Home / Romansa / Bos Galak, I Love U / Bab 2 # Di Hadapan Bos Galak

Share

Bab 2 # Di Hadapan Bos Galak

last update Last Updated: 2026-01-04 14:56:18

Selama hampir dua jam berdiri di sudut ruangan itu, Inara Prameswari merasa hidupnya sedang diuji habis-habisan. Jantungnya berdetak tak karuan sejak pukul delapan lima belas, sejak pintu ruang CEO tertutup di belakangnya dan suara galak pria itu menggema tanpa ampun.

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Nizam Respati Anwar terdengar seperti palu yang menghantam satu per satu kepercayaan dirinya.

Galak banget, itu satu-satunya kesimpulan yang berputar-putar di kepala Inara. Bagaimana bisa seorang CEO berbicara setajam itu? Nada suaranya dingin, tegas, dan sama sekali tak menyisakan ruang bagi rasa ragu atau rasa kasihan. Ia memotong jawaban kandidat lain tanpa ekspresi, mengoreksi dengan tajam, bahkan sesekali menyindir tanpa menurunkan volume suara.

Inara berdiri mematung. Kakinya pegal bukan main. Berdiri dari jam delapan lima belas hingga hampir pukul sepuluh, dengan sepatu kerja yang sejak pagi sudah basah dan terasa dingin, membuat betisnya berdenyut nyeri. Belum lagi pikirannya yang terus berperang dengan ketakutan.

"Apa aku sanggup bekerja dengan orang segalak ini? "

Ia menelan ludah. Kalau baru wawancara saja rasanya seperti diadili, bagaimana nanti jika benar-benar bekerja di bawah kepemimpinannya?

Satu per satu kandidat selesai diwawancarai. Wajah mereka keluar dari ruangan dengan ekspresi berbeda-beda. ada yang lega, ada yang tegang, ada pula yang terlihat kecewa. Inara hanya bisa menatap lantai, menunggu giliran yang tak kunjung tiba.

Sampai akhirnya

“Sekarang… kamu.”

Suara itu kembali menghantam telinganya. Inara tersentak.

“Kamu boleh duduk,” lanjut Nizam, dingin.

Inara nyaris tak percaya. Dengan kaki yang sedikit gemetar, ia melangkah ke kursi di depan meja besar itu dan duduk perlahan. Punggungnya kaku, tangannya bertaut di pangkuan, napasnya tertahan.

Nizam menatapnya tanpa berkedip. Tatapan itu membuat Inara merasa sedang ditelanjangi bukan secara fisik, tapi seolah seluruh kelemahannya dibaca satu per satu.

“Penampilan kamu hari ini,” ucap Nizam membuka pembicaraan, suaranya datar. “Minus.”

Inara terdiam.

“Sebagai kandidat divisi keuangan, kamu seharusnya tahu bagaimana membawa diri.”

Inara menunduk. “Maaf, Pak.”

Nizam menyandarkan punggung ke kursinya. “Kalau mengikuti kriteria karyawan yang perusahaan ini cari ....” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada tajam, “....kamu hari ini seperti tikus got.”

Dalam hati Inara menjerit.

"Sembarangan banget sih kalau ngomong!, Aslinya aku cantik, tahu!"

Namun yang keluar dari bibirnya hanya satu kalimat pelan, “Maaf, Pak.”

Nizam menatap wajahnya lebih lekat.

“Kedua,” lanjutnya tanpa ekspresi, “buang upil kamu itu besar sekali. Jorok.”

“Apa?!” Inara refleks berseru, lalu langsung menutup mulutnya.

Ia panik. Dengan gerakan cepat, tangannya terangkat mengusap hidungnya, matanya membesar, wajahnya pucat, ekspresinya campur aduk antara malu dan syok.

Riza, yang berdiri di sisi ruangan, menahan tawa. Sementara Nizam untuk pertama kalinya pagi itu, ia benar-benar terhibur.

Ia mengenali gadis itu. Gadis yang berdiri di hadapannya ini adalah gadis yang sama yang tadi pagi membantu nenek-nenek menyeberang di perempatan. Gadis dengan umpatan kesal yang jujur, senyum hangat, dan ekspresi spontan yang apa adanya.

Inara buru-buru merogoh tasnya, mengeluarkan kaca kecil, dan menatap wajahnya dengan cermat.

“Nggak ada, Pak,” katanya gugup. “Nggak ada upil.”

Nizam mengangkat alis. “Masih ada, tuh di dekat hidung kamu.”

Ia menunjuk. Inara mendekatkan wajahnya ke kaca, menatap lebih teliti, lalu terdiam beberapa detik.

“Oh.”

Ia menurunkan kaca perlahan dan menatap Nizam dengan wajah memerah. “Ini bukan upil, Pak.”

“Lalu apa?” tanya Nizam santai.

“Ini… tahi lalat.”

Hening sepersekian detik. Nizam berkata dengan nada santai yang justru lebih menyebalkan, “Tahi lalat di hidung? Apa kamu sering main di TPA?”

Inara membeku.

"Dasar sembarangan kalau ngomong!"

Tangannya mengepal di bawah meja. Ia kesal bukan main. Namun lagi-lagi, ia menahan diri, mengumpat di hadapan CEO perusahaan besar bukan ide cerdas meski hati kecilnya ingin sekali melakukannya.

“Sekarang,” kata Nizam, kembali serius, “apa alasan kamu ingin bekerja di perusahaan saya?”

Pertanyaan itu melayang di udara. Inara terdiam. Biasanya, ia sudah menyiapkan jawaban rapi, tentang visi, kontribusi, profesionalisme, namun rasa kesal yang menumpuk sejak pagi membuat lidahnya kelu.

Nizam menyipitkan mata.

“Hei,” panggilnya keras. “Upil. Kamu dengar tidak?”

Inara tersentak, tanpa sempat berpikir ...

“Dasar bos galak,” gumamnya spontan.

Ruangan mendadak sunyi. Riza tak kuasa menahan tawa yang langsung pecah, lalu buru-buru menutup mulut ketika sadar sedang berada di hadapan Nizam. Wajah Nizam berubah.

“Apa yang kamu bilang?” suaranya rendah, berbahaya. “Kamu berani mengumpat saya?”

Inara tersadar sepenuhnya.

Astaga.

“A-anu… maaf, Pak!” Ia langsung berdiri setengah dari kursinya. “Saya tidak bermaksud, saya ...”

“Kamu tahu sedang bicara dengan siapa?” potong Nizam tajam.

Inara mengangguk cepat. “CEO Niaga Perkasa.”

“Kamu menyebut saya bos galak?”

Inara menelan ludah. “Keceplosan, Pak.”

Riza menunduk, menahan senyum, Nizam memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang.

Aneh. Gadis ini seharusnya sudah ia usir sejak lima menit pertama, kurang disiplin, terlambat, penampilan berantakan dan kurang ajar pula, tapi kenapa ia belum menyuruhnya keluar?

“Jawab pertanyaan saya,” ucap Nizam akhirnya. “Kenapa kamu ingin bekerja di sini?”

Kali ini Inara menjawab. Dengan suara lebih tenang, lebih terkontrol. Ia bicara tentang latar belakang pendidikannya, tentang ketertarikannya pada manajemen keuangan, tentang keinginannya bekerja di perusahaan yang profesional dan menantang. Tak berlebihan, tak bertele-tele.

Nizam mendengarkan, tanpa menyela, tiga puluh menit berlalu tanpa terasa. Ketika wawancara selesai, Nizam menutup map di hadapannya.

“Kamu boleh keluar,” katanya singkat.

Inara mengangguk. “Terima kasih atas waktunya, Pak.”

Begitu pintu tertutup, Nizam bersandar ke kursinya.bia mengambil selembar kertas, menuliskan tiga nama.bLalu ia mencondongkan tubuh ke arah Riza dan berbisik,

“Peserta wawancara terakhir di bawah pengawasan saya.”

Riza menoleh cepat. “Bos… tumben.”

Tatapan Nizam langsung mengeras.

“Kenapa?” suaranya meninggi. “Tidak boleh?”

Riza menegakkan tubuh. “Siap, Bos.”

Di dalam hati, Nizam mengakui satu hal Gadis bernama Inara Prameswari itu… buat penasaran. Ia ingin tahu sejauh apa gadis itu mampu bertahan di dunia yang selama ini ia kuasai dengan dingin.

**

Begitu Inara keluar dari ruang wawancara, seluruh mata spontan tertuju padanya. Enam kandidat lain yang masih menunggu di ruang tunggu saling pandang.

Mereka sadar satu hal : waktu wawancara peserta terakhir itu jauh lebih lama dari mereka semua. Dari wajah Inara yang pucat dan langkahnya yang lelah, terbayang betapa menegangkannya sesi tadi.

“Lama amat wawancaranya,” seorang wanita cantik berambut sebahu mendekatinya. “Kamu nggak apa-apa?”

Inara tersenyum hambar. “Ya mau gimana lagi. Bosnya galak. Salah ngomong dikit bisa salah semua. Mending diam.”

Wanita itu mengangguk simpati. “Aku Bunga.”

“Inara.”

“Pesimis, ya?” tanya Bunga pelan.

Inara mengangguk. “Nggak apa-apa. Kalau gagal, mungkin rezekiku di tempat lain.” Ia lalu berdiri. “Aku permisi duluan.”

“Eh? Nggak nunggu pengumuman?” Bunga heran. “Lima menit lagi, loh.”

“Nggak usah,” jawab Inara ringan. “Aku sudah yakin nggak bakal diterima.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan enam kandidat lain yang masih menunggu dengan rasa penasaran. Lift menutup perlahan, membawa Inara turun ke lantai dasar. Sepanjang perjalanan, ia mengingat ucapan sang CEO.

"Tikus got."

Ia menghela napas. “Iya juga sih, hari ini aku memang berantakan.”

Di lantai atas, pengumuman dibacakan.

“Tiga kandidat yang diterima : Bunga Larasati, Dimas Pradana, dan Inara Prameswari.”

Bunga terkejut. “Pak… Mbak Inara sudah pergi. Paling baru sampai lobi.”

Riza langsung menegang. Ia menoleh ke Pak Seno dan berbisik cepat, “Pak, tolong cari dia sekarang. Kalau Bos tahu, bisa marah besar.”

Telepon langsung berdering. Foto Inara dikirim ke keamanan. Di lobi, Inara hampir mencapai pintu keluar ketika dua petugas keamanan mendadak menarik lengannya.

“Hei! Lepasin!” teriaknya panik. “Kalian mau apa?!”

Ia meronta, memukul kepala salah satu sekuriti dengan tas tangannya. “Dasar kurang ajar! Culik orang, ya?!”

“Maaf, Mbak. Ikut kami,” ujar sekuriti tegas.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang CEO terbuka mendadak. Inara didorong masuk. Rambutnya acak-acakan seperti singa, napasnya terengah, dan umpatan langsung meluncur.

“Dasar orang-orang nggak punya otak! Main tarik sembarangan! Hidupku apes hari ini! Wawancara gagal, penampilan kayak tikus got.”

Kata-katanya terhenti. Lima pasang mata menatapnya. Nizam, Riza, Pak Seno, Bunga dan Dimas.

Hening.

“Belum juga bekerja,” ucap Nizam ketus, “kamu sudah membuat keributan.”

Inara, yang belum sadar apa pun, menjawab datar, “Ya nggak apa-apa. Nggak diterima juga bukan akhir dunia. Saya bisa cari kerja di tempat lain.”

Ia berbalik hendak membuka pintu.

“Inara,” panggil Pak Seno cepat. “Jangan keluar dulu. Pak CEO mau memberi arahan.”

“Arahan?” Inara menoleh bingung. “Buat apa? Saya kan nggak lulus.”

Pak Seno tersenyum kecil. “Justru karena kamu lulus.”

Dunia Inara seolah berhenti. Ia melangkah maju dengan tubuh gemetar, tiba-tiba ...

"Bruk."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bos Galak, I Love U   Bab 55 # Di luar dugaan

    Hening itu terasa panjang bagi Nizam. Ia bisa mendengar detak jam dinding di ruang keluarga rumah tua keluarga Wijaya. Juga detak jantungnya sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya. “Nak Nizam…” suara Nenek akhirnya terdengar. “Iya, Nek…” jawabnya hati-hati. “Menikah itu bukan perkara gampang. Apa kamu sudah benar-benar mengenal Nana?” Nizam menelan ludah. “Dia cucu kesayangan Nenek,” lanjut wanita sepuh itu. “Nenek sangat menyayanginya. Sejak kecil Nenek memanjakannya. Apa kamu akan tahan dengan sikap manjanya?” Papa Wijaya melirik ibunya sekilas. Meski kalimat itu terdengar seperti ujian, ada nada protektif yang wajar di dalamnya. Ia tahu betul putrinya memang sering bersikap sesuka hati walau tak pernah melampaui batas. “Nenek tidak pernah melarang apa pun yang ia lakukan selama itu baik,” sambung Nenek. “Dan Nenek tidak mau mendengar hal buruk tentang cuc

  • Bos Galak, I Love U   Bab 54 # Banyak hal yang terjadi

    Pintu ruang rawat itu menutup pelan di belakang Saka.Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan hanya karena luka di kepala dan lengannya yang masih berdenyut, tetapi juga karena sesuatu yang mengganjal di dadanya.Ia tak pernah membayangkan pertemuan itu akan terasa seperti tadi. Wajah pucat Mira. Tangis yang berusaha ia tahan. Kalimat lirihnya tentang musibah. Saka berhenti sejenak di lorong rumah sakit. Bau antiseptik kembali menusuk indra penciumannya. Ia memejamkan mata beberapa detik. Kejadian itu berputar lagi di kepalanya. Mobilnya melaju cukup cepat sore itu. Ia ingat jelas jalan yang sedikit lengang, pikirannya sibuk memikirkan urusan pekerjaan. Lalu dari jalur lain, sebuah mobil melesat kencang ke arahnya. Refleks. Setir dibanting. Rem diinjak, namun jarak terlalu dekat. Benturan keras. Suara kaca pecah. Tubuhnya terhuyung ke depan, sabuk pengam

  • Bos Galak, I Love U   Bab 53 # Kunjungan

    Aroma antiseptik memenuhi lorong rumah sakit yang dingin. Lampu-lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan langkah-langkah yang hilir mudik sejak sore tadi. Mira masih berada di ruang pemulihan pasca operasi. Tubuhnya terbaring lemah, tertutup selimut tipis, wajahnya pucat karena pengaruh anestesi yang belum sepenuhnya hilang. Di luar kamar perawatan, Akbar duduk di kursi pengunjung. Kedua tangannya saling bertaut, sikunya bertumpu pada lutut. Tatapannya kosong, sesekali menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Operasi itu berlangsung lebih lama dari yang ia perkirakan. Bayangan mobil ringsek dan tubuh Mira yang terjepit kembali terlintas di benaknya. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tak lama berselang, sepasang suami-istri paruh baya menghampiri. Pak Assegaf, Ayah dan Bunda Adelia. “Bagaimana, Nak Akbar? Mira sudah sadar?” tanya sang ayah dengan wajah penuh kekh

  • Bos Galak, I Love U   Bab 52 # Ngambeg

    Suasana meja pertemuan kembali mencair setelah kalimat tegas Nizam menggantung di udara. “Dia calon istriku.” Beberapa detik sunyi sempat tercipta, sebelum akhirnya tawa dan candaan pecah bersahut-sahutan.Inara yang sempat membelalak kini berusaha mengendalikan ekspresinya. Ia menarik napas pelan, lalu memasang senyum profesional. Untungnya, ia bukan orang baru di lingkungan mitra Niaga Perkasa. Beberapa wajah di meja itu sudah sering ia temui di kantor pusat Jakarta. Ia pernah presentasi di hadapan mereka, pernah berdiskusi soal strategi keuangan dan pemasaran, bahkan ikut dalam rapat-rapat penting. “Inara kan yang pegang keuangan marketing regional, ya?” sapa salah satu mitra. “Iya, Pak,” jawabnya ramah. Obrolan pun mengalir santai. Inara cepat berbaur. Ia berbincang ringan tentang perkembangan pasar, membahas peluang distribusi di Jawa Tengah, hingga menanggapi cand

  • Bos Galak, I Love U   Bab. 51 # Kecemburuan

    Di Semarang, suasana rumah tua milik keluarga Wijaya terasa jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk Jakarta. Angin sore berembus pelan melewati halaman luas dengan pohon-pohon rindang yang sudah puluhan tahun berdiri kokoh. Nizam baru saja menutup telepon dari Akbar. Kabar tentang kecelakaan Mira membuatnya cukup terpukul, meski ia berusaha tetap tenang. Bukan apa-apa. Mira adalah putri sahabat lama papanya. Sejak awal bekerja di Niaga Perkasa, gadis itu memang “dititipkan” secara tidak langsung. Nizam merasa punya tanggung jawab moral. Ia mengembuskan napas panjang. Inara yang duduk di kursi teras memperhatikannya. “Gimana, Bang? Kondisi Mira?” “Sudah dioperasi. Akbar yang urus di sana. Paling Papa juga turun tangan, apalagi ini anak temannya.” Inara mengangguk pelan. “Semoga cepat sadar, ya.” “Iya.” Beberapa detik hening.

  • Bos Galak, I Love U   Bab 50 # Kecelakaan

    Jakarta masih sibuk seperti biasa, tetapi hari itu terasa jauh lebih berat bagi Akbar. Setelah memastikan sendiri kondisi para korban, ia berdiri cukup lama di lorong rumah sakit sebelum akhirnya memberanikan diri menghubungi Adelia.Tangannya sempat gemetar ketika mencari nama Lia di daftar kontak.Telepon berdering beberapa kali.“Halo, Mas Akbar?”Suara itu lembut seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun di sana. Justru itu yang membuat dada Akbar semakin sesak.“Lia… kamu lagi di mana?”“Di ruangan mas. Kenapa, Mas?”Akbar menelan ludah. Ia harus berhati-hati. Tidak boleh membuat Lia panik.“Kamu lagi banyak kerjaan?”“Nggak, baru saja selesai. Ada apa sih, Mas? Suaranya kok beda?”Akbar mengembuskan napas pelan. “Lia… kamu harus tetap tenang, ya. Mas cuma mau kasih kabar. Tadi siang ada kecelakaan di Jalan Sudirman.”Hening beberapa detik.“Kecelakaan?” suara Lia mulai be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status