Home / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 18 : Kamar 307

Share

CHAPTER 18 : Kamar 307

Author: Newa Lim
last update publish date: 2026-05-25 11:46:03

Pintu kamar 307 terbuka sedikit dengan gerakan teramat pelan. Tampak sesuatu bergerak di dalam seraya tersenyum. Seketika itu juga, lorong panti asuhan langsung berubah menjadi dingin, namun bukan dingin yang biasa karena terasa masuk sampai ke tulang.

Dan suara anak-anak mulai terdengar dari segala arah.

“Kak…”

“Buka pintunya…”

“Kami masih di sini…”

Naya menutup telinganya dengan wajah berubah pucat total. “Rak, gue nggak suka ini!”

Mira justru mundur satu langkah lagi dengan ekspresi sama tak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Booking Terakhir   Chapter 19 : Kereta Pengganti

    “Sekarang giliran lo tinggal di kamar 307.”Kalimat itu keluar dari mulut sosok Raka di dalam kereta, tenang dan perlahan, namun terdengar jauh lebih menyeramkan daripada suara teriakan histeris sekalipun.Suasana stasiun bawah tanah itu sunyi dengan lampu neon berkedip dilangit langit. Rel basah memantulkan cahaya putih nan pucat. Dan di dalam gerbong, ada puluhan Raka lain duduk terdiam, menatap ke arahnya.Ada yang wajahnya normal, setengah hancur, bermata kosong hitam dan semuanya menyeringai pada Raka.“Rak!” Suara Naya nyaris pecah, “Kenapa jumlah mereka makin banyak?”Mira langsung menarik mereka menjauh dari pintu kereta. “Jangan dengerin mereka.”Tak diduga, salah satu Raka di dalam gerbong tertawa kecil. “Dia bohong.”Raka bertambah tegang karena suara itu sangat persis dengan miliknya. “Kami cuma mau pulang.” Raka memberanikan diri untuk bersuara lantang.Lampu kereta berkedip merah, mengiringi satu per satu versi Raka mulai berdiri dengan gerakan yang sinkron layaknya cerm

  • Booking Terakhir   CHAPTER 18 : Kamar 307

    Pintu kamar 307 terbuka sedikit dengan gerakan teramat pelan. Tampak sesuatu bergerak di dalam seraya tersenyum. Seketika itu juga, lorong panti asuhan langsung berubah menjadi dingin, namun bukan dingin yang biasa karena terasa masuk sampai ke tulang.Dan suara anak-anak mulai terdengar dari segala arah.“Kak…”“Buka pintunya…”“Kami masih di sini…”Naya menutup telinganya dengan wajah berubah pucat total. “Rak, gue nggak suka ini!”Mira justru mundur satu langkah lagi dengan ekspresi sama takutnya dengan Naya. Ekspresi yang sebelumnya tidak tampak saat monster mengejar mereka di kota beberapa waktu lalu.“Apa itu?” tanya Raka dengan suara agak tertahan.Mira menggeleng cepat. “Jangan lihat langsung!”“Jawab gue!” Desak Raka semakin terdengar panik.Mira menatap celah pintu kamar 307 dengan mata gemetar, lalu berbisik, “Entitas pertama.”Tok, tok, tok…Ketukan datang lagi dari dalam kamar, dengan ritme teratur, pelan dan terkesan sabar, seolah sesuatu di sana tahu mereka tidak punya

  • Booking Terakhir   Chapter 17 : Kamar yang Tidak Pernah Dibuka

    “HOST TELAH MEMANGGIL ANDA.”“CHECK-OUT TERAKHIR DIMULAI.”Tulisan di layar ponsel Raka menghilang perlahan, lalu tergantikan oleh satu simbol. Simbol yang sama seperti di buku tamu hotel, seperti barcode hitam. Tapi kali ini simbol itu bergerak, seolah olah hidup.Gedung parkir tua itu terasa sunyi, bahkan terlalu senyap. Suara hujan di luar serasa menghilang begitu saja. Yang tersisa hanyalah suara...DING… DING… DING…Suara lift emas itu seakan tak henti hentinya memanggil. Sejurus kemudian pintu lift terbuka lebar. Sekali lagi terdengar suara Dito kecil tertawa lepas.Naya langsung mundur selangkah. “Rak…, jangan masuk.”Mira ikut menatap lift itu dengan wajah yang berubah pucat pasi. Sepertinya ini adalah pertama kalinya perempuan itu terlihat takut. Sangat takut.Menyadari hal itu, Raka menoleh, “Kenapa?” tanyanya pelan pada Mira.Mira menelan ludah, seakan menghimpun keberanian untuk menjawab, “Karena…” suaranya kecil, hampir tak terdengar. “Nggak ada yang pernah balik dari Kam

  • Booking Terakhir   CHAPTER 16 : Anak yang Tidak Pernah Keluar

    “Akhirnya Kakak ingat aku,” Suara Dito terdengar dari seluruh speaker toko elektronik, pelan dan lembut selayaknya suara anak kecil biasa. Dan justru itu yang membuat bulu kuduk Raka berdiri. Suara itu masih terdengar polos dan penuh keluguan yang semakin memilukan.Sedangkan di luar toko, pemandangan kota berangsur berubah. Gedung gedung memanjang seperti lorong hotel tanpa ujung, jendela jendela berubah menjadi pintu kamar, lampu neon merah berkedip di tengah hujan dan ribuan pintu hotel yang tadi muncul kini terbuka lebar.Tak lama kemudian, ada sesuatu keluar dari dalamnya. Tidak semuanya berbentuk manusia. Ada yang merangkak, bergerak dengan bunyi patah tulang diseluruh tubuhnya, serta memandang Raka lekat lekat.“Rak…” Naya menggenggam lengan Raka erat. Tangannya dingin dan gemetar.Mira mengisi ulang shotgun dengan cepat dan wajah semakin tegang. “Kita harus pindah.”“Ke mana?” tanya Naya panik.Mira menatap keluar dari jendela pecah. Dan untuk pertama kalinya, perempuan itu te

  • Booking Terakhir   CHAPTER 15 : Anak yang Mengunci Pintu

    “Kamu adalah alasan hotel itu lahir.”Kalimat Mira membuat seluruh ruangan terasa membeku.Hujan masih menghantam kaca toko elektronik di luar, tapi suara itu terdengar jauh dan samar, seolah dunia mulai menjauh dari Raka. “Bullshit…” gumamnya pelan.Mira tidak bereaksi apapun. Dia tahu bahwa penjelasannya sangat diluar nalar manusia normal.Naya justru menatap Raka dengan wajah pucat. “Rak?”Raka bangkit berdiri dengan paras menyangkal, “Enggak mungkin!”Tangannya gemetar. “Gue nggak pernah bikin hotel ini.”Mira menghela napas, lalu dengan sabar melanjutkan, “Semua orang yang masuk hotel itu punya trauma.” Kemudian dia membuka map tua lain di meja. “Kehilangan, rasa bersalah, penyesalan.”Lembar-lembar koran lama tersebar. Ada kasus bunuh diri, orang hilang, kebakaran, bahkan pembunuhan. Dan semuanya punya satu kesamaan, yaitu mereka pernah “mengunci” sesuatu dalam hidup mereka.“Tapi lo itu beda, Raka,” lanjut Mira. “Hotel ini bereaksi paling kuat ke lo.”Raka menatap foto panti as

  • Booking Terakhir   CHAPTER 14 : Kota Yang Mulai Lapar

    “HOTEL TERHUBUNG KE DUNIA LUAR.”“PENYEBARAN DIMULAI.”Tulisan merah di layar ponsel Raka berkedip seperti luka terbuka. Di depan Raka, ada sekitar puluhan orang berdiri diam di tengah jalan. Hanya menatap, tidak bergerak bahkan tidak berkedip sekalipun. Kemudian Hujan turun dengan deras. Lampu kota memantul di aspal basah. Suara kendaraan perlahan menghilang. Entah kenapa, satu per satu mobil berhenti dengan sendirinya di jalan, seperti mengalami mati mesin bergiliran. Dan semua pengemudi keluar dari kendaraan masing masing.Melihat itu semua, Naya sontak mundur perlahan. “Rak…” Suara gadis itu bergetar.“Kenapa mereka lihat kita kayak gitu…?”Raka tidak menjawab, karena dia sedang melihat sesuatu yang lebih buruk. Ada lingkaran hitam tipis di sekitar pupil mata mereka, sama dengan mata orang orang yang pernah “diproses” oleh hotel.“Jangan kontak mata,” bisik Raka ditelinga Naya.“Apa?”“JANGAN LIHAT MATA MEREKA!” Ulang Raka tegas.Terlambat.Seorang pria tua di depan mereka tersen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status