LOGIN"Itu adalah aku." Suara pria berkacamata nyaris tidak terdengar dari balik konsol monitor dengan jemarinya yang tampak mulai gemetar karena takut dan gelisah.Sementara itu di luar, sosok lain yang memiliki wajah, postur, bahkan cara berjalan yang sama melangkah memasuki ruang kontrol dengan tenang dan pasti. Sama sekali tidak ada ekspresi marah ataupun rona murka di wajahnya. Dengan perlahan, ia memeriksa ruangan seperti seorang kepala divisi yang sedang melakukan inspeksi rutin. "Ruang kontrol bersih." Suara itu seungguh terdengar identik dengan milik pria berkacamata, bahkan hingga ke intonasinya sekalipun.Kemudian Raka menatap pria berkacamata di sampingnya dengan pandangan cemas, lalu menatap sosok di luar yang mirip dengan pria berkacamata itu. Raka menduga jika salah satunya pasti sudah berbohong atau keduanya mengatakan sebagian kebenaran yang sebenarnya dapat saling melengkapi satu sama lainnya.Lalu Tim Sanitasi menyebar ke seluruh ruangan, namun mereka tidak mengobrak-abr
Layar monitor kembali dipenuhi dengan garis-garis hitam, menggantikan sosok perempuan bermantel cokelat yang telah sirna menghilang begitu saja tanpa penjelasan lanjutan. Namun secarik kertas bertuliskan JANGAN PERCAYA AUDITOR masih tergeletak di meja tepat di bawah monitor, menawarkan sebuah bantuan bila itu benar, atau malah menjadi sebuah jebakan jika itu salah dan menyesatkan.Kemudian dengan segera Raka memungutnya sebelum tulisan itu juga menghilang. Ternyata memang kertas itu bukan merupakan hasil cetakan, melainkan secarik sobekan dari sebuah notulen rapat yang di bagian bawahnya terdapat cap yang sama dengan dokumen Proyek Kamar Nol.RAHASIA – HANYA UNTUK DIREKSI"Dia sengaja meninggalkan ini," gumam Naya dengan nada penuh kecurigaan.Mira yang tak mau ketinggalan, kini ikut membolak balik dan memeriksa lembaran tersebut. Di sisi belakang terdapat denah sederhana sebuah ruangan berbentuk lingkaran yang ditengahnya terdapat meja besar dengan delapan buah kursi.Tujuh kursi ter
Gagang telepon masih berada di tangan Dito yang mulai tampak gemetar karena perasaan yang bercampur aduk tak karuan, sedangkan nada sambungnya telah menghilang beberapa saat yang lalu. Namun sespertinya tidak seorang pun berani bergerak untuk meletakkannya kembali, sehingga membuat suasana ruangan kontrol berubah sunyi. Yang terdengar hanya dengungan listrik dari monitor-monitor tua yang masih menyala redup.Kemudian Raka berinisiatif untuk memecah keheningan sekaligus mencoba menenangkan perasaan yang kacau campur aduk, "Apa dia menyebut namanya? Atau apapun yang bisa kita jadikan petunjuk?"Seperti yang bisa diduga, Dito hanya menggelengkan kepala dengan pasrah tanpa semangat. "Tidak, dia cuma bilang kalau dialah yang membatalkan Booking Terakhir, itu saja."Pria berkacamata langsung menarik kursi dan duduk perlahan dengan ekspresi wajah seperti kehilangan warna karena pucat. "Kalau itu benar, berarti masih ada anggota inti proyek yang hidup."Sera menyilangkan tangan. "Atau seseora
Rel tua itu memanjang ke dalam kegelapan. Tidak ada kabut penghalang sama sekali dan juga tanpa bisikan apapun. Yang terdengar hanyalah bunyi logam yang sesekali memuai, seolah terowongan itu masih hidup dan beroperasi meski telah puluhan tahun ditinggalkan.Dengan rasa penasaran, Raka mengangkat senter proyek menyoroti pemandangan di hadapannya. Cahayanya menyapu dinding beton yang dipenuhi nomor-nomor besar.JALUR 1JALUR 2JALUR 5Namun setelah angka lima, penomoran langsung meloncat jauh.JALUR 9"Empat jalur hilang," gumam Mira seraya menoleh ke segala arah seperti mencari jalur lainnya."Atau jalur yang hilang itu memang sengaja dihapus," sahut Sera mengutarakan pendapatnya.Sedangkan sang Pria berkacamata malah tampak diam dan tidak ikut berbicara. Ia hanya berdiri memandangi dinding sebelah kiri dengan wajah semakin pucat. "Kayaknya aku pernah ke sini."Semua kontan menoleh kearahnya."Kapan?""Aku..., nggak ingat." Pria berkacamata menekan pelipisnya berusaha untuk mengingat,
Bercak darah di lantai terasa masih hangat, namun sosok fisik Auditor telah menghilang begitu saja tanpa jejak karena tidak ada mayat ataupun bekas tubuh yang terseret di lantai. Bahkan kursi tempat ia duduk tetap berada pada posisi semula, seolah seseorang baru saja menghapus satu adegan dari kenyataan. Raka bergegas segera berlari ke dinding untuk memeriksa lebih detail. Tiga lubang kecil yang tadi terlihat ternyata bukan seperti bekas peluru. Lalu ia menyentuh salah satunya. Tepinya halus, nyaris seperti lubang yang dibuat oleh mesin presisi karena terlalu rapi."Ini bukan tembakan," gumamnya mengambil kesimpulan.Pria berkacamata ikut memeriksa dan wajahnya langsung berubah serius. "Dokumen." Katanya singkat menggumam."Maksudmu?” Raka menoleh padanya dengan penasaran."Ini alat pelubang arsip."Kini semua menoleh pada pria berkacamata."Alat pelubang?" Ulang Naya seakan kurang jelas mendengar.Pria berkacamata mengangguk dengan pasti. "Dulu dipakai untuk merusak berkas yang suda
"Siapa di antara kalian yang membawa map yang bukan miliknya?”Suara itu menggema ke seluruh ruang arsip. Walaupun tidaklah keras, namun sudah lebih dari cukup untuk membuat seluruh pegawai menghentikan aktivitas mereka.Hanya dalam hitungan detik, ratusan pasang mata kini beralih ke arah Raka, tanpa ekspresi kemarahan ataupun kepanikan sedikitpun dari mereka. Tampaknya mereka semua hanya menunggu saja, seolah jawaban atas pertanyaan itu sudah diketahui tanpa perlu ada yang bicara dari antara mereka.Sementara itu, Raka menggenggam map biru dengan lebih erat. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Logikanya segera mencerna tentang akibat yang akan ia dapatkan jika sebentar lagi ketahuan.Perempuan tua yang selama ini membantu mereka tetap berdiri tenang tak menunjukkan kepanikan ataupun kecemasan sama sekali. Tanpa menoleh, ia berbisik pelan kepada Raka."Kalau kamu lari, artinya kamu mengaku bersalah.”" Bagaimana kalau aku diam saja?" Tanya Raka yang kini mendekap map bi
“Kamu adalah alasan hotel itu lahir.”Kalimat Mira membuat seluruh ruangan terasa membeku.Hujan masih menghantam kaca toko elektronik di luar, tapi suara itu terdengar jauh dan samar, seolah dunia mulai menjauh dari Raka. “Bullshit…” gumamnya pelan.Mira tidak bereaksi apapun. Dia tahu bahwa penje
TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “A
“Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,
“Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “J







