Share

BAB 6

Author: Indah.poe.try
last update publish date: 2026-05-22 23:55:12

Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.

Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.

Gadis itu tak menunggu lama. Ia beranjak ke dapur untuk menjerang air. Sambil menunggu air mendidih, Ivanka menatap kaca jendela dapur. Diluar sudah gelap gulita. Satu-satunya pendar cahaya berasal dari rumah keluarga mang Sarif. Ia mematikan kompor lalu bergegas menuju ke depan karena mendengar suara pintu membuka.

Elang telah berganti pakaian. Kemejanya berganti polo shirt warna putih sementara celana bahannya berganti jins hitam.

"Mau kemana mas?" Gadis itu tergesa mendekat.

"Not your business." Lelaki itu berhenti. "Aku dengar kamu guru SD sewaktu belum menikah denganku?"

Ivanka mengangguk bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Iya aku..."

"Berarti kamu bisa mengerti apa yang aku katakan." potong Elang dingin. "Kamu pasti bisa mengerti apa yang kamu baca juga kan?"

Ya, ia mengerti ke arah mana Elang bicara tapi Ia tak akan merespon pertanyaan maupun pernyataan tentang hal itu. "Aku mencintaimu mas." ucapnya takut-takut dan malu-malu.

"Aku tau," makin kaku saja nada bicara Elang.

Kedua pipi Ivanka merona tapi sudah kepalang basah. "Sudah lama aku menyimpan rasa itu, please... ijinkan aku mencintaimu mas. Kalau mas belum bisa mencintai aku juga, nggak apa-apa asal... jangan bersikap dingin begini. Aku akan menurut. Aku juga akan mengijinkan apapun yang mas ingin lakukan karena cinta itu pengertian."

Elang kelihatan tertarik. Ia bersidekap, menunda niatnya keluar rumah. "Terus?"

Ivanka menjadi bersemangat karena diberi harapan. "Seperti yang pernah mas Elang katakan. Cinta nggak bisa dipaksakan jadi aku nggak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai hati mas Elang terbuka untukku."

"Kamu akan mengijinkan apapun yang ingin aku lakukan?"

Ivanka mengangguk penuh keyakinan.

"Aku ingin kita menjadi dua orang asing, Ivanka. Jangan pedulikan aku. Kamu boleh hidup semaumu, sesukamu disini. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Kalau kamu membutuhkan bantuan berupa dana, tenaga, atau apapun, kamu harus memberitahu aku dua hari sebelumnya, jangan mendadak. Soal uang, tulis kebutuhanmu dengan jelas. Kamu bisa bikin proposal kan?" Elang memberondong tanpa titik koma.

Pasokan oksigen ke dalam paru-parunya seolah dicerabut begitu saja. Kedua lubang hidungnya seakan dipencet menggunakan tang besi sehingga tak ada udara yang bisa lewat. Ia megap-megap di tempat. "Mas..." desahnya pilu.

"Jangan mengharapkan lebih dari itu. Seprti ucapanmu tadi, cinta itu pengertian jadi kamu sudah mengerti kan?"

Susah payah Ivanka menelan ludah mendengar semua kata-katanya dikembalikan begitu saja oleh Elang. Mulai sekarang ia harus memikirkan apa yang mau ia sampaikan sebelum bicara atau ia akan terpojok seperti sekarang. 

"Jawab Ivanka!"

Bahu gadis itu menjengit kaget mendengar bentakan sang suami. Ia betul-betul tak menyangka, di hari kedua menjadi istri Elang Rajendra sudah mendapat bentakan. Gimana hari-hari selanjutnya? Apa mungkin Elang akan memukul juga? Ivanka terburu mengangguk.

"Good." 

Ia tergugu menatap kepergian suaminya. Kakinya terasa lemas tapi masih juga ia mengikuti hingga ke ambang pintu, menatap nanar mobil Elang yang mundur mendecit-decit lantas pergi dari halaman.

Elang hanya pulang untuk mengganti pakaian, tak lebih.

Ivanka mengunci pintu. Langkahnya masih lemas menuju ke dapur, menatap nelangsa masakannya yang tak tersentuh. Selera makannya ikut hilang seiring kepergian Elang.

Dari jendela dapur yang tak ada tirainya, kegelapan diluar nampak merata, membuat pikirannya mengembara. "Pernikahan ini sedang dihitung mundur menuju perceraian." Perkataan Elang saat masih di Jakarta mengiang. Air mata Ivanka menitik. 

Gadis itu meninggalkan dapur, masuk ke kamarnya yang baru setengah dibersihkan. Perlahan sekali ia membaringkan tubuh di atas kasur yang keras dan dingin. Tanpa selimut, ia meringkuk begitu saja, berurai air mata sampai tertidur.

Rasanya ia tak mau bangun lagi. Kalaupun matanya harus membuka, ia nggak ingin melihat langit-langit kayu, ubin berwarna gelap dan dinding yang dilapisi wallpaper klasik. Ia ingin melihat kamarnya sendiri.

Ivanka menyeret langkahnya menuju ke kamar mandi.

"Sudah sarapan?" Suara bariton yang maskulin itu samar-samar terdengar menyapa.

Sapaan itu lembut sekali. Tepat seperti  bayangan Ivanka akan sosok Elang yang gentle. 

"Makan walaupun sedikit, hari ini akan berat karena agendaku tinjau site, kamu harus ikut."

Gadis itu merapat ke dekat kamar utama. Pintu kamar itu tak menutup rapat. Sunyinya rumah membuat suara pelan itu sampai ke telinganya.

"Aku nggak suka melihatmu memakai celana panjang."

Ivanka meraba dadanya. Itu percakapan yang mesra. Ia tak perlu mendengar lebih banyak lagi. Berjingkat-jingkat ia kembali ke kamarnya sendiri. "Mas Elang punya kekasih." desisnya dengan air mata bercucuran. "Kalau ternyata itu alasannya nggak bisa mencintaiku, nggak perlu menunggu sampai satu atau dua tahun. Sekarang juga aku siap berpisah." 

Ia menunduk begitu dalam, merasakan sakit merajam. Ivanka mengurung diri hingga suara mobil Elang menghilang. Ia baru keluar setelah yakin tak ada siapa-siapa lagi di rumah.

Harusnya pagi ini ia berangkat ke sekolah yag disebutkan papa mertuanya untuk melamar kerja tapi ia urungkan niatan itu. Tanpa menunda ia membuka pintu kamar utama, membuka pintu ruang kerja dan membuka pintu ruang tamu.

"Semua nggak ada kuncinya." gadis itu mengeryit heran tapi bukankah itu bagus? Ia melangkah masuk ke dalam kamar utama yang telah dirombak sedemikian rupa. Kamar itu besar, dindingnya putih bersih tanpa wallpaper, perabot di dalamnya modern. Ivanka mengira akan menemukan foto, catatan, atau bahkan bekas percintaan tapi tak ada apa-apa.

Bersih!

Mungkin semalam Elang tak menginap di rumah tapi menginap di tempat perempuan itu! Ia beralih ke ruang kerja. Hampir dua jam lamanya Ivanka memeriksa dan mengembalikan barang-barang yang ada di atas meja, membuka dan menutup laci, bahkan membuka beberapa jurnal perusahaan untuk mencari selembar foto atau sepenggal tanda perselingkuhan.

Nihil!

Elang betul-betul pandai menutupi hubungannya dengan kekasihnya. Ia menutup pintu lalu masuk ke kamar tamu. Tempat tidur berukuran queen berada di tengah ruangan. Kamar itu memiliki tatanan yang lebih bersahaja, memang cocok untuk orangtua. Tirainya lembut, dindingnya krem dan perabot jati di dalamnya begitu anggun.

Sama saja, ia tak menemukan apa-apa di kamar tamu. Ditutupnya pintu. Jadi... hanya kamarnya yang 'original'. 

Ivanka duduk kelelahan di ruang makan. Tak ada apa-apa. Ia tak kan bisa menuduh Elang kalau begini. Gadis itu berdiri, memilih membersihkan makanan yang mulai berbau amis karena basi, mencuci piring-piring lalu duduk termenung di dalam kamarnya.

Matanya terpaku pada berkas lamaran yang sudah ia siapkan semalam. "Baru hari kedua Iva." katanya lambat-lambat kepada diri sendiri. "Masa iya sepuluh tahun menunggu harus gugur dalam dua hari hanya karena telepon yang belum jelas?" Ia menaikkan lagi semangatnya, mempersiapkan diri dengan cepat.

Pilihan outfitnya sangat sederhana. Hanya kemeja dan celana panjang kain. Gadis itu keluar melalui pintu dapur, menuju ke rumah mang Sarif. Tujuannya satu ; meminjam motor!

Sepuluh menit kemudian Ivanka sudah mengendarai motor matic milik anak Mang Sarif, plus arahan untuk mencapai sekolah yang ia sebutkan. 

Lokasi pembangunan resort ini terpencil. Rumah warga berjauhan antara satu dengan lainnya. Setelah berkendara sekitar dua kilo, barulah terdapat pemukiman yang agak ramai.

"Nggak akan jauh kalau sudah terbiasa."  pikir Ivanka seraya berhenti. Sekolahan itu mudah dicari, diapit oleh kantor lurah dan puskesmas desa.

Suara kegiatan belajar mengajar terdengar sampai diluar. Keributan anak-anak yang menyahuti perkataan guru dengan antusias membuatnya tersenyum. Meskipun bangunan sekolahnya masih semi permanen tapi semuanya sudah teratur. Ia juga tak kesulitan menemukan ruang guru karena tiap pintu diberi plang dari bahan daur ulang yang rapi.

Belum apa-apa, Ivanka sudah jatuh cinta pada sekolahan ini.

Pikirnya, kalau rumah tak membuatnya betah, kalau rumah hanyalah ruang tunggu hingga surat tanda cerai diantar, maka ia bisa bertahan di sekolah sampai saat itu tiba.

"Selamat pagi." Ivanka mengetuk pintu ruang guru yang membuka. Sudah jam sebelas lebih lima puluh sembilan menit tapi masih pagi kalau belum jam dua belas tepat kan?

"Pagi, cari siapa neng?"

Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis.

"Saya mau melamar menjadi guru."

.

.

to be continued

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 9

    Suara everest Elang memasuki halaman.Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata. Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi lagi. "Iya kamu punya kekasih mas." Iva berujar lirih sambil berdiri di pintu utama menatap kepergian sang suami untuk yang kedua kali.Tergesa Iva menuju ke kamarnya sendiri begitu everest itu hilang dari pandangan. Ia meraih handphone yang sejak semalam ia biarkan tergeletak disana. Jemarinya menekan nomor kontak mamanya. Sebentar saja ia sudah tersambung. Iva menarik napas panjang, memastikan suaranya terdengar ceria."Apa kabar Mama dan semua orang rumah?""Mama dan adik-adikmu baik Va tapi Papa enggak. Tadi malam papamu kena serangan lagi."Iva menggigit bibir bawahnya mendengar itu. Mata kirinya langsung menjatuhkan setetes air mata."Untung saja mertuamu langsung membantu, Papa langsu

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 8

    Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Pekiknya, serta merta bangkit dari sofa.Tekadnya untuk menyingkirkan cinta terpendamnya kepada Elang buyar saat mereka berdekatan begini. Penuh kerinduan Ivanka menghambur memeluk lelaki itu. "Darimana aja mas? Kok jam segini baru pulang? Aku nggak berani di kamar jadi aku nungguin disini sampai ketiduran." Berondongnya tanpa titik koma. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang Elang."Lepaskan, aku mau buka sepatu." Ucap lelaki itu dingin."Enggak, aku kangen." Iva nekat menempelkan pipinya di dada Elang. Hidungnya kembang kempis mencoba mencari aroma manis khas perempuan yang tertinggal disana tapi tak ada apa-apa.Kedua tangan Elang mencengkeram pinggang gadis itu, siap mendorongnya mundur

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 7

    Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis."Saya mau melamar menjadi guru.""Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada di ujung ruangan. Meja di ujung itu paling besar dan paling bersih. "Ini meja bagian kepegawaian bu. Sebentar ya, duduk dulu."Ivanka mengangguk ia memangku tote bag-nya sambil mengedarkan pandang. Suasana begitu asri dan dingin di dalam situ walaupun hanya ada satu unit kipas angin yang ada di tengah-tengah ruangan. Bukan hanya soal asri saja tapi sambutan guru-guru yang ada di ruangan itu juga begitu hangat dan ramah. Belum apa-apa ia sudah merasa betah. Semoga saja ia diterima dan setelah diterima nanti perlakuan orang-orang ini tetap baik kepadanya. Begitu pemikirannya.Tekadnya untuk memadamkan perasaannya kepada Elang sudah bulat. Kalau hanya karena belum cinta, ia akan sabar menungg

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 6

    Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis itu tak menunggu lama. Ia beranjak ke dapur untuk menjerang air. Sambil menunggu air mendidih, Ivanka menatap kaca jendela dapur. Diluar sudah gelap gulita. Satu-satunya pendar cahaya berasal dari rumah keluarga mang Sarif. Ia mematikan kompor lalu bergegas menuju ke depan karena mendengar suara pintu membuka.Elang telah berganti pakaian. Kemejanya berganti polo shirt warna putih sementara celana bahannya berganti jins hitam."Mau kemana mas?" Gadis itu tergesa mendekat."Not your business." Lelaki itu berhenti. "Aku dengar kamu guru SD sewaktu belum menikah denganku?"Ivanka mengangguk bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Iya aku...""Berarti kamu bisa mengerti apa yang aku katakan

  • Bukan Cinta Pertama   Bab 5. Ramalan Nenek Tua

    "Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma, iya, ini lagi bersama Ivanka. Mama mau bicara?"Binar dimata Ivanka berkilauan saat menerima benda pipih itu dari suaminya. "Halo Ma." sapanya dengan hati diliputi kehangatan. Ia melirik Elang yang memilih duduk di sofa ruang tamu, mengeluarkan handphone lain lalu sibuk menggulir layar, membiarkannya bicara panjang lebar.Sambil bicara, Ivanka menatap lelaki itu. Senyumnya merekah. Rasanya masih tak percaya kalau sekarang ia berhak atas lelaki itu. Elang Rajendra adalah miliknya!"Iya Ma, tempatnya sejuk, asri, enak kok." Ivanka menenangkan kekhawatiran Mama mertua yang tertangkap oleh telinganya. "Sekarang lagi hujan deras. Mas Elang pulang untuk menemani." katanya bahagia. "Jakarta hujan

  • Bukan Cinta Pertama   Bab 4. Sebuah Nama Lain

    Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menakutkan Ivanka justru makin tak dapat mengalihkan pandang padahal tubuhnya sudah mundur beberapa langkah.Sosok terbalut pakaian serba putih berada ditengah hujan dan angin kencang.Napas Ivanka tercekat.Sosok itu mendekat dengan amat cepat, berlari menghampiri jendela kamarnya.Gadis itu tak dapat lagi menahan ketakutannya. "Aaaaarrgghhh!!!" Ivanka menjerit keras, serta merta berjongkok disamping ranjang, memeluk lututnya kencang-kencang.Jendelanya diketuk keras. "Neng! Neng buka pintunya neng, rumah ini ada bocornya nggak?"Suara itu tidak jelas tapi samar-sama ia mendengar orang bicara. Pelan sekali mengangkat muka. "Arghh!!" Ivanka ngos-ngosan menahan debur jantung dan ketakutannya saat m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status