LOGINAyumi meninggalkan rumah sakit dengan hati hancur. Bukan hanya karena ayahnya mengusirnya, tetapi juga karena kata-kata menyakitkan yang diucapkan pria itu masih terngiang-ngiang di telinganya.Ia tidak pernah menyangka ayahnya sendiri akan mengatakan bahwa dirinya bukan lagi anak yang diinginkannya.Di dalam taksi, Ayumi menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menatap ke luar jendela. Jalanan tampak padat oleh kendaraan yang berlalu-lalang. Namun, tak satu pun berhasil menarik perhatiannya.Air mata kembali mengalir membasahi pipinya yang bengkak akibat tamparan Desi. Sudut bibirnya pun terasa perih, bahkan sedikit memar.Ayumi mengusap pipinya pelan, lalu menghela napas panjang.Pikirannya masih dipenuhi tuduhan-tuduhan yang dilontarkan ibu tirinya. Ia bahkan tidak mengerti bagaimana semua masalah itu bisa terjadi, padahal ia sama sekali tidak merasa melakukan apa pun yang mereka tuduhkan.Merasa ada sesuatu yang janggal, Ayumi segera merogoh tasnya dan mengambil ponsel. Ia membuka riw
Ayumi berjalan gontai menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya. Wajahnya tampak muram, sementara semangat yang tadi memenuhi dirinya kini lenyap entah ke mana.Begitu sampai di kamar, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Kedua tangannya terlentang, sementara matanya menatap kosong ke langit-langit dengan tatapan sayu.Beberapa menit yang lalu, Ayumi masih begitu bersemangat. Ia berniat mendekatkan diri kepada Anita, ibu mertuanya. Namun, niat baik itu kembali berakhir sia-sia.Anita bahkan mengusirnya mentah-mentah dan sama sekali tidak mau menatap wajahnya. Seolah-olah Ayumi adalah seseorang yang harus dihindari.Ayumi tidak mengerti. Selama menjadi menantu di rumah itu, ia selalu berusaha bersikap baik. Ia rajin, penurut, dan mengerjakan semua perintah Anita tanpa banyak mengeluh. Sayangnya, semua itu tetap tidak mampu meluluhkan hati wanita tersebut.Ayumi menghela napas panjang.Ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa di rumah yang luas ini. Tadi, ia sempat
Keesokan Harinya...Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai, membentuk garis-garis keemasan di lantai kamar yang luas itu.Adrian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Rambutnya masih basah, dan beberapa tetes air mengalir dari leher hingga ke dadanya.Ia berjalan menuju lemari berniat untuk mengambil pakaian. Namun, langkahnya terhenti ketika suara ponsel bergetar terdengar dari atas nakas.Adrian menoleh. Ponsel itu milik Ayumi.Di atas ranjang, Ayumi masih tertidur pulas. Wajahnya terlihat damai, meskipun tubuhnya tampak kelelahan setelah malam panjang yang mereka lewati bersama. Rambut panjangnya terurai berantakan di atas bantal, menutupi sebagian wajah cantiknya.Adrian sempat ragu. Ia tahu seharusnya ia tidak membuka ponsel itu. Namun, sesuatu dalam dirinya merasa ada yang tidak beres. Apalagi jumlah panggilan tak terjawab yang terus bertambah membuat perasaan tidak nyaman mulai merayap di dadanya.Akhirnya, ia meraih ponsel tersebut dan menggeser
"Memangnya siapa yang akan melihat kita jam segini?" bisik Adrian, suaranya rendah dan parau, bergetar tepat di telinga Ayumi. Ia memiringkan kepala, membiarkan bibirnya menyapu lembut sudut bibir Ayumi yang masih basah, lalu turun perlahan menyusuri garis leher gadis itu. Setiap sentuhan membuat Ayumi merinding hebat, jemarinya makin erat mencengkeram kain di bahu Adrian. "T-tapi ini di ruang makan..." suaranya tertahan. "Ayah, ibu, kakek dan pelayan, bisa saja memergoki kita." "Mereka sudah tidur sejak tadi," potong Adrian cepat. Ia menghentikan kecupan hangatnya di leher Ayumi, lalu mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu. Sorot mata yang biasanya dingin dan penuh perhitungan, kini berkilat tajam oleh gairah yang membakar. Sebelum Ayumi sempat membalas, Adrian mengangkat tubuh mungil itu dan mendudukkannya di atas permukaan meja yang dingin. "Sekarang cuma ada kita di sini..." Adrian kembali melumat bibir Ayumi dengan gairah yang kian menuntut, sementara
Ayumi terpaku.Tatapannya tertahan pada dada bidang Adrian yang kini terbuka di hadapannya. Untuk sesaat, rasa canggung dan bersalah yang tadi memenuhi benaknya menghilang, tergantikan oleh kekaguman yang sulit ia sembunyikan.'Wah... Gila, ototnya kenceng banget...' batin Ayumi terpesona.Ini bukan pertama kalinya ia melihat Adrian bertelanjang dada. Namun, baru kali ini ia menyentuh tubuh pria itu dalam keadaan sadar.Ia memperhatikan lekuk otot di dada Adrian, garis tegas di perutnya, serta urat-urat halus yang tampak semakin jelas ketika pria itu menahan napas. Entah sejak kapan, sentuhan Ayumi tak lagi sekadar mengobati luka. Jemarinya bergerak perlahan, menyusuri kulit hangat yang terasa begitu kontras dengan telapak tangannya sendiri.Adrian semakin menegang. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Dinginnya jemari Ayumi yang menyentuh kulitnya terasa seperti percikan api yang membakar nalurinya.Dada pria itu naik-turun cepat. Hembusan napas pana
Adrian menatap punggung Ayumi sampai gadis itu menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.Ia kemudian menyandarkan tubuhnya pada sofa. Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar, sebelum sebuah helaan napas berat lolos dari bibirnya.Adrian tahu Ayumi berbohong.Selama tiga puluh dua tahun hidupnya, terlebih sejak menjadi pebisnis sukses di usia muda, Adrian sudah bertemu dengan begitu banyak orang. Berbagai macam watak dan karakter sudah ia hadapi. Karena itu, bukan hal sulit baginya untuk mengenali ketika seseorang sedang menyembunyikan sesuatu.Namun, Adrian memilih pura-pura percaya. Ia merasa tak punya hak untuk mencampuri urusan pribadi Ayumi, meski statusnya saat ini adalah suami gadis itu.Tetapi entah kenapa, ada rasa bersalah yang diam-diam menyelinap ke dalam hati Adrian.Jika bukan karena desakan orang tua dan kakeknya yang berniat menjodohkannya dengan wanita yang tak pernah ia sukai, Adrian tidak akan menyeret Ayumi masuk ke dalam kehidupannya yang rumit dan penuh







