MasukBeberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis.
"Saya mau melamar menjadi guru."
"Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada di ujung ruangan. Meja di ujung itu paling besar dan paling bersih. "Ini meja bagian kepegawaian bu. Sebentar ya, duduk dulu."
Ivanka mengangguk ia memangku tote bag-nya sambil mengedarkan pandang. Suasana begitu asri dan dingin di dalam situ walaupun hanya ada satu unit kipas angin yang ada di tengah-tengah ruangan.
Bukan hanya soal asri saja tapi sambutan guru-guru yang ada di ruangan itu juga begitu hangat dan ramah. Belum apa-apa ia sudah merasa betah. Semoga saja ia diterima dan setelah diterima nanti perlakuan orang-orang ini tetap baik kepadanya. Begitu pemikirannya.
Tekadnya untuk memadamkan perasaannya kepada Elang sudah bulat. Kalau hanya karena belum cinta, ia akan sabar menunggu tapi kalau sudah ada orang lain dihati lelaki itu maka ia nggak akan menempatkan dirinya sebagai orang ketiga.
"Pagi bu. Dengan ibu siapa?"
Suara ramah dan ceria itu berasal dari belakangnya disusul kemunculan seorang wanita bertubuh subur dengan senyuman yang betul-betul manis.
"Ivanka, biasa dipanggil Iva." gadis itu mengulurkan tangan.
"Apa benar penah menjadi guru?" wanita itu menatap tangan mereka yang masih berjabatan sebelum duduk ke kursinya.
"Iya, ada dalam berkas lamaran saya." Hatinya tersentil saat mendorong map ke arah wanita itu, teringat perkataan suaminya dimana ia harus membuat proposal kalau menginginkan sesuatu. Iva menyunggingkan senyum untuk menyembunyikan suasana hatinya yang rontok satu per satu.
Pasti berat di awal tapi nanti pasti terbiasa. Ujarnya dalam hati. Matanya menatap harap-harap cemas pada berkasnya yang kini dibuka. "Satu tahun Iva, cuma satu tahun." katanya lagi dalam hati.
"Wah, pengalaman ibu Iva sangat mengagumkan. Apa yakin mau mengajar di sekolah pinggiran desa begini?"
"Ini sekolah yang bagus dan asri, kenapa enggak?" alis Ivanka menjungkit ke atas.
"Di sekolah internasional pasti segala fasilitasnya sudah maju dan sudah lengkap. Disini kita harus mandiri bu. Para guru harus menyediakan alat peraga pendidikan sendiri. Bukan hanya itu, kadang malah guru yang harus membantu muridnya yang tidak bisa memenuhi kebutuhan belajarnya."
Ivanka mengangguk sopan. Ia bukan nggak tau mengenai hal-hal seperti itu. Semasa masih di Jakarta ia cukup sering menjadi volunteer Indonesia Mengajar hingga ke pelosok-pelosok jadi kondisi sekolah yang sederhana ini bukan sesuatu yang baru untuknya. "Saya bisa mengerti itu bu. Guru dan murid malah bisa sama-sama kreatif kalau begini."
Wanita bertubuh subur itu tertawa ceria hingga bahunya berguncang. "Aduh saya senang sekali kalau bu Iva memang bisa menerima keadaan disini. Mungkin bu Iva bisa diperbantukan untuk menjadi guru bahasa Indonesia sementara karena guru bahasa Indonesia kami sedang menunggu hari kelahiran. Selain itu, kami juga butuh guru muatan lokal."
Ivanka kembali mengangguk-angguk. "Iya bu, saya siap asal tetap dibimbing."
"Aduh... bu Iva merendah." wanita itu membolak-balik sertifikat pelatihan Ivanka yang kebanyakan dari luar negeri.
"Spesialisasi saya memang teaching english for young learners bu, saya guru pendidikan dasar. Itu sebabnya saya perlu bimbingan untuk mengajar SMP."
"Aaah... sama aja bu. Anak SD di kota pasti lebih maju dari anak SMP disini. Oh ya, saya bu Titik."
"Iva." dengan sopan gadis itu kembali menerima uluran tangan bu Titik yang luar biasa ramahnya.
"Saya jadwalkan untuk berbincang dengan kepala sekolah besok ya bu. Hari ini beliau sedang ada acara di perusahaan yang sering membantu sekolah kita." bu Titik menatap intens. "Jam 10 pagi bisa ya bu?"
Untuk yang kesekian kali Ivanka mengangguk. "Saya jam berapapun bisa." Gadis itu berpamitan setelah mencapai kata sepakat. Kata bu Titik, nanti, kalau kepala sekolah memberikan ACC maka ia bisa langsung bergabung mengajar karena bu Titik sudah oke untuk menerima Ivanka setelah membaca data diri dan pengalaman kerjanya.
Ah... sebenarnya Ivanka masih ingin berkeliling desa, melihat-lihat tapi karena motornya pinjaman, rasanya nggak enak kalau memakainya terlalu lama. Oleh karena itulah ia mengarahkan motor matic itu kembali ke rumah.
Gadis itu mengambil jalan besar. Muter sebentar deh, pikirnya. Ini pertama kalinya ia melihat-lihat. Elang nggak akan mau mengajaknya jalan-jalan karena ia adalah duri bagi suaminya sendir!
Ngomong-ngomong, tempat itu nggak cocok disebut desa. Walaupun sepi namun bagunannya sudah tertata. Adanya deretan resort dan hotel mewah pastilah berimbas pada pembangunan di sekitarnya.
Para pengembang membangun jalan dan memfasilitasi masyarakat supaya jalan menuju ke hotelnya kelihatan layak.
Iva menghentikan laju motornya. Hati-hati ia menepikan motor matic itu. Di seberang jalan, di depan sebuah rumah makan ikan bakar yang ramai, dilihatnya mobil sang suami. Ia tak mungkin salah sebab ia hapal plat nomor everest Elang. Selain itu, sepertinya hanya Elang yang menggunakan everest merah keluaran dua tahun lalu di daerah sini.
Tak ada rencana apa-apa di kepalanya. Ia hanya menunggu dan ingin melihat saja. Ini belum waktunya makan siang. Mungkin orang-orang itu sedang melakukan perbincangan bisnis.
Jantungnya berdebar.
Everest itu parkir agak ke kiri sementara di depan rumah makan itu berjejer motor-motor jadi ia bisa mleihat pintunya dengan jelas. Iva melihat jam. Ia nggak enak menggunakan motor itu terlalu lama tapi ia juga dilanda penasaran.
Untungnya penantiannya tak lama. Pintu ruang makan itu terbuka. 5 orang laki-laki keluar bersamaan sambil mengobrolkan sesuatu yang sepertinya seru. Wajah-wajah mereka kelihatan semringah. Mereka saling bersalaman di depan situ.
Dua orang laki-laki menjauh ke arah mobil lain yang parkir agak jauh sementara dua orang lainnya masih bicara dengan elang hingga sebuah honda jazz berhenti. Kedua orang itu pun pergi.
Jantung Ivanka makin keras saja berjumpalitan. Tangannya saling meremas. Dilihatnya suaminya menengok ke belakang sebentar lalu berjalan menuju ke everest-nya.
Satu orang wanita berpakaian formal membawa tote bag, binder dan map mengikuti Elang. Ikut naik ke dalam everest itu. Tak lama ada dua tiga orang lagi yang juga ikut naik ke dalam mobil suaminya.
Perempuan tadi duduk di belakang. Satu orang laki-laki berusia pertengahan empat puluhan, nampaknya yang paling tua duduk di depan, di sebelah Elang yang mengemudi.
Apakah kecurigaannya tak beralasan. Apakah Elang hanya bersikap baik pada seseorang? Ivanka menelan ludah menatap mobil itu bergerak menjauh.
Ia ikut menyalakan motor, ngebut pulang ke rumah. Tadinya ia mengira akan melihat Elang berdua saja dengan wanita cantik. Yah... harusnya perempuan yang bisa menaklukan seorang Elang Rajendra adalah perempuan cantik bukan?
Ivanka memarkir motornya di depan rumah Mang Sarif. Sambil mengembalikan kunci sekalian ia meminta ijin untuk meminjam motor itu lagi besok untuk wawancara kerja.
Gadis itu memasuki rumah dengan perasaan bimbang. Nggak mungkin nggak ada satu pertanda pun kalau Elang memang punya kekasih. Nggak ada orang yang sesempurna itu menyembunyikan sesuatu.
Beberapa saat lamanya Ivanka merenung lalu satu pikiran absurd melintasi kepalanya. Sandal jepit itu. Ada inisial di sandal itu. Mungkin ia bisa mulai dari situ.
Iva kembali keluar rumah lalu berhenti di depan pintu utama. Nanti sajalah, pikirnya. Ia akan coba menanyakannya langsung kepada Elang kalau suaminya itu pulang.
.
.
.
to be continued
Rapat dadakan antara perusahaan sekolah telah berlangsung selama 10 menit. Elang, Silva, Pak Haryadi, Amran dan tim pengawas yang dibentuk oleh CSR The Ocean dalam waktu kurang dari satu jam, menyimak penjelasan Pak Sudiana.Berapa lama batas toleransi keterlambatan di sekolah ini? Pertanyaan itu mengambang di kepala Elang sejak lima menit yang lalu. Mungkin lima belas menit, ia menjawab sendiri dalam hati, berharap Ivanka yang tak kelihatan di ruangan sempit itu akan muncul dipintu.Hingga dua puluh menit lamanya, tak ada tanda-tanda istrinya bakal ikut bergabung dalam rapat dadakan ini. Elang mulai kehilangan minat. Duduknya mulai gelisah. Beberapa kali ia berganti-ganti melihat jam tangan dan handphonenya. Baginya, dua puluh menit itu sudah diluar batas toleransi keterlambatan.Padahal, biasanya di acara-acara seperti ini, ia hanya menyandar santai sambil sesekali bertingkah nakal. Meremas tangan Silva atau kadang - tapi amat sangat jarang - balas mengelus paha sang kekasih kalau p
"Amran, siapkan meeting dengan CSR dan bagian keuangan." Elang berhenti sejenak di meja sekretarisnya sebelum meneruskan langkah ke ruang kerja."Siap pak."Silva terburu mengejar langkah kekasihnya. "Mas, nggak sarapan dulu?""Aku kepingin merampungkan ini segera supaya bisa mengurus hal lainnya." Elang tak punya nafsu makan sejak kemarin. Ia berdiri di balik meja kerjanya, sibuk memeriksa berkas yang sudah diletakkan disitu oleh Amran."Aku nggak mau makan kalau mas nggak makan." Sebenarnya Silva nggak terlalu heran dengan sikap Elang yang begini. Dari dulu kekasihnya memang gila kerja. Kadang Elang harus diancam dulu hanya untuk diajak makan.Elang mengangkat kepala. "Kenapa akhir-akhir ini sikapmu sangat mengganggu?"Sepasang alis Silva yang melengkung sempurna terangkat tinggi. "Mengganggu gimana mas?""Apa maksudmu meneror aku?" Elang bersidekap."Aku nggak mungkin menelepon berkali-kali kalau mas mengangkat teleponku." Silva berusaha menahan emosi yang telah tersulut."Hidupku
Iva merinding mendengar gelegar suara suaminya yang mirip guntur saat hujan deras.Napas istrinya yang mendadak tersengal tertangkap oleh pendengaran Elang. Lelaki itu langsung menekan areal di antara kedua matanya. "Maaf." Katanya datar."Iya Mas. Aku juga minta maaf karena belum bisa pulang. Ibu-ibu disini akan menganggap aku nggak punya sopan santun kalau pamit duluan. Malam ini aja ya mas, please... ijinkan aku. Aku langsung pulang kok kalau acaranya selesai." Gadis itu memejam. Ah... untung saja Elang menelepon di handphone khusus-nya. Setelah ini, jangan harap ia akan mengangkat telepon dari lelaki itu lagi."Sampai jam berapa kamu disana?" Elang menyugar rambutnya. Kekhawatirannya membesar dengan cepat. Bagaimana kalau Iva keceplosan? "Hati-hati saat bicara Va.""Iya mas, iya. Udah dulu ya. Nggak enak nih sama ibu-ibu kalau menelepon terlalu lama." Ia diam, tapi tak langsung menutup telepon. Tak ada suara sambungan terputus yang artinya Elang juga belum menutup teleponnya. "Mas
Gaun floral merk ternama itu ia beli saat liburan ke Eropa. Ia suka saat kekasihnya mengenakan itu. Silva kelihatan cantik ketika memakainya. Jantungnya berdebum.Kalau mau jujur, ada banyak clue yang menunjukkan kalau Ivanka mengetahui sesuatu tapi Elang tak mau mengakui karena ada istilah 'kebetulan' dan ada istilah 'cocoklogi' di bumi ini.Sesuatu yang sebenarnya tak saling berkaitan tapi nampak pas kalau dikait-kaitkan.Meskipun begitu, Elang tetap merasa heran. Apa Ivanka nggak melihat label di bagian leher gaun itu? Asal buang aja!"Pak, silakan motornya." Mang sarif mendorong motor matic dengan helm menyangkut disalah satu spion."Mang itu.. kain yang bunga-bunga itu diambil dan tolong dicuci. Itu nggak sengaja terikut disitu." Ia tau kalau apa yang ia katakan amat absurd tapi Elang tak peduli.Mang Sarif mendekati tempat sampah. "Oh... baik pak. Nanti saya minta istri saya mencucinya." Lelaki paruh baya itu menatap terheran-heran sebab baru kali ini tuannya memberi perintah se
Jam dua siang Ivanka sudah berada di kamar kos-nya. Ia tak lagi menunda-nunda kepulangan seperti biasa. Justru ia sangat bersemangat. Gadis berambut sebahu itu menatap ruangan yang masih terasa asing sambil tersenyum. Ia tak peduli sudah berapa lama dan bekas siapa saja sprei yang terpasang disitu. Langsung saja ia menghempaskan diri di atas kasur. Kakinya bergerak kesana kemari dengan lincah."Kebebasaaaaan." ucapnya pelan dengan kedua tangan terentang lebar.Puas menjajal kasur, ia mulai berbenah. Memasang keset, memindahkan pakaian dari tote bag-nya ke lemari lalu keluar menuju ke dapur umum untuk mencuci peralatan makan yang tadi ia beli bersama Saras.Langkahnya terhenti di ruang tengah rumah kost besar itu. Terdapat tv tiga puluh dua inch dan sofa panjang disitu. Ia membayangkan riuhnya menonton bersama. Yah, walaupun sudah lama sekali Iva nggak menonton tv. Nanti, pikirnya riang, ia akan bergabung. Ivanka meneruskan langkahnya ke kamar, menyusun peralatan makannya disamping lem
Gundukan selimut di atas ranjang berukuran single itu kelihatan gemetar. Ia mendekat. Rasa tak enak menelusup saat mendengar suara istrinya yang mencicit ketakutan bagai tikus kejepit.Tiap kali guntur menggelegar, dilihatnya bahu Iva menjengit. Ia ingat bagaimana Iva bersimbah air mata dimalam pertama mereka pindah kesini.Dengan hati-hati Elang menyingkap selimut, sedikit saja. Napasnya tertahan mendapati Ivanka menjadikan guling sebagai bantal sedangkan bantal ditutupkan oleh gadis itu ke kepalanya."Iva..." Elang berjongkok di samping tempat tidur. "Ayo pindah ke kamar utama." Ajaknya pelan. Ia tak ingin menakuti vadis itu. "Iva." Ulangnya sembari menyingkap seluruh selimut yang menutupi tubuh sang istri.Lelaki itu menelan ludah menatap separuh paha Ivanka yang terbuka. "Va..." desisnya serak."Aku bisa mas, aku berani. Leave me." Iva tak dapat lagi memikirkan bagaimana Elang bisa berada di dalam kamarnya padahal saat masuk tadi ia sudah mengunci pintu. Kepalanya hanya dipenuhi r
Suara everest Elang memasuki halaman.Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata. Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi l
Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Peki
Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis it
"Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma,







