بيت / Romansa / Bos, Jangan Sebar Rahasiaku / Bab 6 DIBALIK WANITA CUPU ADA SOSOK YANG MENGGODA

مشاركة

Bab 6 DIBALIK WANITA CUPU ADA SOSOK YANG MENGGODA

مؤلف: AlenU
last update تاريخ النشر: 2026-04-22 18:32:42

"Ingin sekali rasanya saat ini aku mengubur diriku ke dalam lautan pasir. Atau menghilang seperti kabut."

Kini Moana tidak bisa mengelak lagi jika naskah novel itu adalah miliknya sendiri. Penyamarannya sudah terbongkar dan kemungkinan besar akan tersebar cepat atau lambat.

Hingga hidangan yang Rey pesan sudah tiba di atas meja mereka. Dengan perasaan canggung, Moana menikmati makanan tersebut sampai selesai.

Tibalah saatnya mereka pergi ke gedung sebelah untuk menghadiri undangan sesi wawancara. Moana hanya patuh layaknya Sekretaris Rey.

Baru saja mereka masuk ke dalam perusahaan tersebut, Rey langsung di sambut oleh si pembawa acara dan beberapa orang lainnya yang menangani sesi wawancara Rey. Mereka dengan ramah mempersilahkan Rey untuk menempati tempatnya. Tidak lupa salah satu orang sebagai penata rias mencoba membantu Rey untuk tampil maksimal di depan layar kaca. Namun, Rey langsung menolaknya, ia seakan tidak mengizinkan orang lain menyentuhnya.

"Tolong kerjasamanya ya pak Rey." Ucapnya dengan nada hormat dan lembut. Lebih terkesan membujuk. "Saya mohon."

Rey lalu menatap ke arah Moana berada. Wanita itu hanya acuh tak acuh saja sebagai tanggapan.

"Saya biasanya di urus Sekretaris saya sekaligus asisten saya." Ucap Rey dengan nada datar dan senyum yang tersungging. "Silahkan, biarkan dia yang menata riasan saya dan pakaian saya."

Sontak tatapan mata mereka semua tertuju sejurus ke arah Moana berada. Jelas mereka sedang memberi nilai penampilan wanita itu yang bisa dibilang jauh dari kesan natural apa lagi glamor.

"Pak Rey yakin?" ucap si pemilik acara yang merasa benar-benar tidak yakin akan kemampuan Moana untuk merias Rey.

Rey mengangguk mantap. "Sangat yakin."

"Yang benar saja! kaca mata bulat dengan rambut nyaris kriting gimbal begitu bisa di andalkan soal riasan?" ucap salah seorang lagi yang menimpali dan dengan jelas Rey dengarkan. Namun, lelaki itu hanya tersenyum saja.

Akhirnya mau tidak mau si pemilik acara pun segera menghampiri Moana. Ia membisikkan sesuatu pada wanita itu sebagai instruksi apa yang harus Moana lakukan pada Rey nanti. Wanita itu hanya mengangguk begitu saja seolah sudah mengerti.

Moana mendekat ke arah Rey dengan perlengkapan rias yang baru saja di serahkan padanya oleh penata rias.

Wanita itu duduk di samping Rey. "Kenapa anda begitu percaya sekali dengan saya? nggak takut kalau saya buat wajah anda belepotan parah?"

Rey hanya tersenyum saat tatapan mata mereka bertemu dan wajah mereka saling berhadapan satu sama lain.

"Aku yakin kau tidak berani macam-macam denganku. Kartu AS mu ada di tanganku."

Barulah saat itu Moana sadar jika lelaki itu sudah memanfaatkan kelemahannya untuk sesuatu yang ia tidak suka. Akhirnya Moana hanya bisa segera merapikan riasan wajah Rey.

Terlihat Rey ikut mengamati wajah Moana dari jarak dekat. 'Wajah memakai make up nyaris gosong dengan kacamata tebal dan lipstik yang nyaris tidak terlihat.'

Lelaki itu lalu berbisik lirih. "Aku rasa, di tempat ini tidak ada yang bisa se profesional kamu soal menyembunyikan wajah asli. Aku pun nyaris percaya jika kau adalah wanita cupu yang hidupnya membosankan dengan penampilan yang seperti ini."

"Duar!" bak petir yang menggelegar di kepala Moana saat mendengar bisikan yang tepat berada di depannya.

Akhirnya apa yang Moana lakukan denga merias wajah Rey pun selesai. Riasan ringan yang tampak segar pun lelaki itu dapatkan. Sampai terdengar suara pujian dari beberapa orang di sana yang melihatnya.

"Apa aku bilang?" ucap Rey dengan senyum di salah satu sisi ujung bibirnya yang tertuju pada Moana.

Mulailah Rey dengan sesi wawancaranya, rupanya wawancara saat itu tidak sedang membahas masalah Rey yang mewarisi kursi pimpinan di perusahaan, melainkan Rey menjadi pewaris generasi tunggal empat turunan.

Moana melongo di tempat, dia tidak tahu jika yang sedang ia hadapi adalah seorang yang bahkan tidak bisa ia bayangkan. Lebih tepatnya, perusahaan besar tempat Moana bekerja bukanlah apa-apa.

"Baiklah, ini pertanyaan terakhir. Anda lebih dari sempurna, kenapa sampai sekarang masih jaih dari gosip pasangan. Apakah anda belum menemukan pasangan yang pas?" tanya si pembawa acara pada Rey.

Saat itu atmosfer seluruh ruangan menjadi semakin dingin. Hingga tatapan Rey tertuju pada Moana dengan senyum lembut. Moana yang melihatnya segera menoleh ke samping sampai belakangnya, untuk memastikan senyum itu tidak tertuju padanya.

"Apa maksud tatapan itu?" gerutu Moana saat tidak menemukan siapapun di dekatnya.

"Sepertinya kali ini ada yang menyenangkan," balasan Rey dengan tatapan kembali pada si pembawa acara.

"Maksud anda, anda sudah menemukan tipe yang anda inginkan, begitu?" tanya si pembawa acara lagi.

"Ya, tergantung cepat membosankan atau tidak nantinya. Pokoknya kalau aku ada pasangan pasti kalian yang pertama tahu," balas Rey.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 56 MENUNGGU JAWABAN

    Ayah Moana menarik napas dalam-dalam, membiarkan keheningan malam menyelimuti ruang tamu selama beberapa saat sebelum akhirnya beliau kembali bersuara. Tatapan matanya yang teduh namun tajam menembus langsung ke dalam manik mata Arga, mencoba mencari celah kebohongan yang mungkin tersembunyi di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah sorot mata seorang pria yang sedang bertaruh demi masa depannya.​"Arga," panggil Ayah Moana, suaranya berat dan sarat akan penekanan. "Moana ini adalah putri kami satu-satunya. Dia adalah anak perempuan tunggal yang kami besarkan dengan penuh kasih sayang, kami rawat dengan cucuran keringat, dan kami jaga kehormatannya sejak dia masih bayi hingga sebesar ini. Bagi kami, dia adalah harta paling berharga yang tidak bisa dinilai dengan materi apa pun."​Arga mendengarkan dengan khidmat, tidak berani menyela sepatah kata pun.​"Jadi, dengarkan saya baik-baik," lanjut Ayah Moana, nada suaranya mengeras, memancarkan wibawa seorang kepala keluarga. "Kalau kedatan

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 55 GEMETARAN

    Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Moana, lalu mengangguk mantap dengan sorot mata yang mengunci seluruh keraguan wanita itu.​Melihat kesungguhan di mata Arga, Ayah Moana akhirnya menghela napas panjang. Ketegangan yang sempat menguar di teras rumah lambat laun mencair, digantikan oleh atmosfer yang jauh lebih tenang, walau sisa-sisa keterkejutan masih menggelayuti benak mereka.​"Sudah, tidak enak dilihat tetangga kalau bicara di luar seperti ini," ucap Ayah Moana sambil membetulkan letak sarungnya. "Mari masuk ke dalam. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin."​Mereka berempat kemudian melangkah masuk ke dalam ruang tamu rumah Moana yang sederhana. Dindingnya yang bercat putih bersih dihiasi beberapa foto keluarga, kontras dengan sosok Arga yang malam ini tampak begitu mencolok dengan setelan jas mahalnya. Arga dan Moana duduk berdampingan di sofa kayu panjang, sementara Ayah dan Ibu Moana duduk di hadapan mereka.​Namun, ketenangan di dalam ruangan itu tidak b

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 54 APA KAMU SUDAH YAKIN?

    Pria itu merapikan jas hitamnya sekilas, lalu melangkah mantap mendekati pagar. Sorot lampu mobil yang begitu terang membuat siluet tubuhnya tampak begitu tegas dan dominan. Ayah dan Ibu Moana spontan maju satu langkah, bersiap menyambut orang asing tersebut dengan keramahan khas orang desa.​"Selamat malam, Bapak, Ibu," sapa Arga dengan suara yang terdengar berwibawa namun menyiratkan kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. "Maaf mengganggu kenyamanan malam-malam begini. Saya mau bertanya, apa benar ini alamat rumah Moana?"​Belum sempat Ayah atau Ibu Moana membuka mulut untuk menjawab, pandangan Arga secara tidak sengaja melewati bahu kedua orang tua itu. Di ambang pintu yang remang-remang, ia menangkap sosok wanita yang dicarinya setengah mati sejak sore tadi. Rambutnya yang sedikit acak-acakan dan wajah pucatnya yang terbelalak kaget sama sekali tidak mengurangi pengenalan Arga.​"Moana!" seru Arga, matanya seketika berbinar mengabaikan rasa lelahnya.​Tanpa mempedulikan etika

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 53 ARGA NEKAT

    ​"Danu ada urusan mendadak di kantornya, Bu. Katanya ada berkas penting yang harus segera dia periksa sore ini juga," dusta Moana, menyusun alasan selogis mungkin agar ibunya tidak menaruh curiga. "Dia tadi mau pamit langsung ke Ibu, tapi saya larang karena Ibu lagi sibuk di dalam. Jadi, Danu titip salam dan permohonan maaf saja tadi sama Ibu."​Mendengar penjelasan itu, helaan napas kecewa terdengar berat dari mulut ibunya. "Aduh, sayang sekali ya. Padahal Ibu sengaja panaskan kue lapis ini buat dia. Jarang-jarang ada pemuda sesopan dan punya tata krama seperti Danu itu, Moana. Tadi siang di gedung pernikahan saja, tantemu tidak berhenti memujinya." Ibu Moana menggeleng-gelengkan kepala sambil merapikan piring kue yang kini terasa sia-sia. "Ya sudah kalau begitu. Kamu juga kenapa masih berdiri di situ? Wajahmu pucat sekali, seperti orang kurang tidur."​Moana menyentuh pipinya sendiri, merasakan sensasi dingin di kulitnya. Rasa lelah yang teramat sangat tiba-tiba menghantam seluruh s

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 52 TUNGGU AKU DATANG

    "Arga, jangan nekat! Jarak dari kota ke sini itu butuh waktu berjam-jam, kamu jangan..."​Belum sempat Moana menyelesaikan kalimatnya, layar ponselnya sudah berubah gelap. Arga memutuskan panggilan video itu secara sepihak, meninggalkan Moana yang terpaku dengan dada yang bergemuruh hebat karena cemas. Ia tahu betul jika Arga sudah berada di titik puncaknya, laki-laki itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Merutuki situasi yang mendadak menjadi begitu rumit dalam hitungan menit.​Di seberang meja kecil itu, Danu yang sejak tadi menyimak perdebatan Moana di telepon tampak terdiam. Senyum menawan yang sebelumnya ia pamerkan kini telah memudar, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya. Danu meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas tatakan kaca dengan bunyi denting. Udara sore di teras itu mendadak terasa jauh lebih dingin.​"Moana," panggil Danu dengan nada suara yang kini jauh lebih serius, kehilangan nada menggoda yang ia gunakan sejak siang tadi. "Laki-laki di telepon tadi...

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 51 CEMBURU BUTA

    Begitu kakinya melangkah turun dari anak tangga pelaminan, Moana langsung mengembuskan napas panjang, berharap bisa segera meloloskan diri ke ruang ganti. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Danu, yang sejak tadi mengekor di belakangnya, dengan cekatan langsung memotong jalan dan berdiri tepat di hadapan Moana.​"Moana, tunggu sebentar," ucap Danu sembari menyunggingkan senyum yang menurutnya paling menawan. "Tadi di atas kita belum sempat mengobrol formal. Saya Danu. Ibu kita sebenarnya masih sepupu jauh. Boleh saya minta nomor WhatsApp kamu? Biar kalau sama-sama balik ke kota nanti, kita bisa janjian ngopi."​Moana baru saja membuka mulut untuk menyusun penolakan yang paling halus, ketika tiba-tiba rombongan ibunya, bersama Bulik dan para uwak yang usil, merapat bagikan barikade yang mengunci ruang geraknya.​"Lho, Danu! Pintar ya curi-curi kesempatan," goda Bulik dengan tawa renyah yang sengaja dikeras-keraskan.​Ibu Moana ikut tersenyum lebar, matanya berbinar melihat kedekatan k

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 7 TERPAKSA MASUK APARTEMEN BOS

    "Oh ya Tuan Rey, bisakah anda membocorkannya sedikit pada kita semua, apakah wanita yang sesuai kriteria tuan Rey ada di sini, diantara kita?" Rey menatap ke arah Moana kembali. Tersenyum sekilas sebelum menjawabnya. "Ya, dia ada di sini." Dan ucapan tersebut mampu membuat semua orang yang ada di

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 5 IMPIAN SETIAP WANITA

    Moana membelalakkan mata karena terkejut. "Ba baik bos, saya akan iku."Setelah keluar dari ruangan Bosnya, Moana segera menuju ke tempat meja kerjanya kembali, ia segera merapikan tempatnya karena sudah pasti tugasnya di kantor hari itu sudah selesai. Ia harus mengikuti bosnya untuk acara wawancar

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 2 NEBENG TETANGGA SEBELAH

    Sekilas tatapan mata mereka bertemu, datar, dingin. Tubuh itu berdiri di depan Moana membelakanginya."Kenapa harus bertemu di sini?"Sesaat Moana tanpak memberi nilai setiap inci postur tersebut. Bahkan yang paling menyita perhatian Moana adalah wajahnya, wajah tampan dengan sorot mata tajam yang

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 1 IMAJINASI LIAR SANG PENGGODA

    Ujung-ujung bibir merah muda alami gadis itu berkedut. Jilatan lembut yang basah masih terasa nyata, membuat rambut halus di sepanjang tubuhnya menggelenyar. Darah berdesir menderu kencang di telinga saat lelaki itu menyusup masuk, menggoda lidah, memagut manis bibir bagian bawah dan atasnya secara

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status