เข้าสู่ระบบMoana tersenyum sesaat sebelum melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya. Namun, saat ia akan membuka pintu mobil, Rey malah menguncinya.
Dengan tatapan mata kebingungan dan gestur tubuh tidak nyaman, wanita itu hanya bisa menatap kembali ke arah lelaki di sampingnya. "Pak, terimakasih banyak, bisakah anda membuka kunci pintunya?"
"Nama mu?" tanya Rey.
"Mo Moana," dengan nada terbata-bata.
"Kau takut padaku?" ucapnya dengan nada suara datar seperti biasa. "Apa wajahku terlalu tidak ramah menurutmu?"
Moana mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap ke depan lalu mengibaskannya beberapa kali. "Tentu tidak, anda ramah kok."
Rey lalu melepas sabuk pengamannya. Debaran yang lebih terkesan ketakutan saat itu Moana rasakan ketika melihat lelaki itu semakin mendekat ke arahnya. Moana semakin tersudut di sudut tempatnya.
"Lady Ink." ucapnya dengan nada lirih dan lembut.
"Iya, pak." Sahut Moana lagi.
Rey lalu menghentikan gerakannya saat mengetahui jika ternyata tebakannya benar. Apa yang semalaman ia pikirkan ternyata terjawab sudah. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya.
Sedangkan Moana sendiri yang menyadari kebodohannya hanya bisa segera memalingkan wajah ke arah lain sembari menelan perasaan penyesalannya.
Rey lalu menatap lekat ke arah Moana berada. "Wanita yang menggoda di malam hari dan wanita yang membosankan di siang hari."
Rey terkesan sedang memberi nilai pada penampilan Moana saat itu. Kaca mata bulat dan rambut yang sengaja di keriting ngawur, seakan wanita itu sengaja untuk mengalihkan perhatian orang lain agar tidak melihatnya.
"Kau sengaja?" tanya lelaki itu.
Moana mendekam di tempat seakan sedang menghindari tatapan mata lelaki itu yang bisa menyudutkannya. "Saya tidak sengaja. Saya tidak berniat mengganggu urusan anda, saya harap anda juga tidak mengganggu saya."
"Kau sengaja meminta ku untuk berhenti disini?" ucap Rey lagi.
"Fuuuuu... " Moana bernafas lega saat tahu ternyata Rey tidak sedang membahas masalah semalam. "Iya, pak. Karena saya khawatir ada yang melihat kita berada di dalam satu mobil yang sama."
Rey tersenyum sembari menegakkan posisi duduknya lagi. "Bukankah di dalam mobil ini sama seperti bab tiga di naskah novel mu? oh, haruskah aku luruskan juga jok mobilnya?"
Setibanya di kantor.
Hari itu berjalan dengan lambat bagi Moana, ia merasa kelemahannya sudah terbongkar meskipun mungkin hanya bosnya itu saja yang tahu tapi tetap saja hidupnya sudah tidak senyaman dulu lagi.
Siang itu di meja kerja Moana. Setelah selesai dengan merapikan berkas, wanita itu hanya bisa mencoba mencari cara agar bisa menjauh dari bosnya dan tidak berurusan dengannya lagi.
"Tumben, aku perhatikan dari pagi tadi kamu banyak melamun bahkan tidak fokus. Ada masalah?" tanya Zizi.
Moana menatap kearah temannya itu, menghela nafas dalam sesaat lalu menghembuskannya. "Nggak ada apa-apa kok Zi."
Zizi lalu menarik kursi yang ada di depan mejanya dan membawanya mendekat ke arah Moana berada. "Sini cerita, ada masalah apa? tumben aja aku ngeliat kamu ngelamun Mo."
Moana menggelengkan kepala beberapa kali. "Nggak ada apa-apa kok Zi, suer deh."
Zizi lalu menganggukkan kepala beberapa kali. "Oke, yuk ke kantin kantor buat ngisi bahan bakar. Kita nanti ada rapat sama bos. Jangan sampai jadi lemes."
Sontak Moana pun tersentak, ia begitu terkejut saat baru teringat akan acara siang nanti. Penyerahan serta presentasi tugas yang diberikan atasan terdahulu dan akan di ambil alih semua oleh pimpinan yang baru.
Belum reda rasa terkejutnya saat itu. Asisten Rey sudah mendekat ke adah Moana dan Zizi berada. Ia menatap ke arah Moana tepat. "Anda diminta untuk datang ke ruang kantor pak Rey."
Dengan cepat tangan Moana langsung menunjuk dirinya sendiri. "Maksud anda saya?"
Lelaki itu lalu menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum pergi. Barulah saat itu ia merasa benar-benar lemas seketika. Ia juga menyesali tubuh dan otaknya yang tidak bergerak cepat untuk menerima ajakan Zizi pergi ke kantin kantor tadi.
"Cepat sana Mo! siapa tahu Bos ganteng mau ajakin kamu makan siang." Canda Zizi yang mencoba memberi semangat. Sedangkan Moana sendiri hanya bisa mencoba memaksakan senyumannya karena Zizi jelas tidak tahu insiden apa yang terjadi padanya dan bosnya semalam.
Dengan lemas wanita itu beranjak dari kursi. Langkah kakinya berat berjalan menuju ke ruangan Rey yang ada di lantai atasnya. Sedangkan Rey sendiri sedang menatap setiap gerak Moana dari balik jendela kaca ruangan, tampaknya ia sengaja membuat resah Moana. Senyum sekilas tersungging di ujung bibirnya.
"Tok, tok, tok." Moana mengetuk pintu kantor bosnya itu pelan.
"Masuk." Terdengar sahutan dari dalam ruangan. Moana pun segera melangkah masuk ke dalam, ia melihat bosnya sedang duduk di sofa dan bukan di kursi kebesarannya.
Rey menepuk sofa yang ada di sebelahnya beberapa kali saat Moana menatap dari tempatnya, memberi isyarat agar wanita itu segera mendekat padanya dan menempati tempat yang Rey maksud.
Moana menundukkan wajah, berjalan pelan mendekat ke arah Rey tapi tidak menempati tempat yang Rey maksudkan. Wanita itu hanya berdiri dengan tangan terlipat di depan tampak hormat.
"Ada perlu apa pak?" tanya Moana.
Rey menyilangkan kakinya ke atas kakinya yang lain, menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sofa dengan tatapan sejurus menatap Moana. "Siang ini aku ada jadwal untuk menghadiri undangan wawancara di kantor seberang, temani aku."
Moana segera mengangkat wajah, membalas tatapan bosnya dengan sedikit kebingungan. "Loh, Bos bukan tugas saya, kenapa mengajak saya? saya kan nggak familiar dengan hal-hal seperti itu?"
Rey lalu tertawa pelan tanpa suara, seakan mengerti jika Moana pasti akan menolaknya. Saat itu Rey langsung tahu jika firasatnya itu tidak meleset. Dimana kebanyakan wanita pasti akan sangat senang jika ia minta untuk berada di sisinya, tapi berbeda dengan wanita itu yang malah mencoba menghindarinya.
Rey memberi isyarat kembali agar Moana duduk di sampingnya. "Makanya duduk dulu."
Akhirnya mau tidak mau Moana memilih untuk duduk seperti apa yang Rey inginkan. Tapi, ia duduk di sofa yang terpisah dari yang Rey tempati.
"Kenapa kamu menolak?" tanya Rey.
"Bukan menolak, pak. Hanya nggak pengalaman aja."
Rey menarik kakinya yang saat itu menyilang. Kini posisi kedua kakinya menapak pada lantai di bawahnya. Kedua siku tangannya menyandar pada lututnya sendiri dan tubuhnya sedikit condong ke depan, sedangkan tatapan matanya sendiri menatap tajam ke arah Moana berada.
"Kau tahu, berada di sisiku nggak membutuhkan profesional atau tidak." Balas Rey.
Moana tidak bisa menjawab, ia terdiam di tempat dengan nafas dalam yang ia hela, rupanya Rey melihat.
"Sebegitu nggak sukanya ya kamu berada di dekatku?" ucapnya lembut. "Atau kamu takut aku mengetahui sesuatu?"
Tatapan tajam itu perlahan semakin mendekat. Hingga wajah tampan itu terhenti tepat di depan wajah Moana, Rey sedikit membungkuk untuk mengimbangi tinggi wanita di depannya. "Besok, temani aku ke luar Kota. Aku ada acara dan aku hanya percaya padamu saja." Rey tidak memberitahu Moana jika ia akan di jodohkan dengan wanita lain oleh keluarganya. Dan Rey berharap Moana bisa menjadi tameng baginya untuk menolak kencan tersebut. "Kenapa harus aku? aku nggak mau! aku nggak ada waktu!" tolak Moana begitu saja. Rey mengangguk beberapa kali. "Emb, kau adalah orang yang tepat, ini tugas kantor." Moana tidak tahu jika aslinya pertemuan itu juga tidak ingin Rey datangi. Tapi, karena kedua orang tua Rey yang meminta. Akhirnya ia mau tidak mau harus mau. "Tugas kantor apa? kenapa aku nggak tahu?" sahut Moana segera. Wanita itu lalu mundur beberapa langkah. "Besok kau akan tahu." Balas Rey kemudian. Akhirnya lelaki itu pergi. Malam itu Moana lewati dengan perasaan tidak tenang. Masa
moana 9Rey mengecup pelan jenjang leher Moana. Menyibakkan keseluruhan rambut keriting wanita itu yang terurai hingga menyamping. Sedangkan tangan Rey dengan kuat masih memeluk erat tubuh Moana yang perlahan patuh dan tidak memberontak lagi."Saat bersamamu, pengendalian diriku hilang," bisik Rey di ujung dagu Moana.Gadis itu merasakan tubuhnya panas, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, darahnya bergejolak dan semakin berdesir hebat saat bibir Rey perlahan mengecup jenjang lehernya perlahan dan berubah menjadi isapan sedikit menyengat dan berakhir dengan rasa basah dari ujung lidah Rey yang menyapunya."Masih mau?" bisik Rey tiba-tiba yang membuat Moana akhirnya membuka mata. Ia lalu merasakan perlahan pelukan erat tangan kekar Rey mengendur dan melepaskannya.Wanita itu kemudian berbalik menghadap ke arah Rey berada."A apa yang pak Rey lakukan?" tanya Moana dengan suara terbata-bata sembari perlahan melangkah mundur. Lelaki itu tersenyum sesaat. Dia tidak menyangka Moa
"Sakit, sakit Bos." Rintih Moana saat tangan kekar lelaki itu meringkusnya dengan kuat, dan salah satu tangan yang lain merangkak turun sembari menekan, menjalar sampai meraihh kedua sisi kaki Moana lalu menariknya hingga wanita itu terduduk diatas pangkuan Rey dengan kedua kaki terbuka memgamping di kedua sisi sampai rok yang Moana pakai terangkat naik. "Kau harus tanggung jawab!" ucap Rey lagi dengan suara parau. "Tapi," ucapan Moana terhenti saat tangan Rey sudah meraih tengkuk Moana kemudian menariknya mendekat sampai dada mereka melekat. Bibir itu berbenturan kasar dan perlahan menjadi lembut.Rey menyudahi ciuman itu sesaat. Menatap wajah Moana yang sudah merona merah, lalu mendaratkan kembali ciumannya setelah ia memastikan jika wanita itu tidak menolaknya.Hingga beberapa saat."Stop!" Moana mendorong dada Rey agar lelaki itu menyudahinya. Ciuman itu mampu membuat Moana menahan nafasnya selama bibir Rey memagut."Aku tidak bisa bernafas," ucap Moana yang terengah dengan tubu
"Oh ya Tuan Rey, bisakah anda membocorkannya sedikit pada kita semua, apakah wanita yang sesuai kriteria tuan Rey ada di sini, diantara kita?" Rey menatap ke arah Moana kembali. Tersenyum sekilas sebelum menjawabnya. "Ya, dia ada di sini." Dan ucapan tersebut mampu membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut ikut menatap kemana tatapan mata Rey berada. Dan tepat detik itu juga, datanglah seorang wanita cantik yang baru masuk, kebetulan pintunya ada di belakang tubuh Moana. Tampak semua orang yang melihat kedatangan wanita tersebut begitu puas. Mereka benar-benar tidak akan percaya jika yang Rey maksud adalah Moana. Wanita cantik itu mendekat ke arah si pembawa acara, memberi isyarat seakan ia baru saja tiba di tempat dan telat. "Waaaaahhh... kami menantikan kabar baiknya Tuan Rey," ucap si pembawa acara tersebut. Hingga acara tersebut selesai, wanita itu lalu mendekat ke arah Rey yang masih duduk di tempatnya. "Kenapa kamu meninggalkanku Rey? bukankah kau baru datang t
"Ingin sekali rasanya saat ini aku mengubur diriku ke dalam lautan pasir. Atau menghilang seperti kabut." Kini Moana tidak bisa mengelak lagi jika naskah novel itu adalah miliknya sendiri. Penyamarannya sudah terbongkar dan kemungkinan besar akan tersebar cepat atau lambat. Hingga hidangan yang Rey pesan sudah tiba di atas meja mereka. Dengan perasaan canggung, Moana menikmati makanan tersebut sampai selesai. Tibalah saatnya mereka pergi ke gedung sebelah untuk menghadiri undangan sesi wawancara. Moana hanya patuh layaknya Sekretaris Rey. Baru saja mereka masuk ke dalam perusahaan tersebut, Rey langsung di sambut oleh si pembawa acara dan beberapa orang lainnya yang menangani sesi wawancara Rey. Mereka dengan ramah mempersilahkan Rey untuk menempati tempatnya. Tidak lupa salah satu orang sebagai penata rias mencoba membantu Rey untuk tampil maksimal di depan layar kaca. Namun, Rey langsung menolaknya, ia seakan tidak mengizinkan orang lain menyentuhnya. "Tolong kerjasamanya
Moana membelalakkan mata karena terkejut. "Ba baik bos, saya akan iku."Setelah keluar dari ruangan Bosnya, Moana segera menuju ke tempat meja kerjanya kembali, ia segera merapikan tempatnya karena sudah pasti tugasnya di kantor hari itu sudah selesai. Ia harus mengikuti bosnya untuk acara wawancara."Loh, Mo Nggak enak badan kamu? kenapa sudah beres-beres, mau izin pulang sekarang?" tanya Zizi saat wanita itu melihat Moana sedang sibuk beberes.Moana mendengus dengan tangan masih belum berhenti. Tatapannya pun masih fokus dan hanya melirik sekilas ke arah Zizi sebelum fokus kembali. "Andai aku bisa izin Zi. Pasti lebih menyenangkan."Zizi makin antusias saat mendengarnya. "Akh, yang bener kamu? kalau kamu nggak mau harusnya ngerekomendasikan aku lah Mo. Aku mau banget tahu. Hemz, nggak kebayang deket pangeran bisnis yang tampan itu. Mujur banget sih kamu Mo."Moana makin mendengus dalam saat mendengar apa yang Zizi katakan. Moana merasa mungkin semua wanita memikirkan hal yang sama s







