Share

Bab 8

Author: Arturas
Estelle hanya menatap Jacob dengan tenang. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi dia tidak menjawab apa-apa.

Dia teringat tiga tahun yang lalu, saat pertama kali pindah ke apartemen ini. Waktu itu dia baru saja lulus kuliah. Tinggal di rumah yang dibelikan orang lain membuatnya merasa sangat canggung.

Namun, saat itu Jacob berkata kepadanya, "Bukannya kamu pernah bilang sejak kecil kamu nggak punya rumah? Sayang, mulai sekarang tempat ini akan menjadi rumahmu selamanya."

Sekarang ... Jacob justru mengusirnya. Rasa sakit yang menusuk memenuhi dadanya. Jacob selalu tahu bagaimana cara menyakitinya.

Estelle tersenyum mengejek dirinya sendiri, lalu berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.

Di luar, malam sudah turun. Gerimis mulai membasahi jalan. Cuaca bulan Oktober sudah mulai terasa dingin.

Estelle berjalan sendirian tanpa sempat mengambil pakaian yang lebih tebal. Namun, dia seolah sudah tak lagi merasakan dingin. Karena ... tidak ada yang lebih dingin daripada hatinya saat ini.

Dia tidak bisa mengendalikan pikirannya yang terus mengingat tiga tahun terakhir. Rasa sesak memenuhi pangkal hidungnya.

Dengan susah payah, dia menahan air mata yang hampir jatuh, sementara kekecewaan di dalam hatinya tak memiliki tempat untuk diluapkan.

Di belakangnya, sebuah Rolls-Royce yang sejak tadi mengikuti tiba-tiba melaju lebih cepat dan berhenti di sampingnya.

Leo menurunkan kaca jendela. Beberapa helai rambut di pelipisnya sudah memutih, tetapi seluruh pembawaannya tetap tampak elegan sekaligus berwibawa.

Sambil tersenyum, dia memandang Estelle. "Mau kuantar?"

Estelle tertegun. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan pria ini lagi. Lagi-lagi, pria itu melihat dirinya dalam keadaan paling menyedihkan.

Sebelum Estelle sempat menjawab, Leo sudah menyuruh sopir membuka pintu mobil. Estelle akhirnya masuk.

"Terima kasih."

Kemudian, dia baru teringat bahwa dirinya bahkan belum mengetahui nama pria itu.

"Namaku Estelle. Boleh aku tahu nama Bapak?"

Leo menatap wajahnya. "Leo Ansari."

Nama itu langsung membuat jantung Estelle berdegup kencang. Leo Ansari? Bukankah itu nama taipan legendaris sekaligus orang terkaya di Suarla yang begitu misterius?

Estelle memang sudah menduga identitas pria ini tidak sederhana. Namun, dia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang menolongnya ternyata adalah sosok sebesar itu.

Namun ... kenapa pria sekaya dan seberkuasa Leo mau berkali-kali membantunya? Jangan-jangan ... Leo juga tertarik pada penampilannya?

Setelah semua yang dialaminya, Estelle menjadi sangat waspada. Dia segera berkata, "Pak Leo, turunkan saja aku di persimpangan depan."

Leo tersenyum tipis. Seolah mampu membaca isi pikirannya, tatapannya tetap tertuju pada wajah Estelle. Ada sedikit kerinduan yang tersimpan di matanya.

Beberapa detik kemudian, dia berkata dengan suara yang terdengar sangat emosional, "Kamu tahu? Kamu benar-benar mirip ibumu."

Ibu? Estelle adalah seorang anak yatim piatu. Bahkan dia sendiri tidak tahu siapa ibu kandungnya. Sekarang, seorang pria asing tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya sangat mirip dengan ibunya.

Estelle mengernyit. Baru saja hendak bertanya, Leo sudah menyodorkan sebuah map kepadanya.

"Kamu pasti ingin tanya dari mana aku tahu tentang ibumu. Apa yang akan kukatakan mungkin akan membuatmu terkejut."

"Estelle ... sebenarnya kamu adalah putri kandungku."

Bagaikan petir yang menyambar tepat di samping telinganya, Estelle menatap Leo dengan penuh ketidakpercayaan.

Leo kembali menyodorkan berkas itu. "Lihatlah."

Estelle pun menunduk. Yang berada di tangannya ternyata adalah ... laporan tes DNA.

Di atasnya tertulis dengan jelas bahwa tingkat kecocokan genetik antara dirinya dan Leo mencapai 99%, memenuhi syarat sebagai hubungan ayah dan anak.

Saat Estelle masih menatap laporan itu tanpa berkedip, Leo kembali berbicara, "Kamu hilang saat berusia satu tahun. Waktu itu pengasuh membawamu ke luar, lalu kamu diculik oleh sindikat perdagangan manusia."

"Sejak kamu menghilang, ibumu hidup dalam kesedihan. Setiap hari dia menangis. Beberapa tahun kemudian, dia meninggal dunia."

"Sementara aku ... aku nggak pernah berhenti mencarimu. Saat pertama kali bertemu denganmu di hotel, aku langsung merasa kamu sangat mirip ibumu."

"Waktu kita bertemu di depan toko barang bekas, itu bukan kebetulan. Aku memang sengaja menunggumu di sana. Aku mengambil sehelai rambutmu untuk melakukan tes DNA."

"Dan hasilnya ... nggak mengecewakanku."

"Estelle, Ayah sudah mencarimu selama 24 tahun. Kalau masih nggak bisa menemukanmu, Ayah mungkin akan benar-benar gila."

"Ayah tahu hidupmu selama bertahun-tahun ini nggak mudah. Ini semua salah Ayah. Ayah terlambat menemukanmu."

Estelle masih belum mampu menerima kenyataan itu. Dia hanya mengangkat kepala dan menatap Leo, pria yang belum pernah dia temui seumur hidupnya, pria yang ternyata adalah ayah kandungnya.

Dia sama sekali tidak pernah membayangkan, dirinya yang baru saja diusir dari rumah, kini justru menemukan rumah yang sesungguhnya.

Selama ini Estelle bukanlah orang yang mudah menangis. Namun, entah sejak kapan, air mata sudah mengalir tanpa henti di pipinya.

Rasanya seolah seluruh penderitaan dan kepedihan selama bertahun-tahun ini akhirnya menemukan jalan untuk keluar.

Leo mengusap air matanya dengan lembut. Mata pria itu pun ikut memerah. "Estelle, pulanglah bersama Ayah."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 38

    Charles dan Jacob kembali ke lantai paling atas Grup Hartawan. Saat mereka tiba, semua staf kantor presdir langsung mengerumuni mereka.Jacob hanya melambaikan tangan sebagai balasan atas ucapan terima kasih yang terdengar bersahut-sahutan.Sambil membawa kopi di tangannya, Jacob segera berjalan menghampiri Estelle dengan tidak sabar, seolah ingin mencari pujian. "Stelle, ini flat white favoritmu. Aku sudah membelikannya."Estelle mengangkat alis. Dia agak terkejut karena Jacob ternyata mengingat kopi favoritnya.Sepertinya, selama ini dia memang terlalu terjebak dalam prasangkanya sendiri hingga salah paham mengenai Jacob. Padahal rasa suka Jacob kepadanya sebenarnya sudah terlihat dari banyak hal.Namun, Estelle sengaja memasang wajah datar. "Tapi, hari ini aku ingin minum late."Bukankah Jacob pernah mengatakan dirinya terlalu banyak tingkah? Kalau begitu, sekarang dia akan memperlihatkan kepada Jacob seperti apa sebenarnya sikap "banyak tingkah" itu.Awalnya dia ingin melihat Jacob

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 37

    "Nggak. Aku maunya kamu yang turun sendiri belikan. Bukannya tadi kamu bilang kalau aku menyuruhmu ke timur, kamu nggak akan pergi ke barat? Masa sekarang turun buat belikan aku kopi saja nggak mau?"Estelle menghela napas, lalu berpura-pura menarik tangannya dari genggaman Jacob. "Kalau memang nggak mau, ya sudah. Hal sekecil ini saja kamu nggak mau lakukan untukku. Kurasa kita memang masih belum cocok."Mendengar itu, Jacob langsung berdiri. "Tunggu, aku pergi beli sekarang!"Melihat punggung Jacob yang melangkah pergi dengan cepat, Estelle tak kuasa menahan tawanya. "Jacob, dulu kamu terus menyuruh-nyuruhku setiap hari. Sekarang saatnya melunasi utangmu."Saat turun ke lantai bawah, Jacob tak lupa mengajak Charles. Karena berhasil berbaikan dengan Estelle, suasana hati Jacob benar-benar sedang sangat baik. Dia pun memutuskan mentraktir semua orang yang bekerja di lantai paling atas minum kopi. Bahkan kopi itu akan dibelinya sendiri.Sayangnya, dia tidak mungkin membawa begitu banyak

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 36

    Jacob seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Estelle. Dia lalu menambahkan, "Aku sendiri juga nggak tahu sejak kapan mulai menyukaimu.""Mungkin pas pertama kali melihatmu. Hanya saja, aku belum pernah menyukai siapa pun sebelumnya.""Aku nggak tahu kalau perasaan itu ternyata cinta. Jadi yang kupikirkan hanyalah menggunakan segala macam cara agar kamu tetap tinggal di sisiku.""Aku nggak rela melepasmu pergi. Aku memberimu pekerjaan yang layak karena aku menyukaimu. Aku membelikanmu apartemen agar kamu punya tempat tinggal yang nyaman, juga karena aku menyukaimu.""Aku nggak rela membawamu menghadiri acara-acara resmi juga karena aku menyukaimu.""Maaf karena aku nggak pernah memberimu status yang pantas. Maaf karena aku pernah meninggalkanmu sendirian di jalan layang saat hujan.""Yang paling parah adalah aku pernah menggunakan Fredy untuk menakut-nakutimu. Maaf."Estelle menatap Jacob dalam-dalam. Dia merasa benteng pertahanan yang selama ini dibangunnya mulai menunjukkan ta

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 35

    Ketulusan adalah satu-satunya jurus yang benar-benar ampuh.Karena itu, Jacob hanya bisa mencoba segala cara. Dia mengungkapkan semua isi hatinya kepada Estelle tanpa menyembunyikan apa pun.Mungkin saja ... cara yang diberikan sahabatnya itu bisa berhasil.Setelah terdiam cukup lama, Estelle akhirnya berkata dengan nada kesal, "Mana ada orang yang memaksa orang lain mengalah tapi malah nggak tahu cara mengalah?""Kalau begitu, dulu aku seharusnya mengalah seperti apa biar kamu nggak marah lagi?"Jacob terdiam sejenak. "Kamu benar-benar ingin tahu?"Estelle mengangguk.Memanfaatkan saat Estelle lengah, Jacob segera mendekat. Dia mengecup bibir merah Estelle. Hanya sentuhan singkat. Sesudah itu, dia segera mundur kembali.Melihat wajah Estelle yang penuh keterkejutan, Jacob berkata dengan nada seolah tidak bersalah, "Tentu saja ... aku berharap kamu melakukannya seperti itu."Mata Estelle membelalak. Dia belum sempat bereaksi, tetapi dia menyadari sesuatu yang membuatnya canggung. Entah

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 34

    Tentu saja Estelle tahu bahwa yang dimaksud Jacob adalah uang denda pelanggaran kontrak sebesar 12 miliar yang dibayarkan Leo untuknya.Namun, siapa yang barusan mengaku-aku bahwa Leo adalah calon ayah mertuanya?Estelle menggertakkan giginya. "Pak Jacob, aku nggak paham apa yang kamu bicarakan."Jacob sama sekali tidak peduli dengan sikapnya yang pura-pura bodoh."Esti, kamu tahu sendiri, aku nggak pernah berperang tanpa persiapan. Aku harus lebih dulu menunjukkan niat baik ke Grup Ansari supaya kalian bisa melihat ketulusanku, 'kan?""Bukan cuma itu. Apa pun yang kamu inginkan, aku bisa memberikannya padamu."Tatapan Jacob yang begitu membara membuat Estelle merasa matanya seolah benar-benar terbakar.Tanpa sadar, Estelle mengalihkan pandangan. "Maaf, Pak Jacob. Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan."Jacob tidak puas dengan sikap Estelle yang terus menghindar. Dia berdiri tegak, mengulurkan lengannya yang panjang, lalu menarik kursi kerja Estelle hingga mendekat ke arahnya. Bahka

  • Bosku Adalah Pacar Rahasiaku   Bab 33

    Charles sampai merasa mungkin pendengarannya sedang bermasalah. Kalau hal ini terjadi dua minggu yang lalu, hanya karena tiga kesalahan tanda baca dalam proposal, Jacob pasti sudah memarahinya habis-habisan.Jangankan sampai menandai kesalahannya, Charles mungkin akan disuruh mencari sendiri ....Saat Charles hendak mengambil proposal itu untuk direvisi, Jacob kembali mengetukkan jarinya ke atas meja, lalu menambahkan, "Oh ya, jangan lupa ubah juga pembagian keuntungannya. Tambahkan 10% keuntungan untuk Grup Ansari."Kali ini, Charles benar-benar merasa dirinya salah dengar. Dia mengulanginya dengan tidak percaya, "Menambah 10% keuntungan ...?"Kata memberi tambahan keuntungan yang keluar dari mulut Jacob saja sudah cukup untuk membuat Charles terbengong, apalagi nilainya sampai 10%.Namun, begitu teringat bahwa orang yang dikirim Grup Ansari untuk menangani proyek ini adalah Estelle, Charles tiba-tiba merasa semuanya menjadi cukup masuk akal. Baiklah, bosnya memang sedang dimabuk cint

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status