Masuk“Pasukan naga kekaisaran turun tangan, Yang Mulia,” bisik Mo Lin. “Kaisar telah menunjukkan kepercayaan terhadap Pangeran ketiga,” celetuk Ye Shuang setelah mendengar titah Kaisar barusan. Namun di tengah suasana tegang itu, Bibi Lan tiba-tiba mencengkeram lengan Ming Zhu. Tubuh wanita tua itu gemetar. Ming Zhu langsung menoleh. "Bibi Lan?" Wajah wanita tua itu pucat. Matanya menatap ke arah salah satu bendera Pasukan Naga Kekaisaran. "Terlambat,” gumamnya "Apa maksudmu?" tanya Ming Zhu cepat. Bibi Lan menelan ludah. Tatapannya dipenuhi ketakutan. "Kalau Wang Ji'an sudah muncul, berarti permainan yang tersembunyi selama dua belas tahun akhirnya dimulai,” jelasnya pelan. Liang Wei meliriknya tajam. “Dia harus diamankan. Bawa dia menjauh dari Putri Ming,” titah Liang Wei. Dua anggota Pasukan Naga Kekaisaran segera maju. Namun Bibi Lan langsung menggenggam lengan Ming Zhu lebih erat. "Tidak!” Ming Zhu terkejut. "Bibi Lan?" “Aku ikut denganmu, Putri Ming,”
Ming Zhu membeku. Asal usul kehancuran Dinasti Ming, selalu menjadi luka yang belum pernah benar-benar sembuh. Selama bertahun-tahun, semua bukti mengarah pada satu nama. Han Qiye. Jenderal pengkhianat yang membuka gerbang ibu kota. Pria yang bersekutu dengan para bangsawan rakus. Pria yang menyebabkan keluarga kerajaan Ming tumbang. Namun kini, wanita tua itu justru menggeleng keras. "Han Qiye bukan dalang sebenarnya, Putri,” ucapnya pelan. Mata Ming Zhu membesar. Gadis itu membeku saat wanita tua itu berkata bahwa Han Qiye bukanlah dalang sebenarnya. "Itu tidak mungkin,” gumamnya Suara Ming Zhu terdengar dingin. Karena tidak seperti orang lain, ia mengenal Han Qiye secara pribadi. Sangat pribadi. Han Qiye bukan sekadar nama dalam sejarah kehancuran Dinasti Ming. Ia pernah menjadi jenderal muda paling berbakat di kerajaan. Pria yang tumbuh bersama para bangsawan istana. Pria yang pernah berdiri di sisi Kaisar Ming. Dan.., pria yang pernah mencintainya. Ming Zhu per
“Pasukan naga kekaisaran?” “Sudah lama mereka tidak terlihat.” Mata para menteri langsung membesar. Pasukan Naga Kekaisaran. Pasukan elit yang biasanya hanya bergerak saat terjadi ancaman besar terhadap keluarga kekaisaran. Sudah bertahun-tahun pasukan itu tidak dikerahkan. Bahkan saat terjadi pemberontakan kecil di perbatasan, Kaisar tidak menggunakannya. Namun sekarang, beliau memanggil mereka. Jenderal Pengawal langsung menundukkan kepala. "Hamba mengerti, Yang Mulia.” Saat semua orang sibuk menerima perintah, Kaisar Liang Sheng tetap memandang ke arah asap di kejauhan. Wajahnya sulit dibaca. Namun di dalam hatinya, sebuah firasat buruk perlahan muncul. Terlalu banyak rahasia lama yang bangkit bersamaan. Permaisuri Shen Yurong. Selir Ning. Racun Seribu Senja. Dan kini serangan terbuka di dalam istana. Seseorang sedang memaksa rahasia yang terkubur selama belasan tahun untuk muncul kembali. Lalu Kaisar teringat satu nama. Liang Wei. Putra yang paling mirip
“Terlalu mudah,” ucap Liang Wei pelan. Mo Lin mengangguk. "Seseorang kembali meninggalkan jejak yang terlalu jelas, Yang Mulia,” ujar Mo Lin. "Seolah-olah mereka ingin kita terus melihat ke Aula Phoenix,” sahut Hei Yan. Tepat saat itu, Seorang penjaga bayangan berlari dari luar dengan napas memburu. "Yang Mulia!" Semua menoleh. Wajah penjaga itu pucat. "Sekelompok orang bersenjata menyerang Gerbang Utara istana!" “Apa?!” Ye Shuang berdiri paling cepat. "Berapa banyak?" "Puluhan, Yang Mulia,” jawab penjaga bayangan itu. Belum sempat siapa pun bereaksi, teriakan lain terdengar dari luar. "LAPORAN DARURAT YANG MULIA!” Penjaga kedua muncul. "Terjadi kebakaran di Gudang Barat!” ujarnya dengan nafas terengah. "Kebakaran?" seru Su Mu. Mata Liang Wei langsung menggelap. Sekarang semuanya jelas. Serangan ini bukan kebetulan. Ini jelas pengalihan. Seseorang sedang menciptakan kekacauan besar di dalam istana. Dan target mereka kemungkinan bukan gudang atau ge
Ruangan Aula Timur langsung membeku. “Tewas?” ulang Mo Lin pelan. “Yya, Yang Mulia,” gugupnya. Liang Wei langsung berdiri. “Di mana?” tanya Liang Wei. “Di ruang penyimpanan obat belakang,” jawab Kasim itu pelan. Tanpa membuang waktu, Liang Wei segera berjalan keluar. Mo Lin, Ye Shuang, Hei Yan, Tuan Tianyi, Ming Zhu, dan yang lain langsung mengikuti di belakangnya. Suasana Aula Timur mendadak kacau. Para pelayan tampak pucat. Beberapa tabib istana bahkan gemetar ketakutan. Karena kepala tabib yang mati itu adalah orang yang bertanggung jawab langsung atas ramuan Putra Mahkota selama beberapa hari terakhir. Begitu mereka tiba di ruang penyimpanan obat, aroma darah langsung menyambut. Mayat seorang pria paruh baya tergeletak di lantai. Lehernya terpotong. Rak obat di sekelilingnya berantakan. Dan yang paling mengerikan adalah darah di lantai belum sepenuhnya mengering. “Baru mati,” celetuk Hei Yan. Ye Shuang berjongkok memeriksa tubuh. “Kurang dari satu jam,” s
Keesokan paginya, langit istana tampak mendung. Kabut tipis menyelimuti koridor-koridor batu, membuat suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Di Paviliun Giok, semua orang sudah berkumpul sejak pagi. Setelah keributan Tuan Tianyi semalam, suasana akhirnya kembali serius. Karena kondisi Putra Mahkota Liang Jian masih belum stabil. Dan racun Seribu Senja di tubuhnya belum sepenuhnya teratasi. Liang Wei berjalan paling depan menuju Aula Timur bersama Ming Zhu, Ming Yue, Tuan Tianyi, serta para penjaga bayangan. Hari ini penjagaan di sekitar Putra Mahkota jauh lebih ketat. Bahkan sebelum mereka masuk ke wilayah Aula Timur, beberapa lapis penjaga kerajaan sudah berdiri berjajar. Begitu melihat Liang Wei datang, para penjaga langsung memberi hormat. “Hormat pada Pangeran Ketiga.” Liang Wei hanya mengangguk singkat. Namun tatapannya langsung menyapu seluruh area. Memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Hei Yan diam-diam berbisik pada Su Mu. “Beliau sekarang seperti n
Malam semakin dalam. Suasana di kediaman perlahan mereda, para pelayan sudah mundur, dan hanya suara jangkrik yang terdengar dari taman. Di dalam kamar, lampu minyak masih menyala redup. Ming Zhu terbaring tenang. Namun alisnya sedikit berkerut. Napasnya tidak sehalus sebelumnya. Di luar Liang W
Ruangan itu perlahan kembali sunyi setelah Su Mu pergi. Pintu tertutup rapat, meninggalkan hanya dua orang di dalam. Liang Wei dan gadis yang sejak tadi tak pernah benar-benar jauh darinya. Peta masih terbentang di meja. Namun perhatian mereka tidak lagi di sana. Liang Wei berdiri diam beberapa s
“Aku akan memotong lidahnya jika kabar ini tersebar,” ucap Liang Wei. Sementara di luar, Su Mu berdiri beberapa langkah dari pintu, masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia lihat. “Pantas Tuan sangat lembut pada Nona Ming,” gumam Su Mu kemudian pergi. “Tuan, sudah waktunya beristirahat,”
Malam itu, paviliun dalam terasa lebih sunyi dari biasanya. Ming Zhu berdiri di depan pintu, tangannya sedikit gemetar saat mendorongnya perlahan. Ini pertama kalinya ia masuk ke bagian kediaman yang paling pribadi milik Liang Wei—tempat yang bahkan para pelayan lama pun jarang diizinkan mendekat.







