LOGINRumah itu tidak seperti yang mereka bayangkan.Bukan mansion. Bukan benteng. Bukan gedung dengan pagar tinggi dan kamera di setiap sudut.Sebuah rumah batu berlantai dua di pinggir jalan sempit, dengan cat krem yang sudah mengelupas di beberapa bagian, pot-pot tanaman di teras yang jelas disiram secara teratur, dan sebuah sepeda tua bersandar di dinding samping.Pintunya memang tidak dikunci."Aku tidak suka ini," ucap Rahu untuk kesekian kalinya."Kau tidak menyukai apa pun sejak kita turun dari kapal," ucap Kat."Karena tidak ada yang layak disukai sejak kita turun dari kapal."Alan mendorong pintu itu perlahan.Bau yang keluar dari dalam bukan bau mesiu atau minyak senjata.Bau roti panggang.***Ruang tamunya sempit dan penuh.Rak buku menutupi dua dinding dari lantai sampai langit-langit, penuh sesak sampai ada buku yang ditidurkan di atas deretan buku lain. Sebuah sofa t
Langkah kaki itu terdengar dari sisi utara alun-alun.Satu orang. Sepatu kulit keras di atas batu. Tidak terburu-buru.Alan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.Kat yang menoleh, dan tangannya langsung mengencang di senapannya.Pria itu berjalan melewati barisan orang bersenjata yang berdiri diam di balik pilar, dan tidak satu pun dari mereka bergerak. Ia mengenakan setelan hitam sederhana tanpa dasi. Rambut cepak beruban. Dan di sisi kanan wajahnya, bekas luka memanjang dari pelipis sampai ke rahang.Ia berhenti di ujung meja, menarik kursi kelima, dan duduk.Lalu ia mengambil cangkir yang sudah dituangkan untuknya."Terima kasih, Pak," ucapnya."Sama-sama," jawab Salvador Cruz.***Rahu berdiri.Kali ini Alan tidak menyuruhnya duduk."Sembilan belas tahun," ucap Rahu. Suaranya bergetar. "Sembilan belas tahun kau duduk di sebelah kanan Alexander Hood."Dimas Varga m
"Putar balik," ucap Rahu."Tidak," jawab Alan."Bos, mereka tahu kita datang. Mereka tahu jam berapa, lewat mana, dan dengan kapal apa. Ini bukan penyusupan lagi. Ini undangan.""Aku tahu.""Lalu kenapa kita tetap masuk?!"Alan menoleh ke arah Elizabeth, yang sejak tadi duduk di lantai geladak dengan laptop di pangkuan dan wajah menempel ke layar."Elizabeth. Berapa jarak kita dari gedung bank pusat?""Delapan ratus meter." Ia mengetik. "Terlalu jauh. Aku butuh seratus.""Kalau kita merapat di dermaga itu?""Empat ratus. Masih terlalu jauh.""Kalau kita berjalan ke alun-alun kota tua?"Elizabeth mengangkat wajahnya perlahan."Seratus dua puluh," ucapnya. "Mungkin kurang, tergantung di sebelah mana aku duduk."Alan menoleh kembali ke Rahu."Dia mengundang kita ke tengah kota," ucapnya. "Ke tempat yang persis kita butuhkan. Dan dia pikir dia sedang memancing ki
"Dia berbohong."Diana berdiri di depan layar navigasi yang sudah kembali normal, menatap peta laut yang berkedip pelan."Soal apa?" tanya Rahu."Soal semuanya, tentu saja. Tapi ada satu yang penting." Ia menoleh. "Dia bilang kita tidak akan menang karena dia punya dua ribu orang dan enam puluh persen uang di negeri ini.""Itu memang benar," ucap Rahu muram."Itu benar untuk perang terbuka." Diana membuka laptopnya kembali. "Tapi orang yang memegang enam puluh persen uang di sebuah negeri tidak punya dua ribu tentara. Dia punya dua ribu orang yang digaji."Elizabeth mengangkat wajahnya. "Ada bedanya?""Ada bedanya sebesar tanggal gajian."***Diana memutar layarnya dan menunjukkan sesuatu yang sudah ia susun sejak semalam.Tiga puluh enam nama bank. Di sebelahnya, kolom angka. Di sebelahnya lagi, kolom tanggal."Aku sudah memeriksa semuanya dari data transaksi antar bank yang bocor ke
Tidak ada yang bergerak selama lima detik penuh.Pria di layar itu menyesap kopinya, mengembalikan cangkir ke atas piringnya dengan bunyi kecil yang terdengar jelas lewat pengeras suara, lalu bersandar ke kursinya."Wah, banyak sekali," ucapnya sambil menyipitkan mata ke arah kamera. "Bentar, ya, Bapak hitung dulu."Ia menunjuk ke layar dengan jari telunjuknya."Satu … dua … tiga … lima. Lima keponakan." Ia mengangguk puas. "Bagus. Bagus sekali. Cepat juga kerjanya, Nak.""Johnny," ucap Alan pelan. "Matikan.""Aku tidak bisa, Bos! Dia masuk lewat perangkat keras satelitnya, bukan lewat jaringan! Aku harus naik ke atap dan memotong kabelnya!""Jangan repot-repot," ucap Salvador Cruz. "Bapak cuma perlu sepuluh menit. Setelah itu Bapak keluar sendiri."Ia mengangkat cangkirnya lagi."Kalian mau kopi? Bapak bikin sendiri, lho. Bukan yang instan."***Kat mengangkat senapannya dan mengarahkannya ke layar."Kapten," ucap Rahu cepat. "Itu layar.""Aku tahu itu layar." Ia menurunkan senapanny
Pukul dua dini hari, geladak buritan kapal pesiar itu kosong.Alan berdiri di pagar dengan kedua tangan bertumpu pada besi dingin, menatap buih putih yang tertinggal di belakang lambung.Ia sudah berdiri di sana selama satu jam empat puluh menit."Kau akan berdiri di situ sampai pagi?"Ia tidak menoleh. "Mungkin."Kat berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya, menyandarkan sikunya ke pagar."Kau marah.""Tidak.""Bohong.""Aku tidak marah," ucap Alan. "Aku sedang menghitung.""Menghitung apa?""Berapa banyak yang dia atur." Suaranya rata. "Kampungku. Alexander mengambilku. Dimas menjadi wakil ketua selama sembilan belas tahun. Vera masuk ke kantor Diana. Racun yang dibuat Serena. Alicia dibesarkan di rumah Pablo."Ia menoleh."Aku menemui Freya di jalan tol Midway City dua puluh satu hari lalu karena aku mendapat kabar dari Rahu bahwa ada geng yang mengincarnya. Sek
Sejak awal, ia telah menghalangi sosok ketua mafia terbesar dan terkaya di negara Megapolis. Bahkan, ia mengatainya dengan kata ‘gembel’!“Tu… Tuan… Maafkan ketidaktahuan saya…” Si pria langsung bersujud memohon ampun. Orang-orang yang ada di sekitar mereka menatapnya dengan aneh. Bagaimana bisa s
Alan Dominic turun dari sebuah jet privat yang terparkir di hangar bandara khusus dengan tatapan tajam. Ia berjalan santai dengan setelan baju seadanya tanpa mengenakan aksesoris mewah di tubuhnya. Beberapa jam yang lalu, ia baru saja memakamkan Alexander Hood, guru sekaligus ketua gangster terkena
“Jadi, ini adalah tempatmu?” Alan memarkir mobilnya di basemen sebuah gedung apartemen mewah di pinggir kota yang terkenal dengan griya tawangnya. “Jangan bicara. Aku benci laki-laki yang banyak bicara seperti wanita!” Freya melangkah meninggalkan lelaki itu dengan wajah sinis. Ia menuju ke lift y
“Apa kau punya nomor telepon si putri keenam?”[Aku akan mengirimkannya.]Alan tampak khawatir. Sepertinya ia tidak bisa sampai tepat waktu ke lokasi ‘Gala Dinner’. Dengan sedikit improvisasi, ia mengirimkan pesan kepada Freya Hood untuk tetap di dalam gedung. [Hei, maaf mengganggu. Tapi aku adala







