分享

Interogasi Awal

作者: QuinzeeQ
last update publish date: 2026-03-18 15:38:08

“Keluarga Ming?”

Jantung Ming Zhu berdetak lebih kencang. Ia tahu apa maksudnya. Nama Ming bukan nama keluarga biasa. Itu adalah nama keluarga dari dinasti yang telah digulingkan.

Liang Wei memiringkan kepalanya sedikit.

“Apakah itu kebetulan?”

Nada suaranya tetap santai. Namun setiap kata terasa seperti pisau yang perlahan mengupas rahasia. Ming Zhu menunduk lagi.

“Aku tidak tahu apa yang Tuan maksud,” ucap Ming Zhu.

Liang Wei tertawa kecil. Bukan tawa keras.

Lebih seperti seseo
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Isi Makam Teratai Putih

    BRUKKK!Tubuh Pangeran Rui Ambruk. Darah mulai mengalir. “Liang Wei!” seru Ming Zhu menerobos maju kearah Liang Wei.Ming Zhu kemudian menoleh kearah Pangeran Rui yang sudah tergeletak tak bernyawa.“Akhirnya, aku berhasil mengambil nyawanya dengan tanganku,” ucap Liang Wei pelan.Kematian Pangeran Rui membuat pasukan Teratai Hitam kehilangan arah. Namun perang belum berakhir. Di sisi lain lembah, Wang Ji'an masih memimpin pasukannya bertahan di depan gerbang makam. "Jangan biarkan mereka mendekati gerbang!" teriak Wang Ji'an. Pasukannya kembali menyerang. Jenderal Xu Rong mengangkat pedangnya. "Pasukan Ming!" "MAJU!" Ratusan prajurit menerjang bersamaan. Benturan kedua pasukan kembali mengguncang lembah. Liang Wei menatap medan perang. "Hei Yan, Mo Lin, Kepung sisi kiri,” ucapnya. "Ye Shuang, Su Mu. Amankan sisi kanan,” lanjutnya Keempat Penjaga Bayangan langsung bergerak. Ming Zhu menggenggam pedangnya. "Aku ikut!” Liang Wei menatapnya. "Jangan terlalu memaksakan luk

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Pedang Naga Hitam

    “Han Qiye, Kenapa kau begitu bodoh,” lirih Ming Zhu.Ming Zhu masih memeluk tubuh pria itu. Air matanya jatuh tanpa henti. Ia teringat pertama kali bertemu Han Qiye saat masih remaja. Mereka pernah berlatih pedang bersama. Pernah bertengkar, pernah tertawa. Dan pada akhirnya mereka berdiri di sisi yang berlawanan. Han Qiye memang telah melakukan banyak kesalahan. Namun di saat-saat terakhir hidupnya, ia memilih menebus semuanya. Bahkan dengan nyawanya sendiri Liang Wei berjalan mendekat. Ia berlutut di samping jasad Han Qiye. Dengan penuh hormat, ia menutup kedua mata pria itu. "Meski kita tidak pernah menjadi kawan, kau mati sebagai seorang kesatria. Terimakasih, karena sudah menepati janjimu, untuk melindungi Ming Zhu sampai akhir hayatmu,” ucap Liang Wei pelan Air mata Ming Zhu mengalir semakin deras. Isak tangisnya membuat beberapa jenderal ikut tertegun. Jenderal Luo, Xu Rong, bahkan Tuan Tianyi ikut menundukkan kepala. Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada ejekan kep

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Kepergian Han Qiye

    “Serang!”Perang akhirnya pecah. Teriakan para prajurit mengguncang seluruh lembah. Dentang pedang, hujan anak panah, dan debu yang beterbangan memenuhi udara. Pasukan Pengawal Perbatasan Dinasti Ming bertempur mati-matian melindungi gerbang Makam Teratai Putih, sementara Penjaga Bayangan Xuanyin bergerak lincah menghadapi para pembunuh Teratai Hitam. "Jangan biarkan mereka mendekati Putri Ming!" teriak Jenderal Xu Rong. "Majuuuu!" Liang Wei langsung menerobos ke tengah medan perang bersama Mo Lin dan Hei Yan. Di sisi lain, Ming Zhu dan Ming Yue bertarung bahu-membahu. Tebasan pedang Ming Zhu yang tegas membuat beberapa prajurit musuh tumbang, sementara Ming Yue melindungi sisi belakang adiknya agar tidak dikepung. "Zhu'er, hati-hati di kanan!" teriak Ming Yue. Ming Zhu berputar cepat, menangkis sebuah tombak sebelum membalas dengan satu tebasan yang menjatuhkan lawannya. Liang Wei yang melihat dari kejauhan tersenyum tipis. "Itulah Putri Ming yang sesungguhnya,”gumamnya. Na

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Kemunculan Yin Sha

    Angin gunung berembus kencang. Dua pasukan kini saling berhadapan di depan Gerbang Makam Teratai Putih. Di satu sisi berdiri Liang Wei, Ming Zhu, para Penjaga Bayangan, Jenderal Luo, Penjaga Makam, dan sisa Pasukan Pengawal Perbatasan Dinasti Ming. Di sisi lain, Wang Ji'an beserta pasukannya dan kelompok Teratai Hitam. Suasana begitu tegang hingga suara aliran sungai di bawah tebing terdengar jelas. Jenderal Xu Rong melangkah ke depan. Usianya sudah melewati lima puluh tahun, tetapi posturnya masih tegap. Tatapannya tertuju pada Ming Zhu. "Yang Mulia. Hamba akhirnya dapat menepati janji kepada mendiang Kaisar,” ucap Jenderal Xu Rong. Ming Zhu menatap pria itu penuh haru. "Jenderal Xu, Ayah pernah bercerita tentangmu,” ucap Ming Zhu. Xu Rong sedikit terkejut. "Benarkah Yang Mulia?” Ming Zhu mengangguk. "Beliau pernah berkata. Jika suatu hari ayah tidak lagi berada di sisimu, carilah Jenderal Xu Rong. Selama ia masih hidup, ia tidak akan membiarkan seorang pun men

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Pasukan Bangau Putih

    “Jadi sejak saat itu ada orang yang mengincar rahasia tersebut?” tanya Ming Zhu. "Tepat sekali, Yang Mulia,” ucap Jenderal Luo. "Dan orang pertama yang menginginkannya adalah Pangeran Rui,” lanjutnya. Di sisi lain, Han Qiye mengepalkan tangannya. "Aku baru mengetahui semuanya setelah perang dimulai,” ucap Han Qiye. "Dulu aku hanya diperintah menghancurkan Dinasti Ming. Aku diberi tahu bahwa Kaisar Ming sedang menyembunyikan sesuatu yang dapat mengancam keseimbangan kerajaan-kerajaan,” lanjutnya dengan wajah penuh penyesalan. Han Qiye kemudian menundukkan kepalanya.“Dan aku, mempercayainya,” ucapnya lirih Ming Zhu menatap pria yang pernah menjadi sahabat masa kecilnya itu. Ia masih mengingat Han Qiye yang dahulu sering berlatih pedang bersama di halaman istana. Pria yang kemudian berubah menjadi musuh paling dibencinya. "Dan ketika aku mengetahui kebenarannya, semuanya sudah terlambat,” lirihnya. Tiba-tiba— KRAAK! Suara batu bergeser terdengar dari balik tebin

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Rahasia Kerajaan Ming

    “Jenderal Luo?” sahut Ming Yue dari belakang dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ming Zhu dan Ming Yue kemudian bertatapan untuk sesaat sebelum keduanya mendesak Jenderal Luo. Jenderal Luo memejamkan mata sejenak. Ia telah bersumpah kepada mendiang Kaisar Ming untuk menyimpan rahasia itu seumur hidup. Namun kini, tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikannya. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Sudah waktunya Yang Mulia mengetahui semuanya,” ucap Jenderal Luo. Ming Yue yang berdiri di samping adiknya mulai merasa gelisah. "Kebenaran apa?" tanya Ming Yue cepat. Jenderal Luo menatap kedua putri itu bergantian. "Kalian memang saudara. Tetapi, kalian lahir dari ibu yang berbeda,” jelas Jenderal Luo. Keheningan langsung menyelimuti lembah. Mata Ming Zhu membesar. Sementara Ming Yue hanya terpaku. Bibi Lan menundukkan kepala perlahan. Air matanya menetes. Jenderal Luo mulai mengisahkan masa lalu. "Sebelum Dinasti Ming mencapai masa kejayaannya, Yang Mulia Kaisar Ming menikahi P

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Senjata makan tuan

    “Nama-nama itu,” lanjut Perdana Menteri, “telah lama berada dalam pengawasan. Namun tanpa bukti yang cukup… mereka tidak bisa disentuh.” “Jadi kau menciptakan bukti itu?” tanya Kaisar. “Ya,” ucap perdana menteri. Jawaban yang langsung. Tanpa ragu. Kaisar terdiam. Untuk beberapa saat tidak a

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Rencana licik

    Istana malam itu bersinar terang. Lampion-lampion emas menggantung di setiap sudut, memantulkan cahaya hangat di atas lantai marmer yang mengilap. Musik lembut mengalun, bercampur dengan suara tawa para bangsawan dan pejabat yang memenuhi aula perjamuan. Semuanya tampak sempurna. Terlalu sempurna

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Persiapan untuk perjamuan istana

    Malam itu berakhir tanpa siapa pun benar-benar bisa beristirahat. Liang Wei terbaring lemah di ranjangnya. Napasnya sudah stabil, namun wajahnya pucat, dan kesadarannya naik turun seperti ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat.Ming Zhu duduk di sampingnya sejak tadi tidak bergerak. Tangannya tidak

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Pengobatan Ming Yue

    Malam itu, kediaman Liang Wei kembali dipenuhi ketegangan. Ming Zhu masuk lebih dulu, diikuti Ming Yue yang membawa kotak kayu berisi jarum dan botol kecil. Wajahnya tenang seperti biasa, namun matanya tajam—mengamati setiap sudut, setiap detail. Liang Wei yang duduk di dalam kamar sedikit mengan

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status