Share

Terbongkar

Author: QuinzeeQ
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-18 15:37:14

“Mulai malam ini, gadis ini menjadi milik tuan.”

Liang Wei tidak bahkan membaca kertas itu. Ia hanya mengeluarkan kantong perak dan meletakkannya di meja. Bunyi logam berat itu langsung membuat madam tersenyum lebar.

Liang Wei kemudian memiringkan kepalanya sedikit ke arah Ming Zhu.

“Kemari.”

Suara itu tidak keras. Namun cukup untuk membuat Ming Zhu bergerak tanpa sadar.

Ia melangkah mendekat. Jantungnya masih berdetak keras sementara kembennya hampir terkoyak sisa tadi.

Setelah beberapa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Lambang Tiga Daun

    Ruangan bawah tanah itu terasa semakin sunyi. Ming Zhu masih berdiri di depan lukisan tua Permaisuri Shen Xinyue. "Jadi, Ibu sebenarnya berasal dari Xuanyue?" tanya Ming Zhu lagi. Penjaga Makam mengangguk. "Benar Yang Mulia. Tapi beliau bukan sekadar keturunan kerajaan,” jelas penjaga makam. Ia menatap Ming Zhu dengan serius. "Permaisuri Shen Xinyue adalah keturunan sah kerajaan Xuanyue,” lanjutnya. Ming Zhu terdiam. Liang Wei ikut menatap pria tua itu. "Kalau begitu, kenapa identitasnya disembunyikan?" tanya Liang Wei. Penjaga Makam menarik napas panjang. "Karena ketika Permaisuri Shen masih kecil, terjadi kudeta di Xuanyue. Para pemberontak membantai keluarga kerajaan. Mereka mencari satu anak yang diyakini sebagai pewaris sah. Seorang bayi perempuan. Dan itu Putri terakhir dari garis utama kerajaan Xuanyue,” jelasnya. "Para penjaga setia berhasil menyelamatkannya. Mereka membawanya keluar dari istana dan menyembunyikannya di tempat yang tidak akan pernah dicur

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Pewaris dua kerajaan

    “Jangan bicara sembarangan,” ucap Ming Zhu. Gadis itu berdiri di tengah ruangan. Di hadapannya terdapat sebuah altar batu berbentuk bunga teratai. Delapan pilar mengelilinginya, masing-masing dihiasi lambang keluarga kerajaan Dinasti Ming. Penjaga Makam berjalan perlahan menuju altar. "Yang Mulia. Ada satu hal yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun,” jelasnya. Ming Zhu menatapnya. "Apa?" tanya Ming Zhu cepat. Penjaga Makam menunjuk ke lantai. "Dinasti Ming tidak runtuh hanya karena pengkhianatan,” ujar Penjaga makam. Liang Wei langsung memperhatikan. “Lalu?” "Runtuhnya dinasti Ming, sudah direncanakan jauh sebelum perang dimulai,” jelas Penjaga makam. Jenderal Luo mengerutkan kening. "Siapa yang merencanakannya?" tanya Jenderal Luo penasaran. Penjaga Makam menggeleng. "Itulah yang selama ini tidak kami ketahui,” ucap Penjaga makam. Ia kemudian menekan salah satu batu di altar. KLIK. Seluruh ruangan bergetar. Lantai di tengah altar perlahan ter

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Surat Permaisuri Shen

    Lorong makam semakin dalam. Langkah kaki mereka menggema di antara dinding batu yang telah berusia ratusan tahun. Tidak ada suara selain tetesan air dari langit-langit makam. Liang Wei berjalan paling depan, sementara Ming Zhu berada tepat di belakangnya. Hei Yan dan Mo Lin menjaga bagian belakang. Ye Shuang serta Su Mu memeriksa setiap sudut lorong untuk memastikan tidak ada jebakan. "Pelaku ingin mempertahankan kondisi Putra Mahkota,” celetuk Tuan Tianyi sambil memikirkan simbol racun seribu senja yang baru mereka temukan. Ming Yue langsung memahami. "Untuk apa?" tanya Ming Yue. Tuan Tianyi menatapnya. "Untuk mengendalikan siapa yang akan menggantikan takhta,” ujarnya. Semua terdiam. Liang Wei mengepalkan tangannya. "Kalau Putra Mahkota meninggal, posisi pewaris jelas akan berubah,” ucapnya. Ming Zhu menatapnya. "Dan kau adalah salah satu kandidat terkuat, Liang Wei,” ucap Ming Zhu. Liang Wei tidak menjawab. Ia sudah memahami maksud sebenarnya. Selama Put

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Isi Makam Teratai Putih

    BRUKKK!Tubuh Pangeran Rui Ambruk. Darah mulai mengalir. “Liang Wei!” seru Ming Zhu menerobos maju kearah Liang Wei.Ming Zhu kemudian menoleh kearah Pangeran Rui yang sudah tergeletak tak bernyawa.“Akhirnya, aku berhasil mengambil nyawanya dengan tanganku,” ucap Liang Wei pelan.Kematian Pangeran Rui membuat pasukan Teratai Hitam kehilangan arah. Namun perang belum berakhir. Di sisi lain lembah, Wang Ji'an masih memimpin pasukannya bertahan di depan gerbang makam. "Jangan biarkan mereka mendekati gerbang!" teriak Wang Ji'an. Pasukannya kembali menyerang. Jenderal Xu Rong mengangkat pedangnya. "Pasukan Ming!" "MAJU!" Ratusan prajurit menerjang bersamaan. Benturan kedua pasukan kembali mengguncang lembah. Liang Wei menatap medan perang. "Hei Yan, Mo Lin, Kepung sisi kiri,” ucapnya. "Ye Shuang, Su Mu. Amankan sisi kanan,” lanjutnya Keempat Penjaga Bayangan langsung bergerak. Ming Zhu menggenggam pedangnya. "Aku ikut!” Liang Wei menatapnya. "Jangan terlalu memaksakan luk

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Pedang Naga Hitam

    “Han Qiye, Kenapa kau begitu bodoh,” lirih Ming Zhu.Ming Zhu masih memeluk tubuh pria itu. Air matanya jatuh tanpa henti. Ia teringat pertama kali bertemu Han Qiye saat masih remaja. Mereka pernah berlatih pedang bersama. Pernah bertengkar, pernah tertawa. Dan pada akhirnya mereka berdiri di sisi yang berlawanan. Han Qiye memang telah melakukan banyak kesalahan. Namun di saat-saat terakhir hidupnya, ia memilih menebus semuanya. Bahkan dengan nyawanya sendiri Liang Wei berjalan mendekat. Ia berlutut di samping jasad Han Qiye. Dengan penuh hormat, ia menutup kedua mata pria itu. "Meski kita tidak pernah menjadi kawan, kau mati sebagai seorang kesatria. Terimakasih, karena sudah menepati janjimu, untuk melindungi Ming Zhu sampai akhir hayatmu,” ucap Liang Wei pelan Air mata Ming Zhu mengalir semakin deras. Isak tangisnya membuat beberapa jenderal ikut tertegun. Jenderal Luo, Xu Rong, bahkan Tuan Tianyi ikut menundukkan kepala. Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada ejekan kep

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Kepergian Han Qiye

    “Serang!”Perang akhirnya pecah. Teriakan para prajurit mengguncang seluruh lembah. Dentang pedang, hujan anak panah, dan debu yang beterbangan memenuhi udara. Pasukan Pengawal Perbatasan Dinasti Ming bertempur mati-matian melindungi gerbang Makam Teratai Putih, sementara Penjaga Bayangan Xuanyin bergerak lincah menghadapi para pembunuh Teratai Hitam. "Jangan biarkan mereka mendekati Putri Ming!" teriak Jenderal Xu Rong. "Majuuuu!" Liang Wei langsung menerobos ke tengah medan perang bersama Mo Lin dan Hei Yan. Di sisi lain, Ming Zhu dan Ming Yue bertarung bahu-membahu. Tebasan pedang Ming Zhu yang tegas membuat beberapa prajurit musuh tumbang, sementara Ming Yue melindungi sisi belakang adiknya agar tidak dikepung. "Zhu'er, hati-hati di kanan!" teriak Ming Yue. Ming Zhu berputar cepat, menangkis sebuah tombak sebelum membalas dengan satu tebasan yang menjatuhkan lawannya. Liang Wei yang melihat dari kejauhan tersenyum tipis. "Itulah Putri Ming yang sesungguhnya,”gumamnya. Na

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Racun sup herbal

    “Di dalam sup ini, ada satu bahan lain yang sangat samar,” celetuk Ming Yue. Tatapan semua orang langsung tertuju padanya. Dan saat Ming Yue mengangkat wajahnya, ada kegelisahan nyata di matanya. “Bahan itu, hanya digunakan oleh keluarga kekaisaran,” katanya pelan. Ming Yue terlihat ragu bebe

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Tabib Gunung Tianyi

    Ssreekkk~ “Siapa disana?!” seru Ye Shuang. Brukk~ “Aku,” ucap Hei Yan. “Bagaimana kau bisa kemari?” tanya Ye Shuang. “Tuan memintaku untuk memastikan perjalanan kalian aman. Nona Ming, dalam kondisi kritis. Maka dari itu, kita harus cepat,” jelas Hei Yan. Kabut Lereng Gunung Tianyi terbe

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Rencana rahasia

    Cahaya matahari menembus tirai sutra dengan perlahan. Menggantikan malam yang cukup panjang itu. Udara pagi terasa lebih dingin daripada biasanya. Membuat kedua insan yang sedang tertidur itu mulai gusar. Liang Wei bangun terlebih dahulu. Alisnya sedikit berkerut saat membuka matanya dan melihat

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Berhasil Keluar Dari Neraka

    “Perangkap!” Satu detik kemudian, semua penerangan diruangan itu padam. “Kita keluar sekarang!” seru Mo Lin. Namun mereka terlambat. BRAKKK! Pintu masuk tertutup dengan keras. Dan dari luar suara langkah mulai terdengar. “Sepertinya, kita tidak diundang untuk keluar hidup-hidup,” ujar H

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status