LOGINReyhan segera mengusap wajahnya sendiri dengan kasar, ia tidak ingin mengingat kejadian itu, karena mulai sekarang Reyhan harus menjaga sang Nyonya.
Reyhan sudah membayangkan betapa membosankan pekerjaan barunya karena menjaga sang Nyonya. Namun, Reyhan tidak bisa menolak pekerjaan itu, semua demi tiga digit. Dea harus segera melakukan operasi sebelum sel-sel yang ada di dalam tubuhnya rusak karena penyakitnya. Reyhan tidak akan membiarkan satu-satunya keluarga meninggal karena dirinya tidak bisa menghasilkan uang untuk pengobatan. Apapun akan Reyhan lakukan demi adiknya, Dea. "Reyhan!" Seseorang memanggilnya. Reyhan menghentikan langkahnya dan menoleh sumber suara itu, suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya. Reyhan sedikit membungkuk. "Ada yang bisa saya bantu Bu Vina?" tanyanya. Vina adalah sekretaris Jordan, ia sudah lama bekerja dengan perusahaan Erson Company. "Kenapa sih selalu panggil saya Ibu? Apakah wajah saya sudah seperti ibu-ibu? Padahal saya belum menikah," ucap Vina dengan protes manja. Reyhan hanya bernapas sedikit panjang, ia merasa malas jika sudah berinteraksi dengan Vina, karena Vina selalu berekspresi seperti itu. Manja yang berlebihan, tidak tahu tempat, dan sering terlihat menggodanya. "Maaf, jika tidak ada yang serius saya harus segera pergi." Reyhan pamit undur diri. Saat Reyhan akan melangkah pergi, tangan Vina sudah terlebih dahulu menahan tangan kekar Reyhan, dan sontak langkah kaki Reyhan ikut terhenti. "Apakah hari ini adalah hari terakhir saya melihat kamu, Reyhan?" tanya vina dengan mata yang berkaca-kaca. Mata yang terlihat sedih karena ditinggalkan seseorang. "Saya tidak tahu, Bu," jawab Reyhan dengan wajah yang datar. Reyhan sudah tidak ada tenaga merespon hal-hal yang menurutnya tidak penting, apalagi berinteraksi seperti ini dengan Vina. Namun, tiba-tiba saja Vina memeluk tubuh Reyhan. "E ... Eh, Bu, jangan seperti ini!" Reyhan benar-benar terkejut. Namun, Vina tidak menghiraukan aksi protes dari Reyhan. "Reyhan!" Seseorang lainnya memanggil namanya, kali ini suaranya juga tidak asing di telinganya, bahkan suara ini adalah suara yang sebenarnya ingin Reyhan hindari. Tapi, sepertinya suara itu tidak akan pernah bisa Reyhan hindari mulai saat ini, esok, dan seterusnya. Vina segera melepaskan pelukannya. "Nyo ... Nyonya!" Ia sangat terkejut. "Selamat pagi, Nyonya," sapa Reyhan dengan membungkuk sopan. Suara heels yang digunakan seseorang itu sangat terdengar di lorong gedung. Seseorang yang sudah dipastikan adalah Mona Putri Zenith, istri Jordan Henderson. "Mesra-mesraan bisa ditunda dulu, ini masih jam kerja!" Suaranya sangat ketus. "Ma ... Maafkan saya, Nyonya, saya tidak bermaksud." Vina gugup. "Suami saya bilang, kamu akan mengawal saya mulai hari ini, jadi ayo sekarang pergi!" Mona mulai memerintah. "Baik, Nyonya." Reyhan menurut. Mona membalikkan tubuhnya dengan sangat sempurna, lalu Reyhan mengikuti langkahnya dari belakang, dan Vina hanya bisa membungkuk tanpa bisa berkutik lagi. "Kenapa Nyonya ke kantor? Saya bisa menjemput Nyonya," ucap Reyhan dengan spontan. "Tadi saya ke sekolahan Cindy karena Cindy meninggalkan sesuatu di rumah, jadi saya sekalian mampir ke sini," sahut Mona tanpa menoleh. Reyhan hanya mengangguk walaupun Mona tidak bisa melihatnya. "Selamat pagi, Nyonya!" Beberapa karyawan yang ada di sana langsung menyapa hangat Mona. Mona hanya tersenyum tipis, ia memang tidak ramah pada siapapun, mungkin menjaga imagenya sebagai istri pewaris Erson Company. Di dalam mobil. Reyhan mulai mengemudi dan keluar dari area gedung. Hari ini adalah hari pertama Reyhan menjadi bodyguard sang Nyonya. Demi gaji tiga digit apapun akan Reyhan lakukan. "Vina itu pacar kamu?" tanya Mona. Tiba-tiba Mona memberikan pertanyaan itu pada Reyhan, pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ditanyakan, karena seperti basa-basi. Namun, dari ekspresi wajah Mona saat menanyakan itu seperti ada rasa kesal dan jengkel. "Bukan, Nyonya," jawab Reyhan. "Bu Vina adalah sekretaris Tuan Jordan." Mona sedikit tertawa. "Kalau itu saya tau." Sekilas Reyhan melihat Mona dari kaca spion. Reyhan baru melihat Mona tertawa seperti itu, karena biasanya Mona selalu menampilkan wajah serius dan sulit untuk tertawa. Namun, kali ini Mona tertawa lepas seperti melepaskan beban yang selama ini ada di dalam dirinya. "Nyonya, apakah nanti kita akan menjemput Nona Cindy juga?" tanya Reyhan. "Cindy bisa dijemput Pak Anton," jawab Mona. "Baik." Reyhan mengangguk kecil. Reyhan terus fokus mengemudi. Reyhan akan mengantar Mona ke sebuah boutique milik keluarga Mona, Zenith Boutique. "Kalau kamu dan Vina nggak pacaran, kenapa dia peluk kamu?"Matahari sore melukis langit dengan warna keemasan yang lembut, persis seperti bertahun-tahun lalu saat perjalanan ini bermula. Namun kali ini, tidak ada pelukan yang disembunyikan, tidak ada bisik-bisik yang penuh ketakutan, dan tidak ada pintu yang tertutup rapat. Semuanya terbuka, terang, dan damai. Reyhan duduk di beranda rumah itu, menatap ke arah halaman yang kini terlihat lebih hidup dari sebelumnya. Di sana, Cindy yang kini tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan berani sedang mengajari adik laki-lakinya berlari di antara bunga-bunga yang ditanam Mona sendiri. Tawa mereka terdengar jernih, memantul di udara yang bersih dan bebas dari segala beban masa lalu. Mona keluar membawa teh hangat, duduk di samping Reyhan seperti yang selalu dilakukan setiap sore. Wajahnya berseri, tidak lagi pucat atau penuh kekhawatiran. Garis halus di sudut matanya bukanlah tanda penuaan, melainkan jejak senyum yang tak pernah berhenti
Beberapa tahun berlalu. Matahari pagi menyinari halaman rumah kecil itu dengan cahaya keemasan yang hangat. Reyhan berdiri di beranda, memandang pemandangan di depannya dengan hati yang penuh syukur. Di halaman, Cindy yang kini sudah lebih besar berlari mengejar kupu-kupu di antara bunga-bunga yang tumbuh subur. Tawanya terdengar jernih dan riang, bebas dari segala beban yang dulu sempat menghantui masa kecilnya. Di sampingnya, berjalan seorang anak laki-laki yang tegap dan ceria, putra mereka, yang kini sudah bisa berlari dan berbicara dengan lantang. Wajahnya memancarkan ketegasan dan kelembutan sekaligus, persis seperti kedua orang tuanya. Mona keluar dari pintu rumah, membawa nampan berisi minuman dan buah-buahan segar. Wanita itu tampak lebih cantik dari sebelumnya, bukan karena perhiasan atau gaun mewah, melainkan karena pancaran kedamaian dan kebahagiaan yang tulus bersinar dari wajahnya. Tidak ad
Mobil melaju meninggalkan kota, menjauh dari gedung-gedung tinggi dan kemewahan yang dulu menjadi dunia Mona. Reyhan menyetir dengan tenang, namun di dalam dadanya terasa penuh harapan sekaligus tanggung jawab yang besar. Di kursi belakang, Mona duduk di tengah, memeluk bayi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya digenggam erat oleh Cindy. Tak ada yang berbicara sepanjang perjalanan. Namun keheningan itu bukan lagi penuh ketakutan seperti dulu. Keheningan ini penuh kedamaian dan kepastian. Mereka bergerak bukan untuk lari dari bahaya, melainkan menuju kehidupan yang benar-benar milik mereka sendiri. Tujuan akhir perjalanan adalah sebuah rumah kecil namun nyaman, terletak di pinggiran kota yang tenang. Dikelilingi pepohonan hijau dan udara yang bersih. Tidak ada pagar tinggi yang memisahkan dari tetangga, tidak ada pengawal yang berpatroli, dan tidak ada tatapan curiga atau penuh keben
Surat itu tergeletak di atas meja kayu ruang tengah. Amplop putih rapi dengan segel resmi keluarga besar. Isinya jelas dan tegas, Mona harus memilih, meninggalkan Reyhan dan tetap memegang seluruh hak waris serta kedudukan, atau memilih Reyhan dan kehilangan segalanya. Reyhan berdiri di dekat jendela, menatap ke luar tanpa bergerak. Ia mendengar suara langkah kaki Mona mendekat, lalu keheningan yang panjang. Wanita itu pasti sudah membaca semuanya. Pilihan itu begitu kejam, memaksa Mona memilih antara cinta dan kesejahteraan masa depan kedua anaknya. "Reyhan..." panggil Mona pelan. Suaranya tidak terdengar menangis, namun penuh beban yang berat. "Mereka memaksa saya memilih, antara kamu dan segalanya." Reyhan berbalik perlahan. Ia melihat Mona berdiri di dekat meja, tangan wanita itu memegang kertas itu erat-erat. Wajahnya tidak bingung, namun terlihat sedih karena harus dihadapkan pada pilihan yang seharusnya tid
Hari-hari berikutnya, tekanan dari keluarga besar semakin terasa. Reyhan tidak lagi diusir secara fisik, namun keberadaannya selalu dibatasi. Tak ada yang berbicara kepadanya dengan ramah. Setiap pergerakan Reyhan selalu diawasi. Kadang ada orang yang datang menanyai Mona, berusaha memancing perdebatan, atau menekan wanita itu agar mengirim Reyhan pergi demi nama baik keluarga. Namun Mona tidak pernah goyah. Setiap kali tekanan datang, Mona justru semakin mendekatkan diri pada Reyhan. Wanita itu berbicara dengan tenang namun tegas, menyatakan bahwa Reyhan adalah bagian dari hidupnya dan tidak akan diusir. Keteguhan hati Mona perlahan membuat beberapa orang mulai ragu. Suatu sore, saat Cindy sedang bermain di halaman depan, seorang kerabat jauh Jordan datang mendekati anak itu. Pria itu berbisik sesuatu di telinga Cindy, sambil sesekali melirik ke arah Reyhan dengan tatapan s
Suasana di dalam ruangan berubah seketika. Duka yang sempat menyelimuti ruang itu kini tergeser oleh ketegangan yang dingin. Beberapa orang yang berdiri di ambang pintu melangkah masuk dengan langkah mantap. Tatapan mata mereka tajam, meneliti setiap sudut ruangan, terutama jatuh pada Mona, bayi yang baru lahir, dan sosok Reyhan yang berdiri tegak di depan mereka. Seorang pria paruh baya dengan wajah kaku dan berwibawa melangkah paling depan. Ia adalah paman Jordan, orang yang selama ini dikenal memiliki pengaruh besar dalam keluarga dan perusahaan. Pria itu menatap tajam ke arah Reyhan seakan keberadaan pria itu adalah noda yang tak pantas ada di sana. "Siapa yang mengizinkan orang asing masuk ke rumah ini di saat seperti ini?" tanya pria itu dengan suara berat dan dingin. Matanya menatap Mona dengan tatapan yang penuh tuduhan. "Dan kau, Nyonya Mona... kau pergi tanpa pamrih, membawa sesua