LOGINLangkah kaki Daren mendadak terkunci kaku di anak tangga terbawah. Wajahnya mengeras, berubah makin dingin saat matanya menangkap Sosok wanita bergaun gelap yang berdiri santai di tengah lobi utama rumahnya.Zea yang berdiri satu anak tangga di belakang Daren ikut menghentikan pergerakannya. Keheningan mencekam langsung menyelimuti ruangan tersebut. Zea mengedipkan matanya berkali-kali, berusaha mencerna pemandangan ganjil di depannya. Pintu kediaman mereka yang dikawal ketat oleh puluhan penjaga bersenjata melintang lebar, dan wanita itu berdiri seolah-olah tempat ini adalah miliknya."Siapa kau?" tanya Zea membuka suara, memecah kecanggokkan atmosfer. Suaranya terdengar dipenuhi kebingungan yang menuntut penjelasan.Wanita itu melangkah pelan beberapa senti mendekati area tangga, tidak menunjukkan raut gentar sedikit pun. Senyuman tipis dan terkesan misterius terukir di bibirnya. Matanya berganti arah, menatap lurus ke arah Daren dengan binar yang sulit diartikan."Siapa yang mengi
Tanpa memberikan porsi waktu sepatah kata pun pada Dr. Aris untuk membalas dari seberang telepon, Daren menggeser ikon merah di layar ponselnya. Pria itu menyudahi sambungan panggilan secara sepihak, lalu melempar ponsel canggih tersebut begitu saja ke atas kasur busa yang tebal."Tidak," pangkas Daren dengan suara berat dan dingin yang menolak mentah-mentah.Zea tersentak pelan di tempat duduknya, tatapannya menyiratkan rasa tak percaya. "Daren, tapi ini demi keselamatan Papa dan Mama.""Aku bilang tidak, Zea," potong Daren cepat. Sepasang matanya menancap lurus, memancarkan ketegasan mutlak yang sulit ditembus. "Kita sudah pernah memperdebatkan masalah pengambilan darah ini sebelumnya, dan saat itu aku mengalah padamu. Tapi untuk kali ini, tidak ada negosiasi atau perdebatan lagi. Kau yang menurut padaku.""Daren, dengarkan aku dulu sebentar," Zea mulai merengek halus, jemari lenturnya bergerak cepat meremas pergelangan tangan kekar suaminya yang masih tegang. "Kondisi Papa dan Ma
Daren memiringkan ponsel di atas pangkuannya, memastikan tombol pengeras suara sudah aktif. Wajahnya mengeras, penuh ketegangan yang tertahan."Apa hasil yang kau dapatkan?" tanya Daren langsung dengan suara bernada menuntut, memotong desing mesin laboratorium di seberang telepon.Di sebelah Daren, Zea langsung menegakkan punggungnya. Jemari mungilnya meremas pinggiran kemeja Daren begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu cepat, diselimuti rasa cemas yang teramat sangat."Dokter Aris, katakan!" seru Zea heboh, suaranya sedikit melengking bergetar panik. "Kenapa Papa dan Mama bisa drop bersamaan seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua?""Tenang sebentar, Nyonya Zea," sahut Dr. Aris mencoba menenangkan dari balik saluran telepon. "Saya sangat memahami kepanikan Anda, tapi tolong dengarkan penjelasan ini baik-baik. Saya akan paparkan hasil analisis laboratorium secara bertahap agar semuanya bisa dicerna dengan jelas."Dr. Aris menarik napas pan
Roda mobil SUV berpelindung baja itu akhirnya berhenti sempurna di depan pelataran rumah megah berarsitektur modern milik Daren. Pintu mobil terbuka, dan sebelum Zea sempat menapakkan kakinya ke tanah, Daren sudah menunduk mendahuluinya. Pria itu menyusupkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Zea dan tangan lainnya di punggung sang istri, menyambar tubuh ringan itu dalam satu gerakan cepat."Daren, aku bisa jalan sendiri," bisik Zea, terkejut sembari menepuk pelan bahu kekar suaminya. "Cuma lututku saja yang lecet sedikit.""Diam, Zea," potong Daren dingin tanpa menghentikan langkah lebarnya. "Lututmu berdarah dan kau tidak boleh melangkah sampai luka itu diobati."Alex yang berdiri di samping mobil hanya menunduk hormat, membiarkan tuannya memboyong sang istri menerobos pintu utama rumah megah tersebut. Dengan sangat hati-hati, Daren mendudukkan Zea di tepi ranjang berukuran sangat besar. Ia melepas sepatu yang dikenakan Zea, lalu melangkah cepat menuju kamar mandi untuk menga
Pintu ruang rapat yang terbuat dari kayu jati tebal bergeser terbuka perlahan.Zea yang tadinya bersandar lemas di bahu Helena langsung menegakkan tubuhnya. "Daren?" panggil Zea halus. "Apakah ada masalah berat di dalam? Papa bicara apa saja padamu?"Daren menghentikan langkah tepat di hadapan kedua wanita itu. Sepasang mata elangnya mengunci tatapan Zea, lalu secara bertahap kilat ketegangan di matanya meleleh menjadi senyuman tipis yang sangat menenangkan."Tidak ada apa-apa, sayang," jawab Daren lembut seraya merendahkan tubuhnya, mengusap puncak kepala Zea dengan jemari kekarnya. "Hanya diskusi singkat soal penyesuaian agenda perusahaan pasca-krisis. Kau tidak perlu memikirkan hal-hal yang rumit."Helena yang memperhatikan interaksi tersebut tersenyum hangat, mengusap bahu menantunya pelan. Ia menoleh ke arah Daren dengan tatapan penuh pemahaman."Daren, lebih baik kamu membawa Zea pulang," ujar Helena dengan nada ibu yang mengayomi. "Lihat istrimu, matanya sudah bengkak dan wa
Daren membimbing bahu Zea menuju sofa kulit berukuran besar di sudut ruang kerjanya yang luas. Suasana kantor lantai paling atas gedung Elvano Group itu terasa begitu hening, berbanding terbalik dengan kekacauan yang mulai merayap di luar sana.Daren merengkuh Zea lembut agar terduduk nyaman, lalu melangkah menuju meja kecil di sudut ruangan. Pria itu mengambil segelas air hangat dan sebuah piring berisi camilan manis, membawanya kembali ke hadapan istrinya."Minum ini dulu, sayang," bisik Daren seraya menyodorkan gelas tersebut. "Kau belum minum sejak tadi. Jangan buat aku makin khawatir. Jika kita terus berada di laboratorium itu, itu akan membuatmu semakin bersedih. Biarkan Aris yang menanganinya, percayakan semua ini padanya."Zea menerima gelas itu dengan tangan yang masih sedikit bergetar, menyesap air hangat tersebut perlahan sebelum meletakkannya di atas meja kaca. Wajahnya yang pucat merona tipis, matanya yang basah menatap Daren dengan binar kesedihan yang menggemaskan seka







