LOGINGelas sampanye di tangan Jeremy berguncang hebat. Cairan di dalamnya memercik ke lantai marmer, tapi pria itu sama sekali tidak peduli. Sepasang mata hijau tuanya melebar sempurna, terkunci pada sosok wanita bergaun pastel yang berdiri hanya beberapa langkah di depannya."L-Laura...?" Suara Jeremy tercekat, serak dan bergetar hebat.Laura membalikkan badannya perlahan. Senyum tenang yang tadi ia tunjukkan pada Bram kini memudar, digantikan tatapan sendu penuh kerinduan. "Hai, Jer. Udah lama ya."Jeremy melangkah tergesa-gesa, mengabaikan keberadaan Bram. Begitu jarak mereka terkikis, tangannya terangkat ragu. Dia menyentuh pipi Laura dengan jemari yang gemetar, memastikan bahwa ini nyata, bukan sekadar halusinasinya tiap malam."Lima tahun, Laura... Lima tahun aku kayak orang gila nyari kamu ke seluruh dunia, semenjak kamu menghilang di Venice" bisik Jeremy. "Kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku? Kenapa kamu hilang dari Venice waktu itu? Kamu tahu nggak gimana hancurnya aku? Disaat
Bram masih terpaku di tempatnya berdiri. Tatapannya bergantian antara wajah teduh Laura dan bocah lelaki dipelukan wanita itu, Elano. Anak yang memiliki mata persis seperti Jeremy, hijau tua, darah setengah Eropanya tidak bisa dibohongi. Tidak ada kilat permusuhan di antara mereka. Atmosfer tegang yang biasanya menyelimuti setiap pertemuan dengan salah satu orang dari klan Anindya Karya mendadak menguap, digantikan rasa canggung yang aneh. seperti dua sahabat lama yang tak sengaja bertemu di persimpangan jalan."Aku nggak pernah nyangka bakal ketemu kamu di sini, Laura. Apalagi dengan penampilan kayak gini," ujar Bram, memecah keheningan. Suaranya tidak sedingin biasanya.Laura tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang belum pernah Bram lihat selama mereka saling mengenal di masa lalu. "Waktu mengubah banyak hal, Bram. Termasuk Aku. Kamu sendiri... kelihatan jauh lebih mapan, tapi matanya kelihatan capek banget.""Capek itu pilihan, Laura. Gua cuma lagi nyelesaiin apa yang harus gua
Lima tahun. Waktu yang cukup panjang untuk mengubah seorang pria yang tulus menjadi monster paling ditakuti di jagat bisnis ibu kota. Tidak ada lagi Bram yang hangat. Bram yang mengenakan kemeja pengantin kusut sambil menangis memeluk bantal bertiup lilin aroma chamomile sudah mati tepat di malam Kiana dan calon bayinya lenyap tanpa jejak.Kini, yang ada hanyalah Bramantya Yudha, baru berumur 29 tahun namun telah menjadi CEO dari Mahardika Nusantara Group, raksasa kontraktor baru yang bergerak bagai mesin pemotong rumput, membabat habis proyek-proyek strategis nasional tanpa menyisakan ruang bernapas bagi para pesaingnya. Terutama untuk satu target utama mereka, Anindya Karya."Bram, dokumen akuisisi lahan di koridor SCBD sudah beres. Pihak Anindya Karya resmi terdepak dari tender pagi ini."Suara berat itu memecah keheningan ruang kerja bernuansa hitam legam di lantai 45. Jeremy Baran bersandar di ambang pintu, melemparkan map kulit berwarna cokelat ke atas meja marmer. Penampilannya
""Bram! Kiana nggak ada di rumah! Ponselnya ditinggal, pintunya terbuka. Bram, Kiana hilang!"Suara histeris ayah Kiana di seberang telepon berdentang keras di kepala Bram. Seketika, kotak beludru merah berisi cincin pernikahan di genggamannya meluncur jatuh, berdentang pelan di lantai ubin KUA Jakarta Selatan yang dingin."Yah? Jangan bercanda, Yah. Nggak lucu. Kiana baru aja lepas aku di depan pintu. Dia udah pakai kebaya putih, Yah..."Suara Bram bergetar hebat. Senyum di wajahnya lenyap, digantikan rasa dingin yang menusuk sumsum tulang."Ayah nggak bercanda, Bram! Ibu sudah pingsan di sini! Cepat kembali kesini!”Sambungan terputus. Bram bergerak seperti orang kesurupan. Dia berlari meninggalkan dokumen pernikahan yang berserakan, memacu mobilnya membelah jalanan Jakarta bak orang gila. Pikirannya kosong, namun dadanya sesak oleh rasa sakit yang teramat sangat.Begitu sampai di kontrakan, pemandangan di ruang tamu menghancurkan seluruh sisa pertahanannya. Ibu Kiana menangis tersed
"Bram, pelan-pelan jalannya. Aku nggak bakal ilang," gerutu Kiana sambil menahan tawa, meski hatinya menghangat melihat bagaimana Bram merangkul pinggangnya seolah ia adalah barang pecah belah."Nggak bisa, Ki. Rumah sakit lagi ramai banget hari ini. Aku nggak mau ada yang nyenggol kamu," sahut Bram protektif. Matanya terus waspada menatap koridor lobi rumah sakit.Kiana menggelengkan kepala, menyentuh perutnya yang masih rata. "Anak kamu masih sekecil biji kacang di dalam sini, Bram. Dia aman.""Justru karena masih kecil, harus dijaga ekstra," balas Bram keras kepala. Begitu mereka sampai di parkiran mobil, ia membukakan pintu untuk Kiana dengan sangat sopan, lengkap dengan tangan yang melindungi kepala Kiana agar tidak terantuk pintu.Setelah memastikan Kiana duduk nyaman, Bram memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi. Namun, alih-alih langsung menyalakan mesin, pria itu malah terdiam. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.Kiana yang menyadari perubahan sikap itu langsu
"Bram..."Suara Kiana bergetar hebat. Kakinya lemas, hampir saja ambruk di atas lantai marmer Bandara Soekarno-Hatta yang dingin. Namun, alih-alih memerintahkan dua bodyguard raksasanya untuk merangsek maju, Jeremy Blackwood justru mengangkat tangan, memberi isyarat agar anak buahnya mundur.Pria itu berjalan tenang mendekati mereka, lalu berhenti tepat tiga langkah di depan Bram. Tidak ada senjata, tidak ada tatapan mengancam. Hanya ada raut wajah datar yang dingin."Laura sudah dipastikan membusuk di fasilitas pengaman ketat di Swiss," ucap Jeremy memecah ketegangan. Netra elangnya beralih menatap Kiana yang bersembunyi di balik punggung Bram. "Aku menepati janjiku, Kiana. Pergilah. Hiduplah dengan normal di negaramu. Mulai detik ini, kalian berdua benar-benar bebas dan tidak akan pernah disangkutpautkan lagi dengan Blackwood."Bram tertegun, mencengkeram jemari Kiana erat-erat. "Kamu serius?"Jeremy tidak menjawab. Ia hanya melempar senyum tipis yang sulit diartikan, lalu berbalik







