共有

Bab 48 # Flasback

last update 公開日: 2026-02-17 16:00:39
Sore itu, setelah hampir setengah hari membantu Papa Wijaya di bengkel furnitur belakang rumah, Nizam merasa tangannya sedikit pegal, sesuatu yang jarang ia rasakan selama ini.

Biasanya yang ia pegang adalah laporan keuangan, proposal kerja sama, atau kontrak bisnis bernilai miliaran. Hari ini ia memegang amplas dan kuas pernis.

Aneh, tapi menenangkan.

Papa Wijaya berdiri di sampingnya, memperhatikan detail ukiran pada kaki meja yang sedang mereka haluskan.

“Dalam bisnis, Zam,” ucap Pap
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Bos Galak, I Love U   Bab 58 # Membangun Rasa

    Pasca kejadian di hotel itu, pikiran Nizam tak pernah benar-benar tenang. Ia duduk sendirian di teras rumah nenek Inara, memandangi halaman depan yang teduh. Angin siang itu berembus pelan, menggoyangkan daun-daun mangga tua yang sudah puluhan tahun berdiri di sana. Suasana tenang itu kontras dengan isi kepalanya yang riuh. Ia mengingat kembali kejadian di ruang rapat hotel. Minuman yang terasa aneh. Tubuhnya yang tiba-tiba panas dan kehilangan kendali. Sosok perempuan asing yang mencoba memanfaatkan situasi. Calon investor. Nizam menghela napas panjang. “Apa sebenarnya yang ada di benaknya?” gumamnya pelan. Selama berbisnis di Jakarta dan Bali, ia belum pernah mengalami jebakan serendah itu. Kompetisi keras? Sudah biasa. Permainan harga? Wajar. Tapi menjebak secara personal hingga mencoreng nama baik? Itu di luar nalarnya. Ia meremas jemarinya sendiri. Tidak. Ia tidak ingin hidu

  • Bos Galak, I Love U   Bab 57 # Tekad

    Jakarta kembali bergerak dalam ritme cepatnya. Di lantai tertinggi gedung pusat Niaga Perkasa, Akbar sudah kembali duduk di balik meja kerjanya. Wajahnya terlihat lebih matang dibanding beberapa bulan lalu. Ada ketegasan baru di sana dan juga keyakinan. Hari ini ia berencana meninjau pabrik induk pasca kerusakan mesin utama yang sempat melumpuhkan sebagian produksi. Revitalisasi fasilitas pelengkap menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Sebelum berangkat, ia masuk ke ruang kerja Pak Gunawan. “Pa, Akbar berangkat ke pabrik sekarang.” Pak Gunawan mengangguk. “Papa serahkan rencana revitalisasi itu ke kamu, Bar. Papa mau lihat cara kamu memimpin langsung di lapangan.” Akbar tersenyum mantap. “InsyaAllah pa, Akbar akan jalankan sebaik mungkin.” Ia keluar dari ruangan dengan langkah pasti. Sebelum memasuki lift, ia membuka

  • Bos Galak, I Love U   Bab 56 # Konspirasi Terselubung

    Inara berdiri tegak di ambang pintu kamar 1001.Tatapannya menelusuri wanita yang berdiri di hadapannya dari ujung kepala sampai kaki. Gaun ketat berwarna merah menyala membalut tubuhnya. Riasannya tebal, parfumnya menyengat. Senyumnya terlalu percaya diri.Inara langsung bisa menebak wanita seperti apa yang sedang berdiri di depannya.“Siapa kamu?” ulang Inara, nada suaranya dingin namun tajam.Wanita itu mengangkat dagu. “Saya yang harusnya bertanya. Kamu siapa dan sedang apa di kamar ini bersama Pak Nizam?”Inara tertawa kecil. Bukan karena lucu tapi karena kesal.“Untuk apa kamu bertanya seperti itu?” balasnya tegas. “Apa yang kalian lakukan pada Pak Nizam, hah?”Wanita itu terkekeh, terdengar dibuat-buat.“Hey, wanita… eh siapapun kamu,” ujarnya sinis, “aku ini kekasihnya Pak Nizam.”Inara memejamkan mata sesaat, menahan amarah yang mulai mendidih.“Kalian pikir aku orang bodoh?” suaranya meninggi. “Kalian pasti punya niat buruk. Kalian ingin menjebaknya!”Tatapan Inara berubah t

  • Bos Galak, I Love U   Bab 55 # Di luar dugaan

    Hening itu terasa panjang bagi Nizam. Ia bisa mendengar detak jam dinding di ruang keluarga rumah tua keluarga Wijaya. Juga detak jantungnya sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya. “Nak Nizam…” suara Nenek akhirnya terdengar. “Iya, Nek…” jawabnya hati-hati. “Menikah itu bukan perkara gampang. Apa kamu sudah benar-benar mengenal Nana?” Nizam menelan ludah. “Dia cucu kesayangan Nenek,” lanjut wanita sepuh itu. “Nenek sangat menyayanginya. Sejak kecil Nenek memanjakannya. Apa kamu akan tahan dengan sikap manjanya?” Papa Wijaya melirik ibunya sekilas. Meski kalimat itu terdengar seperti ujian, ada nada protektif yang wajar di dalamnya. Ia tahu betul putrinya memang sering bersikap sesuka hati walau tak pernah melampaui batas. “Nenek tidak pernah melarang apa pun yang ia lakukan selama itu baik,” sambung Nenek. “Dan Nenek tidak mau mendengar hal buruk tentang cuc

  • Bos Galak, I Love U   Bab 54 # Banyak hal yang terjadi

    Pintu ruang rawat itu menutup pelan di belakang Saka.Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan hanya karena luka di kepala dan lengannya yang masih berdenyut, tetapi juga karena sesuatu yang mengganjal di dadanya.Ia tak pernah membayangkan pertemuan itu akan terasa seperti tadi. Wajah pucat Mira. Tangis yang berusaha ia tahan. Kalimat lirihnya tentang musibah. Saka berhenti sejenak di lorong rumah sakit. Bau antiseptik kembali menusuk indra penciumannya. Ia memejamkan mata beberapa detik. Kejadian itu berputar lagi di kepalanya. Mobilnya melaju cukup cepat sore itu. Ia ingat jelas jalan yang sedikit lengang, pikirannya sibuk memikirkan urusan pekerjaan. Lalu dari jalur lain, sebuah mobil melesat kencang ke arahnya. Refleks. Setir dibanting. Rem diinjak, namun jarak terlalu dekat. Benturan keras. Suara kaca pecah. Tubuhnya terhuyung ke depan, sabuk pengam

  • Bos Galak, I Love U   Bab 53 # Kunjungan

    Aroma antiseptik memenuhi lorong rumah sakit yang dingin. Lampu-lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan langkah-langkah yang hilir mudik sejak sore tadi. Mira masih berada di ruang pemulihan pasca operasi. Tubuhnya terbaring lemah, tertutup selimut tipis, wajahnya pucat karena pengaruh anestesi yang belum sepenuhnya hilang. Di luar kamar perawatan, Akbar duduk di kursi pengunjung. Kedua tangannya saling bertaut, sikunya bertumpu pada lutut. Tatapannya kosong, sesekali menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Operasi itu berlangsung lebih lama dari yang ia perkirakan. Bayangan mobil ringsek dan tubuh Mira yang terjepit kembali terlintas di benaknya. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tak lama berselang, sepasang suami-istri paruh baya menghampiri. Pak Assegaf, Ayah dan Bunda Adelia. “Bagaimana, Nak Akbar? Mira sudah sadar?” tanya sang ayah dengan wajah penuh kekh

  • Bos Galak, I Love U   bab 41 # Keputusan Nizam

    Akbar masih berada di rumah Adelia ketika azan magrib berkumandang. Suaranya menggema lembut dari masjid kecil di ujung perumahan, berpadu dengan suasana rumah yang hangat dan hidup. Bunda Adelia langsung beranjak, mengajak semua bersiap. “Magrib dulu ya, Nak,” ucapnya ramah.

  • Bos Galak, I Love U   Bab 40 # Yang Tak Terucap

    Mobil Akbar berhenti tepat di depan apartemen Mira. Lampu-lampu gedung menjulang itu menyala temaram, menciptakan bayangan panjang di kaca jendela. Sepanjang perjalanan, Mira lebih banyak diam. Bukan karena tidak ingin bicara, melainkan karena hatinya sedang sibuk menata kecewa yang tak

  • Bos Galak, I Love U   Bab 39 #Pengakuan

    Mr. Tanaka terlihat benar-benar menikmati makan malam itu. Bukan hanya karena hidangan khas Indonesia yang tersaji hangat di atas meja restoran eksklusif tersebut, melainkan juga karena suasana yang tercipta, hangat, bersahabat, dan jauh dari kesan kaku pertemuan bisnis yang b

  • Bos Galak, I Love U   Bab 39 # Antara Hati dan Tanggung Jawab

    Pagi datang terlalu cepat bagi Inara. Ia terbangun dengan perasaan asing, bukan cemas atau gugup, melainkan hangat. Ada sesuatu yang terasa berbeda di udara apartemennya pagi itu. Sunyi, tapi tidak kosong. Inara bangkit perlahan dari tempat tidur. Ia masih mengenakan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status