ログインJuna menyambar tas ransel usangnya secara satset, tidak menghiraukan lagi perdebatan sengit antara Clarissa dan Siska di depan pintu apartemen.
Pemuda penjual jamu itu melesat melompati koper merah muda Siska, berlari cepat menuruni tangga darurat menuju jalan raya luar gedung.
Rasa cemas yang sangat pekat membakar dada tegapnya, membayangkan kondisi nyawa Ibu Arini Kusuma yang sedang terancam kritis.
Juna menyetop sepeda motor matik yang melintas di trotoar, menyuruh san
Juna mengangkat tinggi-tinggi botol pemindai berisi cairan racun sintesis yang disembunyikan oknum inspektur di bawah sorotan puluhan lampu kilat kamera. Ratusan awak media nasional berdesakan di ambang pintu laboratorium steril, mengarahkan mikrofoni dan lensa kamera siaran langsung.Ibu Arini Kusuma memegangi dada cantiknya dengan napas terengah-engah pendek, menatap cemas pada keberanian murid kesayangannya.Oknum Dedi dan Oknum Roni merangkak di atas lantai porselen putih dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat."A-Aa... anu, Pak Wartawan! S-Su-Sumpah, racun buatan Pak Broto ini dituduhkan ada di dalam jamu Juna!" cicit Juna pura-pura gagap diawal."Jangan nekat, Arjuna! Cairan racun sintesis itu sangat berbahaya bagi saraf pembuluh darah!" jerit Aurel memeringatkan."Oknum pejabat BPOM palsu ini harus melihat sendiri betapa sampah racun buatan mereka di depan publik!" pangkas
Ratusan wartawan dari berbagai stasiun televisi nasional merangsek masuk ke pelataran laboratorium pabrik utama Juna. Lampu kilat kamera membakar udara sore, mengabadikan momen sidak mendadak Tim BPOM bersama kementerian kesehatan.Juna melangkah tegap memimpin rombongan masuk ke dalam ruang laboratorium steril berlantai porselen putih.Ibu Arini Kusuma bersama Clarissa Wijaya dan Aurel berjalan bersisian di belakang panggul tegap sang juragan muda."A-Aa... anu, Pak Ketua Inspeksi! S-Su-Sumpah, silakan periksa semua tabung jamu sakti Juna sampai puas!" cicit Juna pura-pura polos diawal."Pemeriksaan ini disiarkan secara siaran langsung nasional demi keterbukaan publik!!" tegur Ketua Tim BPOM berwibawa kaku."Seluruh fasilitas produksi dan standar higiene pabrik ini berada di atas standar internasional!" pangkas Aurel rasional memamerkan sertifikat.Mbak Ratn
Genggaman tangan tegap Juna meremukkan ponsel di telinganya secara satset, meninggalkan serpihan komponen plastik yang berhamburan ke atas panggung. Ibu Arini Kusuma mendekat cepat dengan wajah memucat, memegang lengan kekar murid kesayangannya."Arjuna... apa yang dikatakan Pak Broto di telepon tadi?!" cemas Ibu Arini Kusuma dengan suara gemetaran."A-Aa... anu, Bu Arini! S-Su-Sumpah, Pak Broto tua bangkai itu beneran belum kapok diseret ke penjara!" pangkas Juna pura-pura gagap diawal."Tua bangkai itu ternyata memandu sisa pasukan Klan Sindhu dari lokasi pelariannya!" pangkas Clarissa Wijaya mengetuk layar tabletnya."Dia memanfaatkan dokumen rahasia lama untuk menyebarkan fitnah bahwa jamu sakti milikmu mengandung zat adiktif terlarang!" tambah Madam Elena dingin.Juna menyunggingkan senyuman miringnya yang sangat berwibawa Alpha, melangkah tegap mengajak seluruh aliansi ratu
Helikopter pribadi milik keluarga Wijaya mendarat mulus di pelataran atap gedung Grand Ballroom Universitas Nusantara. Juna melangkah turun dari pintu helikopter dengan gerakan tegap, merapikan jas eksklusif hitamnya secara satset.Ibu Arini Kusuma bersama Clarissa Wijaya dan Aurel berjalan anggun di sisi kiri dan kanan sang mahasiswa kedokteran.Suasana di dalam Grand Ballroom tampak sangat megah, dipadati ribuan dokter spesialis, peneliti farmasi, dan awak media nasional."A-Aa... anu, Kak Clarissa! S-Su-Sumpah, ini ruangan konferensi internasional ramai banget!" cicit Juna mendadak berpura-pura gugup diawal."Kamu adalah bintang utama konferensi medis hari ini, Arjuna! Jangan biarkan orang luar kota meremehkanmu!" pangkas Clarissa Wijaya tegas."Data uji klinis dan sampel Formulasi Jamu Sakti V2 sudah siap di podium utama, Arjuna!" tambah Aurel memamerkan berkas digital.
Juna mengibaskan dua jarinya secara satset, menangkis pisau beracun berujung merah milik penyusup Ular Merah hingga hancur berkeping-keping di udara. Pembunuh bayaran berpenutup wajah hitam di ambang pagar balkon penthouse mendadak melotot kaku, melempar bom asap lalu melompat melarikan diri menuju jalan raya."A-Aa... anu, Bu Arini! S-Su-Sumpah, Juna kejar pembunuh bayaran itu ke jalan tol sekarang!" cicit Juna berpura-pura gugup diawal."Hati-hati, Arjuna! Kamu harus selamat kembali ke pelukan Ibu!" jerit Ibu Arini Kusuma cemas."Clarissa, siapkan konvoi SUV hitam! Kita kawal Arjuna menerobos jalan tol luar kota!" pangkas Madam Elena memberi komando tegas.Juna menyambar jas eksklusifnya secara satset, melompat masuk ke dalam SUV hitam berlapis baja yang langsung memacu kecepatan maksimal.Tiga unit SUV hitam milik aliansi Juna melaju beringas membelah laju malam, merangsek mas
Uap panas keemasan dari raga tegap Juna masih membumbung halus di udara kamar utama penthouse. Juna mengenakan celana kain hitamnya secara satset, melangkah tegap menghampiri Madam Elena dan Clarissa Wijaya yang berdiri tegang di ambang pintu.Ibu Arini Kusuma merapikan daster zamrudnya, duduk bersandar di bantal sutra dengan raut keibuan yang sarat kecemasan."A-Aa... anu, Madam! S-Su-Sumpah, Pak Broto sama kakek dukun itu beneran mau main kurban darah di gunung?!" tanya Juna berpura-pura canggung diawal."Benar, Arjuna! Tapi sebelum kamu terbang mengejar mereka ke pegunungan, kita harus memutus napas finansial Klan Sindhu!" pangkas Madam Elena tegas."Iya, Arjuna! Tanpa pasokan uang dari bursa saham, aliansi Klan Sindhu bakal lumpuh total lusa!" tambah Clarissa Wijaya mengangguk.Madam Elena merangsek melangkah menuju meja kerja eksekutif, membuka laptop berenkripsi tinggi mili
Suara manja Mbak Ratna yang bocor melalui speaker ponsel seketika membuat Juna panik sampe keringat dingin. Ibu Arini Kusuma pun mengernyitkan alisnya yang indah, menatap saku celana Juna dengan pandangan menyelidik yang penuh curiga."A-A-Anu Bu... ini... ini panggilan darurat dari konter jamu!" s
Siska Anastasya berdiri dengan berkacak pinggang, matanya melotot menatap Juna dan Ibu Arini bergantian. "Kak Juna kok malah berduaan sama Bu Arini di depan toilet sihhh...?" tanya Siska dengan nada manja yang dibuat-buat.Juna menelan ludah kesat, keringat dinginnya mengalir semakin deras melintas
Juna panik setengah mati melihat tubuh Ibu Arini Kusuma yang tergeletak kaku di atas lantai toilet yang sedikit basah.“Duh, Gusti! Kalau beliau mati di sini, aku pasti dituduh melakukan malapraktik atau lebih parah lagi dituduh berbuat mesum sama mayat!” batin Juna dengan keringat dingin yang meng
Pak Broto terbelalak syok, matanya nyaris keluar melihat kelancangan murid melarat di depannya yang berani merangkul aset berharga sekolah.Clarissa Wijaya pun membeku seketika, napasnya tertahan saat punggungnya menempel pas pada dada bidang Juna yang terasa hangat menembus seragam.Gejolak energi







