LOGINSatu hal yang tidak Devan tahu, Handoko duduk diam menatap lantai, perlahan namun pasti, pria itu mulai tenggelam dalam penyesalan. Satu titik dalam hatinya mulai merasakan suatu pedang yang menusuk, menyesakkan dan membuat dadanya sakit. Sebuah tangan tak terlihat menariknya ke kubangan gelap yang bernama penyesalan. Sayang sekali, Handoko terlambat menyadari bahwa putri yang selama ini tidak pernah dianggap, kini menjadi orang penting yang status sosialnya akan lebih tinggi dari pria itu. Pria itu menghela napas panjang, tidak pernah menyangka bahwa di belakang nama Naila akan tersemat nama Wijaya.*** “Kok, sendirian, Mas?” Arabella melihat Devan yang masuk sendirian ke dalam rumah, “Nai, mana?””Nai lagi belanja sama temennya, aku baru balik dari Surabaya,” ujar Devan. Devan duduk dengan tenang, melepaskan jaketnya dan menyandarkan tubuh di kursi. Ia menatap ibunya sejenak, merasa ada yang ingin dibicarakan. Arabella bisa merasakan ada sesuatu yang me
Saat Naila berdiri di dekat meja dan menunggu Devan kembali dari toilet, Handoko mendekat. Naila menoleh ke samping, menatap pria itu datar. Baru saja Handoko hendak membuka mulut, Devan sudah lebih dulu mendekat.”Sayang,” pria itu memeluk pinggang calon istrinya. Ia menatap Handoko dengan satu alis terangkat.Tanpa kata-kata, Handoko berbalik pergi.”Lah, kok pergi?” bisik Devan pelan.”Nggak tahu, dia kayaknya baru buka mulut mau ngomong, tapi kamu keburu datang.””Mau apa lagi sih, dia?””Nggak tahu juga. Dari tadi ngeliatin aku terus.”Devan berdecak, dalam hati ia berpikir apa yang ingin Handoko katakan pada Naila? Ingin mengganggu dan meremehkan Naila lagi? Sepertinya Devan harus menemui Handoko secara personal secepatnya.”Kenapa, Nak?” Alfariel mendekat.”Nggak apa-apa, kok, Yah.””Dia tadi mau bicara sama kamu?” Alfariel merendahkan suaranya.”Nggak tahu, tadi nyamperin tapi belum sempet ngomong, ngeliat Dev datang, dia langsung pergi.””Ck, ngapain dia mau deketin kamu?” Al
Handoko mendekati meja rapat, langkahnya terasa berat, namun matanya tertuju pada putrinya yang sedang duduk dengan tenang, menatap layar laptop. Beberapa rekan kerja mereka yang lain sudah meninggalkan ruangan, tetapi Naila tetap duduk di tempatnya, tampak fokus pada pekerjaan yang belum selesai. Handoko berhenti beberapa langkah di depannya, berdiri sejenak di antara keramaian yang mulai menghilang. “Ada apa, Pak?” tanya Naila dengan suara datar, tanpa sedikitpun senyum. “Jadi kamu sekarang calon menantu keluarga Wijaya?” Naila menatapnya dengan mata yang penuh pertanyaan, seolah mempertanyakan setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya. Sejujurnya, ia merasa lelah menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari orang-orang yang selama ini tidak peduli dengan dirinya, namun kini tampaknya mereka baru menyadari kehadirannya. “Kenapa Anda peduli?” Naila m
“Desain yang saya ajukan mengusung konsep kemewahan yang bersifat timeless, dengan menggabungkan elemen-elemen klasik dan modern yang saling melengkapi,” kata Naila dengan percaya diri, sementara jari-jarinya menekan tombol remote, mengubah slide di layar besar di depannya. Gambar-gambar 3D dari bangunan yang megah, dengan pilar-pilar tinggi yang menampilkan keanggunan arsitektur klasik, berpadu dengan kaca-kaca besar dan lantai marmer yang bersinar di bawah cahaya, mulai terlihat di layar. Naila menjelaskan, “Kami memilih material marmer terbaik yang dipadukan dengan elemen kayu dan logam berlapis emas, memberikan kesan mewah tanpa mengorbankan kenyamanan. Setiap ruang didesain agar mengalir dengan sempurna, memberikan kesan lapang dan mewah.”Handoko, yang semula skeptis, kini mulai menatap desain itu dengan seksama. Meskipun masih ada ekspresi ragu di wajahnya, ia tak bisa menutupi rasa kagum yang muncul di dalam dirinya. Setiap detail yang dijelaskan oleh Naila menunjukkan kualita
”Kok, makin gede, ya? Apa perasaan aku aja?””Perasaan kamu aja.””Masa?” Devan menangkup payudara itu dengan kedua tangan, “beneran makin gede, deh, Nai. Apa karena aku remas tiap hari?””Bisa jadi,” Naila mendongak saat Devan mendorongnya ke dinding, pria itu membungkuk untuk mencium payudaranya sebelum mengulum putingnya yang menegang.”Makin padat juga,” ujar Devan menciumi seluruh sisi payudara itu dengan rakus, ia berusaha untuk tidak meninggalkan tanda di payudara Naila, bibirnya mengisap tidak terlalu kuat.”Kamu tuh … ah ….” Naila menyentuh kejantanan Devan yang sudah keras, membelainya dalam genggaman, besarnya kejantanan itu membuat genggamannya terasa penuh. Naila mengelusnya naik turun, merasai tekstur yang keras tapi memiliki kulit yang lembut, bagian ujungnya tidak kalah lembut. “Kamu horny terus,” Naila meremas kejantanan itu lebih kuat, “nggak puas-puas.””Kalo aku puas, artinya aku udah mau mati,” jawab Devan sambil mengisap puting Naila, “jadi selagi aku hidup, aku
”Ayah serius, Nai. Jangan sampai kamu diapa-apain Devan. Ayah tonjok dia nanti.””I—iya, Yah. D—Devan nggak ngapa-ngapain, kok.” Naila berpaling dengan wajah malu, tatapannya bertemu dengan tatapan Devan yang usil, pria itu mendekat dan berbisik begitu pelan.”Andai aja Ayah tahu kita udah ngapain aja, apalagi kamu suka banget godain aku dan bikin aku horny, Ayah bakal kena serangan jantung detik itu juga,” bisik Devan begitu pelan.Naila mencubit pinggang Devan begitu kuat lalu kabur dari dapur untuk menuju beranda belakang. Devan tertawa dan mengejar calon istrinya yang kabur karena malu.”Kabur kenapa, sih?” Devan ikut berjalan menyusuri pantai bersama Naila.“Ayah mergokin kamu, ya?””Iya, waktu aku keluar dari kamar, Ayah udah berdiri di dekat tangga.””Pantes, aku malu banget. Untung aja kamu nggak tidur di kamar aku tadi malam.””Ngapain malu? Biasa aja, Sayang. Kan ada Vella tadi malam di kamar kamu, jadi Ayah percaya aku nggak ngapa-ngapain. Aku beneran nggak ngapa-ngapain ka
”Saya nggak butuh jari, kalau jari bisa main sendiri,” ujar Naila terengah-engah.”Sabar, Nai—“”Nggak bisa, udah mau meledak, ini.”Devan tidak habis pikir, karyawan yang paling jarang bicara di kantor bisa bersikap seagresif ini, bisa marah-marah dan membentaknya begitu saja.”Tahan sedikit,” Dev
(Awal mula Devan dan Naila menjalin hubungan)Devan melepaskan dasi yang melingkari leher, pria itu melempar dasinya ke kursi kosong di sampingnya lalu keluar dari mobil untuk memasuki Litera. Devan merasa akhir-akhir ini hidupnya monoton sekali, hari-harinya dipenuhi pekerjaan, baik fisik maupun m
Devan memang agresif, tapi jika Naila yang lebih dulu agresif, Devan akan selalu menjadi pihak yang patuh, jarang-jarang Naila mau seperti ini, selagi wanita itu menyukainya, Devan akan memasrahkan dirinya. Tangan Naila membuka kancing celana Devan, membebaskan kejantanan itu lalu membelainya naik
Nai-nai: Pilihin. Aku bingung.Naila mengirim dua buah foto lingerie, satunya berwarna nude dan satunya berwarna hitam, Devan tersenyum dan menghubungi wanita itu.”Kok, malah telepon?””Kamu lagi belanja?”“Iya, lagi jalan sama Tere, kamu lihat foto yang aku kirim tadi, kan? Pilihin. Aku bingung d







