Home / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 45

Share

BOSS WITH BENEFIT - 45

Author: Pipit Chie
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-26 20:50:51

”Iya, kita. Lagi mikir, kalau kita punya hubungan lebih dari sekedar partner seks, bakal gimana?”

“Dev—“

”Aku boleh dong mikir? Kan cuma mikir, nggak maksa kamu jadi pacar.”

Naila menyentuh wajah Devan, menatapnya lekat. Dan Devan membalas tatapan itu terang-terangan, menunjukkan emosi yang tersimpan di matanya, berharap Naila bisa melihat atau merasakannya walaupun hanya sebagian kecil dari gunung tinggi yang ada di dada Devan saat ini.

”Kenapa nggak pernah mau pacaran?” Devan mengusap pipi Na
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 70

    Naila memandang ragu, tapi perlahan ia mengangguk. “Iya, percaya.””Good girl,” ucapnya bangga.Devan mendekatkan wajahnya ke Naila, jemarinya menyentuh lembut pipi Naila, menggamit bibirnya dengan penuh kelembutan. Ciuman mereka terasa penuh rasa sayang, namun perlahan, ciuman itu semakin dalam, seolah-olah mencoba menyampaikan semua perasaan yang terpendam antara keduanya. Lidah Devan dengan lembut menyusup ke dalam mulut Naila, dan wanita itu segera membalas ciuman itu dengan cara yang sama, penuh gairah. Suasana di sekitar mereka terasa semakin intens, udara seolah mengalir lebih cepat, membawa sensasi yang membuat tubuh Naila bergetar. Seketika serial di Netflix tidak lagi menarik bagi Naila maupun Devan, mereka berciuman dalam dan rakus, lidah saling membelai, tangan saling meraba dan bergerak untuk melepaskan pakaian masing-masing. Naila terengah di pangkuan Devan, pria itu sudah berhasil melepaskan gaun tidurnya, hanya menyisakan celana dalam tipis berenda. Kemeja Devan juga

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 69

    “Jurus buayanya lagi dipake?” Naila menggoda, meski hatinya merasa hangat.Devan tertawa pelan, menundukkan kepala dan membiarkan ujung rambutnya sedikit jatuh ke dahi. “Iya, jurusnya kira-kira mempan nggak ke kamu?”Bagaikan respon alamiah, Naila tersenyum dengan senyum yang semakin lebar, merasa dunia sekitar mereka semakin menyempit hanya untuk berdua. Perlahan, ia mengalungkan tangannya ke leher Devan, merasakan kehangatan tubuh pria itu semakin dekat. Tangan Naila bergerak lembut, mengusap tengkuk Devan, dan memainkan rambut bagian belakangnya dengan lembut. Ada ketenangan dalam gerakan itu, namun juga ketegangan yang mengalir di dalam hatinya.“Aku mau cerita sesuatu, Dev,” suara Naila terdengar pelan, sedikit gemetar.Devan menatapnya dengan penuh perhatian, tanpa berkata-kata, memberi Naila ruang untuk berbicara. Ini adalah hal yang sudah lama ia tunggu, mengetahui lebih banyak tentang Naila, wanita yang kini begitu berarti baginya. Naila menghela napas, tampak sedikit gugup,

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 68

    Pagi ini Devan datang ke kantor membawa dua cup kopi, ia mengangguk pelan saat disapa oleh karyawannya, Devan berhenti di depan meja kerja Naila, wanita itu sedang fokus pada ponselnya.”Morning, Nai,” sapa Devan meletakkan salah satu kopi ke atas meja Naila.Naila mendongak, tersenyum kecil, “morning, Pak. Ini buat saya?””Iya, buat kamu,” Devan menarik kursi Erni yang pemiliknya belum terlihat, pria itu tidak peduli dengan orang-orang di lantai dua puluh yang diam-diam melirik mereka, ia duduk di samping Naila. Naila menatap bingung, diam-diam melirik Agus, Edo dan Gabriel yang berdiri di dekat pantry melirik ke arahnya sambil senyum-senyum.Devan meminum kopinya dengan santai.”Makan siang di mana nanti?” “B—belum tahu, kenapa, Pak?””Makan bareng?””Bapak ngajakin saya makan bareng?””Iya, sekalian temani cari kado ulang tahun buat adik bungsu aku, gimana?”A—aku?! Bukan hanya Naila, tapi seluruh penghuni lantai dua puluh yang mencuri dengar pembicaraan itu langsung memelotot den

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 67

    Agus tertawa kecil, kali ini dengan nada yang terdengar lebih tulus. “Ya udah, Nai. Kalau emang lo nggak mau sama gue, nggak apa-apa. Gue sih juga mikir, lo lebih cocok sama Pak Devan, kok.”“Agus!” Naila berseru dengan nada hampir putus asa, membuat teman-temannya tertawa lebih keras.Edo menimpali sambil menyikut Agus. “Eh, bener juga, Gus. Kalau dibandingin lo, Pak Devan itu udah kayak paket lengkap. Cakep, tajir, bos lagi.”Gabriel mengangguk setuju sambil berseru, “Setuju banget! Dan kelihatan banget, kan, gimana Pak Dev itu selalu perhatian sama Naila. Kao lo berani deketin Naila, siap-siap aja dipecat.”Tere yang melihat wajah Naila memerah karena malu langsung tertawa pelan. “Udah, Nai. Ngaku aja, deh. Nggak usah malu-malu segala, kita-kita nggak ada yang bakal usik kalo lo emang jadi pacarnya Pak De.”“Terserah kalian mau ngomong apa,” kata Naila akhirnya, menyerah dengan semua ledekan. Ia menutup wajahnya dengan tangan, merasa semua mata di meja itu terlalu tajam menatapnya.

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 66

    “Nanti saya mau bahas soal desain hotel di Riau,” ujar Devan, memecah keheningan kecil yang sempat tercipta. Ia berbicara dengan nada serius, meski sikapnya tetap terlihat santai. “Desainnya harus beda dari proyek Bandung, lebih banyak elemen lokalnya.”Gabriel mengangguk antusias, mencoba kembali fokus. “Saya setuju, Pak. Kalau elemen lokalnya lebih ditonjolkan, itu bisa jadi daya tarik utama.”Sambil berbicara, Devan menyadari Naila sedikit ceroboh dan tanpa sengaja menumpahkan air dari botol yang ia pegang. Devan refleks mengambil tisu di meja, mendekatkan diri ke Naila, dan membantu mengelap meja yang basah.“Nggak apa-apa,” ujarnya lembut, sembari menyerahkan tisu kepada Naila. Tatapannya penuh perhatian, membuat Naila hanya bisa menelan ludah dengan gugup.“Eh, saya bisa sendiri, Pak,” gumam Naila lirih, namun Devan tidak menggubris dan tetap membantu.Tere menutupi senyum jailnya dengan tangan. Ia jelas ingin meledek, tapi sepertinya masih berusaha menahan diri. Sementara itu,

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 65

    Suasana kantor Renaldi Corp perlahan kembali normal setelah gosip tentang Naila memudar. Sekalipun masih ada beberapa karyawan yang membahasnya, topik itu kini kalah menarik dibandingkan dengan satu nama lain yang menjadi sorotan: Alexa. Sejak video Alexa yang mendorong Naila di curug tersebar, reputasi wanita itu hancur seketika. Jika dulu Alexa sering menjadi pujaan karena wajah cantik dan gaya anggunnya, kini semua orang membicarakan kelakuan buruknya. Di pantry, meja kerja, bahkan lift kantor, komentar-komentar sinis tentang Alexa terus terdengar. Ada yang menyebutnya cantik tapi licik, ada yang mengatakan bahwa wajahnya yang tenang ternyata hanya topeng belaka. Alexa yang biasanya penuh percaya diri kini selalu menundukkan kepala saat berjalan melewati rekan-rekan kerjanya.Sementara itu, Naila dan Tere yang tengah duduk bersama di pantry tersenyum puas mendengar percakapan dua rekan kerja mereka yang baru saja masuk.“Gue heran, ya, kok dulu gue bisa kagum sama Alexa. Ternyata d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status