เข้าสู่ระบบ"Selamat datang pinpinan baru," seru semua orang yang ada di sana.
Hingga hening kembali dan hanya terdengar suara langkah kaki lelaki itu yang beraturan. Bahkan semua orang bisa melihat si kaki jenjang dengan sepatu kulit mengkilap tengah melangkah melewati mereka. Lalu langkah kaki itu sampai tepat di ujung deretan dan di ikuti semua staf dari tingkatan paling tinggi sampai bagian Moana yang mengikuti di belakang rombongan.
Moana menatap garis punggung yang datar dan tegap. Postur tubuh yang jangkung dan yang membuatnya bertanya-tanya dalam hati adalah warna setelan jas yang bos barunya itu pakai seperti familiar menurutnya.
Akhirnya bos barunya itu masuk ke dalam ruang kantornya dan semua kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
"Sepertinya aku pernah melihatnya, dimana ya?" ucap dalam hati Moana lagi, sembari mulai membuka berkas yang tadi pagi ia bawa. "Apa tetangga apartemen tadi pagi ya?"
Belum sempat Moana mendapatkan jawaban, wanita itu mendengar suara ketua Divisi yang memanggil. "Moana, kemari!"
Seketika itu pula Moana segera terjaga, ia lalu menatap ke arah sumber suara dan beranjak dari tempatnya untuk menuju kesana.
"Iya pak, ada apa ya?" tanya Moana saat wanita itu sudah masuk ke dalam ruangan.
Terlihat lelaki paruh baya yang ada di seberang meja kerja itu menatap Moana sesaat. "Kamu kenal pak Rey?"
Moana menggelengkan kepala beberapa kali. "Pak Rey siapa ya, pak?"
"Kamu nggak lihat profil bos perusahaan yang baru, Mo?" tanya lelaki itu dengan suara sedikit keras. Terdengar begitu terkejut.
Wanita itu menyunggingkan senyum yang ia paksakan. "Oh, Bos baru namanya pak Rey ya, pak? maaf, saya lupa mempelajarinya kemarin karena sibuk."
Lelaki itu menghela nafas dalam sesaat. "Alasan aja kamu bisanya, Mo. Tuh! pak Rey mau kamu yang menemaninya keliling kantor. Cepat sana!"
Moana tersentak. Ia menunjuk dengan ujung jari dirinya sendiri. "Saya, pak?"
Atasan tersebut segera mengibas-ngibaskan tangannya. "Ya, cepat sana! jangan buat pak Rey menunggu."
Akhirnya Moana pun pergi meninggalkan tempat. Setelah tiba di depan pintu ruangan, Moana melihat Asisten Bosnya yang sudah menunggunya di sana. Si Asisten segera membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan Moana untuk masuk ke dalam.
Dengan sikap sopan dan hormat Moana berdiri di seberang meja kerja di depan kursi bosnya. Sedangkan Bosnya duduk di kursi dan sedang memunggunginya. Tampak kursi itu berputar dan menghadap ke arah Moana berada. Sontak tatapan mereka bertemu.
Moana yang awalnya merasa begitu familiar dengan postur tubuh Bosnya tersebut semakin terperanjat saat melihat lelaki itu yang kini berhadapan dengannya. "Tetangga! akh, maksud aku kenapa kamu di sini? lalu, akh! jangan-jangan kamu bosnya."
Rey menatap tajam yang tidak biasa ke arah Moana dengan beberapa jemari tangan bermain di atas meja kerjanya, senyum sinis tersungging di salah satu sisi ujung bibirnya. "Kenapa, apakah anak manja ini nggak bisa duduk di sini?"
"Mati aku!" Moana terperanjat dari tempat. Terhuyung hampir jatuh sampai melangkah ke belakang. "Maafkan saya pak, bu bukan begitu pak, saya tidak tahu kalau anda adalah pimpinan baru saya."
"Kenapa? kalau kamu tahu itu aku, apakah bisa menjamin dibelakangku kamu nggak akan bicara ngawur?"
Moana menggeleng cepat beberapa kali. "Saya... maafkan saya, pak. Janji nggak bicara ngawur lagi."
Rey menghela nafas sesaat. "Lain kali kalau belum tahu orang yang bersangkutan jangan asal bicara, apa lagi mengolok-olok seperti imajinasi yang kamu gambarkan."
Lagi-lagi Moana hanya menunduk malu setelah mengangguk. "Siap, pak."
Rey lalu menunjuk ke arah namanya yang ada di atas meja kerjanya. Atau name plate yang menunjukkan keseluruhan nama serta jabatannya di sana. "Kau bisa baca?"
Seketika itu pula Moana segera menatap pada papan mana tersebut dan membaca keseluruhan nama orang yang menempati meja tersebut. "Reyga Pradipta."
Rey lalu beranjak dari tempatnya. "Aku rasa kamu juga nggak peduli kan siapa nama ku, tetap saja kamu akan panggil 'anak manja' dibelakngku, benarkan?"
Dan sebelum Moana menyahut ucapan lelaki itu, Rey sudah segera mengajaknya meninggalkan tempat. Sepanjang perjalanan wanita itu lebih terkesan menunduk dan mengekori Rey dari belakang. Tidak seperti pemandu pada umumnya yang menunjukkan serta memberi informasi tempat yang mereka datangi atau lewati.
Tiba-tiba... "dug!" kening Moana membentur punggung Rey tanpa sengaja, karena sedari tadi Moana hanya berjalan sembari menundukkan kepalanya saja karena ia merasa masih meratapi kesalahan yang sudah ia lakukan.
Sontak, Moana hanya bisa mengaduh dengan tangan yang menekan keningnya. "Ma maafkan saya, pak."
Rey lalu berbalik menghadap ke arah wanita itu. "Kamu nggak niat menjadi pemandu ku ya?"
Moana menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Tidak, pak. Akh maksud saya, saya tentu saja niat, Pak."
Akhirnya setelah seharian pekerjaan Moana hanya mengantarkan Rey untuk keliling kantor dan melihat keadaan kantor. Wanita itu pun kembali ke apartemen.
Perasaan lelah campur malu masih ia rasakan saat berhadapan dengan Rey. Tapi, tidak ada jalan lain selain menghadapi hari esok kembali apaun yang terjadi.
Malam itu ketenangan Moana sudah terganggu, privasinya seakan sudah terkoyak dan mungkin persembunyian serta penyamarannya selama ini yang ia bangun dengan susah payah akan runtuh. Ia tidak tahu jika hari-harinya mendatang akan lebih menantang.
Hingga esok paginya, Moana berangkat kerja seperti biasa, ia lupa jika mobilnya masih di bengkel temannya dan belum sempat ia ambil. Rencananya nanti setelah pulang kantor ia akan mengambilnya.
"Tin." Sebuah klakson nyaring dengan mobil merangkak pelan di belakangnya lalu berhenti tepat di sisinya saat ia akan menuju ke jalan raya. Terlihat seseorang yang berada di dalam mobil sedang menurunkan kaca mobilnya separuh.
"Masuk!" perintahnya.
Bodohnya Moana melakukan apa yang lelaki itu inginkan. Ia segera masuk begitu saja tanpa pertanyaan.
Moana tersenyum sembari memberi hormat untuk menyapa. "Selamat pagi, pak."
Lelaki itu tanpa menjawab dan hanya mengabaikannya saja langsung melajukan mobil itu lagi. Moana pun segera mengenakan sabuk pengaman di tubuhnya tanpa bertanya atau komentar.
Sesekali wanita itu menatap ke araah Rey berada, tampak ekspresi lelaki itu hanya datar saja tidak seperti semalam saat ia melihatnya.
Hingga sampailah mobil itu tepat di ujung perempatan jalan raya dekat kantornya. Moana mencoba menghentikan Rey. "Pak, bisakah berhenti di sini saja?"
Lelaki itu menoleh tanpa bicara. Menepikan mobilnya lalu menghentikan laju mobilnya seperti apa yang Moana inginkan. Menurut Moana, hal itu tentu terlalu tidak biasa karena seorang bos mau menuruti apa yang ia mau.
Ayah Moana menarik napas dalam-dalam, membiarkan keheningan malam menyelimuti ruang tamu selama beberapa saat sebelum akhirnya beliau kembali bersuara. Tatapan matanya yang teduh namun tajam menembus langsung ke dalam manik mata Arga, mencoba mencari celah kebohongan yang mungkin tersembunyi di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah sorot mata seorang pria yang sedang bertaruh demi masa depannya."Arga," panggil Ayah Moana, suaranya berat dan sarat akan penekanan. "Moana ini adalah putri kami satu-satunya. Dia adalah anak perempuan tunggal yang kami besarkan dengan penuh kasih sayang, kami rawat dengan cucuran keringat, dan kami jaga kehormatannya sejak dia masih bayi hingga sebesar ini. Bagi kami, dia adalah harta paling berharga yang tidak bisa dinilai dengan materi apa pun."Arga mendengarkan dengan khidmat, tidak berani menyela sepatah kata pun."Jadi, dengarkan saya baik-baik," lanjut Ayah Moana, nada suaranya mengeras, memancarkan wibawa seorang kepala keluarga. "Kalau kedatan
Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Moana, lalu mengangguk mantap dengan sorot mata yang mengunci seluruh keraguan wanita itu.Melihat kesungguhan di mata Arga, Ayah Moana akhirnya menghela napas panjang. Ketegangan yang sempat menguar di teras rumah lambat laun mencair, digantikan oleh atmosfer yang jauh lebih tenang, walau sisa-sisa keterkejutan masih menggelayuti benak mereka."Sudah, tidak enak dilihat tetangga kalau bicara di luar seperti ini," ucap Ayah Moana sambil membetulkan letak sarungnya. "Mari masuk ke dalam. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin."Mereka berempat kemudian melangkah masuk ke dalam ruang tamu rumah Moana yang sederhana. Dindingnya yang bercat putih bersih dihiasi beberapa foto keluarga, kontras dengan sosok Arga yang malam ini tampak begitu mencolok dengan setelan jas mahalnya. Arga dan Moana duduk berdampingan di sofa kayu panjang, sementara Ayah dan Ibu Moana duduk di hadapan mereka.Namun, ketenangan di dalam ruangan itu tidak b
Pria itu merapikan jas hitamnya sekilas, lalu melangkah mantap mendekati pagar. Sorot lampu mobil yang begitu terang membuat siluet tubuhnya tampak begitu tegas dan dominan. Ayah dan Ibu Moana spontan maju satu langkah, bersiap menyambut orang asing tersebut dengan keramahan khas orang desa."Selamat malam, Bapak, Ibu," sapa Arga dengan suara yang terdengar berwibawa namun menyiratkan kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. "Maaf mengganggu kenyamanan malam-malam begini. Saya mau bertanya, apa benar ini alamat rumah Moana?"Belum sempat Ayah atau Ibu Moana membuka mulut untuk menjawab, pandangan Arga secara tidak sengaja melewati bahu kedua orang tua itu. Di ambang pintu yang remang-remang, ia menangkap sosok wanita yang dicarinya setengah mati sejak sore tadi. Rambutnya yang sedikit acak-acakan dan wajah pucatnya yang terbelalak kaget sama sekali tidak mengurangi pengenalan Arga."Moana!" seru Arga, matanya seketika berbinar mengabaikan rasa lelahnya.Tanpa mempedulikan etika
"Danu ada urusan mendadak di kantornya, Bu. Katanya ada berkas penting yang harus segera dia periksa sore ini juga," dusta Moana, menyusun alasan selogis mungkin agar ibunya tidak menaruh curiga. "Dia tadi mau pamit langsung ke Ibu, tapi saya larang karena Ibu lagi sibuk di dalam. Jadi, Danu titip salam dan permohonan maaf saja tadi sama Ibu."Mendengar penjelasan itu, helaan napas kecewa terdengar berat dari mulut ibunya. "Aduh, sayang sekali ya. Padahal Ibu sengaja panaskan kue lapis ini buat dia. Jarang-jarang ada pemuda sesopan dan punya tata krama seperti Danu itu, Moana. Tadi siang di gedung pernikahan saja, tantemu tidak berhenti memujinya." Ibu Moana menggeleng-gelengkan kepala sambil merapikan piring kue yang kini terasa sia-sia. "Ya sudah kalau begitu. Kamu juga kenapa masih berdiri di situ? Wajahmu pucat sekali, seperti orang kurang tidur."Moana menyentuh pipinya sendiri, merasakan sensasi dingin di kulitnya. Rasa lelah yang teramat sangat tiba-tiba menghantam seluruh s
"Arga, jangan nekat! Jarak dari kota ke sini itu butuh waktu berjam-jam, kamu jangan..."Belum sempat Moana menyelesaikan kalimatnya, layar ponselnya sudah berubah gelap. Arga memutuskan panggilan video itu secara sepihak, meninggalkan Moana yang terpaku dengan dada yang bergemuruh hebat karena cemas. Ia tahu betul jika Arga sudah berada di titik puncaknya, laki-laki itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Merutuki situasi yang mendadak menjadi begitu rumit dalam hitungan menit.Di seberang meja kecil itu, Danu yang sejak tadi menyimak perdebatan Moana di telepon tampak terdiam. Senyum menawan yang sebelumnya ia pamerkan kini telah memudar, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya. Danu meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas tatakan kaca dengan bunyi denting. Udara sore di teras itu mendadak terasa jauh lebih dingin."Moana," panggil Danu dengan nada suara yang kini jauh lebih serius, kehilangan nada menggoda yang ia gunakan sejak siang tadi. "Laki-laki di telepon tadi...
Begitu kakinya melangkah turun dari anak tangga pelaminan, Moana langsung mengembuskan napas panjang, berharap bisa segera meloloskan diri ke ruang ganti. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Danu, yang sejak tadi mengekor di belakangnya, dengan cekatan langsung memotong jalan dan berdiri tepat di hadapan Moana."Moana, tunggu sebentar," ucap Danu sembari menyunggingkan senyum yang menurutnya paling menawan. "Tadi di atas kita belum sempat mengobrol formal. Saya Danu. Ibu kita sebenarnya masih sepupu jauh. Boleh saya minta nomor WhatsApp kamu? Biar kalau sama-sama balik ke kota nanti, kita bisa janjian ngopi."Moana baru saja membuka mulut untuk menyusun penolakan yang paling halus, ketika tiba-tiba rombongan ibunya, bersama Bulik dan para uwak yang usil, merapat bagikan barikade yang mengunci ruang geraknya."Lho, Danu! Pintar ya curi-curi kesempatan," goda Bulik dengan tawa renyah yang sengaja dikeras-keraskan.Ibu Moana ikut tersenyum lebar, matanya berbinar melihat kedekatan k
"Oh ya Tuan Rey, bisakah anda membocorkannya sedikit pada kita semua, apakah wanita yang sesuai kriteria tuan Rey ada di sini, diantara kita?" Rey menatap ke arah Moana kembali. Tersenyum sekilas sebelum menjawabnya. "Ya, dia ada di sini." Dan ucapan tersebut mampu membuat semua orang yang ada di
"Ingin sekali rasanya saat ini aku mengubur diriku ke dalam lautan pasir. Atau menghilang seperti kabut." Kini Moana tidak bisa mengelak lagi jika naskah novel itu adalah miliknya sendiri. Penyamarannya sudah terbongkar dan kemungkinan besar akan tersebar cepat atau lambat. Hingga hidangan yang
Moana membelalakkan mata karena terkejut. "Ba baik bos, saya akan iku."Setelah keluar dari ruangan Bosnya, Moana segera menuju ke tempat meja kerjanya kembali, ia segera merapikan tempatnya karena sudah pasti tugasnya di kantor hari itu sudah selesai. Ia harus mengikuti bosnya untuk acara wawancar
Moana tersenyum sesaat sebelum melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya. Namun, saat ia akan membuka pintu mobil, Rey malah menguncinya.Dengan tatapan mata kebingungan dan gestur tubuh tidak nyaman, wanita itu hanya bisa menatap kembali ke arah lelaki di sampingnya. "Pak, terimakasih banyak, bisaka







