เข้าสู่ระบบCantika harus bertanggung jawab atas Angga Baskara. Pengumuman perceraiannya dengan Adrian membuat kakek berusia 70 tahun itu diopname di rumah sakit tempatnya bekerja.
Sayangnya, semalam dia tidak bisa ikut berkerumun dengan keluarga Baskara. Hubungan rahasia mereka dan sikap orang tua Adrian seolah memaksa Cantika bersembunyi di ruang istirahat Residen.
Hingga pagi datang, Cantika baru memberanikan diri berkunjung ke bangsal VIP. Ini jam-jam sibuk, seharusnya tidak ada yang menjaga. Jadi, wanita itu bebas mengunjungi Angga tanpa drama.
“Kakek,” panggil Cantika lirih. Sesuai dugaan, Angga sendirian pagi ini.
Angga memejam di ranjang rumah sakit. Monitor alat vitalnya bekerja normal. Selang infus pun sepertinya baru saja diganti.
Perlahan Cantika duduk di kursi kecil samping ranjang. Dia meraih tangan keriput Angga yang tidak ada selang infus.
“Cantika….”
Suara lemah Angga seketika menyentak Cantika. Mata wanita itu berkaca-kaca saat menemukan tatapan lemah Angga kepadanya.
“Kakek,” panggil Cantika sekali lagi. “Maaf ya, Kek. Aku… aku bikin Kakek masuk rumah sakit.”
Angga menggeleng lemah. Senyum kecilnya tersungging. Genggaman lembutnya pun meremas tangan Cantika.
“Kakek paham, Cantika. Paham,” ucap Angga lirih. “Tidak ada yang bisa tahan dengan Adrian bahkan Kakek sendiri. Jangan salahin dirimu sendiri, Cah Ayu. Kamu berhak bahagia walau nggak sama Adrian.”
Cantika mengangguk dengan senyum getirnya.
Setelah itu mereka bercengkrama sejenak, sebelum akhirnya Angga terpaksa kembali beristirahat karena kelelahan.
Ketika Cantika keluar, berniat kembali bekerja, siapa sangka di depan pintu Aruna menunggu. Tatapan tajam mertuanya tertuju ke arahnya. Tidak ada senyum. Hanya dengkusan keras yang menyapa.
“Kita bicara!” ucap Aruna ketus.
Cantika mengikuti Aruna. Mereka berjalan menuju sudut lorong bangsal VIP. Anehnya, tidak ada orang di sini bahkan nakes, benar-benar disengaja hanya ada mereka.
Belum sempat Cantika membuka mulut, tiba-tiba sebuah tamparan keras melayang ke pipi Cantika. Wanita itu terperanjat. Matanya terbelalak. Rasa nyeri dan perih langsung merambati pipinya.
“Ma?” bisik Cantika seraya menyentuh pipi kirinya.
“Dasar nggak tahu terima kasih!” ucap Aruna. Suaranya tetap terjaga rendah, walau setajam silet. “Udah bikin ayah mertua saya masuk rumah sakit dan masih berani muncul di hadapan beliau? Kamu sengaja ya, Cantika? Oh! Saya tahu, ini cara kamu bikin ayah mertua saya mati perlahan, kan? Bukan hanya serangan jantung, tapi juga stres berat karena lihat wajah kamu terusan?”
Cantika menggeleng pelan. “Ma, saya….”
“Berhenti panggil saya ‘Ma’! Saya bukan ibu mertua kamu lagi!”
“Nyonya Baskara.” Cantika menarik napas banyak-banyak, mengatur emosi. “Maaf jika kehadiran saya di sini tidak dikehendaki, tapi saya masih cucu menantu Pak Angga Baskara, beliau akan bertanya-tanya kalau saya tidak menjenguk padahal saya bekerja di rumah sakit ini juga. Kalau memang kehadiran saya di sini salah, saya tidak akan datang lagi ke depannya.”
“Saya harap kamu tepati kata-katamu itu, Cantika.” Aruna menunjuk Cantika. “Karena sampai kapan pun saya nggak akan pernah merestui hubungan kamu dengan Adrian. Ingat itu!”
Cantika mengangguk. Malas berdebat dan melihat Aruna, dia memilih untuk undur diri.
Dengan sengaja Cantika berjalan sambil menundukkan kepala. Dia menyembunyikan bekas tamparan Aruna.
Sialnya, tepat saat membuka pintu ruang VIP, tiba-tiba saja seseorang menabrak bahunya. Kurang awas membuat tubuh Cantika oleng. Badannya sontak melayang, siap terjerembab ke belakang.
Untungnya, sebuah tangan menangkap dan memeluk pinggang Cantika tepat waktu. Seketika napas wanita itu tertahan saat matanya menemukan sepasang mata segelap malam yang familier. Aroma pinusnya yang khas pun membuatnya mengetahui siapa yang memeluknya saat ini.
“Cantika.”
Panggilan pelan itu sontak menyentak Cantika. Refleks, dia mendorong Adrian yang memeluknya.
“Ma-makasih.”
Adrian melirik ke sisi wajah Cantika. Tangannya menyentuh pipi wanita itu tanpa sadar. “Pipi kamu… nggak apa-apa?”
Cantika menggeleng. Ditepisnya tangan Adrian dengan canggung. “Aku harus balik kerja lagi. Sori!”
Dengan tergesa Cantika meninggalkan Adrian. Napasnya lega saat mendapati suaminya itu tak lagi mengikutinya sampai lift.
Saat akan menekan lift, terdengar seseorang memanggil. “Cantika?”
Cantika menoleh. Senyum lebarnya mengembang. Bukan Adrian, tapi sosok lain yang dikenalnya dengan baik di masa lalu.
“Kak Mario? Kok ada di sini?”
Mario menarik Cantika ke sisi lift sepi, memberi mereka waktu mengobrol berdua.
Tanpa Cantika ketahui, Adrian baru saja datang. Tangannya menggenggam ice bag dari perawat. Pria itu berniat memberikannya pada Cantika.
Namun, Adrian malah mendapati Cantika asyik berbicara dengan pria asing. Keduanya mengobrol dengan akrab. Bahkan istrinya itu tertawa lepas, hal yang tidak pernah Cantika tunjukkan di depan Adrian selama setahun ini.
“Jadi….” Adrian meremas ice bag erat-erat. “Pria itu alasannya, Cantika?”
Adrian menggertakkan giginya. Hatinya langsung mengeras. Kabut kekhawatirannya seolah lenyap, berganti ekspresi datarnya.
Perlahan Adrian berbalik. Ice bag itu dengan cepat terbang dan terbuang di tempat sampah. Untuk apa dia peduli pada Cantika, lagi pula jika hubungan sudah sudah tercoreng orang ketiga, maka lebih baik memang dibubarkan saja.
Seperti pencuri, Cantika mengendap-endap memasuki ruang kerja Adrian. Aneh, padahal dia tidak melakukan kesalahan. Alibinya sempurna, ada laporan pasien di tangan dan juga laptop pribadinya.Hanya saja, di balik cardigan tebal putihnya ini, Cantika menyimpan sebuah rahasia. Mungkin itu yang membuat jantungnya terus berdegup kencang hingga sekarang.Perlahan Cantika menaruh laptopnya di meja kerja Adrian, bersisian dengan laptop pribadi pria itu. Digesernya kursi kerja Adrian, lalu didudukinya untuk dirinya sendiri.Sesaat, Cantika terdiam dan menunggu layar laptopnya menyala sempurna, sebelum dia berpangku dagu hanya untuk melamun. Wanita itu berpikir, haruskah dia langsung mencari tahu isi USB itu atau tidak. Atau dia mengalihkan pikirannya lagi dengan mengerjakan laporan pasien yang tidak mendesak itu?
Selama bermenit-menit, Cantika hanya tertegun menatap USB itu. Matanya yang sudah tinggal beberapa watt itu mengerjap. Sedangkan otaknya yang agak kosong tak menemukan korelasi antara pasien kecilnya dengan USB ini.“Apa… isinya video ucapan terima kasih?” pikir Cantika.Wanita itu manggut-manggut. Bisa saja itu terjadi, lagi pula karena masih anak-anak, tidak mau mengeluarkan uang lebih untuk memberikan sesuatu yang mahal, jadi memberikan video ucapan terima kasih adalah hal yang wajar.“Terima kasih ya, pasien kecil,” gumam Cantika. Senyum kecilnya mengembang lebar.Sayangnya, Cantika tidak bisa langsung melihat video ataupun isi USB itu sekarang juga. Terlebih dia sudah menguap lebar-lebar sekarang.
Sesuai janjinya dengan Mario, Cantika bergegas menuju taman belakang rumah sakit. Langit masih keemasan saat dia keluar area bangunan. Hal yang membuat wanita itu merasakan perbedaan besar dengan taman belakang tengah malam itu.Saat ini, taman belakang tampak cukup padat oleh manusia. Beberapa pasien terlihat dari kondisi mereka yang diperban atau terus batuk-batuk. Sementara yang lain pengantar. Ada juga para nakes yang berjaga, baik untuk tugas atau memang melepas penat.Cantika sendiri jarang ke taman belakang. Baginya tempat ini terlalu ramai. Dia lebih suka di tempat kerja dan menenggelamkan diri dalam laporan-laporan pasien atau tugas dari konsulen lainnya.Ramai membuat Cantika agak kesusahan mencari keberadaan Mario. Terlebih pria itu tidak memberitahukan lokasi keberadaan.
Adrian sama sekali tidak bisa tenang. Tangannya terus mengetuk-ketuk pahanya dengan tidak sabaran. Tatapannya tertuju pada jalanan padat merayap ibu kota saat jam makan siang. Sedangkan sejak tadi, dia tak tenang dan kepalanya penuh berisikan Cantika.Bayangan akan adegan Aruna menampar Cantika terus berputar di kepala Adrian. Hati pria itu sakit. Ibu kandungnya menyakiti istri yang dia cintai. Pantas saja Cantika menceraikannya bahkan meminta cek dua puluh miliar itu.“Pak Budi,” panggil Adrian di sela-sela lamunannya. Dia melirik Budi yang kini menoleh di kursi sebelah sopir. “Saya nggak bisa biarin Bu Aruna bersikap buruk terhadap istri saya. Saya butuh cara untuk membuatnya berhenti.”Budi terdiam sejenak, sebelum berkata, “Mungkin… jalan-jalan ke luar negeri untuk menjernihk
Adrian datang tepat waktu. Pukul sebelas kurang lima menit, mobilnya sudah berhenti tepat di pintu masuk istana kepresidenan. Para penjaga langsung berbaris rapi untuk menyambutnya seolah pria itu adalah tamu penting.Mobil berhenti dan sebelum Adrian turun, pria itu berpesan pada Budi yang duduk tepat di sebelah sopir, “Pak, kalau saya nggak keluar sampai jam tiga tolong atur orang buat antar Cantika. Oh satu lagi, perketat penjagaan istri saya.”Budi mengangguk patuh, sebelum akhirnya Adrian turun dari mobil.Seperti biasa, begitu Adrian menginjakkan kaki di istana kepresidenan, maka asisten pribadi Candra akan langsung menyambutnya. Senyum yang terukir di wajahnya memang terkesan ramah, tetapi semua hanya topeng saja.Dalam pemerintahan atau tepatnya dunia
Bel rumah berbunyi seperti pertanda mimpi buruk Cantika akan segera datang. Sesaat wanita itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Sebelum bergerak pelan menuju pintu dan membukanya.Sesuai yang tidak diharapkan, Aruna berdiri di depan pintu. Rambut panjangnya yang selalu disanggul itu siang ini tampak cantik dengan hiasan rambut berwarna merah. Gaun panjang putih dengan corak bunga pas badan. Tangannya menenteng tas kulit buaya yang terkenal mahal.Aruna bersedekap. Dia menatap Cantika sejenak, sebelum mendengkus keras seraya membuang muka.“Dasar wanita sombong dan nggak tahu malu.” Aruna mulai mengeluarkan kata-kata hinaan untuk Cantika. Dia melenggang masuk apartemen dan dengan sengaja menabrak pundak Cantika keras-keras. “Bisa-bisanya hapus saya dari daftar pemegang akses masuk apa







