Share

Bab 2

Author: Arturas
Ketika kata-kata itu terucap, bahkan sopir yang sejak tadi fokus ke jalan pun sampai membuat setirnya sedikit oleng.

Ekspresi Jacob tetap tidak berubah. "Mau istirahat?"

Estelle menjawab dengan tenang, "Bukan, aku ingin mengundurkan diri."

Suasana di dalam mobil langsung hening.

Jacob melepaskan genggaman tangannya, lalu perlahan menjauh dari tubuh Estelle. Tatapannya yang dalam terkunci padanya. "Alasannya?"

Estelle menjawab dengan tenang, "Nggak ada alasan khusus. Aku hanya nggak ingin bekerja di sini lagi."

Saat berusia 23 tahun, dia tanpa ragu melompat ke dalam jebakan kelembutan Jacob. Awalnya dia mengira yang menantinya adalah cinta yang begitu mendalam. Namun, setelah tiga tahun berlalu, Estelle akhirnya benar-benar menyadari posisinya.

Bagi dirinya, Jacob adalah segalanya. Namun bagi Jacob, dia hanyalah seorang sekretaris yang cakap dan kekasih yang menjalankan perannya dengan baik. Kehadirannya memang membantu, tetapi kepergiannya juga tidak akan disesali. Dia bisa digantikan oleh siapa pun kapan saja.

Bukan berarti Estelle tidak pernah membayangkan bisa bersama Jacob. Namun, Keluarga Hartawan terus memilihkan calon pasangan yang sepadan untuk pernikahan aliansi.

Saat Jacob pertama kali kencan buta dengan putri keluarga konglomerat, Estelle pernah memberanikan diri bertanya apakah Jacob benar-benar akan menikahi salah satu perempuan itu nanti.

Saat itu, Jacob baru saja turun dari ranjangnya. Dia menatap Estelle sambil tersenyum, tetapi tatapan itu seolah mengatakan bahwa Estelle baru saja mengajukan pertanyaan yang sangat bodoh.

Jawabannya hanya satu kalimat. "Kalau nggak begitu, bisa gimana lagi?"

Benar. Kalau tidak seperti itu, bisa bagaimana lagi?

Jika pria dengan status seperti Jacob tidak menikahi wanita-wanita bangsawan yang sepadan dengannya, apa mungkin dia akan memilih perempuan seperti dirinya yang tidak punya kekuasaan, tidak punya latar belakang, dan dibesarkan di panti asuhan?

Kalaupun Jacob tetap membiarkan dia berada di sisinya, paling-paling dia hanya akan menjadi kekasih gelapnya seumur hidup.

Estelle mengizinkan dirinya berlaku bodoh selama tiga tahun, tetapi bukan berarti dia bersedia terus berlaku bodoh seumur hidup.

"Sudah dipikirkan baik-baik?" Nada bicara Jacob tidak terdengar keras, tetapi tetap memancarkan tekanan yang tak kasatmata. Kelembutan beberapa saat yang lalu lenyap tanpa bekas.

Estelle menatap balik matanya. "Sudah."

Jacob memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, suaranya terdengar dingin tanpa emosi. "Terserah kamu. Besok aku akan minta HRD mulai mencari penggantimu."

Hati Estelle yang semula tegang akhirnya sedikit lega. Namun, pada saat yang sama, ada rasa getir yang sulit dijelaskan memenuhi dadanya.

Benar saja. Posisi sekretaris di sisi Jacob memang bisa diisi oleh siapa saja. Dia menunduk dan tidak berkata apa-apa lagi. Suasana hangat yang sempat memenuhi mobil seketika berubah menjadi begitu pengap.

Beberapa detik kemudian, ponsel Jacob berdering. Yang menelepon adalah gadis yang tadi berkencan buta dengannya. Suaranya manis seolah bercampur madu.

"Pak Jacob, mobilku mogok. Kamu bisa kembali menjemputku?"

Jacob terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab singkat, "Ya."

Dia menutup telepon, lalu berkata dengan datar kepada sopir, "Putar balik untuk jemput Alice. Tapi berhenti dulu di depan."

Setelah itu, dia menoleh kepada Estelle dengan ekspresi dingin. "Nanti nggak nyaman kalau kamu ada di mobil. Turun saja di sini dan pulang naik taksi sendiri."

Tubuh Estelle langsung menegang. Mereka sedang berada di jalan layang. Jacob berniat meninggalkannya di tempat seperti itu, seolah sama sekali tidak merasa keputusannya kejam,

Jacob tetap berbicara dengan nada datar. Dia bahkan tidak melirik Estelle. Sikapnya sedingin saat menghadapi lawan di meja perundingan. "Jangan buang waktu. Cepat turun."

Napas Estelle yang selama ini selalu tenang mendadak menjadi tidak teratur. Padahal Jacob jelas tidak menyukai Alice, tetapi demi perempuan itu, Jacob rela meninggalkannya sendirian di jalan layang.

Benar. Yang satu adalah putri keluarga kaya yang sedang berkencan buta dengannya. Yang satu lagi hanyalah kekasih gelap yang bisa ada ataupun tidak. Tentu saja Jacob akan memilih seperti ini.

"Baik." Mata Estelle memerah. Dia menarik napas dalam-dalam hingga kembali tenang, lalu membuka pintu mobil dan turun dengan patuh.

Entah sejak kapan hujan deras sudah mengguyur. Dia bahkan tidak membawa payung. Dia seorang diri berjalan tertatih di tengah hujan, tampak begitu menyedihkan.

Di dalam Maybach, sopir melihat sosok perempuan keras kepala yang sudah berjalan di depan dan hampir tersapu angin. Dia merasa tidak tega.

"Pak Jacob, di jalan layang nggak mungkin dapat taksi. Lagi pula hujannya deras sekali. Bu Estelle sepertinya juga lagi hari pertama menstruasi. Waktu nunggu Bapak tadi, dia sempat beli obat pereda nyeri di apotek. Dia ...."

Mendengar sopir terus membela Estelle, Jacob memejamkan mata dan berkata dengan suara sedingin es, "Bosmu itu aku atau dia? Kalau masih banyak bicara, kamu juga turun dari mobil."

Sopir langsung ketakutan. Karena enggan kehilangan pekerjaan, dia buru-buru menginjak pedal gas.

Mobil melaju kencang. Saat melewati Estelle, cipratan air menghantam seluruh tubuhnya.

Melihat mobil itu pergi tanpa melambat sedikit pun, Estelle hanya bisa tersenyum pahit. Rasa nyeri di perut bagian bawah mulai datang bergelombang.

Tiba-tiba, dia teringat kejadian di masa lalu. Pernah suatu kali dia pergi ke sebuah resor untuk membantu Jacob menegosiasikan kerja sama. Karena selesainya tengah malam, dia tidak bisa mendapatkan kendaraan pulang.

Saat sedang kebingungan, Jacob ternyata datang sendiri menjemputnya. Saat mengetahui Estelle sedang menstruasi, dia bahkan membiarkan Estelle bersandar di pelukannya. Tanpa memedulikan statusnya, Jacob juga terus mengusap perut bawah Estelle dengan telapak tangannya yang besar untuk meredakan rasa sakit.

Waktu itu Estelle sangat terharu. Dia selalu merasa Jacob pernah tulus mencintainya. Namun, jika dipikirkan kembali sekarang, semua itu hanyalah cara Jacob memperlakukan seorang kekasih.

Saat patuh, dia akan dimanjakan. Saat tidak patuh, dia akan dibuang begitu saja.

'Estelle ... betapa bodohnya dirimu. Butuh waktu tiga tahun hanya untuk menyadari kenyataan itu.'

Estelle berjalan di tengah hujan selama satu jam. Pada akhirnya, karena rasa sakit di perutnya makin hebat, dia pingsan di jalan layang.

Untungnya, ada sebuah kendaraan yang menemukannya dan membawanya ke rumah sakit.

Setelah semalaman menerima infus di rumah sakit, Estelle menatap bulan di luar jendela dengan mata merah. Dia tidak bisa tidur semalaman.

Saat fajar menyingsing keesokan harinya, dia mencabut jarum infus, merapikan penampilannya di kamar mandi, lalu naik taksi menuju kantor.

Hal pertama yang dia lakukan setelah tiba di kantor adalah menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada bagian HRD.

Awalnya dia mengira prosesnya akan selesai dengan cepat. Namun, hingga menjelang jam pulang kerja, HRD masih belum memberikan jawaban.

Estelle pun pergi menanyakannya. Namun, dia lalu diberi tahu bahwa surat pengunduran dirinya masih tertahan di tangan Jacob.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 38

    Charles dan Jacob kembali ke lantai paling atas Grup Hartawan. Saat mereka tiba, semua staf kantor presdir langsung mengerumuni mereka.Jacob hanya melambaikan tangan sebagai balasan atas ucapan terima kasih yang terdengar bersahut-sahutan.Sambil membawa kopi di tangannya, Jacob segera berjalan menghampiri Estelle dengan tidak sabar, seolah ingin mencari pujian. "Stelle, ini flat white favoritmu. Aku sudah membelikannya."Estelle mengangkat alis. Dia agak terkejut karena Jacob ternyata mengingat kopi favoritnya.Sepertinya, selama ini dia memang terlalu terjebak dalam prasangkanya sendiri hingga salah paham mengenai Jacob. Padahal rasa suka Jacob kepadanya sebenarnya sudah terlihat dari banyak hal.Namun, Estelle sengaja memasang wajah datar. "Tapi, hari ini aku ingin minum late."Bukankah Jacob pernah mengatakan dirinya terlalu banyak tingkah? Kalau begitu, sekarang dia akan memperlihatkan kepada Jacob seperti apa sebenarnya sikap "banyak tingkah" itu.Awalnya dia ingin melihat Jacob

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 37

    "Nggak. Aku maunya kamu yang turun sendiri belikan. Bukannya tadi kamu bilang kalau aku menyuruhmu ke timur, kamu nggak akan pergi ke barat? Masa sekarang turun buat belikan aku kopi saja nggak mau?"Estelle menghela napas, lalu berpura-pura menarik tangannya dari genggaman Jacob. "Kalau memang nggak mau, ya sudah. Hal sekecil ini saja kamu nggak mau lakukan untukku. Kurasa kita memang masih belum cocok."Mendengar itu, Jacob langsung berdiri. "Tunggu, aku pergi beli sekarang!"Melihat punggung Jacob yang melangkah pergi dengan cepat, Estelle tak kuasa menahan tawanya. "Jacob, dulu kamu terus menyuruh-nyuruhku setiap hari. Sekarang saatnya melunasi utangmu."Saat turun ke lantai bawah, Jacob tak lupa mengajak Charles. Karena berhasil berbaikan dengan Estelle, suasana hati Jacob benar-benar sedang sangat baik. Dia pun memutuskan mentraktir semua orang yang bekerja di lantai paling atas minum kopi. Bahkan kopi itu akan dibelinya sendiri.Sayangnya, dia tidak mungkin membawa begitu banyak

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 36

    Jacob seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Estelle. Dia lalu menambahkan, "Aku sendiri juga nggak tahu sejak kapan mulai menyukaimu.""Mungkin pas pertama kali melihatmu. Hanya saja, aku belum pernah menyukai siapa pun sebelumnya.""Aku nggak tahu kalau perasaan itu ternyata cinta. Jadi yang kupikirkan hanyalah menggunakan segala macam cara agar kamu tetap tinggal di sisiku.""Aku nggak rela melepasmu pergi. Aku memberimu pekerjaan yang layak karena aku menyukaimu. Aku membelikanmu apartemen agar kamu punya tempat tinggal yang nyaman, juga karena aku menyukaimu.""Aku nggak rela membawamu menghadiri acara-acara resmi juga karena aku menyukaimu.""Maaf karena aku nggak pernah memberimu status yang pantas. Maaf karena aku pernah meninggalkanmu sendirian di jalan layang saat hujan.""Yang paling parah adalah aku pernah menggunakan Fredy untuk menakut-nakutimu. Maaf."Estelle menatap Jacob dalam-dalam. Dia merasa benteng pertahanan yang selama ini dibangunnya mulai menunjukkan ta

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 35

    Ketulusan adalah satu-satunya jurus yang benar-benar ampuh.Karena itu, Jacob hanya bisa mencoba segala cara. Dia mengungkapkan semua isi hatinya kepada Estelle tanpa menyembunyikan apa pun.Mungkin saja ... cara yang diberikan sahabatnya itu bisa berhasil.Setelah terdiam cukup lama, Estelle akhirnya berkata dengan nada kesal, "Mana ada orang yang memaksa orang lain mengalah tapi malah nggak tahu cara mengalah?""Kalau begitu, dulu aku seharusnya mengalah seperti apa biar kamu nggak marah lagi?"Jacob terdiam sejenak. "Kamu benar-benar ingin tahu?"Estelle mengangguk.Memanfaatkan saat Estelle lengah, Jacob segera mendekat. Dia mengecup bibir merah Estelle. Hanya sentuhan singkat. Sesudah itu, dia segera mundur kembali.Melihat wajah Estelle yang penuh keterkejutan, Jacob berkata dengan nada seolah tidak bersalah, "Tentu saja ... aku berharap kamu melakukannya seperti itu."Mata Estelle membelalak. Dia belum sempat bereaksi, tetapi dia menyadari sesuatu yang membuatnya canggung. Entah

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 34

    Tentu saja Estelle tahu bahwa yang dimaksud Jacob adalah uang denda pelanggaran kontrak sebesar 12 miliar yang dibayarkan Leo untuknya.Namun, siapa yang barusan mengaku-aku bahwa Leo adalah calon ayah mertuanya?Estelle menggertakkan giginya. "Pak Jacob, aku nggak paham apa yang kamu bicarakan."Jacob sama sekali tidak peduli dengan sikapnya yang pura-pura bodoh."Esti, kamu tahu sendiri, aku nggak pernah berperang tanpa persiapan. Aku harus lebih dulu menunjukkan niat baik ke Grup Ansari supaya kalian bisa melihat ketulusanku, 'kan?""Bukan cuma itu. Apa pun yang kamu inginkan, aku bisa memberikannya padamu."Tatapan Jacob yang begitu membara membuat Estelle merasa matanya seolah benar-benar terbakar.Tanpa sadar, Estelle mengalihkan pandangan. "Maaf, Pak Jacob. Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan."Jacob tidak puas dengan sikap Estelle yang terus menghindar. Dia berdiri tegak, mengulurkan lengannya yang panjang, lalu menarik kursi kerja Estelle hingga mendekat ke arahnya. Bahka

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 33

    Charles sampai merasa mungkin pendengarannya sedang bermasalah. Kalau hal ini terjadi dua minggu yang lalu, hanya karena tiga kesalahan tanda baca dalam proposal, Jacob pasti sudah memarahinya habis-habisan.Jangankan sampai menandai kesalahannya, Charles mungkin akan disuruh mencari sendiri ....Saat Charles hendak mengambil proposal itu untuk direvisi, Jacob kembali mengetukkan jarinya ke atas meja, lalu menambahkan, "Oh ya, jangan lupa ubah juga pembagian keuntungannya. Tambahkan 10% keuntungan untuk Grup Ansari."Kali ini, Charles benar-benar merasa dirinya salah dengar. Dia mengulanginya dengan tidak percaya, "Menambah 10% keuntungan ...?"Kata memberi tambahan keuntungan yang keluar dari mulut Jacob saja sudah cukup untuk membuat Charles terbengong, apalagi nilainya sampai 10%.Namun, begitu teringat bahwa orang yang dikirim Grup Ansari untuk menangani proyek ini adalah Estelle, Charles tiba-tiba merasa semuanya menjadi cukup masuk akal. Baiklah, bosnya memang sedang dimabuk cint

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status