LOGINKelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.
Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.
Gadis itu tak menunggu lama. Ia beranjak ke dapur untuk menjerang air. Sambil menunggu air mendidih, Ivanka menatap kaca jendela dapur. Diluar sudah gelap gulita. Satu-satunya pendar cahaya berasal dari rumah keluarga mang Sarif. Ia mematikan kompor lalu bergegas menuju ke depan karena mendengar suara pintu membuka.
Elang telah berganti pakaian. Kemejanya berganti polo shirt warna putih sementara celana bahannya berganti jins hitam.
"Mau kemana mas?" Gadis itu tergesa mendekat.
"Not your business." Lelaki itu berhenti. "Aku dengar kamu guru SD sewaktu belum menikah denganku?"
Ivanka mengangguk bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Iya aku..."
"Berarti kamu bisa mengerti apa yang aku katakan." potong Elang dingin. "Kamu pasti bisa mengerti apa yang kamu baca juga kan?"
Ya, ia mengerti ke arah mana Elang bicara tapi Ia tak akan merespon pertanyaan maupun pernyataan tentang hal itu. "Aku mencintaimu mas." ucapnya takut-takut dan malu-malu.
"Aku tau," makin kaku saja nada bicara Elang.
Kedua pipi Ivanka merona tapi sudah kepalang basah. "Sudah lama aku menyimpan rasa itu, please... ijinkan aku mencintaimu mas. Kalau mas belum bisa mencintai aku juga, nggak apa-apa asal... jangan bersikap dingin begini. Aku akan menurut. Aku juga akan mengijinkan apapun yang mas ingin lakukan karena cinta itu pengertian."
Elang kelihatan tertarik. Ia bersidekap, menunda niatnya keluar rumah. "Terus?"
Ivanka menjadi bersemangat karena diberi harapan. "Seperti yang pernah mas Elang katakan. Cinta nggak bisa dipaksakan jadi aku nggak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai hati mas Elang terbuka untukku."
"Kamu akan mengijinkan apapun yang ingin aku lakukan?"
Ivanka mengangguk penuh keyakinan.
"Aku ingin kita menjadi dua orang asing, Ivanka. Jangan pedulikan aku. Kamu boleh hidup semaumu, sesukamu disini. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Kalau kamu membutuhkan bantuan berupa dana, tenaga, atau apapun, kamu harus memberitahu aku dua hari sebelumnya, jangan mendadak. Soal uang, tulis kebutuhanmu dengan jelas. Kamu bisa bikin proposal kan?" Elang memberondong tanpa titik koma.
Pasokan oksigen ke dalam paru-parunya seolah dicerabut begitu saja. Kedua lubang hidungnya seakan dipencet menggunakan tang besi sehingga tak ada udara yang bisa lewat. Ia megap-megap di tempat. "Mas..." desahnya pilu.
"Jangan mengharapkan lebih dari itu. Seprti ucapanmu tadi, cinta itu pengertian jadi kamu sudah mengerti kan?"
Susah payah Ivanka menelan ludah mendengar semua kata-katanya dikembalikan begitu saja oleh Elang. Mulai sekarang ia harus memikirkan apa yang mau ia sampaikan sebelum bicara atau ia akan terpojok seperti sekarang.
"Jawab Ivanka!"
Bahu gadis itu menjengit kaget mendengar bentakan sang suami. Ia betul-betul tak menyangka, di hari kedua menjadi istri Elang Rajendra sudah mendapat bentakan. Gimana hari-hari selanjutnya? Apa mungkin Elang akan memukul juga? Ivanka terburu mengangguk.
"Good."
Ia tergugu menatap kepergian suaminya. Kakinya terasa lemas tapi masih juga ia mengikuti hingga ke ambang pintu, menatap nanar mobil Elang yang mundur mendecit-decit lantas pergi dari halaman.
Elang hanya pulang untuk mengganti pakaian, tak lebih.
Ivanka mengunci pintu. Langkahnya masih lemas menuju ke dapur, menatap nelangsa masakannya yang tak tersentuh. Selera makannya ikut hilang seiring kepergian Elang.
Dari jendela dapur yang tak ada tirainya, kegelapan diluar nampak merata, membuat pikirannya mengembara. "Pernikahan ini sedang dihitung mundur menuju perceraian." Perkataan Elang saat masih di Jakarta mengiang. Air mata Ivanka menitik.
Gadis itu meninggalkan dapur, masuk ke kamarnya yang baru setengah dibersihkan. Perlahan sekali ia membaringkan tubuh di atas kasur yang keras dan dingin. Tanpa selimut, ia meringkuk begitu saja, berurai air mata sampai tertidur.
Rasanya ia tak mau bangun lagi. Kalaupun matanya harus membuka, ia nggak ingin melihat langit-langit kayu, ubin berwarna gelap dan dinding yang dilapisi wallpaper klasik. Ia ingin melihat kamarnya sendiri.
Ivanka menyeret langkahnya menuju ke kamar mandi.
"Sudah sarapan?" Suara bariton yang maskulin itu samar-samar terdengar menyapa.
Sapaan itu lembut sekali. Tepat seperti bayangan Ivanka akan sosok Elang yang gentle.
"Makan walaupun sedikit, hari ini akan berat karena agendaku tinjau site, kamu harus ikut."
Gadis itu merapat ke dekat kamar utama. Pintu kamar itu tak menutup rapat. Sunyinya rumah membuat suara pelan itu sampai ke telinganya.
"Aku nggak suka melihatmu memakai celana panjang."
Ivanka meraba dadanya. Itu percakapan yang mesra. Ia tak perlu mendengar lebih banyak lagi. Berjingkat-jingkat ia kembali ke kamarnya sendiri. "Mas Elang punya kekasih." desisnya dengan air mata bercucuran. "Kalau ternyata itu alasannya nggak bisa mencintaiku, nggak perlu menunggu sampai satu atau dua tahun. Sekarang juga aku siap berpisah."
Ia menunduk begitu dalam, merasakan sakit merajam. Ivanka mengurung diri hingga suara mobil Elang menghilang. Ia baru keluar setelah yakin tak ada siapa-siapa lagi di rumah.
Harusnya pagi ini ia berangkat ke sekolah yag disebutkan papa mertuanya untuk melamar kerja tapi ia urungkan niatan itu. Tanpa menunda ia membuka pintu kamar utama, membuka pintu ruang kerja dan membuka pintu ruang tamu.
"Semua nggak ada kuncinya." gadis itu mengeryit heran tapi bukankah itu bagus? Ia melangkah masuk ke dalam kamar utama yang telah dirombak sedemikian rupa. Kamar itu besar, dindingnya putih bersih tanpa wallpaper, perabot di dalamnya modern. Ivanka mengira akan menemukan foto, catatan, atau bahkan bekas percintaan tapi tak ada apa-apa.
Bersih!
Mungkin semalam Elang tak menginap di rumah tapi menginap di tempat perempuan itu! Ia beralih ke ruang kerja. Hampir dua jam lamanya Ivanka memeriksa dan mengembalikan barang-barang yang ada di atas meja, membuka dan menutup laci, bahkan membuka beberapa jurnal perusahaan untuk mencari selembar foto atau sepenggal tanda perselingkuhan.
Nihil!
Elang betul-betul pandai menutupi hubungannya dengan kekasihnya. Ia menutup pintu lalu masuk ke kamar tamu. Tempat tidur berukuran queen berada di tengah ruangan. Kamar itu memiliki tatanan yang lebih bersahaja, memang cocok untuk orangtua. Tirainya lembut, dindingnya krem dan perabot jati di dalamnya begitu anggun.
Sama saja, ia tak menemukan apa-apa di kamar tamu. Ditutupnya pintu. Jadi... hanya kamarnya yang 'original'.
Ivanka duduk kelelahan di ruang makan. Tak ada apa-apa. Ia tak kan bisa menuduh Elang kalau begini. Gadis itu berdiri, memilih membersihkan makanan yang mulai berbau amis karena basi, mencuci piring-piring lalu duduk termenung di dalam kamarnya.
Matanya terpaku pada berkas lamaran yang sudah ia siapkan semalam. "Baru hari kedua Iva." katanya lambat-lambat kepada diri sendiri. "Masa iya sepuluh tahun menunggu harus gugur dalam dua hari hanya karena telepon yang belum jelas?" Ia menaikkan lagi semangatnya, mempersiapkan diri dengan cepat.
Pilihan outfitnya sangat sederhana. Hanya kemeja dan celana panjang kain. Gadis itu keluar melalui pintu dapur, menuju ke rumah mang Sarif. Tujuannya satu ; meminjam motor!
Sepuluh menit kemudian Ivanka sudah mengendarai motor matic milik anak Mang Sarif, plus arahan untuk mencapai sekolah yang ia sebutkan.
Lokasi pembangunan resort ini terpencil. Rumah warga berjauhan antara satu dengan lainnya. Setelah berkendara sekitar dua kilo, barulah terdapat pemukiman yang agak ramai.
"Nggak akan jauh kalau sudah terbiasa." pikir Ivanka seraya berhenti. Sekolahan itu mudah dicari, diapit oleh kantor lurah dan puskesmas desa.
Suara kegiatan belajar mengajar terdengar sampai diluar. Keributan anak-anak yang menyahuti perkataan guru dengan antusias membuatnya tersenyum. Meskipun bangunan sekolahnya masih semi permanen tapi semuanya sudah teratur. Ia juga tak kesulitan menemukan ruang guru karena tiap pintu diberi plang dari bahan daur ulang yang rapi.
Belum apa-apa, Ivanka sudah jatuh cinta pada sekolahan ini.
Pikirnya, kalau rumah tak membuatnya betah, kalau rumah hanyalah ruang tunggu hingga surat tanda cerai diantar, maka ia bisa bertahan di sekolah sampai saat itu tiba.
"Selamat pagi." Ivanka mengetuk pintu ruang guru yang membuka. Sudah jam sebelas lebih lima puluh sembilan menit tapi masih pagi kalau belum jam dua belas tepat kan?
"Pagi, cari siapa neng?"
Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis.
"Saya mau melamar menjadi guru."
.
.
.
to be continued
Rapat dadakan antara perusahaan sekolah telah berlangsung selama 10 menit. Elang, Silva, Pak Haryadi, Amran dan tim pengawas yang dibentuk oleh CSR The Ocean dalam waktu kurang dari satu jam, menyimak penjelasan Pak Sudiana.Berapa lama batas toleransi keterlambatan di sekolah ini? Pertanyaan itu mengambang di kepala Elang sejak lima menit yang lalu. Mungkin lima belas menit, ia menjawab sendiri dalam hati, berharap Ivanka yang tak kelihatan di ruangan sempit itu akan muncul dipintu.Hingga dua puluh menit lamanya, tak ada tanda-tanda istrinya bakal ikut bergabung dalam rapat dadakan ini. Elang mulai kehilangan minat. Duduknya mulai gelisah. Beberapa kali ia berganti-ganti melihat jam tangan dan handphonenya. Baginya, dua puluh menit itu sudah diluar batas toleransi keterlambatan.Padahal, biasanya di acara-acara seperti ini, ia hanya menyandar santai sambil sesekali bertingkah nakal. Meremas tangan Silva atau kadang - tapi amat sangat jarang - balas mengelus paha sang kekasih kalau p
"Amran, siapkan meeting dengan CSR dan bagian keuangan." Elang berhenti sejenak di meja sekretarisnya sebelum meneruskan langkah ke ruang kerja."Siap pak."Silva terburu mengejar langkah kekasihnya. "Mas, nggak sarapan dulu?""Aku kepingin merampungkan ini segera supaya bisa mengurus hal lainnya." Elang tak punya nafsu makan sejak kemarin. Ia berdiri di balik meja kerjanya, sibuk memeriksa berkas yang sudah diletakkan disitu oleh Amran."Aku nggak mau makan kalau mas nggak makan." Sebenarnya Silva nggak terlalu heran dengan sikap Elang yang begini. Dari dulu kekasihnya memang gila kerja. Kadang Elang harus diancam dulu hanya untuk diajak makan.Elang mengangkat kepala. "Kenapa akhir-akhir ini sikapmu sangat mengganggu?"Sepasang alis Silva yang melengkung sempurna terangkat tinggi. "Mengganggu gimana mas?""Apa maksudmu meneror aku?" Elang bersidekap."Aku nggak mungkin menelepon berkali-kali kalau mas mengangkat teleponku." Silva berusaha menahan emosi yang telah tersulut."Hidupku
Iva merinding mendengar gelegar suara suaminya yang mirip guntur saat hujan deras.Napas istrinya yang mendadak tersengal tertangkap oleh pendengaran Elang. Lelaki itu langsung menekan areal di antara kedua matanya. "Maaf." Katanya datar."Iya Mas. Aku juga minta maaf karena belum bisa pulang. Ibu-ibu disini akan menganggap aku nggak punya sopan santun kalau pamit duluan. Malam ini aja ya mas, please... ijinkan aku. Aku langsung pulang kok kalau acaranya selesai." Gadis itu memejam. Ah... untung saja Elang menelepon di handphone khusus-nya. Setelah ini, jangan harap ia akan mengangkat telepon dari lelaki itu lagi."Sampai jam berapa kamu disana?" Elang menyugar rambutnya. Kekhawatirannya membesar dengan cepat. Bagaimana kalau Iva keceplosan? "Hati-hati saat bicara Va.""Iya mas, iya. Udah dulu ya. Nggak enak nih sama ibu-ibu kalau menelepon terlalu lama." Ia diam, tapi tak langsung menutup telepon. Tak ada suara sambungan terputus yang artinya Elang juga belum menutup teleponnya. "Mas
Gaun floral merk ternama itu ia beli saat liburan ke Eropa. Ia suka saat kekasihnya mengenakan itu. Silva kelihatan cantik ketika memakainya. Jantungnya berdebum.Kalau mau jujur, ada banyak clue yang menunjukkan kalau Ivanka mengetahui sesuatu tapi Elang tak mau mengakui karena ada istilah 'kebetulan' dan ada istilah 'cocoklogi' di bumi ini.Sesuatu yang sebenarnya tak saling berkaitan tapi nampak pas kalau dikait-kaitkan.Meskipun begitu, Elang tetap merasa heran. Apa Ivanka nggak melihat label di bagian leher gaun itu? Asal buang aja!"Pak, silakan motornya." Mang sarif mendorong motor matic dengan helm menyangkut disalah satu spion."Mang itu.. kain yang bunga-bunga itu diambil dan tolong dicuci. Itu nggak sengaja terikut disitu." Ia tau kalau apa yang ia katakan amat absurd tapi Elang tak peduli.Mang Sarif mendekati tempat sampah. "Oh... baik pak. Nanti saya minta istri saya mencucinya." Lelaki paruh baya itu menatap terheran-heran sebab baru kali ini tuannya memberi perintah se
Jam dua siang Ivanka sudah berada di kamar kos-nya. Ia tak lagi menunda-nunda kepulangan seperti biasa. Justru ia sangat bersemangat. Gadis berambut sebahu itu menatap ruangan yang masih terasa asing sambil tersenyum. Ia tak peduli sudah berapa lama dan bekas siapa saja sprei yang terpasang disitu. Langsung saja ia menghempaskan diri di atas kasur. Kakinya bergerak kesana kemari dengan lincah."Kebebasaaaaan." ucapnya pelan dengan kedua tangan terentang lebar.Puas menjajal kasur, ia mulai berbenah. Memasang keset, memindahkan pakaian dari tote bag-nya ke lemari lalu keluar menuju ke dapur umum untuk mencuci peralatan makan yang tadi ia beli bersama Saras.Langkahnya terhenti di ruang tengah rumah kost besar itu. Terdapat tv tiga puluh dua inch dan sofa panjang disitu. Ia membayangkan riuhnya menonton bersama. Yah, walaupun sudah lama sekali Iva nggak menonton tv. Nanti, pikirnya riang, ia akan bergabung. Ivanka meneruskan langkahnya ke kamar, menyusun peralatan makannya disamping lem
Gundukan selimut di atas ranjang berukuran single itu kelihatan gemetar. Ia mendekat. Rasa tak enak menelusup saat mendengar suara istrinya yang mencicit ketakutan bagai tikus kejepit.Tiap kali guntur menggelegar, dilihatnya bahu Iva menjengit. Ia ingat bagaimana Iva bersimbah air mata dimalam pertama mereka pindah kesini.Dengan hati-hati Elang menyingkap selimut, sedikit saja. Napasnya tertahan mendapati Ivanka menjadikan guling sebagai bantal sedangkan bantal ditutupkan oleh gadis itu ke kepalanya."Iva..." Elang berjongkok di samping tempat tidur. "Ayo pindah ke kamar utama." Ajaknya pelan. Ia tak ingin menakuti vadis itu. "Iva." Ulangnya sembari menyingkap seluruh selimut yang menutupi tubuh sang istri.Lelaki itu menelan ludah menatap separuh paha Ivanka yang terbuka. "Va..." desisnya serak."Aku bisa mas, aku berani. Leave me." Iva tak dapat lagi memikirkan bagaimana Elang bisa berada di dalam kamarnya padahal saat masuk tadi ia sudah mengunci pintu. Kepalanya hanya dipenuhi r
Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Peki
Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis."Saya mau melamar menjadi guru.""Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada
"Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma,
Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menaku







