Share

24 – Hutang

Author: Ivy Morfeus
last update publish date: 2026-09-12 22:55:04

“Itu bukan gaun pengantinku ‘kan?”

Alea bergumam pelan di sela ia menyesap kopi hangatnya, seolah berharap jawabannya tidak.

Diturunkannya gelas itu ke pangkuannya. Jari telunjuknya mengetuk-ketuk dinding gelas, menimang apakah ia boleh membukanya sekarang. Karena sejujurnya dadanya sudah berdegup kencang ingin mencoba gaun itu lagi.

Akhirnya ia berdiri, meletakkan gelas di atas mejanya, berganti mengambil tas besar berwarna putih itu untuk dipindahkan ke atas ranjang.

Alea membuka resletingnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   56 — Jawaban Ambigu

    ‘Tolong jawab pertanyaanku,’Alea berdoa dalam hati. Ia sungguh membutuhkan jawabannya. Karena dari pertanyaan itu akar dari semua trauma dalam dirinya.Tatapan Andra masih tertuju padanya. Seolah ada sesuatu yang ingin keluar dari sana—sesuatu yang sudah lama tertahan. Tapi mulutnya tetap terkatup.Hanya diam. Dan justru itu yang membuat dada Alea terasa semakin sesak.Beberapa detik berlalu. Lalu Andra menghela napas pelan. Tangannya terangkat, mendarat ringan di atas kepala Alea. Mengusapnya singkat, seperti kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang.“Sudah kenyang, kan?” ucapnya datar. “Ayo pulang.”Selesai. Seolah pertanyaan tadi tidak pernah ada.Alea terdiam. Ada sesuatu yang ingin ia tarik kembali. Tapi Andra sudah bangkit dari duduknya. Mengambil mangkuk plastik bekas mie instan mereka, lalu berjalan ke tempat sampah.Alea menatap punggungnya beberapa detik lebih lama. Lalu buru-buru berdiri, mengikuti langkahnya keluar.Langit jingga menyambut mereka dengan dingin

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   55 — Dia Tidak Pernah Pergi

    Alea mengunyah mie-nya perlahan, terlalu tenang untuk badai di dalam kepalanya.Sengaja menggantungkan pertanyaan Andra di antara mereka. Di pikirannya ia masih ragu apa yang harus diucapkan. Mulai dari mana? Bagaimana agar tidak terlihat menyedihkan?Suasana di mini market itu mendadak terasa sempit. Hanya ada suara kipas pendingin, latar belakang lagu yang diputar entah sudah keberapa kali sejak tadi. Andra akhirnya bangkit dari duduknya. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan ke arah lemari pendingin. Tangannya membuka pintu kaca, mengambil dua kaleng soda dingin, lalu kembali.Satu kaleng diletakkan di depan Alea.“Minum.” suaranya datar, sedikit sinis. “Otakmu perlu dibilas bersih.”Ia langsung membuka kalengnya sendiri. Suara desis pelan terdengar, diikuti dengan tegukan panjang.Alea hanya menatap kaleng di depannya. Dingin dan berembun.Sudah lama ia berhenti minum soda. Terlalu banyak gula. Tidak baik untuk lambungnya. Tidak baik untuk tubuhnya.Seperti banyak hal lain yang ia h

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   54 — Keputusan yang Goyah

    “Aku mau tunda pernikahannya.”Keheningan di dalam mobil terasa menyesakkan. Kalimat itu masih menggantung di antara mereka. Andra tidak menjawab apa-apa. Hanya menyelesaikan memasang seat belt untuk Alea, lalu berucap,“Kita pikirkan itu nanti. Sekarang aku antar kamu pulang dulu,”Dan di sinilah ia, di dalam mobil yang sedang melaju. Dalam keheningan yang memuakkan. Andra sedari tadi tidak membuka mulutnya. Tatapannya selalu lurus ke depan. Cukup memberikan waktu untuk Alea bermain dengan pikirannya sendiri.‘Apa yang sudah aku katakan, sih?’ Alea menggigit bibir bawahnya.‘Bagaimana kalau Andra berpikir aku bilang itu karena kesal dia hanya menganggapku adiknya?’Alea mengintip lebih dalam hatinya lagi. Mengeceknya, apa alasan sebenarnya ia mengatakan itu? Ia kembali mengingat kejadian tadi: tatapan Tasya yang meremehkannya, mata Lukas yang lebih banyak mengarah pada Tasya daripada Alea, tunangannya sendiri. Lalu bisikannya sebelum Andra datang.Ia mengusap pergelangan tangannya,

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   53 — Saya Kakaknya

    “Kamu…” Suara Lukas terdengar ragu. Matanya menyipit, mencoba mengingat wajah pria yang sekarang berdiri di antara dia dan Alea. Andra tidak langsung menjawab. Tatapannya datar, tapi posisinya jelas—sedikit di depan Alea, seperti dinding. “Kamu ini… tunangannya, kan?” tanya Andra akhirnya, tenang. Lukas mengernyit. Lalu seolah sesuatu terlintas di benaknya, ia berkata, “Ah…” Kekehan pendek keluar dari mulutnya, tapi tanpa humor. “Kamu pria di kafe waktu itu.” Tangannya refleks terangkat, menggenggam pergelangan tangannya sendiri. Seolah masih mengingat rasa nyeri yang pernah ditinggalkan Andra. “Apa urusanmu di sini?” lanjutnya, nadanya mulai mengeras “Ah, apa kamu menguntitnya?” Namun sebelum Andra menjawab, suara kecil terdengar di belakangnya. “Aku… mau pulang…” Alea. Suaranya lemah. Hampir seperti bisikan. “Kak Andra…” panggilnya lirih, nyaris tak terdengar. Andra langsung menoleh. Wajahnya sedikit melunak. “Iya. Kita pulang.” Tanpa banyak kata, ia merai

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   52 — Pelindung Terakhir

    “Alenta, kamu sudah datang,”Suara familiar itu terdengar dari pintu butik. Lukas berdiri di sana, masih dengan penampilan yang rapi, tanpa jas. Kemejanya bersih, ekspresinya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya tahu apa yang sedang terjadi.Ada sesuatu di dalam dada Alea yang sempat menghangat. Akhirnya, seseorang yang seharusnya berada di sisinya.“Syukurlah, akhirnya kamu sampai,” suara Alea hampir terdengar seperti lega.Ia berjalan menghampiri Lukas. Langsung menggenggam tangannya, meminta dukungan.“Soal gaunnya, aku—” Alea membuka mulut, ingin bicara. Ingin menunjukkan gaun itu. Ingin bilang kalau ia tidak baik-baik saja.Tapi, pria itu menyelanya.“Kamu sudah pilih gaunnya?”Kalimat itu keluar dari mulut Lukas dengan mudahnya. Seolah ini hanya soal memilih warna kemeja.Sesuatu di dalam diri Alea langsung runtuh pelan, tanpa suara. Lukas melangkah mendekat, matanya sempat melirik gaun di meja. Hanya sekilas. Tanpa berhenti.“Kalau yang itu rusak, kita pilih ya

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   51 — Hak yang Dirampas

    Suara ban berdecit keras di belakangnya.“Alea!”Brak!Telapak tangan Andra menghantam kaca jendela mobilnya.“Alea, turun.” Suaranya tidak setenang biasanya.Tapi Alea tidak menoleh. Tangannya sudah terkunci di setir. Napasnya masih berantakan, tapi matanya lurus ke depan. Kabur, tapi fokusnya hanya satu: pergi.Brak!Sekali lagi Andra menggebrak kaca itu, hanya untuk membuat suaranya lebih keras.“Alea!”Beberapa kepala menoleh dari arah lobby. Tapi Alea tidak peduli. Ia menekan pedal gas.Mobil itu bergerak. Meninggalkan Andra yang masih berdiri di sana dengan wajah frustasi.Jalanan terasa seperti blur.Alea tidak ingat bagaimana ia keluar dari area kantor. Yang ia tahu hanya satu: ia tidak bisa tetap di sana lebih lama.Tangannya gemetar di setir.“Jangan… jangan gaun itu…”Suara itu keluar pelan, seperti doa yang tidak punya jawaban. Lampu merah, hijau, suara klakson—semuanya lewat tanpa benar-benar masuk ke pikirannya.Sampai akhirnya, mobil itu berhenti. Di depan sebuah butik.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status