lukisan yang bergerak, sangat indah. Kaisar dengan rambut emas legam nya dan bola mata merah semakin memberikan kesan gagah, ia mengenakan jubah panjang berwarna putih gading dengan lapisan bulu putih berbintik hitam, tunik militer berwarna putih dengan sulaman emas bermotif bunga dibagian bawah dan mansetnya. Tak lupa dengan slempang merah yang melintang di dadanya, medali bintang dan lencana militer terpasang dipundaknya. Mahkota emas yang bertahtakan permata merah besar bertengger di atas kepalanya, terasa sangat berwibawa dan menakutkan. Lalu, disamping kirinya terdapat sang permaisuri yang kini duduk elegan dengan gaun bergaya ball gown berwarna krem dengan bordir emas tebal yang rumit di permukaan nya itu terpasang di tubuhnya. Gaun ini terlihat cantik dengan untaian panjang mutiara putih yang menjuntai dari pinggang, serta batuan permata besar berwarna zamrud yang tersemat dibagian dada dan rok. Lengan Gaun memiliki potongan lebar dengan renda putih di ujung lengan. Rambut coklat nya terurai panjanh dengan tekstur nya yang bergelombang, tak lupa dengan mahkota emas dengan desain yang rumit bertahtakan permata merah dibagian tengah yang bertengger dikepalnya. Disamping kanan kaisar adalah tempat untuk pangeran pertama, dengan sama gagahnya ia duduk dengan tubuh yang tegak. Pangeran pertama memakai tunik militer berwarna krim dengan kerah tegak dan bordir emas dibagian dada serta manset lengan. slempang beludru berwarna merah melintang di dada di lengkapi dengan bros bintang emas berukuran kecil. Di bagian bahu terdapat rumbai-rumbai tebal, ia mengenakan jubah yang berwarna biru tuatua dengan celana hitam yang pas. Karl memiliki ekspresi yang berbeda, di atas sana dirinya terlihat sangat dingin dengan bola mata merah legam yang menatap datar Cedric. Cedric berada lima langkah dari mereka, ia mengenakan setelan seragam berwarna krem dengan bordiran emas dibagian dada dan panggul. Jubah beludur panjang berwarna hitam yang dikaitkan pada salah satu sisi bahu kiri dengan sabuk lebar berwarna hitam dan gesper emas yang sudah melingkar dipinggang nya, tak lupa dengan sarung tangan pendek berwarna hitam yang kini tengah ia pakai. "Apa kabarmu Cedric?" Pertanyaan itu keluar dari mulut mahal Kaisar, Cedric tidak tersenyum sama sekali. Wajahnya tetap sama, datar. "Sangat baik, yang mulia." "Cedric, kemari lah nak. Istriku sangat merindukan mu." Kali ini ia melirik permaisuri yang tersenyum hangat. "Kemari lah," Titah permaisuri tanpa suara, ia mengangkat kedua tangan nya bersiap untuk memeluk putranya. Cedric berjalan menghampiri permaisuri lalu memeluknya, "Aku juga merindukan mu, ibunda." Pelukannya terlepas. "Apa yang membuat yang mulia memanggil saya?" "Apa harus ada alasan untuk bertemu dengan putraku?" Cedric menghela napas kasar, "Tentu tidak. Tapi saya yakin ada hal yang ingin yang mulia sampaikan pada saya." Kaisar tertawa menggema di ruangan yang hening, "Kau memang anak ku." Wajah nya kini tidak terlihat santai lagi, namun berubah menjadi agak serius. "Apa kau menginginkan takhta ini?" Tanya nya dengan sorot mata yang mengintimidasi, Ia meletakkan satu kepalaan tangannya untuk menompang pipi kanannya. "Saya tidak berani mengharapkan itu." "Kenapa? Kau memiliki segalanya Cedric." "Iya, kecuali dukungan dari para bangsawan, yang mulia." Kaisar menghela napas, lagi lagi jawaban itu yang keluar. Ia melirik pangeran pertama Karl yang menunduk, "Apa kau tidak merasa kasihan dengan kakak mu?" Cedric diam, Ia hanya menatap Karl dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan. "Kemari Cedric," titahnya membuat Cedric mendekati Kaisar. "Pikirkan baik-baik, nak. Kau tau sendiri kakakmu itu orang yang tidak berjodoh dengan pedang, otaknya hanya tau tentang obat saja. Apa kau tidak khawatir jika Karl akan di jadikan boneka oleh bangsawan yang serakah itu?" Kaisar meraih kedua tangan kecil milik Cedric lalu diletakkan nya di atas dada anak itu, "Coba dengarkan suara hatimu, sekali saja. Pikirkan kembali baik-baik ya, selama apapun waktu yang kau butuhkan aku akan tetap menunggunya." Ia tersenyum pada Cedric lalu mengusap rambutnya. "Nak, dengar...Pertumpahan darah dalam perebutan takhta adalah sesuatu yang lumrah dan itu sudah pernah ku alami. Sudah sangat lama aku menderita dengan bayang bayang yang menghantui, tangan ini sudah membunuh saudara sendiri. Aku tidak mengharapkan itu terjadi lagi, jika kau mau menggantikan kakakmu dan berniat menjadi putra mahkota, dengan senang hati akan ku lakukan, kau tidak perlu memikirkan tentang dukungan para bangsawan serakah itu, serahkan semuanya pada ayahmu ini. Aku hanya butuh janji dari kalian untuk tidak saling membunuh dikemudian hari, tolong untuk saling menjaga satu sama lain, karena kalian adalah putra berharga ku. " Kaisar memeluk Cedric, mengusap lembut punggung kecil milik Cedric. "Baik, Ayahanda." Setelah pelukan nya terlepas, Cedric melirik sang kakak. Senyum itu kembali muncul. Ya, Karl tersenyum. Cedric memberi salam terlebih dahulu sebelum dirinya benar benar pergi. Kini, pundak nya terasa berat. Ia merasa sedikit terbebani oleh perkataan Kaisar. Bayang-bayang masalalu mulai menghampiri, kedua tangan nya mengepal. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Lengkah berani nya membawa Cedric pada lembaran baru yang penuh duri."DASAR BODOH! CARI ANAK ITU SAMPAI DAPAT!"Papan nama 'Daza Erax' terbanting saat meja itu didorong kasar oleh kakinya hingga terbalik. Daza, menghancurkan apapun yang matanya temui. Kini, ruang kerjanya telah berubah menyerupai kapal pecah. Lelaki yang memakai jubah dan tudung hitam hanya mengangguk dengan kepala sedikit menunduk. Panjang tudung yang dikenakan tak membiarkan wajahnya terlihat. Kakinya melangkah dengan hati-hati agar tidak menginjak pecahan kaca yang berceceran dilantai. Punggung nya menghilang bersamaan dengan pintu yang kembali tertutup rapat. Daza kini berdiri menghadap jendela, diluar sedang mendung hingga muncul kilatan dari atas langit yang menyambar .Ruangan gelap seketika terang, namun sesaat. "Aku akan merebut emas itu."***Eula merebahkan tubuhnya di atas kasur, membiarkan sesuatu yang lembut bersentuhan dengan kulitnya. Ia kini tengah menerawang Langit-langit kamar dengan tubuh terlentang. Hari ini sangat melelahkan, apa karena dirinya belum terbiasa d
"Apa kau tau bahwa pria gila itu sengaja membuang mu dan ibumu?" "Dia bahkan lebih kejam dariku. " "Aku kasihan denganmu, malang sekali hidup mu, keponakan ku." "Akan ku buat kau hidup bahagia dengan menjadi iblis yang mengendalikan dunia!" "TIDAKKKK!!" Dadanya naik turun, matanya melotot. Eula terbangun dengan keringat yang membasahi wajahnya. Ia kini menyentuh dadanya dengan tangan gemetar. "Ternyata cuma mimpi, " gumam Eula. Ia menarik napas panjang lalu mengedarkan pandangannya. Mewah sekali. Ruangan ini seluas rumahnya. Banyak sekali boneka kelinci yang berjejer di kursi sofa yang terletak di dekat jendela. Di sebelah kanan dekat pintu pemandian, terdapat dua lemari yang cukup besar. Kamar ini terbilang cukup mewah dan luas untuk ia gunakan sendiri, ditambah lagi di samping pintu masuk terdapat rak buku yang penuh terisi. Kamar dengan nuansa pink cukup membuat Eula merasa nyaman, ia kini beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mendekati jendela dengan tirai yang mas
Kekaisaran Helix memiliki 4 pilar yang tercatat dalam sejarah, yaitu Barance, Terax, Magnu, dan Maos. Barance berada di tingkat pertama, ibarat kaisar adalah jantungnya manusia maka Barance merupakan tulang punggung dan otot yang akan melindungi 'Manusia' dari bahaya. Tingkat ke-2 ada bangsawan Terax yang di ibaratkan sebagai kulitnya Kekaisaran, mereka melindungi dari luar. Wilayah kekuasaan Terax adalah hutan dan perairan, jika Barance menganggap pertumpahan darah dan bisingnya medan perang sebagai kemuliaan, maka Terax menganggap kesunyian sebagai kemuliaan. Terax cukup ramah, namun jujur. Mereka bekerja untuk Kekaisaran Helix, menjaga hutan, dan perairan. Lalu, ditingkat ke-3 dan 4 ada Magnu dan Maos. Magnu terkenal sebagai pencipta sihir dan pengrajin senjata, wilayah magnu memiliki hutan sihir yang tidak pernah tersentuh oleh sembarang orang. Kemudian Maos adalah otaknya Kekaisaran, ia menyimpan arsip Kekaisaran dan sebagai penasihat Kekaisaran. Eula mengangguk. Sedangkan kin
"Hei!" "Bangunlah!" "Eula!" Cedric mengguncang tubuh gadis itu hingga mata nya sontak melotot "Kau membuatku pusing, " ujarnya dengan ekspresi kesal. Tangan Cedric menarik lengan Eula hingga membuat gadis itu ikut berdiri dan berlari mengikuti lelaki itu. Dirinya kini tengah linglung seperti katak yang akan ditelan ular, merisaukan pohon pohon menjulang tinggi yang kini sudah dilahap habis kobaran api. Apa yang sebenarnya terjadi? Ditatapnya, punggung Cedric. Api itu merayap menggerogoti jubah milik lelaki tersebut. Eula mengulurkan tangan, Cahaya biru yang dingin muncul dari dalam telapak tangannya, ia mengarahkan nya pada jubah Cedric, apinya padam. Ia mengibaskan telapak tangannya, dingin. "Kenapa semuanya terbakar?" Langkah keduanya terhenti di antara pohon berapi. Matanya mengamati engahan napas, Jubah milik Cedric terkoyak dan gosong, wajahnya berkeringat. Mereka terjebak di pusat hutan yang sudah dilahap oleh kobaran api. "Ada seseorang yang sengaja membakar hutan
Beberapa helai rambut perak milik Eula terbang terbawa angin, namun ia tak peduli. Matanya memicing, terus menelusuri setiap inci wajah wanita yang mirip dirinya itu. Seolah waktu berhenti, hanya ada Eula dan wanita itu didunia ini "ibu kenapa kita tinggal ditengah hutan?" "Karena kita berbeda dari yang lain. " Eula mengerutkan kening nya "Berbeda?" Wanita itu tersenyum, merapihkan rambut Eula yang jatuh menutupi mata Eula. kemudian ia memetik bunga liar dan menyelipkan nya pada salah satu telinga sang anak. "Kamu akan tau nanti, apa putri ibu kesepian?" Dengan lucu ia menggeleng lalu tersenyum "Kan ada ibu, kenapa aku harus kesepian? " "Anak yang manis." Ia menarik Eula untuk tidur beralaskan paha nya. Glis, adalah namanya. Wanita itu tersenyum menatap putrinya lekat, Ia menyenderkan punggung nya pada pohon apel. "Apa yang akan putri ibu lakukan jika masih memiliki seorang ayah?" "Entah lah, aku seperti nya akan memeluk nya setiap hari. " "Kamu merindukannya?" Eula memainka
"BERDASARKAN HUKUM KEKAISARAN VENITH, EULA ERAX AKAN DIBERIKAN HUKUM PENGGAL DIHADAPAN RAKYAT VENITH, BESOK!" Di dalam penjara kecil yang mirip dengan sangkar, seorang gadis terduduk. Rambut kusut bagaikan sarang burung, pakaian yang compang-camping, lalu wajahnya yang kusam dan kotor. Di dalam penjara keliling yang tidak di tutupi kain, dirinya di pertontonkan kepada seluruh rakyat Kekaisaran Venith. Tubuhnya bergetar kuat mendengar cemooh, bahkan kebanyakan dari mereka melempari batu padanya. "Dasar pembelot! " "Berani sekali dia membunuh tuan putri manis kita, semoga neraka adalah tempatmu gadis sialan! " Eula Erax adalah anak angkat dari keluarga Erax yang merupakan bangsawan tingkat 4 di Kekaisaran Venith. Eula ditemukan dan di adopsi oleh Daza, kepala keluarga Erax. Eula pikir, sikap Daza dalam mengadopsi nya itu dipenuhi ketulusan, namun ternyata sebaliknya. Dirinya dijadikan sebagai bahan percobaan dalam eksperimen nya dan sebagai pelindung atas perilaku putrinya yang mer







