Share

Bab 3

Author: Arturas
Estelle sebenarnya tidak ingin bertemu Jacob lagi. Bahkan semua urusan yang mengharuskannya masuk ke ruang presdir hari itu sudah dia serahkan kepada orang lain. Namun, karena pengunduran dirinya terhambat di tahap ini, dia tidak punya pilihan selain mengetuk pintu dan masuk.

"Pak Jacob, apa ada masalah dengan surat pengunduran diriku?"

Jacob mengangkat pandangan dengan datar. "Tentu saja ada."

Estelle menahan kesabarannya. "Masalah apa?"

"Setahun yang lalu, salah satu anak perusahaan Grup Hartawan mengalihkan status perwakilan hukumnya padamu. Waktu itu kamu menandatangani kontrak. Sebelum statusmu sebagai perwakilan hukum berakhir, kamu nggak boleh meninggalkan Grup Hartawan."

Jacob melirik dokumen di tangannya. "Sisa waktu kontraknya masih tiga bulan. Artinya, surat pengunduran diri ini baru bisa kusetujui tiga bulan lagi."

Estelle terdiam cukup lama sebelum berkata, "Kalau begitu, tiga bulan lagi aku akan datang untuk mengambil surat persetujuan pengunduran diriku."

Sikapnya yang seolah tidak sabar untuk benar-benar memutuskan hubungan membuat Jacob mencibir.

Setelah Estelle keluar dari ruang presdir, seluruh staf di sana langsung mengetahui kabar bahwa dia akan mengundurkan diri.

Semua orang awalnya terkejut, lalu merasa berat melepasnya. Beberapa sekretaris yang selama ini dibimbing langsung olehnya bahkan mengerubungi mejanya dengan mata memerah.

"Kak Estelle, kami benar-benar nggak rela kamu resign."

"Di sini, cuma kamu yang paling mengerti Pak Jacob. Kalau kamu pergi, kami benar-benar nggak tahu harus gimana."

Estelle hanya tersenyum tipis. "Itu karena sudah terbiasa. Kalau kalian lebih sering mendampingi Pak Jacob, lama-lama kalian juga bisa."

"Mana ada giliran kami. Lihat tuh Floela. Pas dengar kamu mau resign, dia sudah tiga kali masuk ke ruang presdir mengantar kopi. Kelihatan banget nggak sabar mau menggantikan posisimu."

Estelle mengangkat kepala. Benar saja, Floela yang merias wajahnya dengan sempurna sedang membawa secangkir kopi sambil mengetuk pintu ruang presdir. Wajahnya dipenuhi antusiasme.

Kalau ini terjadi satu-dua tahun lalu, Estelle pasti akan berpura-pura tetap tenang bekerja, tetapi diam-diam tersiksa selama berhari-hari.

Namun, sekarang dia hanya melirik sekilas tanpa mengatakan apa pun. Dia harus memaksa diri untuk melepaskan semuanya. Mulai sekarang, siapa pun wanita yang berada di sisi Jacob sudah tidak ada hubungannya lagi dengannya.

Sore harinya, Estelle menerima panggilan dari sambungan internal Jacob. Jacob memintanya menemani menghadiri jamuan minum malam itu.

Dia bahkan menyuruh seseorang mengantarkan gaun beludru hijau kepadanya. Sekilas saja sudah terlihat harganya sangat mahal. Dalam urusan seperti ini, Jacob memang tidak pernah pelit.

Malam itu, Estelle mengenakan gaun itu dan menggandeng lengan Jacob menghadiri jamuan. Baru saja turun dari mobil, mereka bertemu dengan seorang presdir perusahaan yang bekerja sama dengan Grup Hartawan di depan hotel.

Setelah menyapa Jacob, pria itu memandang Estelle. Kilatan kagum tampak di matanya sebelum dia berseloroh, "Estelle sudah tiga tahun mendampingi Pak Jacob. Sekarang jadi makin cantik, ya."

Estelle tersenyum tipis. "Bapak terlalu memujiku."

Pria itu kembali berkata, "Ngomong-ngomong, malam ini Pak Fredy dari Xpert juga datang. Pak Jacob nggak takut mengajak Estelle?"

Jacob menjawab dengan nada datar, "Ini memang bagian dari pekerjaannya."

Ketika mendengar nama itu, ekspresi Estelle langsung membeku. Dia tanpa sadar menoleh ke arah Jacob.

Fredy adalah playboy paling terkenal di seluruh kalangan bisnis Suarla. Dia sudah meniduri hampir semua karyawati cantik di Xpert. Bahkan sekretaris dari perusahaan-perusahaan rekanan pun tidak luput dari incarannya.

Selama ini, setiap kali Fredy menghadiri suatu acara, Jacob tidak pernah mengajak Estelle. Namun, hari ini ....

Estelle menekan rasa gelisah di dalam hatinya dan tetap menggandeng Jacob memasuki ruangan. Ketika masuk, dia langsung melihat senyum sok ganteng Fredy. Karena tahu apa akibatnya jika pria itu mengincarnya, Estelle refleks ingin menghindar.

Namun, Fredy tetap segera menemukan dirinya. Saat melihat Estelle, matanya langsung berbinar penuh nafsu.

Siapa di dunia bisnis Suarla yang tidak tahu bahwa Jacob memiliki seorang sekretaris yang luar biasa cantik? Hanya saja Jacob selalu sangat protektif sehingga jarang mengajaknya keluar.

Fredy membawa segelas anggur sambil menghampiri mereka dengan senyum licik. "Pak Jacob, lama nggak ketemu. Jadi ini sekretaris yang kamu sembunyikan selama tiga tahun? Akhirnya malam ini aku bisa lihat sendiri. Memang cantik ...."

Sambil berbicara, tangannya langsung meraba pinggang Estelle. Sikap menjijikkannya membuat siapa pun muak melihatnya.

Estelle mengernyit dan berusaha mendorongnya. Namun, karena Jacob hanya memandang dengan ekspresi dingin tanpa melakukan apa pun, keberanian Fredy makin besar. Genggamannya pun makin kuat.

Orang-orang lain di jamuan itu hanya bisa menyaksikan dengan cemas. Tak seorang pun berani menghentikan. Kalau Jacob saja tidak mengambil tindakan, siapa yang berani ikut campur?

Melihat ekspresi Jacob, hati Estelle merasa kecewa. Dia harus mencari cara sendiri untuk melepaskan diri dari Fredy. Dengan tangan satunya, dia mengambil segelas anggur merah.

"Pak Fredy, aku bersulang untuk Bapak."

Fredy tertawa pelan, melepaskan tangannya, lalu menerima gelas yang diberikan Estelle dan menghabiskan anggur merah itu dalam sekali teguk.

Estelle baru saja menghela napas lega, tak disangka Fredy sengaja menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Estelle setelah selesai minum.

"Estelle, kamu sudah bikin aku mabuk. Kamu harus tanggung jawab."

Estelle menahan diri sambil berkata, "Tolong lepaskan aku dulu ...."

"Pak Jacob, pinjamkan sekretarismu sebentar, ya. Biar aku diantar ke atas untuk istirahat. Boleh?"

Setelah kata-kata itu terucap, semua orang di sekitar langsung menoleh. Niat kotor Fredy begitu jelas terlihat. Kalau sekretaris cantik seperti Estelle ikut naik ke kamar bersamanya, bukankah itu sama saja dengan masuk ke neraka?

Wajah Estelle seketika memucat. Dengan mata yang sedikit gemetar, dia menatap Jacob. Namun, yang dia dengar hanyalah suara pria itu yang dingin. "Kalau kamu suka, biarkan saja dia temani kamu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 38

    Charles dan Jacob kembali ke lantai paling atas Grup Hartawan. Saat mereka tiba, semua staf kantor presdir langsung mengerumuni mereka.Jacob hanya melambaikan tangan sebagai balasan atas ucapan terima kasih yang terdengar bersahut-sahutan.Sambil membawa kopi di tangannya, Jacob segera berjalan menghampiri Estelle dengan tidak sabar, seolah ingin mencari pujian. "Stelle, ini flat white favoritmu. Aku sudah membelikannya."Estelle mengangkat alis. Dia agak terkejut karena Jacob ternyata mengingat kopi favoritnya.Sepertinya, selama ini dia memang terlalu terjebak dalam prasangkanya sendiri hingga salah paham mengenai Jacob. Padahal rasa suka Jacob kepadanya sebenarnya sudah terlihat dari banyak hal.Namun, Estelle sengaja memasang wajah datar. "Tapi, hari ini aku ingin minum late."Bukankah Jacob pernah mengatakan dirinya terlalu banyak tingkah? Kalau begitu, sekarang dia akan memperlihatkan kepada Jacob seperti apa sebenarnya sikap "banyak tingkah" itu.Awalnya dia ingin melihat Jacob

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 37

    "Nggak. Aku maunya kamu yang turun sendiri belikan. Bukannya tadi kamu bilang kalau aku menyuruhmu ke timur, kamu nggak akan pergi ke barat? Masa sekarang turun buat belikan aku kopi saja nggak mau?"Estelle menghela napas, lalu berpura-pura menarik tangannya dari genggaman Jacob. "Kalau memang nggak mau, ya sudah. Hal sekecil ini saja kamu nggak mau lakukan untukku. Kurasa kita memang masih belum cocok."Mendengar itu, Jacob langsung berdiri. "Tunggu, aku pergi beli sekarang!"Melihat punggung Jacob yang melangkah pergi dengan cepat, Estelle tak kuasa menahan tawanya. "Jacob, dulu kamu terus menyuruh-nyuruhku setiap hari. Sekarang saatnya melunasi utangmu."Saat turun ke lantai bawah, Jacob tak lupa mengajak Charles. Karena berhasil berbaikan dengan Estelle, suasana hati Jacob benar-benar sedang sangat baik. Dia pun memutuskan mentraktir semua orang yang bekerja di lantai paling atas minum kopi. Bahkan kopi itu akan dibelinya sendiri.Sayangnya, dia tidak mungkin membawa begitu banyak

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 36

    Jacob seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Estelle. Dia lalu menambahkan, "Aku sendiri juga nggak tahu sejak kapan mulai menyukaimu.""Mungkin pas pertama kali melihatmu. Hanya saja, aku belum pernah menyukai siapa pun sebelumnya.""Aku nggak tahu kalau perasaan itu ternyata cinta. Jadi yang kupikirkan hanyalah menggunakan segala macam cara agar kamu tetap tinggal di sisiku.""Aku nggak rela melepasmu pergi. Aku memberimu pekerjaan yang layak karena aku menyukaimu. Aku membelikanmu apartemen agar kamu punya tempat tinggal yang nyaman, juga karena aku menyukaimu.""Aku nggak rela membawamu menghadiri acara-acara resmi juga karena aku menyukaimu.""Maaf karena aku nggak pernah memberimu status yang pantas. Maaf karena aku pernah meninggalkanmu sendirian di jalan layang saat hujan.""Yang paling parah adalah aku pernah menggunakan Fredy untuk menakut-nakutimu. Maaf."Estelle menatap Jacob dalam-dalam. Dia merasa benteng pertahanan yang selama ini dibangunnya mulai menunjukkan ta

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 35

    Ketulusan adalah satu-satunya jurus yang benar-benar ampuh.Karena itu, Jacob hanya bisa mencoba segala cara. Dia mengungkapkan semua isi hatinya kepada Estelle tanpa menyembunyikan apa pun.Mungkin saja ... cara yang diberikan sahabatnya itu bisa berhasil.Setelah terdiam cukup lama, Estelle akhirnya berkata dengan nada kesal, "Mana ada orang yang memaksa orang lain mengalah tapi malah nggak tahu cara mengalah?""Kalau begitu, dulu aku seharusnya mengalah seperti apa biar kamu nggak marah lagi?"Jacob terdiam sejenak. "Kamu benar-benar ingin tahu?"Estelle mengangguk.Memanfaatkan saat Estelle lengah, Jacob segera mendekat. Dia mengecup bibir merah Estelle. Hanya sentuhan singkat. Sesudah itu, dia segera mundur kembali.Melihat wajah Estelle yang penuh keterkejutan, Jacob berkata dengan nada seolah tidak bersalah, "Tentu saja ... aku berharap kamu melakukannya seperti itu."Mata Estelle membelalak. Dia belum sempat bereaksi, tetapi dia menyadari sesuatu yang membuatnya canggung. Entah

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 34

    Tentu saja Estelle tahu bahwa yang dimaksud Jacob adalah uang denda pelanggaran kontrak sebesar 12 miliar yang dibayarkan Leo untuknya.Namun, siapa yang barusan mengaku-aku bahwa Leo adalah calon ayah mertuanya?Estelle menggertakkan giginya. "Pak Jacob, aku nggak paham apa yang kamu bicarakan."Jacob sama sekali tidak peduli dengan sikapnya yang pura-pura bodoh."Esti, kamu tahu sendiri, aku nggak pernah berperang tanpa persiapan. Aku harus lebih dulu menunjukkan niat baik ke Grup Ansari supaya kalian bisa melihat ketulusanku, 'kan?""Bukan cuma itu. Apa pun yang kamu inginkan, aku bisa memberikannya padamu."Tatapan Jacob yang begitu membara membuat Estelle merasa matanya seolah benar-benar terbakar.Tanpa sadar, Estelle mengalihkan pandangan. "Maaf, Pak Jacob. Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan."Jacob tidak puas dengan sikap Estelle yang terus menghindar. Dia berdiri tegak, mengulurkan lengannya yang panjang, lalu menarik kursi kerja Estelle hingga mendekat ke arahnya. Bahka

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 33

    Charles sampai merasa mungkin pendengarannya sedang bermasalah. Kalau hal ini terjadi dua minggu yang lalu, hanya karena tiga kesalahan tanda baca dalam proposal, Jacob pasti sudah memarahinya habis-habisan.Jangankan sampai menandai kesalahannya, Charles mungkin akan disuruh mencari sendiri ....Saat Charles hendak mengambil proposal itu untuk direvisi, Jacob kembali mengetukkan jarinya ke atas meja, lalu menambahkan, "Oh ya, jangan lupa ubah juga pembagian keuntungannya. Tambahkan 10% keuntungan untuk Grup Ansari."Kali ini, Charles benar-benar merasa dirinya salah dengar. Dia mengulanginya dengan tidak percaya, "Menambah 10% keuntungan ...?"Kata memberi tambahan keuntungan yang keluar dari mulut Jacob saja sudah cukup untuk membuat Charles terbengong, apalagi nilainya sampai 10%.Namun, begitu teringat bahwa orang yang dikirim Grup Ansari untuk menangani proyek ini adalah Estelle, Charles tiba-tiba merasa semuanya menjadi cukup masuk akal. Baiklah, bosnya memang sedang dimabuk cint

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status