Share

2. Demi Tiga Digit

Author: rindiyoon
last update publish date: 2026-06-13 15:59:54

Reyhan segera mengusap wajahnya sendiri dengan kasar, ia tidak ingin mengingat kejadian itu, karena mulai sekarang Reyhan harus menjaga sang Nyonya.

Reyhan sudah membayangkan betapa membosankan pekerjaan barunya karena menjaga sang Nyonya. Namun, Reyhan tidak bisa menolak pekerjaan itu, semua demi tiga digit.

Dea harus segera melakukan operasi sebelum sel-sel yang ada di dalam tubuhnya rusak karena penyakitnya. Reyhan tidak akan membiarkan satu-satunya keluarga meninggal karena dirinya tidak bisa menghasilkan uang untuk pengobatan.

Apapun akan Reyhan lakukan demi adiknya, Dea.

"Reyhan!" Seseorang memanggilnya.

Reyhan menghentikan langkahnya dan menoleh sumber suara itu, suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.

Reyhan sedikit membungkuk. "Ada yang bisa saya bantu Bu Vina?" tanyanya.

Vina adalah sekretaris Jordan, ia sudah lama bekerja dengan perusahaan Erson Company.

"Kenapa sih selalu panggil saya Ibu? Apakah wajah saya sudah seperti ibu-ibu? Padahal saya belum menikah," ucap Vina dengan protes manja.

Reyhan hanya bernapas sedikit panjang, ia merasa malas jika sudah berinteraksi dengan Vina, karena Vina selalu berekspresi seperti itu.

Manja yang berlebihan, tidak tahu tempat, dan sering terlihat menggodanya.

"Maaf, jika tidak ada yang serius saya harus segera pergi." Reyhan pamit undur diri.

Saat Reyhan akan melangkah pergi, tangan Vina sudah terlebih dahulu menahan tangan kekar Reyhan, dan sontak langkah kaki Reyhan ikut terhenti.

"Apakah hari ini adalah hari terakhir saya melihat kamu, Reyhan?" tanya vina dengan mata yang berkaca-kaca.

Mata yang terlihat sedih karena ditinggalkan seseorang.

"Saya tidak tahu, Bu," jawab Reyhan dengan wajah yang datar.

Reyhan sudah tidak ada tenaga merespon hal-hal yang menurutnya tidak penting, apalagi berinteraksi seperti ini dengan Vina. Namun, tiba-tiba saja Vina memeluk tubuh Reyhan.

"E ... Eh, Bu, jangan seperti ini!" Reyhan benar-benar terkejut.

Namun, Vina tidak menghiraukan aksi protes dari Reyhan.

"Reyhan!"

Seseorang lainnya memanggil namanya, kali ini suaranya juga tidak asing di telinganya, bahkan suara ini adalah suara yang sebenarnya ingin Reyhan hindari.

Tapi, sepertinya suara itu tidak akan pernah bisa Reyhan hindari mulai saat ini, esok, dan seterusnya.

Vina segera melepaskan pelukannya. "Nyo ... Nyonya!" Ia sangat terkejut.

"Selamat pagi, Nyonya," sapa Reyhan dengan membungkuk sopan.

Suara heels yang digunakan seseorang itu sangat terdengar di lorong gedung. Seseorang yang sudah dipastikan adalah Mona Putri Zenith, istri Jordan Henderson.

"Mesra-mesraan bisa ditunda dulu, ini masih jam kerja!" Suaranya sangat ketus.

"Ma ... Maafkan saya, Nyonya, saya tidak bermaksud." Vina gugup.

"Suami saya bilang, kamu akan mengawal saya mulai hari ini, jadi ayo sekarang pergi!" Mona mulai memerintah.

"Baik, Nyonya." Reyhan menurut.

Mona membalikkan tubuhnya dengan sangat sempurna, lalu Reyhan mengikuti langkahnya dari belakang, dan Vina hanya bisa membungkuk tanpa bisa berkutik lagi.

"Kenapa Nyonya ke kantor? Saya bisa menjemput Nyonya," ucap Reyhan dengan spontan.

"Tadi saya ke sekolahan Cindy karena Cindy meninggalkan sesuatu di rumah, jadi saya sekalian mampir ke sini," sahut Mona tanpa menoleh.

Reyhan hanya mengangguk walaupun Mona tidak bisa melihatnya.

"Selamat pagi, Nyonya!" Beberapa karyawan yang ada di sana langsung menyapa hangat Mona.

Mona hanya tersenyum tipis, ia memang tidak ramah pada siapapun, mungkin menjaga imagenya sebagai istri pewaris Erson Company.

Di dalam mobil. Reyhan mulai mengemudi dan keluar dari area gedung.

Hari ini adalah hari pertama Reyhan menjadi bodyguard sang Nyonya. Demi gaji tiga digit apapun akan Reyhan lakukan.

"Vina itu pacar kamu?" tanya Mona.

Tiba-tiba Mona memberikan pertanyaan itu pada Reyhan, pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ditanyakan, karena seperti basa-basi.

Namun, dari ekspresi wajah Mona saat menanyakan itu seperti ada rasa kesal dan jengkel.

"Bukan, Nyonya," jawab Reyhan. "Bu Vina adalah sekretaris Tuan Jordan."

Mona sedikit tertawa. "Kalau itu saya tau."

Sekilas Reyhan melihat Mona dari kaca spion. Reyhan baru melihat Mona tertawa seperti itu, karena biasanya Mona selalu menampilkan wajah serius dan sulit untuk tertawa.

Namun, kali ini Mona tertawa lepas seperti melepaskan beban yang selama ini ada di dalam dirinya.

"Nyonya, apakah nanti kita akan menjemput Nona Cindy juga?" tanya Reyhan.

"Cindy bisa dijemput Pak Anton," jawab Mona.

"Baik." Reyhan mengangguk kecil.

Reyhan terus fokus mengemudi. Reyhan akan mengantar Mona ke sebuah boutique milik keluarga Mona, Zenith Boutique.

"Kalau kamu dan Vina nggak pacaran, kenapa dia peluk kamu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bodyguard Kesayangan Nyonya Muda   18. Ada Kecoa

    Belum sempat Reyhan mengatakan apapun, tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka, dan Mona berlari menghampirinya.Reyhan yang terkejut hanya bisa terdiam saat Mona menabrak tubuhnya dan mereka terjatuh di atas ranjang.Reyhan menelan salivanya dengan susah payah saat tubuh mereka saling menempel, dan hidungnya saling mengenai satu sama lain.Seketika napas Reyhan terhenti saat menghirup aroma tubuh Mona yang sangat wangi, wangi yang begitu elegan."Nyo ... Nyonya." Reyhan hanya bisa mengatakan itu."Rey, di kamar ada kecoak!" Mona terlihat takut.Reyhan mengernyit heran. "Kecoak? Ini hotel mewah kenapa ada kecoak?"Baru kali ini Reyhan mendengar keluhan dari customer tentang kecoak di hotel mewah."Iya, lihat dulu!"Mona ingin bangun, tapi tubuhnya menggesek sesuatu dibawah sana."E ... Eh, nyonya, pelan-pelan!" Reyhan menatap khawatir.Tangan besar Reyhan mulai menyentuh lingkar pinggang Mona. Reyhan tidak ingin Mona jatuh, dan menggesek sesuatu itu cukup keras."Rey, kamu lagi nafsu, y

  • Bodyguard Kesayangan Nyonya Muda   17. Bodyguard Kesayangan

    "Oh, nggak apa-apa," jawabnya.Setelah selesai menyantap makanan di restoran itu. Reyhan dan Mona masuk ke mobil.Mona memilih untuk istirahat di sebuah hotel yang tidak jauh dari restoran tadi, dan Reyhan hanya bisa menurut saja.Mobil mewah mulai meninggalkan restoran itu. Seperti biasa Reyhan fokus mengemudi, dan Mona sibuk dengan ponselnya.Mona mendapatkan sebuah pesan, dan dia langsung membacanya.[Sayang: Kamu di mana? Apa jadwal kamu hari ini?]Mona mengernyit. Tidak biasanya Jordan mengirim pesan seperti itu, biasanya Jordan mengirim pesan yang selalu romantis.Namun, saat ini berbeda membuat Mona mencurigai sesuatu.Sebelum Mona membalas pesan itu, tiba-tiba saja ponselnya mati, karena baterai habis."Lupa." Mona geleng-geleng kepalanya.Mona lupa jika baterai ponselnya habis. Dia segera mengeluarkan powerbank dari tasnya, dan langsung mencolokkan kabel charger pada ponselnya.Sekilas Mona melirik ke arah Reyhan yang begitu serius, dan sesekali Mona tersenyum."Ada apa?" Wa

  • Bodyguard Kesayangan Nyonya Muda   16. Mencurigai

    "Semalam," jawab Mona dengan santai.Reyhan manggut-manggut. Dia enggan menanyakan apapun lagi. Dia sudah tahu jika semua ini memang sudah direncanakan oleh sang nyonya."Mau makan apa?" tanya Mona.Sekilas Mona menatap Reyhan yang ingin bangun dari duduknya."Makan apa aja, yang penting nasi,* jawabnya.Mona sedikit tertawa. "Orang Indonesia selalu makan nasi, ya.""Iya." Reyhan mengangguk dan bangun dari duduknya."Mau ke mana?" tanya Mona."Mau ke kamar mandi," jawabnya."Oh."Reyhan menatap Mona yang sedang melihat buku menu."Mau ikut?" Tiba-tiba saja Reyhan mengatakan itu."Hah?" Mona mengernyit."Tidak."Reyhan melangkah, tapi langkahnya tertahan saat lengan Mona menahan tangan kekar itu."Aku mau ikut ke kamar mandi!" Mona tersenyum lebar saat mengatakan itu.Reyhan geleng-geleng kepalanya. "Dasar mesum!""Nggak apa-apa, wajar udah nikah." Mona mulai meledek."Hm."Reyhan melepaskan tangan Mona dan pergi. Dia melangkah menuju toilet."Dia menggemaskan," gumam Mona yang terus s

  • Bodyguard Kesayangan Nyonya Muda   15. Tidak Masuk Akal

    "Nyonya, berhenti bicara yang tidak masuk akal!" Suaranya tegas dengan rahang yang mengeras.Apakah Reyhan marah? Sebenarnya Reyhan tidak marah, dia hanya tidak nyaman jika Mona selalu berbicara aneh-aneh seperti itu.Apalagi membicarakan gadis kaya raya menikahi bodyguard, lalu sekarang membicarakan tentang Reyhan yang tidak bisa lepas dari Mona.Haduh, kepala Reyhan sudah pusing dengan celotehan itu."Hm." Mona hanya berdehem.Mona melepaskan tangannya yang memegangi lengan kekar itu. Sekilas Reyhan melirik ke arah Mona. Ada rasa bersalah atas perkataannya."Maafkan saya, Nyonya!"Setelah beberapa saat. Reyhan meminta maaf pada Mona."Maaf untuk apa?" tanya Mona tanpa melirik."Untuk semuanya," jawabnya yang terdengar ambigu."Aneh." Mona geleng-geleng kepala.Reyhan merasa jika Mona marah karena Reyhan terlalu keras. Namun, Reyhan memang tidak ingin pekerjaannya tidak sesuai dengan tugasnya.Reyhan sangat menghargai Jordan. Jordan adalah pria baik dan pekerja keras, dia tidak akan

  • Bodyguard Kesayangan Nyonya Muda   14. Jaga Jarak

    "Apakah saya terlalu menjijikan bagimu?" Mona bertanya dengan ekspresi kesal."Jaga jarak, Nyonya," jawabnya.Reyhan melirik ke arah sekitar. Dia mencari CCTV yang terpasang di ruangan.Mona menghela napasnya dengan panjang, sekarang dia mengerti kenapa Reyhan seperti itu."Besok aku lepas semua cctv yang ada di sini." Mona menggerutu."E ... Eh, jangan Nyonya!" Reyhan terkejut.Reyhan tidak bisa biarkan Mona melakukan itu, karena cctv sangat penting baginya. Reyhan harus selalu memantau cctv supaya tidak ada mata-mata yang bisa masuk ke rumah Henderson."Kabari saya jika Nyonya akan pergi."Reyhan melangkah begitu saja. Dia meninggalkan Mona sendirian.Mona tersenyum tipis. "Dia menggemaskan."Reyhan keluar dari ruangan. Dia melangkah menuju garasi. Sampai di garasi, dia membuka mobil Mona.Reyhan akan mengecek mobil itu terlebih dahulu sebelum mereka pergi, karena itu sudah menjadi kewajibannya.Namun, saat Reyhan akan mengecek mobil tersebut. Handphone bergetar, ada pesan masuk.[N

  • Bodyguard Kesayangan Nyonya Muda   13. Kesalahpahaman

    "Iya?" Naya menatap Reyhan."Sudahlah, istirahat!"Reyhan menatap kahisan pada Naya yang begitu tulus. Sejak dahulu hingga sekarang, Naya selalu berada di sisi Reyhan.Bahkan jika Reyhan tidak ada di rumah, Naya selalu ada di rumah menemani Dea."Aku nggak capek," kata Naya dengan senyuman.Senyuman yang selalu Naya berikan pada Reyhan. Senyuman yang tulus, tapi tidak pernah terlihat oleh Reyhan."Kapan kalian nikah? Aku pengen liat keponakan," celetuk Dea yang sudah duduk di kursi."Ni ... Nikah?" Naya mengernyit dan gugup."Jangan bicara yang aneh-aneh!"Reyhan menyimpan paper bag tadi di atas meja, dan langsung duduk di samping Dea.Seketika wajah Naya memerah seperti udang rebus. Dea yang melihatnya hanya bisa menahan tawa, tapi Reyhan begitu cuek seperti tidak peka.Seperti itulah pria, tidak pernah peka."Aku ingin saat operasi, kakak ada disamping ku," celetuk Dea.Dea menggenggam lengan besar Reyhan dengan mata berkaca-kaca. Reyhan mengangguk dan mengulas senyum."Tentu. Aku a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status