ホーム / Romansa / Bos, Jangan Sebar Rahasiaku / Bab 5 IMPIAN SETIAP WANITA

共有

Bab 5 IMPIAN SETIAP WANITA

作者: AlenU
last update 公開日: 2026-04-14 14:06:35

Moana membelalakkan mata karena terkejut. "Ba baik bos, saya akan iku."

Setelah keluar dari ruangan Bosnya, Moana segera menuju ke tempat meja kerjanya kembali, ia segera merapikan tempatnya karena sudah pasti tugasnya di kantor hari itu sudah selesai. Ia harus mengikuti bosnya untuk acara wawancara.

"Loh, Mo Nggak enak badan kamu? kenapa sudah beres-beres, mau izin pulang sekarang?" tanya Zizi saat wanita itu melihat Moana sedang sibuk beberes.

Moana mendengus dengan tangan masih belum berhenti. Tatapannya pun masih fokus dan hanya melirik sekilas ke arah Zizi sebelum fokus kembali. "Andai aku bisa izin Zi. Pasti lebih menyenangkan."

Zizi makin antusias saat mendengarnya. "Akh, yang bener kamu? kalau kamu nggak mau harusnya ngerekomendasikan aku lah Mo. Aku mau banget tahu. Hemz, nggak kebayang deket pangeran bisnis yang tampan itu. Mujur banget sih kamu Mo."

Moana makin mendengus dalam saat mendengar apa yang Zizi katakan. Moana merasa mungkin semua wanita memikirkan hal yang sama saat melihat ketampanan dan kemapanan bosnya tersebut.

Moana dan Zizi melihat bosnya menuruni tangga. Zizi tampak mengagumi ke agungan nyata di depannya, sedangkan Moana malah melihat petaka yang semakin mendekat. 

Moana beranjak dari tempatnya lalu mengekori di belakang Rey tepat. Mereka berjalan menuju ke arah lift berada.

"Kenapa murung?" tanya Rey saat keduanya sudah masuk ke dalam lift. Karena dari tadi Rey melihat wanita itu hanya menundukkan wajahnya saja.

Akhirnya Moana mengangkat wajahnya. "Hanya kita berdua saja, bos?"

Rey menatap Moana dari pantulan dinding lift di depannya. "Memangnya butuh berapa orang hanya untuk menemani ke acara wawancara? aku rasa hanya kamu saja sudah cukup mampu mengatasi situasi."

Moana mencoba menyangkal ucapan lelaki itu. "Jelas-jelas saya tidak berpengalaman, bos."

Rey membalikkan tubuhnya dengan wajah sedikit menunduk dan tatapan tajam menatap Moana. Kini mereka berhadapan satu sama lain. Degupan jantung Moana terdengar semakin menggila.

"Sepertinya di bab kedua di naskah itu cukup menggambarkan betapa sempurnanya sesi wawancara yang hanya berdua saja diatas meja kerja."

Akhirnya mereka tiba di lantai dasar. Meskipun pertanyaan kenapa Rey begitu hafal tentang naskah novel miliknya yang hanya di baca mungkin sekilas saja itu terus membayangi, tapi Moana hanya mencoba bersikap wajar. Meskipun nyatanya ia tidak baik-baik saja. 

Jarak gedung yang hanya menyeberang jalan raya itu pun terasa begitu lama. Namun, setelah tiba di seberang, Rey malah mengajak Moana untuk masuk ke restoran yang ada di sebelah gedung.

"Kenapa kita tidak langsung masuk ke dalam, bos? kenapa malah kemari?" tanya Moana saat mereka sudah masuk dan duduk di dalam restoran.

Rey yang sudah mengambil dan membaca buku menu itu pun segera menghentikan aktivitasnya untuk sesaat. Ia fokus pada wanita yang ada di seberang meja depannya. "Aku rasa kamu tidak tahu kalau aku belum makan siang."

Moana hanya bisa mengangguk karena ia juga baru sadar jika dirinya pun belum makan siang.

"Tapi bos, bagaimana kalau mereka menunggu?"

Rey tersenyum tipis. "Biarkan saja mereka menunggu. Kalau mau aku datang ya harus menunggu."

Saat itu Moana tidak tahu identitas lain dari Rey, tapi Rey sudah tahu idengitas lain Moana selain menjadi salah satu bagian di perusahaannya.

Moana hanya menghela nafas dalam. Sesekali ia menatap pada layar ponselnya untuk menunggu pesan balasan dari Editornya. Dimana ia masih belum merevisi keseluruhan naskah yang Editornya inginkan.

Hingga tatapan matanya tertuju pada waitress yang berlalu pergi dengan membawa buku menu. "Bos, aku kan belum pesan?"

Lelaki itu tersenyum. Senyum yang terasa memabukkan. "Aku tahu kau ingin hidangan laut kan?"

Moana mengernyitkan dahinya sesaat. "Bos tahu darimana?"

Jari jemarinya mengetuk beberapa kali diatas meja. Lalu menuangkan segelas air minum. "Mau aku bahas di bab mana yang tertulis hidangan laut?"

Sontak Moana hanya menelan ludahnya sendiri sekali teguk. Ucapan Rey seketika mampu membuat kerongkongannya kering hingga tanpa sadar ia langsung menyambar gelas milik Rey yang isinya tinggal separuh karena lelaki itu sudah meminumnya.

Rey yang melihat pun hanya bisa membiarkannya saja. "Itu gelasku."

"Uhuk! uhuk!" Moana langsung tersedak sampai terbatuk-batuk saat menyadarinya.

"Sudah aku bilang kalau itu naskah teman aku yang di titipkan padaku, bos." Sangkal Moana. 

Rey hanya mengangguk sembari tersenyum sesaat seolah ia mengerti. Tapi Moana tahu jika itu hanya pura-pura saja.

Hening untuk beberapa saat. Tidak ada percakapan diantara mereka.

"Aku suka karakter Freya yang suka menggoda dan juga mata duitan itu." Tiba-tiba Rey mengawali percakapan yang membahas soal naskah novel yang sempat ia buka.

Namun siapa sangka. Ucapan Rey ditanggapi dengan marah oleh Moana. Wanita itu tidak terima saat Rey mengatakan jika tokoh pemeran utama wanita di novel dewasanya tersebut disebut matrealistis. Karena Moana jelas menulis sifat pemeran utamanya tidak demikian.

"Freya bukan wanita matrealistis. Dia hanya bucin dan terlalu over dengan kekasihnya. Bukan sembarang orang apa lagi sampai meminta imbalan, ya. Enak saja ngomentari karya ku."

Rey yang saat itu sibuk membalas pesan dari Asistennya seketika itu pula segera menghentikan gerak jari tangannya untuk sesaat lalu menyunggingkan senyumnya yang nyaris tidak bisa Moana lihat.

"Oh ya? jujur, aku suka wanita seperti Freya itu."

Dan ucapan tersebut seketika menyadarkan Moana atas apa yang sudah ia katakan tanpa sengaja hanya karena tersulut emosi sesaat. Dimana ia beberapa hari lalu juga menangani komentar menghujat yang di tujukan pada novelnya.

Moana memalingkan wajah menatap ke arah lain. Ia menundukkan wajahnya sembari menggigit ujung bibirnya dengan hati yang menggerutu tiada henti mengumpati kebodohan dirinya sendiri.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 56 MENUNGGU JAWABAN

    Ayah Moana menarik napas dalam-dalam, membiarkan keheningan malam menyelimuti ruang tamu selama beberapa saat sebelum akhirnya beliau kembali bersuara. Tatapan matanya yang teduh namun tajam menembus langsung ke dalam manik mata Arga, mencoba mencari celah kebohongan yang mungkin tersembunyi di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah sorot mata seorang pria yang sedang bertaruh demi masa depannya.​"Arga," panggil Ayah Moana, suaranya berat dan sarat akan penekanan. "Moana ini adalah putri kami satu-satunya. Dia adalah anak perempuan tunggal yang kami besarkan dengan penuh kasih sayang, kami rawat dengan cucuran keringat, dan kami jaga kehormatannya sejak dia masih bayi hingga sebesar ini. Bagi kami, dia adalah harta paling berharga yang tidak bisa dinilai dengan materi apa pun."​Arga mendengarkan dengan khidmat, tidak berani menyela sepatah kata pun.​"Jadi, dengarkan saya baik-baik," lanjut Ayah Moana, nada suaranya mengeras, memancarkan wibawa seorang kepala keluarga. "Kalau kedatan

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 55 GEMETARAN

    Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Moana, lalu mengangguk mantap dengan sorot mata yang mengunci seluruh keraguan wanita itu.​Melihat kesungguhan di mata Arga, Ayah Moana akhirnya menghela napas panjang. Ketegangan yang sempat menguar di teras rumah lambat laun mencair, digantikan oleh atmosfer yang jauh lebih tenang, walau sisa-sisa keterkejutan masih menggelayuti benak mereka.​"Sudah, tidak enak dilihat tetangga kalau bicara di luar seperti ini," ucap Ayah Moana sambil membetulkan letak sarungnya. "Mari masuk ke dalam. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin."​Mereka berempat kemudian melangkah masuk ke dalam ruang tamu rumah Moana yang sederhana. Dindingnya yang bercat putih bersih dihiasi beberapa foto keluarga, kontras dengan sosok Arga yang malam ini tampak begitu mencolok dengan setelan jas mahalnya. Arga dan Moana duduk berdampingan di sofa kayu panjang, sementara Ayah dan Ibu Moana duduk di hadapan mereka.​Namun, ketenangan di dalam ruangan itu tidak b

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 54 APA KAMU SUDAH YAKIN?

    Pria itu merapikan jas hitamnya sekilas, lalu melangkah mantap mendekati pagar. Sorot lampu mobil yang begitu terang membuat siluet tubuhnya tampak begitu tegas dan dominan. Ayah dan Ibu Moana spontan maju satu langkah, bersiap menyambut orang asing tersebut dengan keramahan khas orang desa.​"Selamat malam, Bapak, Ibu," sapa Arga dengan suara yang terdengar berwibawa namun menyiratkan kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. "Maaf mengganggu kenyamanan malam-malam begini. Saya mau bertanya, apa benar ini alamat rumah Moana?"​Belum sempat Ayah atau Ibu Moana membuka mulut untuk menjawab, pandangan Arga secara tidak sengaja melewati bahu kedua orang tua itu. Di ambang pintu yang remang-remang, ia menangkap sosok wanita yang dicarinya setengah mati sejak sore tadi. Rambutnya yang sedikit acak-acakan dan wajah pucatnya yang terbelalak kaget sama sekali tidak mengurangi pengenalan Arga.​"Moana!" seru Arga, matanya seketika berbinar mengabaikan rasa lelahnya.​Tanpa mempedulikan etika

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 53 ARGA NEKAT

    ​"Danu ada urusan mendadak di kantornya, Bu. Katanya ada berkas penting yang harus segera dia periksa sore ini juga," dusta Moana, menyusun alasan selogis mungkin agar ibunya tidak menaruh curiga. "Dia tadi mau pamit langsung ke Ibu, tapi saya larang karena Ibu lagi sibuk di dalam. Jadi, Danu titip salam dan permohonan maaf saja tadi sama Ibu."​Mendengar penjelasan itu, helaan napas kecewa terdengar berat dari mulut ibunya. "Aduh, sayang sekali ya. Padahal Ibu sengaja panaskan kue lapis ini buat dia. Jarang-jarang ada pemuda sesopan dan punya tata krama seperti Danu itu, Moana. Tadi siang di gedung pernikahan saja, tantemu tidak berhenti memujinya." Ibu Moana menggeleng-gelengkan kepala sambil merapikan piring kue yang kini terasa sia-sia. "Ya sudah kalau begitu. Kamu juga kenapa masih berdiri di situ? Wajahmu pucat sekali, seperti orang kurang tidur."​Moana menyentuh pipinya sendiri, merasakan sensasi dingin di kulitnya. Rasa lelah yang teramat sangat tiba-tiba menghantam seluruh s

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 52 TUNGGU AKU DATANG

    "Arga, jangan nekat! Jarak dari kota ke sini itu butuh waktu berjam-jam, kamu jangan..."​Belum sempat Moana menyelesaikan kalimatnya, layar ponselnya sudah berubah gelap. Arga memutuskan panggilan video itu secara sepihak, meninggalkan Moana yang terpaku dengan dada yang bergemuruh hebat karena cemas. Ia tahu betul jika Arga sudah berada di titik puncaknya, laki-laki itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Merutuki situasi yang mendadak menjadi begitu rumit dalam hitungan menit.​Di seberang meja kecil itu, Danu yang sejak tadi menyimak perdebatan Moana di telepon tampak terdiam. Senyum menawan yang sebelumnya ia pamerkan kini telah memudar, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya. Danu meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas tatakan kaca dengan bunyi denting. Udara sore di teras itu mendadak terasa jauh lebih dingin.​"Moana," panggil Danu dengan nada suara yang kini jauh lebih serius, kehilangan nada menggoda yang ia gunakan sejak siang tadi. "Laki-laki di telepon tadi...

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 51 CEMBURU BUTA

    Begitu kakinya melangkah turun dari anak tangga pelaminan, Moana langsung mengembuskan napas panjang, berharap bisa segera meloloskan diri ke ruang ganti. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Danu, yang sejak tadi mengekor di belakangnya, dengan cekatan langsung memotong jalan dan berdiri tepat di hadapan Moana.​"Moana, tunggu sebentar," ucap Danu sembari menyunggingkan senyum yang menurutnya paling menawan. "Tadi di atas kita belum sempat mengobrol formal. Saya Danu. Ibu kita sebenarnya masih sepupu jauh. Boleh saya minta nomor WhatsApp kamu? Biar kalau sama-sama balik ke kota nanti, kita bisa janjian ngopi."​Moana baru saja membuka mulut untuk menyusun penolakan yang paling halus, ketika tiba-tiba rombongan ibunya, bersama Bulik dan para uwak yang usil, merapat bagikan barikade yang mengunci ruang geraknya.​"Lho, Danu! Pintar ya curi-curi kesempatan," goda Bulik dengan tawa renyah yang sengaja dikeras-keraskan.​Ibu Moana ikut tersenyum lebar, matanya berbinar melihat kedekatan k

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status