LOGINKeesokan paginya, Luna terbangun lebih dulu dari Tara.Cahaya matahari menyelinap lewat celah tirai, jatuh tepat di pipinya dan membuatnya mengerjap pelan.Beberapa detik ia hanya berbaring menatap langit-langit kamar hotel, mencoba mengingat di mana ia berada.Lalu semuanya kembali satu per satu: spa, pantai, pelukan di tepi air, dan janjinya semalam untuk ikut menemui Gilang.Ia menoleh ke samping, Tara masih terlelap dengan satu lengan terlipat di bawah kepala, napasnya teratur, dan rambutnya berantakan menutupi sebagian dahi.Wajah laki-laki itu tampak begitu tenang, jauh berbeda dari Tara yang biasanya selalu waspada. Luna menahan senyum, lalu dengan iseng menjulurkan jari dan menusuk pelan pipinya."Hm..." Tara hanya menggumam tanpa membuka mata."Bangun, Tara. Matahari sudah tinggi. Kita ada janji pagi ini.""Lima menit lagi.""Katanya mau ketemu Gilang pagi-pagi."Mata Tara langsung terbuka. Ia menatap langit-langit sebentar, seperti baru ingat sesuatu yang penting, lalu bangk
Tara dan Luna akhirnya tiba di hotel setelah mereka selesai makan malam. Begitu selesai makan malam, mereka memang langsung memutuskan untuk pulang ke hotel. "Makasih ya Tara," ucap Luna tiba-tiba saat mereka baru saja masuk ke dalam kamar."Makasih? Untuk?""Semuanya. Nggak hanya untuk hari ini saja tapi yang sebelum-sebelumnya juga. Pokoknya terima kasih untuk semuanya. Kamu benar-benar hadir di saat aku sudah mulai putus asa dengan semuanya.""Aku ada di dekat kamu juga karena suamimu Luna.""Ya meski bermula dari Mas Alvin, tapi kalau saat itu kamu menolak permintaan Mas Alvin, semuanya juga tidak akan terjadi Tara."Tara hanya mengangguk saja. Benar yang dikatakan Alvin saat itu jika permintaannya memang banyak menguntungkan untuknya. Tapi bukan itu yang membuat Tara menyetujui permintaan Alvin melainkan karena istri kedua Alvin adalah Luna dan misi yang sedang ia jalankan.Jika istri kedua Alvin bukan Luna, Tara tentu akan menolaknya dan menjalankan tugas bodyguard pada umumnya
"Kamu selalu saja membuatku puas, Sayang.""Tentu saja, tidak seperti suamimu itu," ucap Hardiman.Ya, sepasang anak manusia yang baru saja meraup nikmatnya surga dunia itu adalah Clarissa dan Hardiman. Seolah tidak puas dengan hubungan mereka semalam di ruang kerja Alvin, kini mereka melakukannya lagi di salah satu apartemen milik Hardiman yang merupakan tempat mereka sering bertemu dikala ingin menyalurkan gairah terlarang yang sudah lama terjalin diam-diam di belakang Alvin, jauh sebelum Alvin menikah dengan Luna.Clarissa tertawa kecil, lalu menyandarkan kepalanya di dada Hardiman. Jemarinya bermain pelan di sana, menggambar lingkaran-lingkaran tak beraturan seperti kebiasaannya setiap kali merasa nyaman. Napasnya perlahan menjadi teratur, dan kelopak matanya mulai terasa berat.Di apartemen ini ia tidak perlu berpura-pura. Tidak perlu memasang wajah istri yang sabar atau menantu yang penurut.Di sini ia bisa menjadi dirinya sendiri, perempuan yang selama bertahun-tahun merasa dih
"Mau makan malam dimana?" tanya Tara begitu mereka sudah dalam perjalanan pulang dari pantai.Mereka baru pulang dari pantai sudah menjelang malam karena ketika Tara mengajak gadis itu untuk pulang tetapi Luna menolak karena masih betah berada di sana.Hari ini Tara akan melakukan apapun yang Luna inginkan.Tidak banyak yang mereka lakukan hanya duduk sambil mengobrol ringan sambil menikmati pemandangan laut yang begitu menenangkan dan diiringi suara deburan ombak.Andai di pantai itu ada penginapan, mungkin Luna akan mengajak Tara untuk menginap di sana. Bahkan di sana hanya ada tampak satu warung saja dan tadi saat mereka di sana warung itu tutup.Memang pantai yang mereka datangi tadi masih tampak begitu asri, masih belum tersentuh oleh pembangunan apapun. Pantainya juga termasuk yang panjang dengan air laut yang bersih meski tidak begitu bening. "Bebas deh Tara.""Mau makan nasi atau yang berkuah?" tanya Tara lagi."Hmmm... Tadi kita sudah makan nasi.""Itu kan makan siang, sekar
Tara dan Luna sama-sama sudah berada di bibir pantai. Di sana tidak banyak orang seperti mereka lihat kendaraan tadi hanya ada beberapa saja.Tara hanya menatap laut di depannya, rahangnya bergerak sedikit seperti sedang menimbang sesuatu yang berat. Ombak datang, pecah, lalu surut lagi, meninggalkan buih tipis yang perlahan hilang di pasir.“Tara, kamu suka laut?” tanya Luna.“Sebenarnya dulu aku tidak begitu menyukai laut sampai beberapa tahun yang lalu ternyata duduk sambil memandang ke arah laut lepas sangat menenangkan,” jawab Tara.Luna menoleh ke samping menatap pria itu.“Sejak kapan kamu menyukai laut Tara?”Tara menoleh ke samping ke arah Luna. “Sejak aku sebatang kara di dunia ini.”Luna memegang tangan Tara lalu mengusap. “Sekarang kamu nggak sendirian lagi. Ada aku dan Gilang.”Tara mengangguk sambil tersenyum. “Makasih. Kamu nggak mau main air?” tanya Tara."Mau dong. Tapi..." Luna melirik sepatu putih yang ia pakai, lalu melirik Tara dengan tatapan menimbang. "Aku nggak
Tara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tangan Luna yang menggenggam tangannya di atas meja, lalu mengangguk pelan.Tenggorokannya terasa sesak, dan ia tahu kalau membuka mulut saat itu, suaranya pasti akan bergetar.Jadi ia memilih mengambil sepotong bawal bakar, menaruhnya di piring Luna, dan berkata dengan suara yang dibuat sebiasa mungkin."Makan dulu. Nanti makanannya dingin."Luna tahu Tara sedang mengalihkan pembicaraan, tapi ia tidak memaksa. Ia hanya tersenyum, melepaskan genggamannya, lalu mengambil sendoknya lagi.Sisa makan siang itu berjalan lebih tenang dari sebelumnya. Luna mencicipi bawal bakar yang katanya favorit Mama Tara, mengunyahnya pelan-pelan seolah sedang menghargai sesuatu yang lebih dari sekadar makanan, lalu mengangguk sungguh-sungguh."Pantas Mamamu suka. Ini enak banget, Tara. Bumbunya meresap sampai ke tulang.""Kan sudah kubilang.""Kamu itu kebanyakan bilang 'kan sudah kubilang'. Kayak kaset rusak."Tara tertawa, dan beban di dadanya sedikit ter