LOGINSebagai sesama wanita, Maya sebenarnya enggan melayani kegilaan Sheila, terlebih mengingat kondisi wanita itu yang sedang mengandung. "Sheila, sudah," ucap Maya, mencoba menenangkan. "Kendalikan emosimu. Mengamuk seperti ini tidak baik untuk kesehatan bayimu. Ingat kondisi kandunganmu." Bukannya luluh, kepedulian tulus dari Maya justru terasa bagai tamparan keras bagi gengsi Sheila. Ia merasa diremehkan dan dikasihani oleh wanita yang paling ia benci. "Gak usah sok suci dan sok peduli sama anakku, Maya!" jerit Sheila histeris, membuat beberapa tamu di sekitar meja bar makin merapat untuk menyaksikan keributan. Rendy yang panik setengah mati melihat kelakuan gila istrinya langsung melangkah maju dan mendorong bahu Sheila kasar. "Sheila! Cukup! Kamu bisa diam tidak, sih?!" bentak Rendy keras, tak ragu membela Maya di depan umum. "Maya cuma mengingatkanmu demi kebaikan anak itu! Jangan makin mempermalukan dirimu sendiri dan membuatku muak!" Mendengar suaminya sendiri secara
Begitu sosok Leon melangkah masuk dengan menggamit lengan Maya yang tampil memukau dengan gaun midnight blue-nya, aura dominan sang CEO langsung membungkam hiruk-pikuk pesta. Ayah Sheila—seorang pria paruh baya yang tampak necis—langsung terburu-buru menyongsong kedatangan Leon dengan wajah penuh rasa hormat yang dibuat-buat. "Pak Leon! Sebuah kehormatan yang amat sangat luar biasa Anda berkenan hadir di perayaan sederhana PT. Pratama Jaya Sentosa malam ini," puji Ayah Sheila, sambil membungkuk sebelum mengulurkan tangannya. Leon menyambut uluran tangan itu sekadarnya, memberikan senyuman tipis yang dingin dan berjarak. "Selamat atas ulang tahun perusahaan Anda." "Pak Leon, jika Anda berkenan, ada beberapa poin penting terkait pembaharuan kontrak kerja sama vendor untuk tahun depan yang ingin saya perlihatkan sebentar," ujar Tuan Hermawan sangat sopan seraya menunjuk ke arah lorong ruang VIP. "Kami sudah menyiapkan ruang khusus yang lebih tenang di atas. Tidak akan menyita wak
Tiga hari berlalu dengan cepat. Malam jamuan besar para pengusaha akhirnya tiba. Di dalam kamar apartemennya, Maya berdiri kaku di depan cermin tinggi full-body. Tatapannya tertuju pada bayangan dirinya sendiri, memancarkan rasa takjub bercampur canggung yang tak sanggup ia sembunyikan. Gaun malam yang melekat di tubuhnya malam ini benar-benar karya seni yang sempurna. Berwarna midnight blue dari bahan sutra premium yang jatuh anggun membungkus lekuk tubuhnya, dengan potongan leher yang elegan tanpa terkesan seronok. Dipadukan dengan tatanan rambut sanggul modern yang rapi, serta sapuan riasan tipis yang menawan, mempertegas kecantikan alaminya. Namun, setiap kali mata Maya melirik set Perhiasan berlian simpel yang melingkar cantik di leher dan pergelangan tangannya, hatinya mendadak mencelos. "Gila..." gumam Maya pelan pada dirinya sendiri sambil mengelus lembut kalung berlian itu. "Harga gaun, sepatu, sama perhiasan ini kalau ditotal... bisa buat makan lebih dari sepuluh k
Suara derum mobil berhenti asal-asalan di garasi. Tak lama kemudian, pintu depan terdorong kasar. Rendy melangkah masuk dengan jalan sempoyongan, aroma alkohol menyengat tajam dari pakaiannya yang kusut. Sheila yang sedang duduk di sofa ruang tamu—dengan perutnya yang mulai membuncit—langsung berdiri. Wajah cantiknya berlipat penuh amarah dan kecurigaan saat melihat kondisi suaminya yang berantakan. "Mas! Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?!" cecar Sheila, melangkah mendekat sambil berkacak pinggang. "Mas, jangan kira aku bodoh, ya! Kamu pasti pulang larut begini habis ketemu mantan istrimu yang miskin itu, kan?! Iya, kan?!" Rendy tidak menjawab. Dengan mata sayu dan wajah merah padam akibat pengaruh alkohol, ia mengabaikan Sheila begitu saja dan berjalan gontai menuju tangga. Sikap dingin Rendy justru menyiram bensin ke dalam kobaran api amarah Sheila. Wanita itu berlari kecil, mencegat langkah Rendy tepat di anak tangga pertama. "Jawab, Mas! Aku ini istrimu!" teriak She
"Sudah, sudah..." potong Maya akhirnya, ia melangkah maju selangkah, menempatkan posisinya di antara kedua pria yang berdiri tegap tersebut. "Aku yang salah, Pak Robby. Aku yang tidak seharusnya meminta tolong dan merepotkan Pak Leon..." Suara Maya yang bergetar penuh kepanikan membuat Pak Robby salah menangkap sinyal. Di mata Pak Robby, Maya adalah seorang karyawan yang kini tampak begitu terintimidasi. Ia mengira Maya sedang berusaha menutupi perlakuan tidak senonoh atau penyalahgunaan kekuasaan dari sang CEO demi menyelamatkan posisi dan karirnya di perusahaan. "Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, Maya," ucap Pak Robby dengan nada suara yang tenang, lembut. "Di kantor ini, tidak ada satu pun karyawan yang harus merasa tertekan atau terpaksa pasrah hanya karena berhadapan dengan atasan." Pak Robby kemudian mengalihkan pandangannya tegak lurus menatap Leon. "Pak Leon, sebagai pimpinan, Anda memiliki kekuasaan besar di perusahaan ini. Namun, batas-batas profesionali
"Aaww... sakitt..." desis Maya tertahan, sebelah tangannya langsung meraba pinggangnya yang terasa encok luar biasa. Ia meringis sambil menegakkan kembali tubuhnya dengan susah payah. Suasana pagi di kantor, sama seperti biasa, semua karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Maya berdiri di depan mesin fotokopi, menatap layar kecil sambil menekan tombol cetak untuk dokumen laporan mingguan. Namun, baru saja ia membungkuk sedikit untuk merapikan kertas yang keluar dari baki mesin, tiba-tiba rasa ngilu yang tajam menghantam area pinggangnya lagi. "Aduh! Dasar... brondong gila..." gumam Maya kesal setengah mati, menggertakkan gigi sambil terus mengusap pinggangnya yang terasa mau copot. "Encok kenapa pinggangmu, habis angkat yang berat-berat?" Sebuah suara ramah mendadak membuyarkan gerutuan Maya. Ia sontak berbalik dan mendapati Pak Robby, berdiri di dekatnya sambil membawa tumpukan map. Maya terkesiap, buru-buru menegakkan punggungnya meski rasa ngilu masih mencengk







