เข้าสู่ระบบDean membawa setumpuk pakaian bersih menaiki tangga menuju loteng. Beberapa hari terakhir, Rohana terlalu sibuk hingga kamar tidurnya mulai berantakan. Pakaian menumpuk di kursi, buku-buku tergeletak di meja, dan selimutnya bahkan belum dilipat.
“Perempuan itu benar-benar tidak punya waktu untuk membereskan kamarnya,” gumam Dean.Ia meletakkan pakaian di atas kursi, kemudian mulai merapikan meja. Sebuah buku catatan terbuka di sana, tetapi Dean tidak berniat membacanya. Ia hDean membawa setumpuk pakaian bersih menaiki tangga menuju loteng. Beberapa hari terakhir, Rohana terlalu sibuk hingga kamar tidurnya mulai berantakan. Pakaian menumpuk di kursi, buku-buku tergeletak di meja, dan selimutnya bahkan belum dilipat.“Perempuan itu benar-benar tidak punya waktu untuk membereskan kamarnya,” gumam Dean.Ia meletakkan pakaian di atas kursi, kemudian mulai merapikan meja. Sebuah buku catatan terbuka di sana, tetapi Dean tidak berniat membacanya. Ia hanya menggesernya agar tidak terkena debu.Setelah itu, ia menghampiri tempat tidur.Dean menarik selimut yang kusut, merapikan seprai, lalu mengangkat bantal untuk menepuk-nepuknya.Sesuatu terasa keras di bawah bantal kedua.Ia mengerutkan kening.“Apa ini?”Dean mengangkat bantal tersebut.Seketika tangannya terhenti.Sebuah belati elf tergeletak di atas kasur, tersembunyi di balik lipatan bantal.Dean mengenali
Perpustakaan istana selalu menjadi tempat yang paling tenang dibandingkan ruangan lainnya. Rak-rak buku yang menjulang tinggi memenuhi hampir seluruh dinding, sementara aroma kertas tua dan kayu memenuhi udara. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, jatuh di atas meja panjang yang tertata rapi.Pagi itu, Rohana mendapat tugas untuk mengambil beberapa catatan lama dari perpustakaan. Ia membawa daftar buku yang harus dikumpulkan, lalu mulai menyusuri rak demi rak.Sesekali ia harus berjinjit untuk membaca judul buku yang terletak di bagian atas. Beberapa di antaranya bahkan terlalu tinggi untuk dijangkau tanpa bantuan tangga kecil.Rohana berhenti di depan sebuah rak. Matanya tertuju pada buku bersampul cokelat tua yang berada di bagian paling atas. Ia mengulurkan tangan, berusaha menariknya, tetapi ujung jarinya hanya berhasil menyentuh punggung buku tersebut.Saat ia mencoba sekali lagi, sebuah tangan muncul dari samping dan mengambil buku itu dengan mudah.“Ini yang ka
Sore itu, setelah menyelesaikan tugasnya di beberapa bagian istana, Rohana menerima panggilan untuk menemui Jerry di kamar pribadinya. Ia sudah menduga apa yang dibutuhkan pangeran itu. Luka di bahu Jerry belum pulih sepenuhnya sejak pertarungan mereka, dan selama bekas tebasan belati elf itu masih terbuka, Jerry tidak bisa membiarkan pelayan lain melihatnya.Rohana membawa kotak perlengkapan pengobatan yang biasa digunakannya. Ia mengetuk pintu dua kali sebelum mendengar suara Jerry dari dalam."Masuk saja, pintunya tidak dikunci," ujar Jerry.Rohana membuka pintu, kemudian masuk sambil membawa kotak obat. Jerry duduk di tepi ranjang dengan kemeja hitam yang bagian atasnya terbuka. Mantelnya tergeletak di kursi, sementara lengan kirinya bertumpu di atas paha. Begitu melihat Rohana, ia menggeser posisi duduknya agar gadis itu bisa bekerja dengan leluasa."Perbanmu harus diganti," kata Rohana sambil meletakkan kotak obat di meja kecil.Jer
Rohana terbangun dengan napas tersengal. Punggungnya terasa lembap oleh keringat, sementara kedua tangannya mencengkeram seprai seolah baru saja berusaha menyelamatkan diri dari sesuatu yang mengejarnya. Ia masih bisa melihatnya dengan jelas. Gua yang luas, nyala api biru di tengah altar, serta enam sosok berjubah gelap yang berdiri mengelilinginya. Suara-suara mereka terdengar samar dalam ingatannya, tetapi ada satu hal yang terus mengusik pikirannya: pengorbanan manusia.Rohana duduk perlahan di tepi ranjang. Cahaya pagi menyelinap melalui celah jendela kamarnya, menerangi meja kecil di sudut kamar. Ia menoleh ke sana, kemudian bangkit dengan langkah gontai. Di atas meja terdapat buku catatan yang biasa digunakannya untuk menuliskan hal-hal penting. Rohana mengambilnya, membuka halaman kosong, lalu mencoretkan beberapa garis berdasarkan simbol yang dilihatnya dalam mimpi. Ia berhenti sejenak, memperhatikan bentuk yang baru saja dibuatnya. Ada sesuatu yang terasa akrab. Bukan k
Rohana masih terpaku di tempatnya. Beberapa detik berlalu sebelum ia menyadari bahwa Philip sedang menunggunya memberikan jawaban. Ia buru-buru menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kegugupan yang telanjur terlihat jelas di wajahnya. “Maaf, Yang Mulia. Saya tidak pantas dipanggil begitu.” Philip tidak langsung menjawab. Rohana meremas ujung seragam pelayannya. Sebutan itu terasa begitu asing sekaligus menyakitkan. Tuan Puteri. Dahulu, orang-orang di istana ini memanggilnya dengan gelar tersebut. Ia pernah berlari di sepanjang lorong yang sama, bermain di taman kerajaan, dan makan bersama keluarganya di ruang yang kini mungkin telah menjadi tempat berkumpul para vampir. Sekarang, ia berdiri di hadapan salah satu pangeran mereka dengan pakaian pelayan, berpura-pura menjadi seseorang yang tidak berarti. “Kenapa tidak pantas?” tanya Philip. Rohana mengangkat wajah sedikit. “Karena saya hanya seorang pelayan, Yang Mulia.” “Itu jawabanmu?” Rohana terdiam. Philip mengamati wa
Rohana berdiri terpaku di tempat itu. Pandangannya tiba-tiba kabur, napasnya tertahan di tenggorokan seolah ada yang meremas dadanya. Saat bayangan warna merah itu kembali terlintas di benaknya, perutnya langsung mual bergejolak hebat, seolah ingin memuntahkan segala isinya.Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan punggungnya, meski udara di dapur itu terasa biasa saja. Kakinya terasa lemas sekali, seolah tak ada lagi tulang yang menopang tubuhnya, dan perlahan ia ambruk, jatuh terduduk di lantai batu yang dingin. Ia tidak pingsan, matanya masih terbuka, tapi seluruh tubuhnya gemetar hebat, jantungnya berpacu begitu cepat hingga telinganya berdenging. "Kau baik-baik saja?" Suara itu terdengar samar di telinganya. Seorang pelayan lain segera mendekat, berlutut di sampingnya sambil memapah bahu Rohana dengan lembut. "Biarkan aku yang siapkan semuanya ulang. Kau istirahat saja dulu," ucap pelayan itu pelan namun tegas, lalu menoleh ke arah rekan yang lain. Mereka segera datang mem
Sang juru bicara bersiap, Ia mundur sedikit dari balkon, mengatur napas sebelum kembali berbicara dengan suara lantang yang menggema ke seluruh alun-alun istana. "Inilah pemimpin kita yang baru, Pangeran Sebastian, Kakak tertua dari kelima pangeran yang lain!" Sorak-
Dean berjalan pulang ke penginapan malam itu, langkahnya jauh lebih lambat dibanding sebelumnya. Energinya terasa terkuras dengan cepat, seakan kekuatan asing yang tadi menguasai dirinya telah menghisap habis sisa-sisa tenaganya. Rasa letih menjalari tubuhnya, membuat setiap gerakannya terasa ber
Di dalam lemari kayu yang besar, seorang gadis kecil bersembunyi, tubuhnya gemetar hebat. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga rasanya bisa terdengar oleh siapa pun. Ia memeluk lututnya erat-erat, menekan tubuhnya ke sudut lemari seolah berharap bisa menghilang. Di luar, suara jeri
Prajurit-prajurit di barisan belakang bergidik ngeri, sebagian mulai merapal doa dengan suara bergetar. Pedang mereka masih terangkat, tapi tangan mereka gemetar hebat. Chriss dan Jerry kini melangkah maju. Chriss, dalam wujud bayangan hitamnya, melesat tanpa bisa di







