Teilen

Interogasi Awal

last update Veröffentlichungsdatum: 18.03.2026 15:38:08

“Keluarga Ming?”

Jantung Ming Zhu berdetak lebih kencang. Ia tahu apa maksudnya. Nama Ming bukan nama keluarga biasa. Itu adalah nama keluarga dari dinasti yang telah digulingkan.

Liang Wei memiringkan kepalanya sedikit.

“Apakah itu kebetulan?”

Nada suaranya tetap santai. Namun setiap kata terasa seperti pisau yang perlahan mengupas rahasia. Ming Zhu menunduk lagi.

“Aku tidak tahu apa yang Tuan maksud,” ucap Ming Zhu.

Liang Wei tertawa kecil. Bukan tawa keras.

Lebih seperti seseo
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Racun lain

    Keesokan paginya, langit istana tampak mendung. Kabut tipis menyelimuti koridor-koridor batu, membuat suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Di Paviliun Giok, semua orang sudah berkumpul sejak pagi. Setelah keributan Tuan Tianyi semalam, suasana akhirnya kembali serius. Karena kondisi Putra Mahkota Liang Jian masih belum stabil. Dan racun Seribu Senja di tubuhnya belum sepenuhnya teratasi. Liang Wei berjalan paling depan menuju Aula Timur bersama Ming Zhu, Ming Yue, Tuan Tianyi, serta para penjaga bayangan. Hari ini penjagaan di sekitar Putra Mahkota jauh lebih ketat. Bahkan sebelum mereka masuk ke wilayah Aula Timur, beberapa lapis penjaga kerajaan sudah berdiri berjajar. Begitu melihat Liang Wei datang, para penjaga langsung memberi hormat. “Hormat pada Pangeran Ketiga.” Liang Wei hanya mengangguk singkat. Namun tatapannya langsung menyapu seluruh area. Memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Hei Yan diam-diam berbisik pada Su Mu. “Beliau sekarang seperti n

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Ulah Tabib Tianyi

    “Sudah hampir fajar, kita harus kembali, Yang Mulia,” ucap Ye Shuang. Liang Wei mengangguk pelan. Perjalanan kembali ke Paviliun Giok malam itu terasa jauh lebih sunyi. Tidak ada lagi candaan Hei Yan. Tidak ada sindiran Mo Lin. Bahkan Su Mu yang biasanya paling sulit diam pun memilih berjalan tanpa banyak bicara. Penemuan di ruang rahasia tadi terlalu mengejutkan. Selama ini mereka mengira Ming Zhu menjadi sasaran karena kedekatannya dengan Liang Wei dan keterlibatannya dalam penyelidikan. Namun ternyata tidak. Bahkan sebelum semua ini dimulai, seseorang sudah mengincarnya. Karena darah yang mengalir dalam dirinya. Karena identitasnya sebagai putri Dinasti Ming. Dan karena suatu rahasia yang bahkan Ming Zhu sendiri tidak ketahui. Sesampainya di Paviliun Giok, Liang Wei langsung memerintahkan penjagaan diperketat dua kali lipat. "Aku ingin dua penjaga di setiap pintu,” ucap Liang Wei. "Baik, Yang Mulia,” ucap Ye Shuang. "Atap juga." "Baik, Yang Mulia.” "Tidak ada

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Rahasia lama dinasti Ming

    Liang Wei menghela napasnya perlahan. Kotak kayu tua dan lukisan yang ditemukan tadi disimpan kembali dengan hati-hati. Pria itu tidak membuang waktu untuk memeriksa isinya lebih jauh malam itu. Ada sesuatu yang lebih penting. Yaitu jejak orang yang masih menggunakan tempat ini. Dan kemungkinan hubungan mereka dengan penyerangan terhadap Ming Zhu. "Tidak ada yang menyentuh barang-barang di ruangan ini lagi," perintah Liang Wei. "Baik, Yang Mulia,” jawab Mo Lin. Sementara itu, Tuan Tianyi berjalan perlahan mengelilingi kamar utama. Tangannya menyentuh dinding kayu tua, rak buku, dan beberapa perabot yang tampak biasa saja. Lalu tiba-tiba ia berhenti. "Di sini,” ucapnya. Semua segera mendekat. Tianyi menekan salah satu ukiran bunga plum di kaki lemari tua. Klik. Suara mekanisme terdengar dari balik dinding. Mata Hei Yan langsung membesar. "Akhirnya sesuatu yang menarik,” gumamnya. Salah satu panel dinding perlahan bergeser. Di baliknya muncul lorong sempit yang t

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Aula Lama

    Tok. Tok. Dua ketukan terdengar dari jendela. Semua langsung waspada. Dan Ye Shuang bergerak paling cepat. Dalam sekejap ia sudah membuka jendela dan menarik seseorang masuk. “Yang Mulia,” ucap seorang penjaga bayangan yang ditugaskan untuk mengintai Aula Phoenix. Pria itu langsung memberi hormat. “Laporan,” ucap Liang Wei cepat. “Hamba mengikuti kepala dayang pribadi Permaisuri malam ini. Dia keluar dari Aula Phoenix setelah tengah malam,” jelasnya. “Pergi kemana?” tanya Liang Wei menyipitkan matanya. “Ke Aula kosong bekas kediaman Mendiang Permaisuri Shen Yurong, Yang Mulia,” lanjutnya gugup. Ruangan langsung hening. Ming Zhu perlahan menegang. Tepat seperti dugaan mereka sebelumnya. Liang Wei tidak menunjukkan reaksi apa pun. Namun tatapannya berubah lebih tajam. “Dia masuk?” tanya Liang Wei. “Ya, Yang Mulia.” “Berapa lama?” “Hampir setengah jam,” jawabnya. “Dia melakukan apa disana?” “Itulah masalahnya Yang Mulia. Kepala dayang itu tidak masuk sendiria

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Jejak baru

    Malam di Paviliun Giok berubah mencekam. Seluruh area ditutup rapat oleh penjaga bayangan Liang Wei. Tidak ada pelayan yang diizinkan bergerak bebas, bahkan suara langkah kaki di koridor pun nyaris tidak terdengar. Di dalam kamar utama, Ming Zhu akhirnya selesai membersihkan luka kecil di lehernya. Ming Yue masih duduk di samping adiknya dengan wajah belum tenang sepenuhnya. Sementara di luar ruangan, Liang Wei berdiri di aula depan bersama Hei Yan, Mo Lin, Ye Shuang, dan Su Mu. Mayat pembunuh tadi sudah dipindahkan ke ruang bawah paviliun untuk diperiksa. Tatapan Liang Wei dingin seperti es. “Laporan,” ucapnya dengan ekspresi dingin. Mo Lin melangkah maju lebih dulu. “Tubuhnya tidak memiliki tanda keluarga atau organisasi mana pun, Yang Mulia,” jelas Mo Lin. Hei Yan mendecakkan lidah. “Profesional sekali,” celetuknya. “Namun ada bekas luka bakar kecil di belakang leher. Ini sangat mirip dengan tanda hukuman budak bayangan,” jelas Mo Lin lagi. Ye Shuang ikut bica

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Penyerangan di Paviliun Giok

    Malam itu, setelah meninggalkan Paviliun Teratai, mereka semua akhirnya kembali ke Paviliun Giok. Suasana di koridor istana jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Liang Wei, Hei Yan, Mo Lin, Ye Shuang, dan Su Mu masih mendiskusikan rencana penyelidikan aula lama Permaisuri Shen Yurong di ruang depan paviliun, sementara Ming Zhu memilih kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Uap hangat memenuhi kamar mandi pribadi kecil di balik tirai sutra. Aroma herbal lembut memenuhi udara. Ming Zhu perlahan menuangkan air hangat ke bahunya, mencoba menenangkan pikirannya setelah seharian penuh ketegangan. Namun entah kenapa, malam itu terasa terlalu sunyi. Ming Zhu perlahan mengangkat kepala. Tatapannya bergerak ke arah jendela kayu yang sedikit terbuka. Angin malam masuk pelan, membuat nyala lilin bergoyang samar. Dan tepat saat itu— CRAAT! Seseorang tiba-tiba menerobos masuk dari balik tirai. Mata Ming Zhu langsung membesar. Sosok berpakaian hitam itu bergerak

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Awal mula teror

    Ruangan itu perlahan kembali sunyi setelah Su Mu pergi. Pintu tertutup rapat, meninggalkan hanya dua orang di dalam. Liang Wei dan gadis yang sejak tadi tak pernah benar-benar jauh darinya. Peta masih terbentang di meja. Namun perhatian mereka tidak lagi di sana. Liang Wei berdiri diam beberapa s

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   tusuk konde

    “Aku akan memotong lidahnya jika kabar ini tersebar,” ucap Liang Wei. Sementara di luar, Su Mu berdiri beberapa langkah dari pintu, masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia lihat. “Pantas Tuan sangat lembut pada Nona Ming,” gumam Su Mu kemudian pergi. “Tuan, sudah waktunya beristirahat,”

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Perilaku Liang Wei

    Malam itu, paviliun dalam terasa lebih sunyi dari biasanya. Ming Zhu berdiri di depan pintu, tangannya sedikit gemetar saat mendorongnya perlahan. Ini pertama kalinya ia masuk ke bagian kediaman yang paling pribadi milik Liang Wei—tempat yang bahkan para pelayan lama pun jarang diizinkan mendekat.

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Bisikan Pelayan

    “Identitasmu akan tetap menjadi rahasia,” ucap Liang Wei. “Kenapa? Tuan bisa saja menyerahkan hamba atau menyeret hamba ke istana. Itu lebih aman bagi, Tuan,” ucap Ming Zhu. Lalu, perlahan, ia mendekat lagi—kali ini hanya beberapa senti dari wajah Ming Zhu. “Karena,” bisiknya rendah, “aku bel

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status