LOGINMasih terang kami jelas di kepala Utami bagaimana pertemuan pertamanya dengan ayah putranya itu. Adalah masa remajanya yang begitu indah, yang tidak akan pernah Utami sangka akan membawanya pada ujung penderitaan panjang sebagai manusia.
Dulu Utami juga pernah hidup sebagai perempuan muda yang dipenuhi cita-cita. Sama seperti gadis lainnya, dia terlalu percaya buaian cinta pertama yang kata orang selalu berbunga-bunga. Dia percaya tidak ada yang lebih indah dalam hidupnya selain pada akhirnya dia bisa merasakan getar cinta ketika menatap mata seseorang …, seorang pria yang tersenyum lembut kepadanya di balik rak buku di perpustakaan siang itu.
“Kau tahu di mana petugas di sini berada?” Lelaki muda itu bertanya padanya sambil membawa setumpuk buku di tangan.
Utami yang pada waktu itu di mandati untuk menjaga meja oleh Mbak Gendis, petugas pelayanan perpustakaan di sekolah mereka, tanpa pikir panjang langsung menjalankan tugasnya. “Biar aku saja.” Sambil mengambil alih buku-buku itu. Bersiap men-scannya menggunakan komputer.
Namun, si cowok dengan cepat mencegahnya. “Tunggu Mbak Gendis saja.”
“Kenapa? Sama saja kok. Aku juga bisa.”
“Tapi kamu bukan petugas.”
“Tapi Mbak Gendis sudah mempercayakan meja ini padaku.”
“Mana buktinya?”
“Tidak ada.”
“Berarti kamu tidak berhak melakukannya.”
“Kenapa?”
“Karena kamu bukan petugas. Kamu tidak boleh melakukan apa yang bukan menjadi tanggung jawabmu. Paham?”
Tentu saja Utami paham. Justru dialah yang tidak paham. Laki-laki biadab itu bahkan pergi meninggalkannya tanpa kata-kata perpisahan. Ironisnya, bertolak belakang dengan prinsip-prinsip yang selama ini selalu dia ucapkan, laki-laki yang tak ingin Utami sebut namanya itu, yang selalu bicara tentang kemanusiaan dan cinta, adalah orang pertama yang merobek hati Utami dari kata bernama …, harapan.
Di sinilah Utami kemudian berpikir bahwa barangkali kehidupan perempuan memang dikutuk. Tuhan tidak menyukai perempuan. Yang Tuhan senangi hanyalah laki-laki. Sebab bagaimana mungkin dia harus bertanggung jawab pada anak yang di kandungnya, anak yang dia buat bersama-sama dengan kekasihnya, dengan kesadaran penuh mereka berdua sebagai orang dewasa, tapi Tuhan justru hanya melimpahkan tanggung jawab ini kepadanya semata? Hanya karena dia perempuan?
Tapi sudahlah. Tadi yang perlu dipikirkan. Tadi yang perlu disesali. Yang terjadi biarlah terjadi. Karena yang terpenting sekarang hanyalah masa depan Utama.
Tidak ada yang lebih Utami pikirkan di dalam hidupnya kecuali masa depan putranya itu. Maka, bersamaan dengan bangun yang utama untuk menunaikan salat, Utami bergegas menuju dapur untuk membuat makanan olahan yang akan dia jual ke pasar esok hari.
Tidak banyak, hanya beberapa jenis kue saja pengingat ini masih masa percobaan. Utami ingin menjajal kemampuannya berjualan makanan, apakah dia cukup jago? Mengingat …, di rumah Madame Erin kemarin dia sempat dijuluki sebagai “penjual terbaik” selamat berbulan-bulan secara berturut-turut.
“Bu, mau Tama bantu?”
Tawaran bocah kecil itu hanya dijawab oleh Utami dengan, “Tidak perlu. Kamu tidur saja lagi. Atau kerjakan pr-mu. Ibu akan menanganinya sendiri.”
“Ibu bisa?”
“Tentu Ibu bisa. Emang apa sih yang Ibu tidak bisa?” balas Utami menggunakan kata yang biasanya anak itu berikan padanya. Dan itu sukses membikin Utama tertawa. “Ya sudah, sana balik ke kamarmu!”
“Baik, Bu. Tama akan mengerjakan PR dulu.”
🍂🍂
Meski tidak semulus yang dia bayangkan, tapi Utami masih bisa berhasil menjual sedikit dari kue-kue manis yang dia buat Dengan sepenuh cinta.
Tidak banyak, tentu saja. Apalagi jika dibandingkan dengan penghasilan Utami sebelum ini. Tapi Utami sadar bila segalanya butuh proses. Tidak ada yang instan. Pun dia dulu, ketika baru datang, penghasilannya di tempat Madame Erin juga tak begitu banyak. Malah serba kekurangan. Jangankan untuk membeli susu bayi, untuk makan sehari-hari saja ngepas.
Kalau saja hari itu tak ada Sabina, Utami tak akan sanggup membesarkan Utama. Terlebih dengan kondisi Utama yang sakit-sakitan dan sering bolak-balik masuk rumah sakit.
Membesarkan anak memang tidak pernah mudah dan murah.
“Kan sudah aku katakan padamu, kalau butuh apa-apa datang saja ke rumahku. Aku dan Mas Ali selalu membuka pintu rumah kami lebar-lebar untuk kamu dan Tama, Tami.”
Justru ucapan Sabina itulah yang membuat Utami semakin tidak enak. Mau sampai kapan dia terus-menerus merepotkan sahabatnya itu?
“Aku masih mampu.”
“Alhamdulillah kalau begitu.” Meski mengucap syukur, terlihat jelas keraguan di wajah Sabina. Faktanya, atau lebih tepat disebut sialnya, Sabina tidak mudah untuk dibohongi. “Tapi untuk beberapa minggu kedepan aku akan tetap datang dan memastikan kondisi kalian. Bukan untukmu, Aku hanya ingin memberi sedikit makanan untuk keponakanku. Kalau kamu tidak suka, tidak usah ikut makan.”
Terima kasih sudah membaca sejauh ini
Tami dan Juna saling menatap satu sama lain. Mereka tentu tidak pernah menyangka jika Ruben akan senekad itu. Mengirimkan foto dirinya dan Asya kepada Nyonya Anggara? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria itu? Apakah dia memang berniat membunuh sandiwara Tami dan Juna?"Mama kayaknya nggak bakal semudah itu percaya deh, Mas." Tami menyeka keringat dingin yang membasahi tubuhnya. "Bagaimanapun juga, setelah ini Mama pasti akan mencari tahu semuanya dengan jelas. Maksudku, siapa sih orang yang bakal dengan tegas mempercayai berita kayak begini?"Juna yang menyetir mobil akhirnya menghela napas panjang. "Kamu benar, Tam.""Terus, kita harus gimana, Mas?""Bagaimana kalau kita datangi saja dia?" "Kalau menurutku jangan." Tami menjawab dengan tegas. "Ruben yang sekarang bukan Ruben yang dulu aku kenal. Dia sudah sepenuhnya disetir oleh Gina.""Maksudmu?""Mas Jun," Tami menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu mungkin akan menganggap ini omong kosong tapi dia adalah pria yang bodoh. Ruben
"Bagaimana? Bajunya bagus, kan?" Tami menatap Viviane yang kini dibalut gaun putih pernikahan dengan kagum. Kulit putih dan badan yang tinggi jenjang itu seolah memang sengaja dirancang untuk seorang malaikat. Malaikat yang tentu saja wajar bila membuat Juna jatuh cinta. "Bagus banget, Ma." "Pilihan Mama memang nggak salah." Nyonya Anggara dengan bangga berdiri di samping Viviane. "Mama sengaja minta perancang busana ini untuk membuat gaun pernikahan kalian. Anjasmara pasti langsung kasmaran lihat kecantikan kamu, Vi." "Mama bisa saja." Viviane tertawa. Dia merangkul mertuanya. "Makasih ya Mama sudah mau menerimani aku cari gaun." "Iya, Nak." "Oh iya, Tam," Vivi menatap Tami dengan ekspresi dingin. "Kamu tolong ambilkan kain untuk seragam di depan ya. Yang warna biru." Tami mengangguk. Dia menuruti calon adik iparnya itu dengan sebaik mungkin. Sebenarnya, Tami tahu jika Vivi tak menyukainya. Barangkali Vivi sudah mengetahuinya. Soal kebohongannya. Namun, sejauh apa Vivi tahu, T
"Kamu kenapa sih pakai bilang begitu segala ke mereka?" Tami menerima segelas es krim dari tangan Paulino. Udara panas membakar keduanya, dari lantai dua sebuah toko es krim, kini duanya duduk berdua menyaksikan kota yang sibuk. Juna tersenyum lalu mendudukkan badannya di kursi tepat di seberang Tami. "Biar semakin meyakinkan, Tam. Kamu kan tahu sendiri kalau sekarang posisi kita makin terdesak. Mama kayaknya juga mulai curiga sama kita."Tami mengangguk. "Tapi nggak harus juga kan kamu memamerkan aku ke depan orang-orang dan ngaku aku istrimu?""Tapi, kan memang kamu istriku.""Istri sewaan!" ralat Tami. Juna diam sejenak tapi kemudian melanjutkan. "Kalau sendiri, bagaimana? Sudah mulai memikirkan mau buka laundry di mana?""Kan aku sudah bilang nggak usah.""Tami, kan aku sudah bilang kalau aku mau bantuin kamu ...." Juna kembali menekankan ucapannya. "Anggap saja ini bagian dari kewajibanku sebagai kompensasi untukmu.""Harus berapa kali aku bilang nggak usah?""Harus berapa kali
"Kami langsung berangkat ya, Ma!" Juna mencium pipi Nyonya Anggara, kemudian menggandeng tangan Tami. Keduanya keluar dari rumah, menaiki mobil dan hanya ditatap dengan senyuman tipis di wajah wanita tua itu.Nyonya Anggara sejujurnya tidak ingin berprasangka buruk pada anak dan menantunya, hanya saja dia masih heran dengan sang menantu sebab Tami terlalu banyak menyimpan rahasia, seolah ingin menyembunyikan segalanya darinya. Padahal jelas Nyonya Anggara penasaran. Kenapa? Ya, kenapa dia seolah tidak pernah mengenali keluarga menantunya sendiri. Bahkan paman dan bibi Tami, tidak dia kenali sama sekali.Lalu, dikeluarkannya ponsel dari dalam saku. Dia hendak menghubungi Viviane tapi mobil perempuan itu telanjur datang lebih dahulu."Ma? Tami mana?" tanya Viviane. Nyonya Anggara menjawab, "Ikut Juna ke acara peluncuran buku.""Di toko buku Gramedia?""Ya.""Ya ampun!" Viviane menghela napas panjang. "Terus gimana? Mama sudah bicara sama Tami?"Nyonya Anggara mengangguk. "Tapi, katanya
"Makan dulu," kata Juna sambil meletakkan piring berisi nasi goreng buatan ibunya ke samping ranjang Tami. "Udah nggak usah terlalu dipikirin. Nanti rumah sakit."Tami mengalihkan wajahnya dari Juna. "Enak banget kalau ngomong. Belum tahu ya rasanya disakitin, dikhianatin sampai segitunya sama pacaran dan sahabat sendiri.""Aku paham perasaan kamu. Meskipun kasus kita beda tapi rasanya tetap sama, gak beda jauh lah.""Ya bedalah, Mas. Kamu emang niat bikin mereka cemburu, kamu niat menjauhkan vivian dari kamu. Sementara aku? Semua yang kulakukan buat Ruben seolah-olah nggak ada harganya. Dia malah selingkuh di rumah kami. Kenapa sih harus sahabat aku sendiri? Cewek lain saja."Dunia tersenyum selalu menarik napas panjang. "Emangnya kalau ceweknya bukan Gina, buat kamu nggak masalah?""Ya tetap masalah sih, Mas. Tapi kan gak akan sesakit inilah saatnya.""Alasan." juna mencibir. "Terus rencana kamu sekarang apa?"Tami mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku bahkan gak punya bayangan a
Keesokan harinya kami berangkat ke rumah lamanya, tidak lupa dia membeli beberapa barang dari minimarket bagi oleh-oleh untuk sang kekasih. Semua ini dia lakukan juga sebagai permintaan maaf karena telah menyakiti perasaan Ruben, serta ingin dia kembangkan bisnis laundry yang selama ini dikembangkannya bersama pria itu. Sementara Juna, dia berada di rumah bersama Nyonya Anggara. Untungnya Juna bisa meyakinkan sang ibu jika Tami harus pergi keluar sebentar saja untuk bertemu dengan teman-temannya. "Aku nggak mau larang Tami, kalau dia memang mau ketemu teman-temannya Kenapa harus dilarang?""Kamu benar, Juna. Mama setuju dengan keputusan kamu. Karena meskipun kamu dan Tami sudah menikah, tetap saja Tami berhak memiliki kehidupannya sendiri di luar kamu.""Jadi Mas Juna nggak keberatan?" Begitulah akting Tami dan Juna untuk mengelabuhi wanita paruh baya itu. Dan tentu saja dengan senang hati nyonya Anggara menerima tawaran sang menantu untuk menjaga putranya. Sebagai orang tua tentu
SATU : UTAMI DAN KEHIDUPAN MALANGNYATahu apa yang lebih menakutkan dari menjadi manusia? Iyalah menjadi manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Tiga puluh tahun tahun sudah Utami Saraswati hidup sebagai manusia yang dipaksa untuk berjalan di atas pecahan kaca. Tak peduli seberapa banyak luka yang
“Saya nggak mau tahu, hal kayak begini nggak boleh sampai kejadian lagi karena kalau sampai dewan sekolah dengar kita bisa dalam masalah besar. Kamu nggak mau kan keringanan uang sekolahmu dicabut? Anggap saja ini bayaran yang harus kamu tebus sebagai rasa terima kasih karena orang tua mereka telah
Tidak ada yang lebih diinginkan manusia selain bisa hidup bebas dengan tenang. Bukan tanpa rasa takut, melainkan dengan takut yang terkontrol. Sejujurnya, alasan yang Utami utarakan ke orang-orang tidak sepenuhnya salah meski jelas dengan sedikit bumbu kebohongan. Hidup di lingkungan prostitusi, d
ang paling menakutkan dari kehidupan adalah saat kita merasa tidak punya siapa-siapa, kesepian bukan hanya sendirian, tanpa pegangan. Utami sudah pernah merasakan semua itu, dan kini dia tidak ingin lagi merasakannya. Meskipun terkadang dia masih sering menjerit akibat rasa takut kehilangan, tapi p







