Share

BAGIAN 5

Author: Taroo
last update Last Updated: 2026-02-03 12:57:44

"Apa kau tau bahwa pria gila itu sengaja membuang mu dan ibumu?"

"Dia bahkan lebih kejam dariku. "

"Aku kasihan denganmu, malang sekali hidup mu, keponakan ku."

"Akan ku buat kau hidup bahagia dengan menjadi iblis yang mengendalikan dunia!"

"TIDAKKKK!!" Dadanya naik turun, matanya melotot. Eula terbangun dengan keringat yang membasahi wajahnya. Ia kini menyentuh dadanya dengan tangan gemetar.

"Ternyata cuma mimpi, " gumam Eula. Ia menarik napas panjang lalu mengedarkan pandangannya.

Mewah sekali.

Ruangan ini seluas rumahnya. Banyak sekali boneka kelinci yang berjejer di kursi sofa yang terletak di dekat jendela. Di sebelah kanan dekat pintu pemandian, terdapat dua lemari yang cukup besar.

Kamar ini terbilang cukup mewah dan luas untuk ia gunakan sendiri, ditambah lagi di samping pintu masuk terdapat rak buku yang penuh terisi.

Kamar dengan nuansa pink cukup membuat Eula merasa nyaman, ia kini beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mendekati jendela dengan tirai yang masih tertutup rapat.

Tangannya merayap, menyibak tirai biru tua, motif bunga menari di balik jemarinya. Jendela terbuka, membiarkan angin membelai rambutnya, membawa kesegaran pagi.

Sejenak, matanya terpejam, menikmati sentuhan lembut, lalu terbuka, memandangi halaman rumah yang memanjakan mata.

Brak!

"Anakku Eula!" Pintu terbuka lebar, menampilkan Demian dengan mata berbinarnya. Lelaki itu kini berjalan cepat menghampiri Eula yang masih mematung, belum biasa diperlakukan seperti ini.

Ia memeluk anaknya, menciumi seluruh wajahnya.

"Selamat pagi sayang. "

Eula tersenyum dengan memiringkan kepalanya sedikit, "Pagi, ayah." Sekarang dirinya bahkan meragukan julukan monster gila itu. Lihatlah sekarang, pria itu kini malah terus tersenyum dan menciumi nya.

Gadis itu tersentak ketika Demian memangku nya, "Ayo makan bersama, setelah ini kau pasti akan merasa lelah karena harus mencoba banyak pakaian barumu." Langkah panjangnya membawa mereka keluar dari kamar.

Disepanjang koridor, para pelayan yang melihat Demian tersenyum nampak terkejut untuk sesaat.

"Akhirnya tuan kembali tersenyum."

Bisikan positif itu terdengar oleh Eula, gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik sang ayah, diam diam dirinya tersenyum mendengar pembicaraan pelayan yang mereka lewati.

Seperti ini rasanya memiliki ayah?

"Apa anak ayah malu?" Eula menjawab dengan gelengan.

"Kenapa tidak mau melihat wajah ayah?" Dengan kamu dirinya mengangkat wajah, menatap Demian.

"Boleh aku bertanya?"

Demian tersenyum, "Tentu saja, apa yang ingin putri kecil ayah tanyakan?"

Eula memandang ayahnya cukup lama sebelum dirinya berbicara. Tidak ada ketakutan di dalam sorot matanya.

"Apa Ayah menyayangi ibu?"

Pertanyaan itu berhasil membuat langkah Demian terhenti, "Bukan hanya menyayangi, ayah bahkan sangat mencintai, ibumu. Apa putri ayah sangat meragukan hal itu?" Demian mengecup pipinya hingga Eula mengedipkan satu matanya. Ia kembali melanjutkan langkah nya yang tertunda.

"Lalu, kenapa membuat ibu hidup susah? Kenapa membiarkan ibu mati kesepian?" Raut wajahnya berubah menjadi sendu, pria itu melirik anaknya.

"Ayah tidak sejahat itu. Ah, sudah sampai. Sebaiknya kita maka terlebih dahulu, putri ayah pasti lapar kan?"

Pintu besar berwarna hitam di depannya terbuka lebar, mereka masuk lalu pintu tertutup.

Besar sekali.

Ruang makan dengan meja panjang yang terisi makanan lezat membuat Eula menelan ludah, suara dari dalam perutnya terdengar. Memalukan.

Demian hanya tersenyum melihat tingkah malu putrinya. Ia duduk dengan posisi Eula yang di pangku.

"Apa sebaiknya aku duduk terpisah dengan ayah?" Ia mendongak, menatap Demian.

Tangan besar milik Demian bergerak memotong steak lalu menyuapi Eula dengan senyumnya yang terus mengembang

"Apa putri ayah tidak menyukai nya? Padahal aku sangat merindukanmu, " ujarnya seketika menampilkan ekspresi murung.

Eula langsung menggeleng, "Aku suka! Suapi aku lagi!"

Pria itubtersenyum, dengan senang hati dirinya kembali menyuapi Eula.

***

"Hei, dasar manusia berhati iblis!"

Anak laki-laki yang memiliki rambut berwarna emas legam dengan jubah panjang dengan kerah lebar yang memiliki bordiran emas rumit di sepanjang tepiannya, bulu putih yang lembut terletak pada ujung lengannya. Dibalik jubah berwarna biru tua yang kaya itu terdapat rompi yang memiliki warna senada dengan jubahnya, rompi itu memiliki bordiran emas. Kemeja putih dengan kerah tinggi dan cravat berwarna putih di ikat rapih. Laki laki itu memakai celana model longgar berwarna putih gading yang di masukan ke dalam sepatu bot berwarna cokelat tua.

Dengan penampilan yang menawan itu, dia menggeram kesal membuat Cedric menghela napas kasar.

"Kenapa?"

Anak laki-laki seusia nya itu malah semakin menggeram, ia melotot dengan wajah merah padam. Namun, setelah itu dirinya malah merengek. Duduk di tanah lalu menangis.

"Kau jahat!"

Cedric meletakkan pedang kayu pada tempat penyimpanan nya, sebuah keranjang kayu yang terpasang menempel pada bambu besar.

Cedric berdecak, ia menghampiri anak yang kini tengah merengek seperti bocah 5 tahun.

"Karl, cukup dan berdirilah. "

Dia adalah Karlex Leopold Helix, Pangeran pertama Kekaisaran Helix sekaligus putra mahkota yang sudah diresmikan.

Karl mendongak, menatap Cedric dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca, wajahnya murung.

"Panggil aku kakak..."

"Baik, kak. Tolong segera bangun."

Cedric sedikit muak dengan sikap Karl, Ia kini berdiri tegak dengan kemeja putih panjang yang digulung seperempat, dilapisi rompi kulit tanpa lengan berwarna hitam gelap yang di hiasi sabuk kulit berwarna coklat, melingkar dipinggang. Ia mengenakan celana ketat berwarna cokelat tua dengan sepatu bot tinggi berwarna coklat yang senada dengan celana, ia menatap dingin Karl yang tak kunjung berdiri.

"Kau janji kan akan membawaku berpetualang?" Helaan napas keluar, Cedric memijat pelipisnya. Terasa basah, dirinya mengeluarkan sapu tangan lalu mengelap keringat di wajahnya.

"Apa kau akan terus bersikap seperti ini? Tidak malu ya? Kalau ayah tau putra mahkota merengek seperti itu apa yang akan beliau lakukan?"

Karl Langsung berdiri, merapihkan pakaian nya lalu berdehem. "Apa kau mau mengajak ku kemana pun kau pergi?" Kali ini wajahnya serius.

"Tidak." Penolakan yang cukup tegas, Cedric melenggang pergi meninggalkan Karl yang menganga kecil.

Ia berlari membuntuti adiknya.

"Hei, aku bisa membuat obat dan aku akan mengobatimu jika kau terluka, sangat berguna bukan?" Ia berjalan mundur agar bisa berbicara menatap wajah Cedric yang sudah muak dengan Karl.

"Kau mendoakan aku terluka?"

"Tidak, maksudku setidaknya aku bisa berguna untukmu."

Cedric memutar bola mata malas, "Mengherankan, kenapa ayah memilih kau yang payah sebagai putra mahkota," ujarnya tajam.

Langkah Karl terhenti namun Cedric masih tetap melangkah tapi sedikit pelan. Ia menyadari perubahan suasana hati Karl.

"Hei... Aku juga tidak ingin dengan status ini. Kalau bisa memilih, lebih baik aku menjadi dokter saja, yang menyembuhkan luka, dan menciptakan obat. Aku sangat amat menyadari bahwa gelar putra mahkota ini seperti topeng yang tak pas, aku bukan pejuang, lalu seperti yang kau tau bahwa aku tidak tau cara memegang pedang, dan sihirku? Hampir tidak ada." Kepalanya tertunduk, tangannya mengepal erat, seakan menahan kekecewaan.

Ia menarik napas panjang, "Gulingkan saja aku sebagai putra mahkota jika kau bisa," lanjutnya. Cedric memang kandidat yang pas untuk menjadi orang yang merebut status itu, namun karena banyak para bangsawan yang mendukung Karl, maka itu cukup menjadi penghalang. Entah apa yang dipikirkan mereka, atau memang hal ini disengaja karena Karl adalah orang yang bisa mereka peralat.

Langkah Cedric terhenti, ia berbalik dan mendapati Karl yang masih menunduk, senyum kecil nya terukir, "Jangan bersantai, atau berlindung dibalik kasih sayang mereka yang mencintaimu, Kau akan jadi debu atau bahkan lenyap jika tidak menjadi kuat. Kau tahu kan status mu saat ini sangat membahayakan nyawamu?" Suaranya tegas, tanpa ampun.

"Ya, aku tau, tapi mau bagaimana lagi aku tidak bisa berbuat apa apa." Karl tertawa lalu langsung mengangkat kepala nya, dia malah tersenyum namun sorot matanya tidak bisa berbohong, Karl ketakutan.

"Dasar bodoh! Datanglah ke tempat latihan besok, aku akan mengajarimu cara memegang pedang."

Senyuman diwajahnya tenggelam, "Kenapa? Padahal kau harusnya membunuh ku atau membiarkanku terbunuh saja, karena aku terus merecokimu dan menjadi penghalangmu untuk menaiki tahta," kata Karl sedikit pelan.

"Aku tidak tertarik dengan tahta, ambil saja. Tapi aku resah jika kau yang sudah menjadi putra mahkota itu tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Sampai serangan seperti ini pun tak kau sadari." Cedric menangkap pisau yang melayang ke arah Karl, tangannya terliris, berdarah. Matanya langsung membidik tajam sang pelaku, jentikan jarinya membelah udara, dan jeritan menyayat terdengar.

"Ka-kau berdarah!" Karl panik, ia menarik tangan Cedric lalu meniupnya.

Cedric berdecak, "Dasar menyebalkan!" Ia menepis tangan Karl lalu meninggalkan laki-laki itu. Karl tidk diam, dia membuntuti Cedric dari belakang.

"Jangan membuntuti!"

"Kau harus di obati!"

"Laporkan saja pada yang mulia, dan urus dirimu sendiri."

"Kau begini gara gara aku, biarkan ku obati lukamu, Cedric. Selanjutnya aku akan melaporkan kejadian tadi pada ayah."

"Ck!"

Keduanya kini berjalan beriringan menuju istana Belic, tempat dimana Cedric tinggal. Sepanjang jalan Cedric tak henti-hentinya berdecak dan menghela napas kasar, sedangkan Karl terus nyerocos mengkhawatirkan tangan Cedric yang terus berdarah.

"Bisa kah kau merubah sedikit sifatmu, jika kau terus seperti ini maka manusia tidak beruntung mana yang akan menjadi temanmu kelak?"

Tanpa Karl sadari, laki-laki itu malah menyunggingkan senyumnya.

Teman ya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Blood of the last fairy    Bagian 6

    "DASAR BODOH! CARI ANAK ITU SAMPAI DAPAT!"Papan nama 'Daza Erax' terbanting saat meja itu didorong kasar oleh kakinya hingga terbalik. Daza, menghancurkan apapun yang matanya temui. Kini, ruang kerjanya telah berubah menyerupai kapal pecah. Lelaki yang memakai jubah dan tudung hitam hanya mengangguk dengan kepala sedikit menunduk. Panjang tudung yang dikenakan tak membiarkan wajahnya terlihat. Kakinya melangkah dengan hati-hati agar tidak menginjak pecahan kaca yang berceceran dilantai. Punggung nya menghilang bersamaan dengan pintu yang kembali tertutup rapat. Daza kini berdiri menghadap jendela, diluar sedang mendung hingga muncul kilatan dari atas langit yang menyambar .Ruangan gelap seketika terang, namun sesaat. "Aku akan merebut emas itu."***Eula merebahkan tubuhnya di atas kasur, membiarkan sesuatu yang lembut bersentuhan dengan kulitnya. Ia kini tengah menerawang Langit-langit kamar dengan tubuh terlentang. Hari ini sangat melelahkan, apa karena dirinya belum terbiasa d

  • Blood of the last fairy    BAGIAN 5

    "Apa kau tau bahwa pria gila itu sengaja membuang mu dan ibumu?" "Dia bahkan lebih kejam dariku. " "Aku kasihan denganmu, malang sekali hidup mu, keponakan ku." "Akan ku buat kau hidup bahagia dengan menjadi iblis yang mengendalikan dunia!" "TIDAKKKK!!" Dadanya naik turun, matanya melotot. Eula terbangun dengan keringat yang membasahi wajahnya. Ia kini menyentuh dadanya dengan tangan gemetar. "Ternyata cuma mimpi, " gumam Eula. Ia menarik napas panjang lalu mengedarkan pandangannya. Mewah sekali. Ruangan ini seluas rumahnya. Banyak sekali boneka kelinci yang berjejer di kursi sofa yang terletak di dekat jendela. Di sebelah kanan dekat pintu pemandian, terdapat dua lemari yang cukup besar. Kamar ini terbilang cukup mewah dan luas untuk ia gunakan sendiri, ditambah lagi di samping pintu masuk terdapat rak buku yang penuh terisi. Kamar dengan nuansa pink cukup membuat Eula merasa nyaman, ia kini beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mendekati jendela dengan tirai yang mas

  • Blood of the last fairy    Bagian 4

    Kekaisaran Helix memiliki 4 pilar yang tercatat dalam sejarah, yaitu Barance, Terax, Magnu, dan Maos. Barance berada di tingkat pertama, ibarat kaisar adalah jantungnya manusia maka Barance merupakan tulang punggung dan otot yang akan melindungi 'Manusia' dari bahaya. Tingkat ke-2 ada bangsawan Terax yang di ibaratkan sebagai kulitnya Kekaisaran, mereka melindungi dari luar. Wilayah kekuasaan Terax adalah hutan dan perairan, jika Barance menganggap pertumpahan darah dan bisingnya medan perang sebagai kemuliaan, maka Terax menganggap kesunyian sebagai kemuliaan. Terax cukup ramah, namun jujur. Mereka bekerja untuk Kekaisaran Helix, menjaga hutan, dan perairan. Lalu, ditingkat ke-3 dan 4 ada Magnu dan Maos. Magnu terkenal sebagai pencipta sihir dan pengrajin senjata, wilayah magnu memiliki hutan sihir yang tidak pernah tersentuh oleh sembarang orang. Kemudian Maos adalah otaknya Kekaisaran, ia menyimpan arsip Kekaisaran dan sebagai penasihat Kekaisaran. Eula mengangguk. Sedangkan kin

  • Blood of the last fairy    Bagian 3

    "Hei!" "Bangunlah!" "Eula!" Cedric mengguncang tubuh gadis itu hingga mata nya sontak melotot "Kau membuatku pusing, " ujarnya dengan ekspresi kesal. Tangan Cedric menarik lengan Eula hingga membuat gadis itu ikut berdiri dan berlari mengikuti lelaki itu. Dirinya kini tengah linglung seperti katak yang akan ditelan ular, merisaukan pohon pohon menjulang tinggi yang kini sudah dilahap habis kobaran api. Apa yang sebenarnya terjadi? Ditatapnya, punggung Cedric. Api itu merayap menggerogoti jubah milik lelaki tersebut. Eula mengulurkan tangan, Cahaya biru yang dingin muncul dari dalam telapak tangannya, ia mengarahkan nya pada jubah Cedric, apinya padam. Ia mengibaskan telapak tangannya, dingin. "Kenapa semuanya terbakar?" Langkah keduanya terhenti di antara pohon berapi. Matanya mengamati engahan napas, Jubah milik Cedric terkoyak dan gosong, wajahnya berkeringat. Mereka terjebak di pusat hutan yang sudah dilahap oleh kobaran api. "Ada seseorang yang sengaja membakar hutan

  • Blood of the last fairy    BAGIAN 2

    Beberapa helai rambut perak milik Eula terbang terbawa angin, namun ia tak peduli. Matanya memicing, terus menelusuri setiap inci wajah wanita yang mirip dirinya itu. Seolah waktu berhenti, hanya ada Eula dan wanita itu didunia ini "ibu kenapa kita tinggal ditengah hutan?" "Karena kita berbeda dari yang lain. " Eula mengerutkan kening nya "Berbeda?" Wanita itu tersenyum, merapihkan rambut Eula yang jatuh menutupi mata Eula. kemudian ia memetik bunga liar dan menyelipkan nya pada salah satu telinga sang anak. "Kamu akan tau nanti, apa putri ibu kesepian?" Dengan lucu ia menggeleng lalu tersenyum "Kan ada ibu, kenapa aku harus kesepian? " "Anak yang manis." Ia menarik Eula untuk tidur beralaskan paha nya. Glis, adalah namanya. Wanita itu tersenyum menatap putrinya lekat, Ia menyenderkan punggung nya pada pohon apel. "Apa yang akan putri ibu lakukan jika masih memiliki seorang ayah?" "Entah lah, aku seperti nya akan memeluk nya setiap hari. " "Kamu merindukannya?" Eula memainka

  • Blood of the last fairy    BAGIAN 1

    "BERDASARKAN HUKUM KEKAISARAN VENITH, EULA ERAX AKAN DIBERIKAN HUKUM PENGGAL DIHADAPAN RAKYAT VENITH, BESOK!" Di dalam penjara kecil yang mirip dengan sangkar, seorang gadis terduduk. Rambut kusut bagaikan sarang burung, pakaian yang compang-camping, lalu wajahnya yang kusam dan kotor. Di dalam penjara keliling yang tidak di tutupi kain, dirinya di pertontonkan kepada seluruh rakyat Kekaisaran Venith. Tubuhnya bergetar kuat mendengar cemooh, bahkan kebanyakan dari mereka melempari batu padanya. "Dasar pembelot! " "Berani sekali dia membunuh tuan putri manis kita, semoga neraka adalah tempatmu gadis sialan! " Eula Erax adalah anak angkat dari keluarga Erax yang merupakan bangsawan tingkat 4 di Kekaisaran Venith. Eula ditemukan dan di adopsi oleh Daza, kepala keluarga Erax. Eula pikir, sikap Daza dalam mengadopsi nya itu dipenuhi ketulusan, namun ternyata sebaliknya. Dirinya dijadikan sebagai bahan percobaan dalam eksperimen nya dan sebagai pelindung atas perilaku putrinya yang mer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status