LOGINHai readers... Selamat datang di Catatan Penulisku.. Aku K A O R U. Ga kerasa sudah sebulan-pas aku menulis disini. Sekarang tgl 8 Agustus 2026. Dari penulis pemula, yang udah seneng karena ada yang baca, kemudian berkembang karena ada yang konsisten terus melanjutkan baca. Terima kasih untuk para readers yang membaca novelku ini. Jangan lupa bantu kasih saran dan masukan di kolom komentar, agar aku bisa berkembang lebih baik di penulisanku. Sekali lagi terima kasih semuanya. Tolong dukung novel ini hingga tamat ya.
Taman RSD Harapan Kasih seketika hening mencekam. Udara siang yang hangat mendadak membeku. Kiana berdiri terpaku, menatap jemari suaminya yang menggenggam erat tangan Arini."Bram... kamu bercanda, kan?" Kiana tertawa sumbang, air mata meluncur makin deras di pipinya yang tirus. "Kamu bercanda, kan?! Aku ini Kiana! Istri kamu!"Arya tak bergeming. Ia justru menyembunyikan Arini sedikit di belakang tubuhnya. "Maaf, Mbak. Saya mengerti Mbak sedang sedih dan kehilangan, tapi saya benar-benar tidak kenal Mbak. Saya Arya, bukan Bram.""Bramantya Yudha!" pekik Kiana histeris, melangkah maju hendak merampas tangan Arya, namun Jeremy bergerak cepat menahannya."Kiana, tenang dulu, Ki!" bisik Jeremy panik."Gimana aku bisa tenang, Jer?! Suamiku di depan mata, tapi dia pegang tangan perempuan lain dan bilang gak kenal aku!" Kiana menepis tangan Jeremy kasar, lalu menunjuk wajah Arini dengan telunjuk bergetar. "Kamu! Dokter macam apa kamu, hah?! Kenapa kamu tahan suami orang di sini padahal kam
Malam di alun-alun kota terasa membeku bagi Arini. Berita tentang hilangnya pengusaha kaya bernama Bramantya Yudha terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Wajah gagah berbalut jas mewah di layar televisi besar itu adalah pria yang sama dengan yang kini sedang tersenyum menunggunya di seberang jalan dengan kaus polos bersahaja. Arya... atau Bramantya.Berhari-hari setelah malam itu, batin Arini berkecamuk hebat. Setiap kali ia memegang ponselnya, jemarinya gemetar hebat di atas layar. Haruskah ia menghubungi nomor darurat yang tertera di berita itu? Haruskah ia mengembalikan Bramantya kepada keluarganya di ibu kota?"Kalau aku kasih tahu mereka, Arya bakal pergi... Aku bakal kehilangan dia selamanya," bisik Arini pada cermin di kamar mandi rumah sakit. Matanya sembap, menahan beban rahasia yang teramat berat.Namun di sisi lain, nuraninya terus menjerit. Ada wanita lain di luar sana yang mungkin setiap malam menangis dan meratapi hilangnya sang suami. Arini berada di persimpanga
Tiga bulan sudah berlalu. Tiga bulan yang terasa seperti tiga abad bagi Kiana.Sejak malam mengerikan di rumah sakit itu, l:saat pihak medis mengonfirmasi adanya kekeliruan data dan pasien Mr. X yang hilang, Bramantya benar-benar seperti hilang ditelan bumi. Tidak ada catatan rumah sakit lanjutan, tidak ada jejak di kediamannya.Setiap sudut kota, kantor polisi, hingga rumah sakit swasta di luar daerah sudah Kiana datangi bersama Jeremy dan Hendra. Hasilnya selalu sama, nihil."Masih nggak ada kabar, Kiana?" suara Jeremy memecah keheningan di ruang tamu rumah Kiana. Pria itu meletakkan secangkir teh hangat yang tak tersentuh di atas meja.Kiana hanya menggeleng pelan. Matanya sembap, lingkar hitam tebal menghiasi wajahnya yang kini kian tirus. Tangan wanitanya meremas erat jaket kesayangan Bram yang ditinggalkan di kursi."Jer, manusia seukuran Bram nggak mungkin hilang gitu aja tanpa ada yang menyembunyikan," gumam Kiana, suaranya parau dan bergetar. "Aku udah capek bolak-balik ke IG
"Gunting! Cepetan!""Dokter, detak jantung pasien mendadak drop! Sirkulasi darahnya melemah!"Bunyi nyaring monitor EKG mendadak berubah mendatar di balik pintu tebal Ruang Operasi 02. Garis lurus menyala kaku di layar digital. Suara bip panjang bertonasi tinggi menyayat dinginnya udara malam—seolah mengumumkan secara mutlak bahwa sebuah nyawa baru saja melayang dan terlepas dari raganya.Kiana tersentak berdiri dari kursi tunggu. Seluruh persendian di lututnya gemetar hebat, tak sanggup lagi menopang bobot tubuhnya yang melemah. "Jer... suara monitor itu... Jer, suara apa itu?!"Jeremy langsung memegang kedua bahu Kiana, berupaya menahannya meski wajah pria itu sendiri ikut pucat pasi bagai mayat. "Kiana, tenang... Tenang dulu, jangan langsung mengambil kesimpulan!""Gimana aku bisa tenang?!" jerit Kiana. Benteng pertahanannya runtuh, tangisnya pecah seketika menjadi raungan histeris. Ia menerjang pintu kedap suara itu dan memukul kacanya keras-keras dengan telapak tangannya yang gem
"Jer, Bram nggak ada! Dimana dia?!"Suara Kiana gemetar hebat di balik telepon, bercampur napasnya yang terengah-engah. Di dalam kamar kontrakan sempit bernomor 4B itu, Kiana berdiri mematung. Matanya menyapu sekeliling—cangkir kopi dingin, gantungan baju yang bergoyang pelan, dan sepi yang menghantam dadanya.Di ujung telepon, Jeremy terdiam sejenak. "Nggak mungkin, Kiana. Hendra baru aja komunikasi sama dia. Dia bilang Bram ada di sana.""Tapi dia nggak ada, Jeremy! Pintu kamar ini bahkan nggak dikunci!" jerit Kiana, suara tangisnya pecah. "Kamu sengaja, ya? Kamu sama Hendra sekongkol buat bohongin aku?!""Demi Tuhan, Kiana, aku nggak bohong!" nada suara Jeremy mulai naik, panik. "Hendra! Sini kamu!"Sayup-sayup Kiana mendengar suara Jeremy yang berteriak memanggil Hendra di ujung sana. Tak lama, suara Jeremy kembali terdengar, lebih berat dan cemas."Kiana, dengerin aku. Hendra baru aja coba hubungi nomor Bram lagi. Nomornya udah nggak aktif. Sama sekali.""HP-nya ada disini. Dalam
Kopi hitam pekat di meja kayu kontrakan sempit itu sudah mendingin. Bram menyandarkan punggung ke kursi yang berderit nyaring, memandangi langit-langit kusam dengan tatapan kosong. Suara getar ponsel di atas meja memecah kesunyian malam. Bram menatap layarnya. Nama Hendra tertera di sana. Ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya."Halo, Hendra.""Selamat malam, Pak Bram," suara Hendra terdengar dari seberang. Ada helaan napas berat sebelum asistennya itu melanjutkan. "Semua dokumen balik nama aset dan perwalian anak-anak sudah saya serahkan langsung ke Bu Kiana."Bram memejamkan mata erat-erat. Jemarinya mencengkeram pinggiran meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih. "Kiana... gimana keadaannya?" tanya Bram pelan. Suaranya serak."Bu Kiana marah besar, Pak," jawab Hendra ragu-ragu. "Beliau menolak percaya begitu saja. Beliau terus mendesak dan nanya keberadaan Pak Bram sekarang.""Kamu nggak bilang apa-apa, kan?""Sama sekali tidak, Pak. Saya pegang janji sa







