LOGIN"Nyonya!" seru Ayumi, dengan suara meninggi. "Ya ampun, Nyonya... maafkan saya!"Rasa bersalah langsung menyergapnya. Tanpa pikir panjang, Ayumi melangkah maju rasa panik membuat akalnya jadi buntu. Ia menyambar kain serbet yang tersampir di bahu, lalu buru-buru mengusapkan ke pakaian mewah dan wajah bersinar sang ibu mertua."Nyonya, maafkan saya... saya benar-benar tidak sengaja! Biar saya bantu bersihkan!" ucapnya gugup.Ia terus menggosok wajah Anita. Semakin digosok, riasan cantik wanita itu makin luntur dan berantakan tak karuan.Anita hanya diam, tapi tubuhnya gemetar hebat. Matanya memerah, menahan amarah yang sudah mendidih di dada."Apa yang kamu lakukan?!" desis Anita tajam, suaranya tertahan di tenggorokan."Tenang saja, Nyonya... saya bantu keringkan rambut dan bajunya," jawab Ayumi polos."Hentikan! Hentikan sekarang!" jerit Anita. "Singkirkan tangan kotormu dari wajahku!"Ia merebut kain serbet itu dari tangan Ayumi, lalu membantingnya ke lantai dengan keras. Lalu berdi
"Keluarga Lukito punya aturan yang sangat ketat tentang etika keluarga," ucap Anita tenang seraya menyesap tehnya.Wanita paruh baya itu duduk anggun di sofa panjang ruang keluarga. Ia meletakkan cangkir porselennya perlahan ke atas meja kaca, menimbulkan denting halus yang bergema tipis. Setelah itu, ia mendongak, menatap datar Ayumi yang berdiri kaku tak jauh di hadapannya."Dan sekarang, saya akan mengajarimu tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di rumah ini," ujarnya dingin.Anita membetulkan posisi duduknya, menatap Ayumi dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Aturan pertama... kamu harus bersikap anggun, berkelas, dan pandai mengambil hati relasi. Dengan begitu, kamu bisa menunjang keberhasilan bisnis suamimu."Ia menjeda kalimatnya sejenak, "Dan aturan kedua... selama masa bimbingan ini, kamu dilarang keras mengeluh, apalagi membantah ajaran saya. Mengerti?"Ayumi yang sejak tadi berdiri kaku langsung mengangguk paham. "Mengerti, Ma," sahutnya polos."Panggil s
Keesokan harinya, suasana pagi di kediaman Lukito terasa sedikit berbeda. Usai sarapan bersama, Ayumi mengantar Adrian yang hendak berangkat kerja hingga ke halaman depan.Langkah Adrian terhenti tepat di samping mobilnya yang sudah terparkir rapi. Pria itu berbalik, menatap Ayumi dengan raut tenang namun penuh ketegangan yang tersirat."Berhati-hatilah. Kita tidak tahu apa yang akan Mama lakukan padamu nanti," ucap Adrian memperingatkan.Ayumi tersenyum tipis. Tangannya terulur menyerahkan tas kerja Adrian yang sejak tadi ia bawa."Pak Adrian tenang saja... Biar begini, saya ini jago menghadapi ibu-ibu bawel," sahut Ayumi santai, berniat mencairkan suasana.Namun, belum ada dua detik kata-kata itu lolos dari bibirnya, mata Ayumi langsung membelalak. Ia baru menyadari betapa tidak sopannya kalimat tersebut."Eh... ma-maafkan saya, Pak! Saya tidak bermaksud menghina Ibu Bapak! Saya cuma... maksud saya..." Ayumi meracau panik, gagap seketika sembari mengibaskan kedua tangannya di udara.
“Karena dulu, saat pertama kali kamu masuk ke keluarga ini, yang mengajarimu etiket keluarga Lukito adalah ibu mertuamu.”Bahar menatap Anita dengan tenang.“Sekarang, tugas itu menjadi tanggung jawabmu untuk mengajari Ayumi. Bukankah memang seharusnya begitu?”Anita mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Rahangnya mengeras, menahan geram hingga gigi-giginya bergemeletuk pelan.“Tapi, ayah...” Anita masih mencoba mencari alasan.“Tidak ada tapi-tapian,” potong Bahar tegas.Pria tua itu kemudian mengalihkan pandangan kepada Ayumi.“Ayumi, mulai sekarang, dengarkan semua arahan ibu mertuamu. Belajarlah dengan sungguh-sungguh darinya.”Ayumi langsung mengangguk penuh semangat. Ia merasa lega karena mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi bagian dari keluarga Lukito.Ayumi tersenyum lebar lalu mengangguk mantap. "Terima kasih banyak, Kakek!" ucapnya bersemangat.Ia lalu menggeser posisi duduknya agar menghadap Anita. Dengan sop
Ayumi berjalan pelan mengikuti langkah tegap Adrian menuju ruang kerja Kakek Bahar.Begitu langkah kaki mereka memasuki ruangan, suasana di dalam terasa sangat mencekam.Ayumi menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak, seolah pasokan oksigen di dalam ruangan itu mendadak menipis. Ia berdiri kaku di samping Adrian dengan kepala yang sedikit menunduk, menyadari tatapan tajam dari semua orang tengah tertuju padanya.Melihat kedatangan Ayumi, emosi Lukman yang sudah membakar dada seketika meledak. Tanpa peringatan, ia menyambar cangkir porselen di hadapannya dan melemparnya kuat-kuat ke arah Ayumi!Cangkir porselen itu melayang cepat, nyaris mengenai dirinya jika saja Adrian tidak dengan cepat menarik pinggang Ayumi agar merapat ke dekapannya.Prang!Cangkir itu hancur berkeping-keping menghantam dinding tepat di belakang mereka."Pa! Apa yang Papa lakukan?!" tanya Adrian tajam, sorot matanya mendadak gelap dan memancarkan amarah."Dia!" bentak Lukman seraya menunjuk wajah Ayumi den
Ayumi makin menundukkan kepala, jemarinya yang lentik mencengkeram erat pinggiran selimut. "Saya tidak tahu... Saat itu saya tersedak, dan Nona Jessica menyodorkan minuman itu." "Lalu?" tanya Adrian. "Lalu... saya tidak ingat apa-apa lagi," jawab Ayumi jujur, menatap ragu ke arah suaminya. "Kamu benar-benar tidak ingat sama sekali?" Adrian mengerutkan keningnya, menatap penuh selidik. Ayumi mengangguk pelan. "Bahkan saat kamu menggunakan kemeja custom milikku sebagai tisu, kamu tetap tidak ingat?" tanya Adrian dengan nada datar tanpa ekspresi. Deg! Napas Ayumi seketika tercekat di tenggorokan. Ia membelalak, bersusah payah menggali kembali ingatan kelam semalam. 'Bodoh! Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan?!' jerit Ayumi merutuki dirinya sendiri di dalam hati. "M-maksud Bapak apa, ya? Saya kurang paham..." tanya Ayumi tergagap. "Semalam, karena masalah percintaan, kamu menangis sejadi-jadinya dan menggunakan kemejaku untuk menyeka ingusmu," ujar Adrian. Suaranya







