Se connecterSuasana kamar Sean di rumah mama papanya sangat tenang. Cahaya lampu kamar yang temaram menciptakan bayangan lembut di dinding, memberikan kesan hangat yang kontras dengan hiruk-pikuk pesta pengumuman jenis kelamin pewaris baru keluarga Narendra yang baru saja selesai beberapa jam lalu. Bunga-bunga segar sisa dekorasi masih menyisakan aroma harum yang samar di sudut ruangan. Fara dan Sean sedang berbaring santai di atas ranjang king size dengan seprai sutra yang halus. Namun, alih-alih beristirahat setelah hari yang panjang, Sean justru masih duduk bersandar di kepala ranjang. Sebuah MacBook Pro berada di pangkuannya, layarnya yang terang memantulkan cahaya ke wajahnya yang tampak serius sekaligus antusias. Fara, yang tadinya memejamkan mata, perlahan membuka kelopaknya. Rasa penasaran mengalahkan rasa kantuknya. Ia miring ke samping, mencoba mengintip apa yang sedang dikerjakan sang suami. Ternyata, layar itu tidak menampilkan laporan bisnis atau grafik saham yang biasanya me
Sepekan berlalu begitu cepat, Hari yang dinanti-nantikan oleh keluarga besar Narendra akhirnya tiba. Sinar matahari pagi yang cerah masuk melalui jendela kamar Fara dan Sean, seolah memberi restu pada hari istimewa ini. Fara berdiri di depan cermin, memperhatikan bayangannya sendiri dengan pakaian yang anggun namun nyaman untuk ibu hamil. Ia masih merasa gugup, namun kehadiran Sean di belakangnya, yang memeluk pinggangnya dengan lembut, mampu meredakan degup jantung yang tidak beraturan. "Kamu terlihat sangat cantik, Sayang," bisik Sean di dekat telinga Fara. Fara tersenyum ke arah cermin, lalu menoleh menatap suaminya. "Apa aku terlalu berlebihan? Bagaimana kalau mereka menganggapku terlalu banyak bergaya?" Sean tertawa kecil, mencium kening istrinya dengan kasih sayang. "Berhenti berpikir berlebihan. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Ingat, ada Mama dan Sella yang akan menjagamu." Sesampainya di kediaman utama keluarga Narendra, suasana sudah sangat ramai. Halaman luas y
Malam harinya, ruang keluarga di kediaman Sean dan Fara terasa lebih hangat. Aroma teh melati dan sisa tawa masih menggantung di udara, memberikan kenyamanan yang menyelimuti hati Fara. Setelah puas makan asinan bogor siang tadi, malam ini semuanya tengah duduk-duduk di sofa sembari berbincang ringan. Tangannya sesekali mengusap perutnya yang mulai membuncit, sementara Sean duduk tepat di sampingnya, jemarinya bertaut erat dengan jemari sang istri.Sebelum mereka benar-benar berpamitan untuk pulang ke rumah mereka sendiri, Mama Sarah meletakkan cangkir tehnya ke atas meja porselen dengan pelan. Matanya yang teduh menatap Fara dan Sean bergantian, memancarkan binar antusiasme yang sulit disembunyikan."Fara, Sean," panggil Mama Sarah lembut. "Mama ingin memberitahu sesuatu. Pekan depan, Papamu ingin mengadakan pertemuan keluarga besar. Acara ini akan dihadiri oleh kakek, nenek, paman, bibi, dan sepupu-sepupu Sean dari luar kota. Kami akan mengumumkan jenis kelamin cucu pertama keluar
Berita mengenai jenis kelami calon cucu keluarga Narendra sudah terdengar oleh seluruh keluarga, "Bayinya, laki-laki." informasi dari Sean bukan sekadar kabar angin belaka, melainkan sebuah gelombang kebahagiaan yang menyapu seluruh keluarga besar. Kabar mengenai jenis kelamin calon buah hati Fara dan Sean telah tersebar luas, memicu antusiasme yang tak terbendung. Ponsel Fara hampir tidak pernah berhenti bergetar. Alex dan Sella, Om dan Tante yang kini menetap di Surabaya, menjadi pihak yang paling heboh. Mereka tak henti-hentinya mengirimkan pesan suara yang penuh dengan tawa dan sorak-sorai, diselingi pesan teks berisi daftar perlengkapan bayi yang sudah mereka siapkan untuk dikirim segera ke Jakarta. Hari ini, suasana di kediaman Fara dan Sean terasa lebih hangat dari biasanya. Papa Narendra dan Mama Sarah memutuskan untuk berkunjung. Bagi pasangan muda itu, kehadiran orang tua bukan hanya sekadar silaturahmi, melainkan suntikan semangat yang luar biasa. Di ruang tengah, peman
Suasana di dalam ruang periksa dr. Adya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo terasa begitu tenang namun sarat akan antisipasi. Sesuai dengan rencana yang mereka susun bersama dr. Winda sebelumnya, hari ini Sean dan Fara akhirnya berada di sini untuk mendapatkan kepastian yang sudah membuat mereka penasaran selama berbulan-bulan.Setelah sesi konsultasi singkat, dr. Adya memberikan saran profesionalnya. "Untuk mendapatkan visualisasi yang lebih detail dan akurat mengenai kondisi janin serta memastikan apa yang ingin kalian ketahui, saya sarankan kita lakukan USG transvaginal," jelas dokter tersebut dengan nada menenangkan.Fara, yang memang sudah tidak sabar dan menyimpan rasa ingin tahu yang sangat besar, langsung mengangguk mantap. "Saya setuju, Dokter. Lakukan saja yang terbaik agar kita bisa melihatnya dengan jelas."Berbeda dengan istrinya yang begitu tenang, Sean justru terlihat sedikit tegang. Sisi protektifnya langsung muncul, ia merasa khawatir jika prosedur tersebut akan mem
Cahaya matahari pagi menyeruak masuk melalui celah gorden kamar, menyapa kulit Fara yang sedang bersiap-siap. Tepat di bulan ketujuh ini, perutnya memang sudah membuncit sempurna, membawa serta rasa antusias yang luar biasa. Sean, suaminya yang selalu sigap di sisinya, sudah berdiri di depan cermin, merapikan kemeja kerjanya dengan gerakan yang tenang. Hari ini adalah hari istimewa, hari di mana mereka akan mengintip wajah dan jenis kelamin buah hati yang selama ini begitu mahir bersembunyi di balik posisi yang tidak kooperatif saat USG. Sean tidak keberatan sedikitpun harus berangkat ke kantor lebih siang. Baginya, prioritas utama hari ini adalah memastikan kondisi kesehatan istri tercinta dan calon penerus keluarga mereka. Lagipula, perusahaan miliknya sudah memiliki sistem yang berjalan dengan baik. Meski adiknya, Sella, kini telah pindah ke Surabaya mengikuti suaminya, beban pekerjaan Sean tetap terkendali. Sean mengandalkan lenuh tamggung jawab kepada Ardi, asisten priba
Jet pribadi Sean mendarat di Chiang Mai saat fajar baru saja menyingsing. Dari sana, perjalanan berlanjut dengan mobil SUV melintasi jalanan berkelok tajam yang membelah pegunungan Thailand Utara. Sean menatap keluar jendela, melihat kabut tebal yang menyelimuti tebing—persis seperti perasaannya: bu
Sean duduk didalam Jet pribadi miliknya dengan tenang, netranya menatap gedung-gedung pencakar langit negeri gajah putih itu dengan seksama. Sean mengajak asprinya, Ardi, duduk berhadapan di dalam jet mewah ini. Pria itu tak mau pandang bulu lagi, siapa orang yang setia di saat terpuruknya, dia l
Sudah dua minggu sejak laporan detektif itu masuk, dan Sean merasa seolah-olah ia sedang mengejar bayangan. Setiap sudut Jakarta yang pernah mereka lalui terasa hampa, Ardi tiba namun lelaki itu tak kunjung berucap kepada Sean. "Bagaimana hasilnya?" tanya Sean yang berhasil membuyarkan lamunan Ar
Hujan badai sore hari di luar gedung pencakar langit itu seolah mencerminkan kekacauan di dalam dada Sean. Di atas meja kerjanya yang terbuat dari mahoni mahal, tergeletak selembar kertas yang baru saja ia dapatkan dari asprinya beberapa jam yang lalu— hasil tes milik mantan sekretaris sekaligus wan







