LOGIN"Ayo, Ashlan. Bukan bajumu."
Lira mengambil beberapa langkah mendekati Ashlan. Langkahnya tenang, tetapi penuh kepastian. Di sisi lain, pria itu justru mengambil beberapa langkah mundur secara refleks untuk menghindari Lira. Jarak di antara mereka sempat terjaga, walaupun tidak lama. Ia belum siap. Benar-benar belum siap untuk melakukan ritual malam pertama yang biasa dilakukan oleh pasangan pengantin baru. Bahkan hanya dengan membayangkannya saja, jantungnya sudah berdegup tidak teratur. Lagipula, bagaimana bisa Ashlan melayani lima wanita sekaligus? Pikiran itu terus berputar di kepalanya. Ashlan tidak yakin jika ia punya cukup energi untuk memuaskan kelima majikannya itu. Tubuhnya bahkan baru saja pulih dari kondisi lemah akibat tidak makan dan minum selama berhari-hari. "Kupikir... aku belum siap, nona," ucap Ashlan dengan suara yang sangat pelan—nyaris seperti bisikan. Ia takut jika penolakan yang diucapkannya akan membuat kelima majikannya itu marah. Suasana sempat hening. “Kenapa kamu belum siap?” tanya Nara dengan nada yang tetap lembut, tetapi jelas. “Apa kamu tidak tahu langkah-langkah menjalankan malam pertama?” Ashlan terdiam. Ia tidak langsung menjawab. “Jika memang kamu belum paham, Sia akan mengajarkan kamu,” lanjut Nara. Tanpa menunggu jawaban, Nara mendorong Sia untuk maju ke depan. Gadis itu tampak sedikit ragu, tetapi tetap melangkah mendekati Ashlan. Sia tersenyum. Senyum yang polos dan hangat. Kemudian ia menggerakkan tangannya perlahan. Dari telapak tangannya muncul cahaya berwarna kuning yang lembut. Cahaya itu tidak menyilaukan, justru terasa menenangkan. Dan saat tangan halus Sia menyentuh dahi Ashlan—seketika itu juga... semuanya berubah. Ashlan merasakan sesuatu masuk ke dalam pikirannya. Bukan rasa sakit, bukan juga tekanan. Lebih seperti aliran pengetahuan yang tiba-tiba memenuhi kepalanya. Langkah-langkah, pengetahuan, pemahaman... segala hal tentang malam pertama, tentang hubungan antara suami dan istri. Semuanya muncul begitu saja, tanpa perlu dipelajari. 'Sihir macam apa itu?!' Ashlan hanya bisa bertanya dalam hati. Matanya sedikit melebar, napasnya tertahan. Ini bukan hal yang bisa ia pahami dengan logika biasa. Dan sekali lagi, kelima majikannya itu membuktikan sesuatu. Mereka memang bukan manusia biasa. “Bagaimana, Ashlan?” tanya Nara dengan lembut. “Kamu sudah dapat pelajarannya, 'kan? Semuanya sudah lengkap.” Sia menarik tangannya perlahan, lalu kembali ke posisi awalnya. Wajahnya tampak sedikit lega. Namun tidak dengan Lira. Wanita itu tetap berdiri dekat dengan Ashlan. Tatapannya tenang, tetapi tajam. Dia menunggu. Menunggu jawaban. Namun saat itu, Ashlan masih bingung. Bukan karena ia tidak mengerti, tetapi ini karena ia sekarang terlalu mengerti. Bagaimana caranya ia bisa menjelaskan kepada Lira jika ia tidak bisa melakukannya? Ia belum siap. Tubuhnya belum siap. Pikirannya pun masih kacau. "Kenapa kamu diam saja?" tanya Lira. Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat Ashlan semakin gugup. "Emm... sebenarnya... emm, itu..." Ashlan mencoba berbicara. Namun kata-katanya tersendat. Ia tidak bisa menyusun kalimat dengan benar. Semakin ia mencoba, semakin kacau yang keluar. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. “Sudahlah.” Suara Vea memotong. Seperti biasa, nadanya dingin, tetapi kali ini tidak terasa menekan. “Sepertinya Ashlan belum siap,” lanjutnya. “Dan mungkin juga sulit baginya untuk menerima semua hal baru ini sekaligus.” Vea melirik sekilas ke arah pria itu. “Lebih baik kita beri dia waktu sendiri dulu.” Kalimat itu sederhana. Namun bagi Ashlan, itu seperti penyelamat. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi dalam hatinya ia benar-benar merasa lega. Dan beruntungnya, keempat wanita yang lain tidak menentang ide tersebut. Mereka sepakat. “Baiklah,” ucap Lira akhirnya. “Jika memang itu yang terbaik untukmu.” Ia menatap Ashlan sebentar. “Kamu bisa istirahat saja malam ini.” Lalu dengan nada yang tetap tegas, ia menambahkan, “Dan setelah kamu siap, kita akan melakukannya.” Setelah keputusan itu dibuat, akhirnya Ashlan mendapatkan waktu untuk sendiri. ___ Hari itu terasa sangat panjang. Setiap detik yang ia lewati dipenuhi kejutan yang membuatnya hampir kehilangan napas sedikit demi sedikit. Harinya dimulai dengan diikat di sebatang kayu di tengah alun-alun kota.Dipukul.Dicambuk. Tubuhnya dipenuhi rasa sakit. Matahari terasa begitu terik, membakar kulitnya tanpa ampun. Dan bukan hanya itu! Ia juga dihina. Diejek. Ditertawakan oleh banyak orang. Semua orang memandangnya seperti sesuatu yang tidak berharga. Dan tepat saat ia hampir menyerah dengan hidupnya—lima wanita aneh itu datang. Membelinya. Dan menjadikannya suami. “Hmphh...” Suara helaan napas memenuhi kamar yang terasa luas, meskipun perabotannya tidak terlalu banyak. Ashlan duduk sejenak di tepi tempat tidur. Ia memandang sekeliling. Semuanya terasa asing. Perlahan, ia naik ke atas tempat tidur itu. Lembut. Hangat. Berbeda jauh dari lantai dingin yang biasa ia tempati. “Rasanya nyaman... tetapi juga tidak nyaman di saat yang sama,” gumamnya pelan. Ia berguling sebentar. Namun tidak lama kemudian, ia turun kembali. Akhirnya ia memilih berbaring di lantai. Dingin. Keras. Namun... familiar. Dan justru itu yang membuatnya lebih mudah memejamkan mata. Malam itu adalah pertama kalinya bagi Ashlan bisa tidur dengan tenang. Tanpa gangguan. Tanpa teriakan. Tanpa perintah mendadak di tengah malam. Dulu, majikannya sering memanggilnya hanya untuk memastikan ia tidak bisa beristirahat dengan layak. Bagi mereka, budak tidak perlu istirahat. Budak harus terus bekerja. Namun malam ini... tidak ada itu semua. Dan tanpa sadar, Ashlan tertidur. Nyenyak. ___ Keesokan paginya, Ashlan terbangun. Perlahan membuka mata. Untuk sesaat, ia mengira semua yang terjadi hanyalah mimpi. Mimpi aneh. Mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Namun saat ia melihat sekeliling— Ia sadar. Ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Dengan langkah pelan, pria itu keluar dari kamar. Di luar, ia langsung bertemu dengan Elen. Wanita itu tampak sudah bersih. Rambutnya rapi. Wajahnya tenang seperti biasa. “Kamu sudah bangun?” tanya Elen dengan suara pelan. “Iya...” jawab Ashlan. Ia merasa sedikit malu. “Kalau begitu, kamu bisa mandi sekarang,” lanjut Elen. “Baju gantimu sudah aku siapkan di kamar.” “Setelah itu, makan sarapanmu.” Nada suaranya lembut. Singkat. Tetapi jelas. Ashlan hanya bisa mengangguk. Ia benar-benar tidak menyangka bisa diperlakukan seperti ini. Di dalam hatinya, ia terus bersyukur. ___ Setelah mandi dan sarapan, Ashlan tidak bisa diam. Ia merasa harus melakukan sesuatu. Tanpa disuruh, ia mulai membersihkan dapur. Mencuci piring, gelas, dan peralatan lainnya. Semua ia kerjakan dengan cepat dan rapi. Dan tidak berhenti sampai di situ, ia juga menyapu seluruh rumah. Tidak ada debu yang tersisa. Semuanya bersih. “Kamu membersihkan semuanya, Ashlan?” Suara Lira terdengar. Wanita itu tampak sedikit terkejut melihat hasilnya. “Iya, nona,” jawabnya. “Nona-nona sudah banyak membantu. Jadi aku ingin berguna.” Ia menunduk sedikit. “Anggap saja ini bayaranku.” Lira terdiam sejenak. “Baiklah. Lakukan saja yang kamu inginkan.” Lalu ia menambahkan, “Tapi nanti saja.” “Sekarang, kamu ikut bersamaku ke pasar.” Ashlan menatapnya. “Aku ingin membelikanmu beberapa ramuan kuat,” lanjut Lira, “agar kamu bisa melakukan ritual malam pertama.” Jantung Ashlan langsung berdegup. Rasa malu kembali muncul. Namun seperti biasa—ia tidak diberi pilihan. ___ Di pasar, semua mata tertuju pada mereka. Bisik-bisik mulai terdengar. “Budak itu...” “Sekarang jadi suami mereka?” “Apa yang mereka lihat darinya?” Tatapan iri tidak bisa disembunyikan. Ashlan hanya menunduk. Ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. Namun ia tetap berjalan. Mengikuti langkah Lira dan yang lainnya. Tanpa berkata apa-apa. —Bersambung—Setelah perpamitan dengan Lira dan juga meminta doa darinya agar usaha yang ia lakukan berjalan dengan lancar, Ashlan pun langsung memacu kudanya untuk segera bergerak menuju tempat kediaman Tuan Bara yang ada di pusat kota. Perjalanan itu memakan waktu cukup lama sampai pada akhirnya ia berhasil sampai ke pusat kota di siang hari yang cahaya mataharinya begitu terik sampai-sampai membuat Ashlan merasa lelah dan juga haus. Untuk beristirahat sejenak ia memilih untuk tinggal di kedai kopi. Disana ia memesan makanan dan juga minuman untuk mengembalikan tenaga dan juga energinya agar nanti bisa berhadapan langsung dengan Tuan Bara. Selesai mengisi kembali tenaga dan juga energinya, Ashlan kembali melanjutkan perjalanan untuk menemui Tuan Bara. Dan ketika ia baru saja sampai di depan pintu gerbang kediaman Tuan Bara, Ashlan langsung disambut oleh beberapa pengawal yang berjaga di sana. "Maaf. Tetapi Tuan tidak bisa langsung masuk begitu saja kemar
Mengingat apa yang sebelumnya dikatakan oleh Lira, Ashlan jadi tidak bisa tidur sepanjang malam saat itu. Ia terus berpikir dan mempertimbangkan tindakan macam apa yang akan ia ambil agar bisa mengetahui tentang siapa orang tua kandungnya dan bagaimana caranya mendapatkan jawaban itu dari mulut Tuan Bara yang sangat membenci dirinya. Dan ketika pagi berikutnya datang, Ashlan bangun dengan lingkaran hitam di matanya karena kemarin malam ia benar-benar tidak bisa tidur sama sekali karena memikirkan tentang orang tua kandungnya yang kini tiba-tiba saja membuatnya tidak bisa fokus melakukan pekerjaan apapun. Bahkan pagi itu ketika para istrinya sibuk mempersiapkan sarapan pagi, Ashlan benar-benar tidak bergerak di tempat dan hanya duduk diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Melihat sikapnya yang aneh Nara mencoba untuk bertanya kepada Ashlan tentang apa yang sebenarnya ia pikirkan sampai-sampai tidak bergerak seperti patung. "Ashlan, apakah kamu
Malam itu Ashlan duduk termenung di pinggir sawah, di bawah cahaya bulan yang tenang. Ia duduk sendiri sambil larut dalam pikirannya tentang pembahasan sebelumnya mengenai orangtua kandung Ashlan. Selama ini Ashlan tidak pernah penasaran tentang siapa orangtua kandungnya. Ia tidak pernah bertanya-tanya tentang hal itu, bahkan ia tidak pernah merindukan sosok mereka. Namun, hari ini ada yang berbeda. Entah kenapa, tetapi tiba-tiba saja ia mulai merasakan rindu yang sebelum ini tidak pernah ia rasakan. Rasa rindu ini begitu nyata, bahkan rasa ingin tahu pun mulai membucah dalam dadanya. Sosok orangtua yang selama ini tidak pernah ingin ia tahu, kini tiba-tiba saja ia ingin tahu tentang mereka. Ashlan ingin tahu siapa orangtua kandungnya, dan ia ingin tahu apa alasan mereka membiarkan Ashlan menjadi budak di kediaman Nadia. Dalam kesendirian itu, tiba-tiba Lira datang dan kemudian duduk di samping Ashlan untuk menjadi teman bagi Ashlan untuk mengobrol."Apa yang sedang kamu pikirkan,
Setelah dengan berani membuat sumpah, Nadia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Dan tidak lama setelah Nadia pergi ....Vea membalikkan badan, menatap Ashlan yang masih berdiri di belakangnya."Jangan pernah goyah hanya karena dia terang-terangan mengaku menyukaimu," tegur Vea, memecah keheningan. "Dia cuma putri manja yang tidak terbiasa ditolak."Elen melangkah mendekat, melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap Ashlan dengan tatapan yang jauh lebih serius."Vea benar. Dan ingat satu hal lagi, Ashlan," potong Elen dengan nada menekan. "Jika sampai kamu terbuai oleh rayuannya, bahkan sedikit saja! Kita semua yang ada di sini akan mati. Jiwa suci milikmu akan ternoda begitu disentuh oleh wanita lain."Lira, Nara, dan Sia tidak mengucapkan satu kata pun. Mereka hanya berdiri diam di posisinya masing-masing, menatap Ashlan dengan tatapan berat. Sikap diam ketiganya sudah cukup menjadi tanda bahwa mereka menyetujui setiap kata yang diucapkan oleh Vea dan Elen.Ashlan mengepalk
Satu minggu setelah kejadian di acara jamuan istana; Ashlan dan kelima istrinya melanjutkan hidup seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Namun, pada saat itu para pekerja di kebun tidak bisa menyembunyikan rasa kaget mereka ketika melihat perubahan wajah Ashlan yang kini semakin menua hanya dalam waktu satu minggu. ... Hari itu adalah pertama kali sejak terakhir kali Ashlan keluar saat ingin pergi ke istana. Karena satu minggu terakhir, Ashlan fokus menyembuhkan diri dengan melakukan meditasi bersama kelima istrinya. Walaupun pada saat itu efeknya tidak terlalu kuat, tetapi setidaknya hal itu bisa menutupi kurangnya usia Ashlan yang begitu banyak. Walaupun wajahnya tetap berubah, tetapi setidaknya perubahan itu tidak terlalu terlihat jelas. ... Setelah seminggu penuh beristirahat, Ashlan akhirnya kembali bekerja di lahan bersama dengan orang-orang lainnya ikut bekerja di sana. Dan sebelum bekerja ia ingin memastikan apakah permintaannya benar-benar telah dikabulkan oleh Raja Salman a
Walaupun pada saat itu rasanya kulit tubuh Ashlan tergoreng habis, dengan sisa tenaga yang ada ia langsung berlari untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di aula jamuan sampai-sampai membuat Vea dan juga Elen berteriak dengan suara yang keras. Dan ketika ia baru sampai di sana, Ashlan benar-benar sangat terkejut melihat bahwa, Lira, dan Sia sudah tidak sadarkan diri di tempat itu. Dan bahkan Nara pun tampak lemah. Dan pada saat itu hanya Vea dan Elen yang baik-baik saja diantara mereka berenam. Dengan menggunakan sisa tenaga yang ada, Ashlan meminta bantuan kepada Raja Salman untuk membiarkan dirinya dan juga kelima istrinya untuk segera pergi dari istana. Dan beruntung pada saat itu Raja Salman memberikan izin dan bahkan membantu dengan memberikan seorang kusir untuk mengendarai kuda yang digunakan oleh Ashlan dan kelima istrinya. ... Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai kembali di rumah. Ashlan mengucapkan banyak terima kasih kepada kusir itu dan jug







