Share

BAB 7

Author: Indah.poe.try
last update publish date: 2026-05-24 09:07:46

Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis.

"Saya mau melamar menjadi guru."

"Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada di ujung ruangan. Meja di ujung itu paling besar dan paling bersih. "Ini meja bagian kepegawaian bu. Sebentar ya, duduk dulu."

Ivanka mengangguk ia memangku tote bag-nya sambil mengedarkan pandang. Suasana begitu asri dan dingin di dalam situ walaupun hanya ada satu unit kipas angin yang ada di tengah-tengah ruangan. 

Bukan hanya soal asri saja tapi sambutan guru-guru yang ada di ruangan itu juga begitu hangat dan ramah. Belum apa-apa ia sudah merasa betah. Semoga saja ia diterima dan setelah diterima nanti perlakuan orang-orang ini tetap baik kepadanya. Begitu pemikirannya.

Tekadnya untuk memadamkan perasaannya kepada Elang sudah bulat. Kalau hanya karena belum cinta, ia akan sabar menunggu tapi kalau sudah ada orang lain dihati lelaki itu maka ia nggak akan menempatkan dirinya sebagai orang ketiga.

"Pagi bu. Dengan ibu siapa?"

Suara ramah dan ceria itu berasal dari belakangnya disusul kemunculan seorang wanita bertubuh subur dengan senyuman yang betul-betul manis.

"Ivanka, biasa dipanggil Iva." gadis itu mengulurkan tangan.

"Apa benar penah menjadi guru?" wanita itu menatap tangan mereka yang masih berjabatan sebelum duduk ke kursinya.

"Iya, ada dalam berkas lamaran saya." Hatinya tersentil saat mendorong map ke arah wanita itu, teringat perkataan suaminya dimana ia harus membuat proposal kalau menginginkan sesuatu. Iva menyunggingkan senyum untuk menyembunyikan suasana hatinya yang rontok satu per satu.

Pasti berat di awal tapi nanti pasti terbiasa. Ujarnya dalam hati. Matanya menatap harap-harap cemas pada berkasnya yang kini dibuka. "Satu tahun Iva, cuma satu tahun." katanya lagi dalam hati.

"Wah, pengalaman ibu Iva sangat mengagumkan. Apa yakin mau mengajar di sekolah pinggiran desa begini?"

"Ini sekolah yang bagus dan asri, kenapa enggak?" alis Ivanka menjungkit ke atas.

"Di sekolah internasional pasti segala fasilitasnya sudah maju dan sudah lengkap. Disini kita harus mandiri bu. Para guru harus menyediakan alat peraga pendidikan sendiri. Bukan hanya itu, kadang malah guru yang harus membantu muridnya yang tidak bisa memenuhi kebutuhan belajarnya."

Ivanka mengangguk sopan. Ia bukan nggak tau mengenai hal-hal seperti itu. Semasa masih di Jakarta ia cukup sering menjadi volunteer Indonesia Mengajar hingga ke pelosok-pelosok jadi kondisi sekolah yang sederhana ini bukan sesuatu yang baru untuknya. "Saya bisa mengerti itu bu. Guru dan murid malah bisa sama-sama kreatif kalau begini."

Wanita bertubuh subur itu tertawa ceria hingga bahunya berguncang. "Aduh saya senang sekali kalau bu Iva memang bisa menerima keadaan disini. Mungkin bu Iva bisa diperbantukan untuk menjadi guru bahasa Indonesia sementara karena guru bahasa Indonesia kami sedang menunggu hari kelahiran. Selain itu, kami juga butuh guru muatan lokal."

Ivanka kembali mengangguk-angguk. "Iya bu, saya siap asal tetap dibimbing."

"Aduh... bu Iva merendah." wanita itu membolak-balik sertifikat pelatihan Ivanka yang kebanyakan dari luar negeri.

"Spesialisasi saya memang teaching english for young learners bu, saya guru pendidikan dasar. Itu sebabnya saya perlu bimbingan untuk mengajar SMP."

"Aaah... sama aja bu. Anak SD di kota pasti lebih maju dari anak SMP disini. Oh ya, saya bu Titik."

"Iva." dengan sopan gadis itu kembali menerima uluran tangan bu Titik yang luar biasa ramahnya.

"Saya jadwalkan untuk berbincang dengan kepala sekolah besok ya bu. Hari ini beliau sedang ada acara di perusahaan yang sering membantu sekolah kita." bu Titik menatap intens. "Jam 10 pagi bisa ya bu?"

Untuk yang kesekian kali Ivanka mengangguk. "Saya jam berapapun bisa." Gadis itu berpamitan setelah mencapai kata sepakat. Kata bu Titik, nanti, kalau kepala sekolah memberikan ACC maka ia bisa langsung bergabung mengajar karena bu Titik sudah oke untuk menerima Ivanka setelah membaca data diri dan pengalaman kerjanya.

Ah... sebenarnya Ivanka masih ingin berkeliling desa, melihat-lihat tapi karena motornya pinjaman, rasanya nggak enak kalau memakainya terlalu lama. Oleh karena itulah ia mengarahkan motor matic itu kembali ke rumah.

Gadis itu mengambil jalan besar. Muter sebentar deh, pikirnya. Ini pertama kalinya ia melihat-lihat. Elang nggak akan mau mengajaknya jalan-jalan karena ia adalah duri bagi suaminya sendir!

Ngomong-ngomong, tempat itu nggak cocok disebut desa. Walaupun sepi namun bagunannya sudah tertata. Adanya deretan resort dan hotel mewah pastilah berimbas pada pembangunan di sekitarnya.

Para pengembang membangun jalan dan memfasilitasi masyarakat supaya jalan menuju ke hotelnya kelihatan layak.

Iva menghentikan laju motornya. Hati-hati ia menepikan motor matic itu. Di seberang jalan, di depan sebuah rumah makan ikan bakar yang ramai, dilihatnya mobil sang suami. Ia tak mungkin salah sebab ia hapal plat nomor everest Elang. Selain itu, sepertinya hanya Elang yang menggunakan everest merah keluaran dua tahun lalu di daerah sini.

Tak ada rencana apa-apa di kepalanya. Ia hanya menunggu dan ingin melihat saja. Ini belum waktunya makan siang. Mungkin orang-orang itu sedang melakukan perbincangan bisnis. 

Jantungnya berdebar. 

Everest itu parkir agak ke kiri sementara di depan rumah makan itu berjejer motor-motor jadi ia bisa mleihat pintunya dengan jelas. Iva melihat jam. Ia nggak enak menggunakan motor itu terlalu lama tapi ia juga dilanda penasaran.

Untungnya penantiannya tak lama. Pintu ruang makan itu terbuka. 5 orang laki-laki keluar bersamaan sambil mengobrolkan sesuatu yang sepertinya seru. Wajah-wajah mereka kelihatan semringah. Mereka saling bersalaman di depan situ.

Dua orang laki-laki menjauh ke arah mobil lain yang parkir agak jauh sementara dua orang lainnya masih bicara dengan elang hingga sebuah honda jazz berhenti. Kedua orang itu pun pergi.

Jantung Ivanka makin keras saja berjumpalitan. Tangannya saling meremas. Dilihatnya suaminya menengok ke belakang sebentar lalu berjalan menuju ke everest-nya.

Satu orang wanita berpakaian formal membawa tote bag, binder dan map mengikuti Elang. Ikut naik ke dalam everest itu. Tak lama ada dua tiga orang lagi yang juga ikut naik ke dalam mobil suaminya. 

Perempuan tadi duduk di belakang. Satu orang laki-laki berusia pertengahan empat puluhan, nampaknya yang paling tua duduk di depan, di sebelah Elang yang mengemudi.

Apakah kecurigaannya tak beralasan. Apakah Elang hanya bersikap baik pada seseorang? Ivanka menelan ludah menatap mobil itu bergerak menjauh.

Ia ikut menyalakan motor, ngebut pulang ke rumah. Tadinya ia mengira akan melihat Elang berdua saja dengan wanita cantik. Yah... harusnya perempuan yang bisa menaklukan seorang Elang Rajendra adalah perempuan cantik bukan?

Ivanka memarkir motornya di depan rumah Mang Sarif. Sambil mengembalikan kunci sekalian ia meminta ijin untuk meminjam motor itu lagi besok untuk wawancara kerja.

Gadis itu memasuki rumah dengan perasaan bimbang. Nggak mungkin nggak ada satu pertanda pun kalau Elang memang punya kekasih. Nggak ada orang yang sesempurna itu menyembunyikan sesuatu.

Beberapa saat lamanya Ivanka merenung lalu satu pikiran absurd melintasi kepalanya. Sandal jepit itu. Ada inisial di sandal itu. Mungkin ia bisa mulai dari situ. 

Iva kembali keluar rumah lalu berhenti di depan pintu utama. Nanti sajalah, pikirnya. Ia akan coba menanyakannya langsung kepada Elang kalau suaminya itu pulang.

.

.

.

to be continued

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 9

    Suara everest Elang memasuki halaman.Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata. Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi lagi. "Iya kamu punya kekasih mas." Iva berujar lirih sambil berdiri di pintu utama menatap kepergian sang suami untuk yang kedua kali.Tergesa Iva menuju ke kamarnya sendiri begitu everest itu hilang dari pandangan. Ia meraih handphone yang sejak semalam ia biarkan tergeletak disana. Jemarinya menekan nomor kontak mamanya. Sebentar saja ia sudah tersambung. Iva menarik napas panjang, memastikan suaranya terdengar ceria."Apa kabar Mama dan semua orang rumah?""Mama dan adik-adikmu baik Va tapi Papa enggak. Tadi malam papamu kena serangan lagi."Iva menggigit bibir bawahnya mendengar itu. Mata kirinya langsung menjatuhkan setetes air mata."Untung saja mertuamu langsung membantu, Papa langsu

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 8

    Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Pekiknya, serta merta bangkit dari sofa.Tekadnya untuk menyingkirkan cinta terpendamnya kepada Elang buyar saat mereka berdekatan begini. Penuh kerinduan Ivanka menghambur memeluk lelaki itu. "Darimana aja mas? Kok jam segini baru pulang? Aku nggak berani di kamar jadi aku nungguin disini sampai ketiduran." Berondongnya tanpa titik koma. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang Elang."Lepaskan, aku mau buka sepatu." Ucap lelaki itu dingin."Enggak, aku kangen." Iva nekat menempelkan pipinya di dada Elang. Hidungnya kembang kempis mencoba mencari aroma manis khas perempuan yang tertinggal disana tapi tak ada apa-apa.Kedua tangan Elang mencengkeram pinggang gadis itu, siap mendorongnya mundur

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 7

    Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis."Saya mau melamar menjadi guru.""Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada di ujung ruangan. Meja di ujung itu paling besar dan paling bersih. "Ini meja bagian kepegawaian bu. Sebentar ya, duduk dulu."Ivanka mengangguk ia memangku tote bag-nya sambil mengedarkan pandang. Suasana begitu asri dan dingin di dalam situ walaupun hanya ada satu unit kipas angin yang ada di tengah-tengah ruangan. Bukan hanya soal asri saja tapi sambutan guru-guru yang ada di ruangan itu juga begitu hangat dan ramah. Belum apa-apa ia sudah merasa betah. Semoga saja ia diterima dan setelah diterima nanti perlakuan orang-orang ini tetap baik kepadanya. Begitu pemikirannya.Tekadnya untuk memadamkan perasaannya kepada Elang sudah bulat. Kalau hanya karena belum cinta, ia akan sabar menungg

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 6

    Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis itu tak menunggu lama. Ia beranjak ke dapur untuk menjerang air. Sambil menunggu air mendidih, Ivanka menatap kaca jendela dapur. Diluar sudah gelap gulita. Satu-satunya pendar cahaya berasal dari rumah keluarga mang Sarif. Ia mematikan kompor lalu bergegas menuju ke depan karena mendengar suara pintu membuka.Elang telah berganti pakaian. Kemejanya berganti polo shirt warna putih sementara celana bahannya berganti jins hitam."Mau kemana mas?" Gadis itu tergesa mendekat."Not your business." Lelaki itu berhenti. "Aku dengar kamu guru SD sewaktu belum menikah denganku?"Ivanka mengangguk bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Iya aku...""Berarti kamu bisa mengerti apa yang aku katakan

  • Bukan Cinta Pertama   Bab 5. Ramalan Nenek Tua

    "Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma, iya, ini lagi bersama Ivanka. Mama mau bicara?"Binar dimata Ivanka berkilauan saat menerima benda pipih itu dari suaminya. "Halo Ma." sapanya dengan hati diliputi kehangatan. Ia melirik Elang yang memilih duduk di sofa ruang tamu, mengeluarkan handphone lain lalu sibuk menggulir layar, membiarkannya bicara panjang lebar.Sambil bicara, Ivanka menatap lelaki itu. Senyumnya merekah. Rasanya masih tak percaya kalau sekarang ia berhak atas lelaki itu. Elang Rajendra adalah miliknya!"Iya Ma, tempatnya sejuk, asri, enak kok." Ivanka menenangkan kekhawatiran Mama mertua yang tertangkap oleh telinganya. "Sekarang lagi hujan deras. Mas Elang pulang untuk menemani." katanya bahagia. "Jakarta hujan

  • Bukan Cinta Pertama   Bab 4. Sebuah Nama Lain

    Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menakutkan Ivanka justru makin tak dapat mengalihkan pandang padahal tubuhnya sudah mundur beberapa langkah.Sosok terbalut pakaian serba putih berada ditengah hujan dan angin kencang.Napas Ivanka tercekat.Sosok itu mendekat dengan amat cepat, berlari menghampiri jendela kamarnya.Gadis itu tak dapat lagi menahan ketakutannya. "Aaaaarrgghhh!!!" Ivanka menjerit keras, serta merta berjongkok disamping ranjang, memeluk lututnya kencang-kencang.Jendelanya diketuk keras. "Neng! Neng buka pintunya neng, rumah ini ada bocornya nggak?"Suara itu tidak jelas tapi samar-sama ia mendengar orang bicara. Pelan sekali mengangkat muka. "Arghh!!" Ivanka ngos-ngosan menahan debur jantung dan ketakutannya saat m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status