INICIAR SESIÓNBenar kata Fara. Putra mereka, Sefan, terlihat begitu semangat dan bahagia masuk ke TK swasta pilihan sang mama. Langkah-langkah kecil bocah itu tampak riang saat melintasi gerbang sekolah berpagar mera tersebut, menyapa guru-guru dengan senyum mengembang tanpa raut cemas sedikit pun. "Tuh kan, anaknya senang," ujar Fara sambil menyenggol lengan Sean yang berdiri tegak di sampingnya, mengamati sang putra dari kejauhan. "Iya," jawab Sean lesu. Pria itu masih menyisakan sedikit rasa gondok di hatinya, walau matanya tak bisa berbohong melihat binar bahagia di wajah Sefan. "Anak itu diajarin mandiri sejak dini, Mas. Terus biar enggak pilih-pilih teman, biar enggak pilih-pilih kalangan genggong. Enggak kayak kamu, semua pilih-pilih. Dulu aja kalau enggak gara-gara aku ngidam sayur asam terus kamu nyoba dan suka, sampai sekarang paling makanannya tetap western food. Enggak bakalan tuh nyentuh makanan lokal," cerocos Fara menohok, membongkar masa lalu suaminya yang terkadang terlalu kaku
Beberapa hari berselang setelah hebohnya insiden Sean mauk rumah sakit dan pengumuman kehamilan Fara, kondisi fisik Sean mulai membaik meski rasa mualnya sesekali masih datang. Sekarang, fokus pasangan suami istri itu berganti. Sean dan Fara tengah sibuk mempersiapkan pendaftaran putra pertama mereka, Sefan, yang akan segera memasuki bangku Taman Kanak-kanak (TK).Namun, persiapan itu tidak berjalan mulus. Di atas meja kaca ruang tengah, belasan brosur sekolah bertumpuk. Keduanya berdebat sangat alot karena Sean ingin memasukkan putranya ke sekolah favorit berstandar internasional dengan fasilitas serba mewah dan kurikulum luar negeri. Menurutnya, itu investasi terbaik untuk masa depan Sefan.Namun, Fara tidak setuju sama sekali. Wanita itu lebih menginginkan Sefan masuk ke sekolah TK swasta biasa yang lokasinya ramah anak dan tak jauh dari rumah mereka. Fara merasa dari kecil Sefan lebih baik diajarkan untuk tidak terlalu mewah dan bisa bergabung bersama teman-teman yang biasa, buka
Setelah kepulangan mereka dari rumah sakit, suasana rumah keluarga Narendra berubah total. Sean yang sudah diperbolehkan pulang memang tampak lebih segar, tetapi perilakunya berubah 180 derajat. Pria yang biasanya tampil gagah, berwibawa, dan dingin sebagai pemimpin perusahaan itu kini berubah menjadi sangat manja.Sejak tiba di rumah utama keluarga Narendra, Sean sama sekali tidak mau lepas dari Fara. Di mana pun istrinya duduk, Sean akan langsung merapat, menyandarkan tubuh jangkungnya, lalu bergoleran dan menempelkan kepalanya di lengan sang istri. Fara yang sedang mencoba menikmati secangkir teh hangat di sofa ruang keluarga sampai dibuat gedek sendiri oleh tingkah suaminya."Mas, lepas dulu sebentar. Aku mau minum teh ini, lho," bisik Fara sambil mencoba menggeser lengan Sean yang melingkar erat di pinggangnya.Bukannya melepas, Sean justru makin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di lipatan baju Fara. "Gak mau... Mau gini aja."Tingkah ajaib Sean tak luput dari
Hari-hari setelah kepulangan dari rumah sakit menjadi awal babak baru yang sangat berbeda bagi keluarga kecil Fara Sean Narendra. Rumah yang seminggu lalu terasa sepi dan mencekam kini kembali bernyawa. Bau masakan hangat dari dapur dan gelak tawa Sefan yang menggema di ruang tengah seolah membilas habis jejak-jejak ketegangan yang sempat meretakkan rumah tangga keduanya. Kabar kehamilan Fara yang memasuki usia lima minggu benar-benar menjadi titik balik bagi Sean. Sindrom kehamilan simpatis (Couvade Syndrome) yang dialaminya—mual hebat, pusing, dan rasa lemas yang luar biasa perlahan mereda seiring berkurangnya beban emosional dan rasa bersalah di dadanya. Namun, bekas pengalaman berharga itu mengubah cara pandang Sean secara dramatis. Ia tidak lagi memandang kesibukan kantor sebagai tolok ukur utama keberhasilannya sebagai seorang lelaki. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar utama dengan lembut. Sean terbangun lebih awal dari biasanya. Tidak ada lagi ketergesaan
Tanpa membuang waktu, Sean yang tak sabar langsung meminta dokter spesialis kandungan untuk memeriksa kondisi Fara hari itu juga. Masih dengan tiang infus yang di dorong pelan di sampingnya, Sean menggenggam erat jemari sang istri sepanjang lorong menuju ruang USG. Tangannya yang menancap jarum infus terasa dingin dan agak bergetar, tetapi genggamannya memancarkan kehangatan serta rasa cemas yang tak terbendung. Ini adalah momen yang paling mereka nanti-nantikan sejak bertahun-tahun berusaha dan berupaya memberikan adik untuk Sefan. Lorong rumah sakit yang sepi seolah menjadi saksi bisu betapa dua insan itu merindukan satu sama lain. Farah menatap samping wajah Sean yang masih pucat, ada rasa bersalah yang menyelip di dada wanita itu karena sempat meragukan ketulusan suaminya. Namun, Sean hanya memberikan senyuman paling hangat yang ia miliki, mencoba menenangkan hati Farah meski ia sendiri diselimuti debar dada yang tak menentu. Di dalam ruang pemeriksaan yang remang, Fara
Suasana koridor rumah sakit terasa mencekam saat Sean dipindahkan ke ruang pemeriksaan. Setelah hampir satu jam diperiksa secara intensif dan diberikan infus vitamin serta penguat lambung, dokter keluar dari ruangan dengan senyum tipis yang membingungkan keluarga Narendra. Mama Sarah langsung menghampiri dokter tersebut dengan raut cemas. "Gimana keadaan anak saya, Dok? Apa asam lambungnya parah banget sampai pingsan begitu?" Dokter terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. "Ibu, Bapak, tidak perlu khawatir berlebihan. Kondisi Pak Sean memang melemah karena dehidrasi dan tidak ada asupan makanan yang masuk. Tapi pencetus utama rasa mual, pusing, dan muntah-muntahnya bukan semata-mata karena maag." Semua orang di koridor itu saling pandang, bingung. "Lalu karena apa, Dok?" tanya Papa Narendra menyela. "Dalam dunia medis, ini dinamakan Couvade Syndrome atau sindrom kehamilan simpatis," jelas dokter dengan ramah. "Ini kondisi unik di mana calon Papa ikut merasakan gejala fisi
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten
"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m







