Beranda / Romansa / Bos Galak, I Love U / Bab 1 # Bos Galak di Pagi yang Basah

Share

Bos Galak, I Love U
Bos Galak, I Love U
Penulis: Pelangi Jelita

Bab 1 # Bos Galak di Pagi yang Basah

Penulis: Pelangi Jelita
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 14:42:46

Pagi selalu datang terlalu cepat bagi Nizam Respati Anwar.

Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 06.10 ketika ia berdiri di depan cermin besar kamar apartemennya. Setelan jas hitam telah rapi melekat di tubuh tinggi tegap itu. Kemeja putih tanpa satu pun lipatan, dasi abu-abu gelap terikat sempurna.

Tak ada satu detail pun yang boleh salah seperti hidupnya yang selalu ia atur dalam garis lurus, dingin, dan tanpa cela.

Hari ini bukan hari biasa.. Ia akan melakukan finalisasi wawancara akhir untuk divisi keuangan Niaga Perkasa. Divisi penting, rawan dan tak boleh diisi orang sembarangan.

Tujuh kandidat telah lolos seleksi HRD. Tujuh wanita yang pagi ini akan duduk berhadapan dengannya pukul delapan tepat. Dari 7 kandidat hanya tiga yang akan ia pilih, sisanya pulang membawa penyesalan atau pelajaran.

Nizam mengembuskan napas pelan. Entah sejak kapan ia membiarkan HRD merekrut kandidat perempuan. Biasanya ia tak peduli. Namun kali ini, divisi keuangan membutuhkan tenaga detail, teliti, dan sabar kata HRD. Ia mengizinkan, dengan satu syarat : keputusan akhir mutlak di tangannya. Tak ada toleransi dan tak ada belas kasihan.

“Mobil sudah siap, Pak.”

Suara Riza, sekretaris merangkap asisten pribadinya, terdengar dari ambang pintu. Seperti biasa, pria itu berdiri tegak, sopan, dan berhati-hati. Bekerja untuk Nizam bukan perkara mudah. Salah sedikit, bisa berujung teguran dingin yang terasa lebih menyakitkan daripada teriakan.

“Berangkat sekarang,” jawab Nizam singkat.

Tak ada senyum, tak ada basa-basi. Aura mencekam yang selalu mengiringinya seakan menjadi bayangan permanen.

**

Hujan pagi baru saja berhenti. Aspal masih basah, udara terasa segar bercampur dingin, dan sisa kabut tipis menggantung malas di perempatan besar menuju kawasan perkantoran elit Jakarta. Mobil hitam mewah yang ditumpangi Nizam berhenti tepat di lampu merah.

Nizam menatap lurus ke depan. Pikirannya sudah dipenuhi data kandidat, laporan keuangan, dan agenda rapat lanjutan. Ia tak menyadari apa pun sampai sesuatu di luar jendela mobil menarik perhatiannya.

Seorang wanita, mengenakan setelan kerja rapi, blazer hitam dan rok senada, berdiri di tepi zebra cross. Rambutnya terikat sederhana, wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan. Namun yang membuat Nizam terpaku bukan penampilannya semata.

Wanita itu sedang membantu rombongan nenek-nenek menyeberang jalan. Dengan sabar, ia menggandeng tangan mereka satu per satu. Senyumnya hangat, tutur katanya lembut meski Nizam tak bisa mendengar jelas. Tangannya terulur, tubuhnya sedikit membungkuk hormat, matanya berbinar tulus.

Lampu hijau untuk pejalan kaki menyala, langkah mereka pelan, namun penuh kehati-hatian. Ada sesuatu yang asing, tiba tiba dada Nizam terasa sesak sesaat. Entah mengapa, adegan sederhana itu memukul satu sudut kenangan yang telah lama terkunci rapat dalam dirinya.

Ingatan tentang seorang gadis kecil dengan senyum ceria, yang selalu menggenggam tangannya di masa lalu, saat dunia belum sekejam ini.

“Nana” gumamnya hampir tak terdengar.

Wanita itu terlihat bercahaya di bawah cahaya pagi yang lembap. Cantik, tapi bukan cantik yang menyilaukan melainkan cantik yang menenangkan. Cantik yang membuat orang ingin memperlambat langkah.

Lampu hijau untuk kendaraan menyala, di saat bersamaan, sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi, tak mengindahkan genangan air di sisi jalan. Dalam sekejap ...

**SPLASH!**

Air sisa hujan muncrat tinggi, membasahi pakaian wanita itu.

“Ya ampun!”

Wanita itu tersentak. Ia mundur selangkah, menatap bajunya yang kini basah dan kotor. Lapisan dalam putih yang semula rapi kini ternodai percikan lumpur.

“Pengendara nggak punya mata, apa ya?!” umpatnya kesal, dengan wajah merah padam.

Nizam menatap adegan itu tanpa berkedip, lalu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tertawa.

Bukan tawa keras, hanya senyum kecil yang lolos begitu saja dari bibirnya. Matanya menghangat sesaat, ekspresinya melunak, hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Riza tertegun.

Riza melirik lewat spion. Bosnya… tersenyum?

“Apa ada yang salah, Bos?” tanyanya hati-hati.

“Jalan,” perintah Nizam singkat, kembali memasang wajah datar meski sisa senyum itu belum sepenuhnya menghilang.

Mobil melaju meninggalkan perempatan, namun bayangan wanita berblazer hitam itu tertinggal di benak Nizam lebih lama dari yang ia kira.

**

Sementara itu, Inara Prameswari menatap bajunya dengan napas berat, basah, kotor, dak sempurna untuk ukuran seseorang yang akan melamar pekerjaan..

Hari ini adalah hari penentuan hidupnya.

“Aduh… kenapa sih harus hari ini?” gumamnya lirih.

Ini wawancara tahap akhir penerimaan pekerjaannya, perusahaan besar, posisi tetap. Kesempatan yang ia tunggu berbulan-bulan. Pulang untuk ganti baju bukan pilihan, jarak rumahnya terlalu jauh. Mau mundur? Terlalu sayang. Akhirnya Inara menghela napas panjang.

“Bismillah,” ucapnya pelan. “Kalau rezeki nggak akan ke mana.”

Dengan sisa keyakinan dan sedikit nekat, ia melanjutkan perjalanan.

**

Kesialan belum selesai mengujinya.

Saat Inara tiba di gedung Niaga Perkasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.15 WIB, wajahnya langsung pucat.

“Maaf, Pak… saya peserta wawancara. Saya terlambat,” ucapnya terbata di hadapan staf HRD.

Pak Seno, pria paruh baya itu menatap Inara dengan iba. Ia melihat noda di pakaian wanita itu, wajah cemasnya, dan tangan yang gemetar.

“Wawancara sudah dimulai,” kata Pak Seno ragu.

“Saya mohon, Pak… beri saya kesempatan,” suara Inara nyaris bergetar.

Pak Seno terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Masuklah, tapi saya tidak bisa menjamin apa pun.”

Inara mengangguk cepat. “Terima kasih, Pak.”

Pintu ruang CEO terbuka. Suasana di dalam seketika membeku. 8 pasang mata menoleh termasuk sepasang mata tajam yang langsung mengunci keberadaannya. Nizam Respati Anwar. Aura dingin itu menghantam Inara tanpa ampun.

“Kamu yang baru datang?” suara itu tegas, dingin, tanpa emosi. “Kamu tahu ini sudah lewat lima belas menit sejak sesi dimulai.”

Inara menelan ludah. “Ma-maaf, Pak…”

“Berdiri di sudut sana,” perintah Nizam tajam.

Inara masih terpaku.

“Kamu tuli?” bentaknya lebih keras. “Saya bilang berdiri di sudut, bukan jadi patung!”

Tubuh Inara tersentak. Ia buru-buru melangkah ke sudut ruangan, berdiri tegak dengan tangan terkepal menahan gemetar.

Wawancara berlanjut. Inara berdiri di sana dengan baju basah, gugup, dipermalukan sementara sosok Nizam Respati Anwar semakin mengukuhkan satu reputasi yang tak pernah berlebihan:

Kesan pertama, Bos barusan galak, dingin dan tak mengenal belas kasihan. Tanpa ada yang tahu, pagi itu adalah awal dari sesuatu yang tak pernah ia rencanakan.

Wawancara berakhir tepat pukul sepuluh.

Satu per satu peserta diminta keluar ruangan. Inara masih berdiri di sudut, kakinya mulai pegal, punggungnya kaku, tapi ia tak berani bergerak sedikit pun. Tatapannya lurus ke depan, menahan perasaan campur aduk antara malu, kecewa, dan pasrah.

“Yang lain boleh keluar.”

Suara Nizam terdengar datar, para kandidat saling pandang, lalu melangkah pergi. Pintu tertutup perlahan, menyisakan keheningan yang menekan. Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan luas itu.

Inara menahan napas.

“Baju kamu,” ucap Nizam tiba-tiba.

Inara tersentak. “Maaf, Pak… saya ..”

“Bukan itu.” Nizam memotong, menatap noda di blazer hitam itu. “Kenapa basah?”

Pertanyaan sederhana, entah kenapa, jantung Inara berdegup lebih kencang.

“Terkena air di jalan tadi, Pak,” jawabnya jujur.

Nizam terdiam. Bayangan perempatan pagi tadi kembali menyeruak di benaknya. Senyum ramah, umpatan kesal dan mata yang sama.

Pelan, Nizam menyandarkan punggung ke kursinya. Tatapannya mengeras namun sorot matanya berubah.

“Kamu tahu,” katanya rendah, “Saya paling benci karyawan yang terlambat.”

Inara mengangguk lirih. “Saya siap menerima keputusan apa pun, Pak.”

Hening. Nizam berkata pelan, namun menusuk,

“Kalau saya bilang kamu belum boleh pulang hari ini bagaimana?”

Inara mendongak, terkejut. Ia sadar, bos galak itu sedang memperhatikannya lebih dari sekadar pewawancara.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bos Galak, I Love U   Bab 58 # Membangun Rasa

    Pasca kejadian di hotel itu, pikiran Nizam tak pernah benar-benar tenang. Ia duduk sendirian di teras rumah nenek Inara, memandangi halaman depan yang teduh. Angin siang itu berembus pelan, menggoyangkan daun-daun mangga tua yang sudah puluhan tahun berdiri di sana. Suasana tenang itu kontras dengan isi kepalanya yang riuh. Ia mengingat kembali kejadian di ruang rapat hotel. Minuman yang terasa aneh. Tubuhnya yang tiba-tiba panas dan kehilangan kendali. Sosok perempuan asing yang mencoba memanfaatkan situasi. Calon investor. Nizam menghela napas panjang. “Apa sebenarnya yang ada di benaknya?” gumamnya pelan. Selama berbisnis di Jakarta dan Bali, ia belum pernah mengalami jebakan serendah itu. Kompetisi keras? Sudah biasa. Permainan harga? Wajar. Tapi menjebak secara personal hingga mencoreng nama baik? Itu di luar nalarnya. Ia meremas jemarinya sendiri. Tidak. Ia tidak ingin hidu

  • Bos Galak, I Love U   Bab 57 # Tekad

    Jakarta kembali bergerak dalam ritme cepatnya. Di lantai tertinggi gedung pusat Niaga Perkasa, Akbar sudah kembali duduk di balik meja kerjanya. Wajahnya terlihat lebih matang dibanding beberapa bulan lalu. Ada ketegasan baru di sana dan juga keyakinan. Hari ini ia berencana meninjau pabrik induk pasca kerusakan mesin utama yang sempat melumpuhkan sebagian produksi. Revitalisasi fasilitas pelengkap menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Sebelum berangkat, ia masuk ke ruang kerja Pak Gunawan. “Pa, Akbar berangkat ke pabrik sekarang.” Pak Gunawan mengangguk. “Papa serahkan rencana revitalisasi itu ke kamu, Bar. Papa mau lihat cara kamu memimpin langsung di lapangan.” Akbar tersenyum mantap. “InsyaAllah pa, Akbar akan jalankan sebaik mungkin.” Ia keluar dari ruangan dengan langkah pasti. Sebelum memasuki lift, ia membuka

  • Bos Galak, I Love U   Bab 56 # Konspirasi Terselubung

    Inara berdiri tegak di ambang pintu kamar 1001.Tatapannya menelusuri wanita yang berdiri di hadapannya dari ujung kepala sampai kaki. Gaun ketat berwarna merah menyala membalut tubuhnya. Riasannya tebal, parfumnya menyengat. Senyumnya terlalu percaya diri.Inara langsung bisa menebak wanita seperti apa yang sedang berdiri di depannya.“Siapa kamu?” ulang Inara, nada suaranya dingin namun tajam.Wanita itu mengangkat dagu. “Saya yang harusnya bertanya. Kamu siapa dan sedang apa di kamar ini bersama Pak Nizam?”Inara tertawa kecil. Bukan karena lucu tapi karena kesal.“Untuk apa kamu bertanya seperti itu?” balasnya tegas. “Apa yang kalian lakukan pada Pak Nizam, hah?”Wanita itu terkekeh, terdengar dibuat-buat.“Hey, wanita… eh siapapun kamu,” ujarnya sinis, “aku ini kekasihnya Pak Nizam.”Inara memejamkan mata sesaat, menahan amarah yang mulai mendidih.“Kalian pikir aku orang bodoh?” suaranya meninggi. “Kalian pasti punya niat buruk. Kalian ingin menjebaknya!”Tatapan Inara berubah t

  • Bos Galak, I Love U   Bab 55 # Di luar dugaan

    Hening itu terasa panjang bagi Nizam. Ia bisa mendengar detak jam dinding di ruang keluarga rumah tua keluarga Wijaya. Juga detak jantungnya sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya. “Nak Nizam…” suara Nenek akhirnya terdengar. “Iya, Nek…” jawabnya hati-hati. “Menikah itu bukan perkara gampang. Apa kamu sudah benar-benar mengenal Nana?” Nizam menelan ludah. “Dia cucu kesayangan Nenek,” lanjut wanita sepuh itu. “Nenek sangat menyayanginya. Sejak kecil Nenek memanjakannya. Apa kamu akan tahan dengan sikap manjanya?” Papa Wijaya melirik ibunya sekilas. Meski kalimat itu terdengar seperti ujian, ada nada protektif yang wajar di dalamnya. Ia tahu betul putrinya memang sering bersikap sesuka hati walau tak pernah melampaui batas. “Nenek tidak pernah melarang apa pun yang ia lakukan selama itu baik,” sambung Nenek. “Dan Nenek tidak mau mendengar hal buruk tentang cuc

  • Bos Galak, I Love U   Bab 54 # Banyak hal yang terjadi

    Pintu ruang rawat itu menutup pelan di belakang Saka.Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan hanya karena luka di kepala dan lengannya yang masih berdenyut, tetapi juga karena sesuatu yang mengganjal di dadanya.Ia tak pernah membayangkan pertemuan itu akan terasa seperti tadi. Wajah pucat Mira. Tangis yang berusaha ia tahan. Kalimat lirihnya tentang musibah. Saka berhenti sejenak di lorong rumah sakit. Bau antiseptik kembali menusuk indra penciumannya. Ia memejamkan mata beberapa detik. Kejadian itu berputar lagi di kepalanya. Mobilnya melaju cukup cepat sore itu. Ia ingat jelas jalan yang sedikit lengang, pikirannya sibuk memikirkan urusan pekerjaan. Lalu dari jalur lain, sebuah mobil melesat kencang ke arahnya. Refleks. Setir dibanting. Rem diinjak, namun jarak terlalu dekat. Benturan keras. Suara kaca pecah. Tubuhnya terhuyung ke depan, sabuk pengam

  • Bos Galak, I Love U   Bab 53 # Kunjungan

    Aroma antiseptik memenuhi lorong rumah sakit yang dingin. Lampu-lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan langkah-langkah yang hilir mudik sejak sore tadi. Mira masih berada di ruang pemulihan pasca operasi. Tubuhnya terbaring lemah, tertutup selimut tipis, wajahnya pucat karena pengaruh anestesi yang belum sepenuhnya hilang. Di luar kamar perawatan, Akbar duduk di kursi pengunjung. Kedua tangannya saling bertaut, sikunya bertumpu pada lutut. Tatapannya kosong, sesekali menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Operasi itu berlangsung lebih lama dari yang ia perkirakan. Bayangan mobil ringsek dan tubuh Mira yang terjepit kembali terlintas di benaknya. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tak lama berselang, sepasang suami-istri paruh baya menghampiri. Pak Assegaf, Ayah dan Bunda Adelia. “Bagaimana, Nak Akbar? Mira sudah sadar?” tanya sang ayah dengan wajah penuh kekh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status