MasukKeheningan di ruang kerja Bram mendadak terasa mencekam. Di layar monitor yang baru saja ia matikan, bayangan pria bermantel panjang di depan gerbang tadi malam masih terekam jelas di benaknya. Garis wajah itu, sorot mata dingin itu… sungguh tidak mungkin salah."Sayang? Kamu kenapa?"Suara Kiana memecah keheningan. Perempuan itu berdiri di ambang pintu, memegang nampan berisi kopi hangat. Senyum manisnya perlahan memudar saat mendapati wajah suaminya pucat pasi bak mayat, dengan napas yang memburu.Bram buru-buru menguasai diri. Ia menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengulas senyum paksa yang terlihat sangat kaku."Gak... gak apa-apa, Kiana," sahut Bram, suaranya agak serak. "Cuma... sedikit pusing. Kurang tidur dari semalam."Kiana melangkah mendekat, meletakkan cangkir kopi di atas meja kayu mahogany. Tangannya yang hangat mendarat halus di dahi Bram, mengusap pelan kerutan di sana. "Makanya, jangan terlalu dipaksa. Urusan sama Rendra kan sudah selesai. Kamu janji mau li
Aroma teh cammomile berselimut uap hangat menyambut langkah Bram saat pintu utama kediaman terbuka. Keheningan rumah malam ini terasa amat berbeda. Tak ada lagi tumpukan berkas perkara perdata yang berserakan, tak ada ringtone telepon genggam yang melengking setiap lima menit, dan tak ada lagi ketegangan pertarungan sengit lawan Rendra yang meremas dadanya selama berbulan-bulan.Di ruang tengah yang temaram, Kiana tampak duduk di sofa empuk sambil mengayun pelan boks bayi tempat Nathan yang baru berusia enam bulan terlelap. Begitu mendengar langkah sepatu Bram, Kiana mendongak. Senyum lembut yang sangat merindukan ketenangan mekar di wajah cantiknya."Kamu sudah pulang, sayang?" bisik Kiana halus, berhati-hati agar tak membangunkan Nathan, lalu beranjak menyongsong sang suami.Bram tak menjawab dengan kata-kata. Pria itu langsung menarik Kiana ke dalam dekapan erat, membenamkan wajahnya di celah leher sang istri seraya menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selalu menjadi tempatnya be
Hening seketika melingkupi jalanan di depan gedung Mahardika Group. Kilatan lampu kamera wartawan mendadak bagai hiasan latar yang tak lagi dipedulikan. Jeruk nipis rasanya kalah asam dibanding kejutan yang baru saja melesat masuk ke dalam dada Jeremy."L-lima triliun?!" suara Jeremy mencicit. Matanya hampir melompat keluar melihat deretan angka nol di lembaran kertas berkop resmi Zurich Investment itu. "Tanpa bunga bank? Ini gila, Tania! Lo bercanda, kan?!""Gue gak pernah sebercanda itu untuk urusan utang budi, Jer," sahut Tania tenang. Tatapannya lurus mengunci mata Bram. "Seluruh klaim konsorsium kreditur udah berpindah tangan ke entitas gue. Kurator di dalam? Mereka gak punya hak lagi buat nyegel gedung ini."Bram mengembuskan napas berat. Tangannya mengusap kasar wajahnya yang pucat. "Tania... ini terlalu besar. Gue gak bisa terima ini begitu aja.""Lo harus terima, Bram!" potong Tania cepat, suaranya menajam. "Ini bukan cuma soal nyelamatin bisnis lo. Ini soal kesempatan kedua y
Firasat buruk Bram terbukti beberapa menit setelah Rendra dan Pak Hadi diseret keluar oleh petugas keamanan. Layar pemantau utama di ruang krisis mendadak berkedip merah menyala. Bunyi sirine darurat sistem keuangan internal berdenging nyaring, memekakkan telinga."Bram! Lihat ini!" jerit Jeremy seraya menunjuk layar komputernya dengan tangan gemetar. "Bursa saham baru saja dibuka, dan... astaga!""Ada apa, Jer?!" Bram melangkah cepat, menumpukan kedua tangannya di meja kerja Jeremy. Matanya membelalak lebar melihat grafik harga saham Mahardika Group yang merosot tajam seperti terjun bebas tanpa parasut."Saham kita ditransaksikan massal di harga terendah!" suara Jeremy panik setengah mati. "Short selling besar-besaran! Investor asing melepas semua portofolio mereka dalam hitungan detik!""Gimana bisa?!" gertak Bram, rahangnya mengeras. "Rekaman Kapten Bambang belum kita rilis! Siapa yang bocorin informasi kapal terbakar ke bursa?!"Pintu ruang krisis didobrak dari luar. Hendra berlari
Darah Bram serasa berhenti mengalir saat melihat layar proyektor di hadapannya. Kobaran api melahap geladak Mahardika 01 yang terapung tak berdaya di perairan lepas."Gila lo, Rendra!" bentak Jeremy, melangkah maju dan mencengkeram kerah kemeja Rendra dengan murka. "Di dalam kapal itu ada puluhan nyawa awak kapal! Lo mau membunuh orang?!"Rendra tidak melawan. Ia hanya terkekeh pelan, menatap Jeremy tanpa rasa takut sedikit pun."Bukan saya yang membunuh mereka, Om Jer," bisik Rendra dingin. "Tapi keputusasaan kalian. Saya cuma menagih utang masa lalu.""Jer, lepasin dia," pangkas Bram cepat, suaranya dalam dan bergetar menahan gejolak di dadanya.Jeremy menghempaskan Rendra kasar hingga pria muda itu tersungkur ke kursi.Bram merogoh ponselnya dengan gerakan secepat kilat, langsung menekan nomor panggilan darurat. "Hendra! Hubungi Basarnas, Pangkalan Wilayah Laut, dan Direktur Kepolisian Perairan sekarang! Kirim koordinat Mahardika 01 detik ini juga!""Sudah, Pak Bram!" suara Hendra
"Jer! Kenapa kunci enkripsi lo bisa dipakai buat ngebatalin penerbitan saham baru?!" bentak Bram, suaranya memenuhi kabin Alphard yang mendadak sunyi.Jeremy mencengkeram kemudi dengan erat, wajahnya sepucat kertas. "Demi Tuhan, Bram! Gue gak pernah menyentuh sistem transaksi hari ini! Laptop sama HP gue dari tadi tergeletak di jok belakang!"Bram langsung menoleh ke jok belakang, lalu menyambar laptop milik Jeremy yang masih dalam keadaan menyala. Jarinya menari lincah di atas papan ketik, memeriksa log aktivitas peretasan.Mata Bram membelalak."Transaksinya dilakukan lewat remote access lima belas detik lalu..." bisik Bram. "Perangkat lo udah ditanam program trojan!""Siapa yang bisa nanam program itu ke laptop gue?!" seru Jeremy panik. "Gue gak pernah lepasin laptop ini dari pengawasan!"Bram merogoh ponselnya, menghubungi Hendra kembali lewat tombol speaker. "Hendra! Blokir semua transaksi keluar dari rekening utama sekarang juga!""Gak bisa, Pak Bram!" suara Hendra dari balik te







