LOGINCharles dan Jacob kembali ke lantai paling atas Grup Hartawan. Saat mereka tiba, semua staf kantor presdir langsung mengerumuni mereka.Jacob hanya melambaikan tangan sebagai balasan atas ucapan terima kasih yang terdengar bersahut-sahutan.Sambil membawa kopi di tangannya, Jacob segera berjalan menghampiri Estelle dengan tidak sabar, seolah ingin mencari pujian. "Stelle, ini flat white favoritmu. Aku sudah membelikannya."Estelle mengangkat alis. Dia agak terkejut karena Jacob ternyata mengingat kopi favoritnya.Sepertinya, selama ini dia memang terlalu terjebak dalam prasangkanya sendiri hingga salah paham mengenai Jacob. Padahal rasa suka Jacob kepadanya sebenarnya sudah terlihat dari banyak hal.Namun, Estelle sengaja memasang wajah datar. "Tapi, hari ini aku ingin minum late."Bukankah Jacob pernah mengatakan dirinya terlalu banyak tingkah? Kalau begitu, sekarang dia akan memperlihatkan kepada Jacob seperti apa sebenarnya sikap "banyak tingkah" itu.Awalnya dia ingin melihat Jacob
"Nggak. Aku maunya kamu yang turun sendiri belikan. Bukannya tadi kamu bilang kalau aku menyuruhmu ke timur, kamu nggak akan pergi ke barat? Masa sekarang turun buat belikan aku kopi saja nggak mau?"Estelle menghela napas, lalu berpura-pura menarik tangannya dari genggaman Jacob. "Kalau memang nggak mau, ya sudah. Hal sekecil ini saja kamu nggak mau lakukan untukku. Kurasa kita memang masih belum cocok."Mendengar itu, Jacob langsung berdiri. "Tunggu, aku pergi beli sekarang!"Melihat punggung Jacob yang melangkah pergi dengan cepat, Estelle tak kuasa menahan tawanya. "Jacob, dulu kamu terus menyuruh-nyuruhku setiap hari. Sekarang saatnya melunasi utangmu."Saat turun ke lantai bawah, Jacob tak lupa mengajak Charles. Karena berhasil berbaikan dengan Estelle, suasana hati Jacob benar-benar sedang sangat baik. Dia pun memutuskan mentraktir semua orang yang bekerja di lantai paling atas minum kopi. Bahkan kopi itu akan dibelinya sendiri.Sayangnya, dia tidak mungkin membawa begitu banyak
Jacob seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Estelle. Dia lalu menambahkan, "Aku sendiri juga nggak tahu sejak kapan mulai menyukaimu.""Mungkin pas pertama kali melihatmu. Hanya saja, aku belum pernah menyukai siapa pun sebelumnya.""Aku nggak tahu kalau perasaan itu ternyata cinta. Jadi yang kupikirkan hanyalah menggunakan segala macam cara agar kamu tetap tinggal di sisiku.""Aku nggak rela melepasmu pergi. Aku memberimu pekerjaan yang layak karena aku menyukaimu. Aku membelikanmu apartemen agar kamu punya tempat tinggal yang nyaman, juga karena aku menyukaimu.""Aku nggak rela membawamu menghadiri acara-acara resmi juga karena aku menyukaimu.""Maaf karena aku nggak pernah memberimu status yang pantas. Maaf karena aku pernah meninggalkanmu sendirian di jalan layang saat hujan.""Yang paling parah adalah aku pernah menggunakan Fredy untuk menakut-nakutimu. Maaf."Estelle menatap Jacob dalam-dalam. Dia merasa benteng pertahanan yang selama ini dibangunnya mulai menunjukkan ta
Ketulusan adalah satu-satunya jurus yang benar-benar ampuh.Karena itu, Jacob hanya bisa mencoba segala cara. Dia mengungkapkan semua isi hatinya kepada Estelle tanpa menyembunyikan apa pun.Mungkin saja ... cara yang diberikan sahabatnya itu bisa berhasil.Setelah terdiam cukup lama, Estelle akhirnya berkata dengan nada kesal, "Mana ada orang yang memaksa orang lain mengalah tapi malah nggak tahu cara mengalah?""Kalau begitu, dulu aku seharusnya mengalah seperti apa biar kamu nggak marah lagi?"Jacob terdiam sejenak. "Kamu benar-benar ingin tahu?"Estelle mengangguk.Memanfaatkan saat Estelle lengah, Jacob segera mendekat. Dia mengecup bibir merah Estelle. Hanya sentuhan singkat. Sesudah itu, dia segera mundur kembali.Melihat wajah Estelle yang penuh keterkejutan, Jacob berkata dengan nada seolah tidak bersalah, "Tentu saja ... aku berharap kamu melakukannya seperti itu."Mata Estelle membelalak. Dia belum sempat bereaksi, tetapi dia menyadari sesuatu yang membuatnya canggung. Entah
Tentu saja Estelle tahu bahwa yang dimaksud Jacob adalah uang denda pelanggaran kontrak sebesar 12 miliar yang dibayarkan Leo untuknya.Namun, siapa yang barusan mengaku-aku bahwa Leo adalah calon ayah mertuanya?Estelle menggertakkan giginya. "Pak Jacob, aku nggak paham apa yang kamu bicarakan."Jacob sama sekali tidak peduli dengan sikapnya yang pura-pura bodoh."Esti, kamu tahu sendiri, aku nggak pernah berperang tanpa persiapan. Aku harus lebih dulu menunjukkan niat baik ke Grup Ansari supaya kalian bisa melihat ketulusanku, 'kan?""Bukan cuma itu. Apa pun yang kamu inginkan, aku bisa memberikannya padamu."Tatapan Jacob yang begitu membara membuat Estelle merasa matanya seolah benar-benar terbakar.Tanpa sadar, Estelle mengalihkan pandangan. "Maaf, Pak Jacob. Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan."Jacob tidak puas dengan sikap Estelle yang terus menghindar. Dia berdiri tegak, mengulurkan lengannya yang panjang, lalu menarik kursi kerja Estelle hingga mendekat ke arahnya. Bahka
Charles sampai merasa mungkin pendengarannya sedang bermasalah. Kalau hal ini terjadi dua minggu yang lalu, hanya karena tiga kesalahan tanda baca dalam proposal, Jacob pasti sudah memarahinya habis-habisan.Jangankan sampai menandai kesalahannya, Charles mungkin akan disuruh mencari sendiri ....Saat Charles hendak mengambil proposal itu untuk direvisi, Jacob kembali mengetukkan jarinya ke atas meja, lalu menambahkan, "Oh ya, jangan lupa ubah juga pembagian keuntungannya. Tambahkan 10% keuntungan untuk Grup Ansari."Kali ini, Charles benar-benar merasa dirinya salah dengar. Dia mengulanginya dengan tidak percaya, "Menambah 10% keuntungan ...?"Kata memberi tambahan keuntungan yang keluar dari mulut Jacob saja sudah cukup untuk membuat Charles terbengong, apalagi nilainya sampai 10%.Namun, begitu teringat bahwa orang yang dikirim Grup Ansari untuk menangani proyek ini adalah Estelle, Charles tiba-tiba merasa semuanya menjadi cukup masuk akal. Baiklah, bosnya memang sedang dimabuk cint







