LOGINMalam itu seharusnya menjadi salah satu malam paling menentukan dalam perjalanan Niaga Perkasa.
Dua investor besar sudah memastikan kehadiran. Tuan Tanaka dari Jepang, perwakilan konsorsium teknologi logistik yang selama ini hanya mau bekerja sama dengan perusahaan berdisiplin tinggi, dan Mr. Dante dari Malaysia, pengusaha senior yang terkenal tidak pernah berurusan dengan perusahaan yang manajemennya tidak solid. Keduanya datang khusus untuk bertemu Nizam, namun tak satu pun dari mereka mendapatkannya. Di ruang VIP hotel, suasana berubah kaku, Gunawan Samudra berdiri dengan punggung tegak, meski wajahnya menyimpan kekesalan yang tak diucapkan. Riza berdiri di sampingnya, memegang tablet berisi jadwal yang kini berantakan. “Putra saya tidak bisa hadir malam ini,” ucap Gunawan dengan bahasa Inggris yang tenang tapi tegas. “Ada kondisi darurat kesehatan.” Tuan TanakMalam itu seharusnya menjadi salah satu malam paling menentukan dalam perjalanan Niaga Perkasa. Dua investor besar sudah memastikan kehadiran. Tuan Tanaka dari Jepang, perwakilan konsorsium teknologi logistik yang selama ini hanya mau bekerja sama dengan perusahaan berdisiplin tinggi, dan Mr. Dante dari Malaysia, pengusaha senior yang terkenal tidak pernah berurusan dengan perusahaan yang manajemennya tidak solid. Keduanya datang khusus untuk bertemu Nizam, namun tak satu pun dari mereka mendapatkannya. Di ruang VIP hotel, suasana berubah kaku, Gunawan Samudra berdiri dengan punggung tegak, meski wajahnya menyimpan kekesalan yang tak diucapkan. Riza berdiri di sampingnya, memegang tablet berisi jadwal yang kini berantakan. “Putra saya tidak bisa hadir malam ini,” ucap Gunawan dengan bahasa Inggris yang tenang tapi tegas. “Ada kondisi darurat kesehatan.” Tuan Tanak
Malam itu, Nizam tidak langsung pulang. Ia duduk lama di kursi belakang mobil, menatap keluar jendela tanpa fokus. Lampu-lampu jalanan berpendar seperti bayangan yang tak bisa ia sentuh. Dadanya sesak, perasaan yang ia benci, yang tak pernah ia beri izin untuk tinggal. “Riza,” ucapnya akhirnya, suaranya datar tapi berat. “Iya, Bos?” “Antar saya ke rumah Inara.” Riza menoleh cepat. “Sekarang, Bos?” “Sekarang.” Mobil berbelok. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Riza terlalu mengenal bosnya untuk berdebat. Begitu mobil berhenti di depan rumah Inara, Nizam langsung menyadari sesuatu yang membuat rahangnya mengeras. Sebuah mobil mewah terparkir rapi di halaman. Bukan mobil Inara. Bukan pula mobil kantor. Nizam menatapnya lama, seolah berharap mobil itu lenyap jika ia cukup lama menatap. N
Ruangan itu mendadak terasa sempit. Nizam berdiri kaku di dekat pintu, sementara Inara masih berdiri beberapa langkah dari papanya. Wajahnya jelas menyimpan keterkejutan bukan hanya karena pertemuan tak terduga, tapi karena situasi yang terasa… janggal. “Inara,” ulang Gunawan dengan suara hangat. “Silakan duduk.” Inara menoleh sekilas ke arah Nizam, lalu menurut. “Papa kenal Inara dari mana?” tanya Nizam akhirnya, berusaha terdengar biasa. Gunawan menyesap kopinya dengan santai. “Kemarin di mall.” Nizam mengernyit. “Mall?” Gunawan mengangguk. “Papa kecopetan. Jatuh dan karyawanmu ini yang menolong.” Inara langsung menunduk. “Kebetulan saja, Pak.” “Kebetulan yang sangat berarti,” jawab Gunawan cepat. “Bahkan membayarkan belanjaan Papa lima juta lebih.” Nizam menoleh tajam ke arah Inara. “Kamu bayar?” Inara tersenyum canggung. “Bermaksud membantu pak, namanya orang baru kecopetan, nanti juga .... " “Nanti juga apa?” potong Nizam, nadanya naik. “Kamu pikir lima
Di lantai dua puluh lima Niaga Perkasa, suasana kantor masih terasa tegang meski jam kerja hampir usai. Beberapa karyawan memilih bertahan di depan layar, berpura-pura sibuk, hanya agar tak perlu berpapasan langsung dengan sang bos galak yang sejak pagi seperti kehilangan rem. Di ruangannya, Nizam Respati Anwar berdiri membelakangi pintu, menatap jendela besar tanpa benar-benar melihat apa pun. Bayangan Inara bersama pria itu terus terulang di kepalanya. Cara Inara tersenyum, cara pria itu menunduk sedikit saat berbicara, cara mereka berjalan berdampingan terlihat cocok. Nizam mengembuskan napas keras. " Kenapa aku peduli?" Pintu diketuk pelan. “Masuk,” ucapnya dingin. Bella melangkah masuk, mengenakan gaun kerja elegan. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. “Belum pulang zam?” tanyanya lembut. Nizam tak menoleh. “Masih ada yang harus diselesaikan.” Bella mendekat, berdiri di samping meja. “Atau… masih kepikiran sesuatu?”
“JANGAN MEMBELA.” Nada Nizam meninggi. “Kamu lulusan luar negeri, kan?” “Iya, Pak.” “Harusnya kamu tahu, angka sekecil ini bisa berdampak besar!” Inara mencoba tenang. “Kalau Bapak beri saya waktu ...” “WAKTU?!” Nizam berdiri. Kursinya bergeser keras. “Kamu pikir perusahaan ini mainan?!” Inara tercekat. “Saya tidak pernah bilang begitu, Pak.” “Ekspresi kamu bilang.” Hening. Inara menggenggam jemarinya. Dadanya naik turun. “Pak,” katanya pelan tapi tegas, “kalau ada kesalahan, saya siap diperbaiki. Tapi saya tidak bisa bekerja dengan teriakan.” Kalimat itu jatuh seperti bom kecil. Riza yang berdiri di sudut ruangan refleks menoleh. Nizam menatap Inara lama. “Kamu mengajari saya cara memimpin?” “Tidak,” jawab Inara lirih. “Saya hanya ingin bekerja dengan sehat.” Hening makin menekan. “Keluar.” Suara Nizam rendah. Dingin. “Sekarang.” Inara menunduk singkat. “Baik, Pak.” Begitu pintu tertutup, Riza menghela napas panjang. “Bos…” “JANGAN B
HAH?!” “Turki loh, Inara!” “Pak bos ke mana?” “Lagi jalan sama Mbak Bella.” “Yah… nggak seru dong.” Inara mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Anggap aja istirahat pindah tempat.” “Dasar kamu,” kata Bunga. “Masih saja mencoba menghibur hati.” Inara tersenyum. Panggilan ditutup. Baru saja ponsel ditaruh, layar menyala lagi. Radit menelepon. “Nana?” “Iya, Mas.” “Loh ... kenapa dengan suara kamu terdengar sengau?” “Aku flu Mas” “Kamu di mana?” “Di Turki.” Hening. “…Turki?” “Iya, Mas. Dapet doorprize dari kantor. Liburan bareng bos.” “Kamu ke Turki bareng bos?” “Iya.” Inara bersin. “Matikan dulu. Aku video call,” kata Radit cepat. Panggilan terputus, lalu muncul video call Radit. Begitu wajah Inara muncul di layar, Radit mengernyit. “Kamu demam flu,” katanya tegas. “Kelihatan banget ya?” “Kamu pucat.” “Cuma flu Mas.” “Kamu pasti kebanyakan permen sama es krim.” Inara tertawa kecil. “Mas selalu tau.” “Kamu dari dulu gitu.” “Mas ngapain n







